Share

Atas Nama Pohon Suci
Atas Nama Pohon Suci
Author: DiAndRa

PROLOG

MUSIK, cewek, dan alkohol!

Ya! Cukup dengan kombinasi maut itulah yang diperlukan untuk membebaskan kegilaan kaum adam. Dan persis seperti itulah yang aku lakukan sekarang. Aku mabuk di tengah empat cewek seksi yang tengah kesurupan dentuman irama musik.

Dengan hanya berbalut busana yang minim—tank top dan rok mini—mereka berupaya keras tampil menggoda dengan lenggak-lenggok ayunan pinggang. Sementara, aku hanya ingin segera melihat mereka tampil tanpa busana.

Tuh lihat! Cewek-cewek ini merayuku dengan menampilkan duck face terbaik mereka, seolah sedang mengincar sesuatu di pangkal pahaku. Semangat yang luar biasa! Tapi tolong, yang kalem saja. Suasana ini mengingatkanku akan Bacchanalia, klub malam terkenal di Kota Surabaya. Bunyi bass, penari striptease, dan tentu saja, wiski spirit.

Tapi maaf, itu semua hanya lamunanku belaka.

Faktanya, aku hanya berdiri di pojokan sambil menatap iri ke arah segerombolan pendekar mabuk yang berbagi fantasi liar mereka di ruang karaoke privat yang redup ini.

Dari satu-satunya cahaya layar LCD, aku bisa melihat mereka duduk di sebuah sofa butut yang hampir rusak. Di hadapan mereka, ada sebuah meja yang penuh dengan botol bir dan gelas jenis dimple mug—gelas untuk minum bir, kalau kalian tidak tahu.

Masih dari sumber pencahayaan yang sama, aku bisa mengira-ngira, ruangan ini seukuran lapangan voli di perkampungan—bukan yang digunakan untuk Olimpiade, lho ya. Aroma alkohol sangat menyengat, begitu pula asap rokok yang tidak bisa menemukan jalan keluar. Lagu Cina, Hao xiang, hao xiang, he ni zai yi qi, terdengar mengalun syahdu. Lebih buruk lagi, cewek-ceweknya malah duduk anteng sambil mengunyah kacang.

Sial!

Aku lantas menyalakan senter ponsel untuk membantu penglihatanku. Rupanya, orang-orang ini bertingkah seolah bakal hidup bahagia selamanya. Apakah mereka sudah lupa? Tidak lama lagi, tempat ini bakal digusur oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Ya, itulah yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang di Kota Pahlawan ini. Di Dukuh Jerut ini, ada sebuah lokalisasi pelacuran yang biasa disebut Selamat Datang. Lokalisasi ini merupakan lokalisasi terakhir di Surabaya, yang juga menyandang predikat sebagai kompleks prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Tempat di mana aku berdiri sekarang ini, bakal diratakan dengan tanah.

"Lang!" salah satu dari pendekar mabuk itu memanggil namaku. "Sini, Bro!"

Aku pun senang, hingga salto ke belakang mendengarnya. Mereka mengundangku untuk ikut bepesta. Ketika aku mendekat, aku bisa melihat medan laga ini penuh dengan kulit kacang, plastik kerupuk, cemilan, dan bungkus rokok. Kami seperti terjebak di tengah bunker perang yang terbengkalai. Hebatnya, orang-orang ini tertawa ngakak seolah sedang berada di warung kopi. 

Tiba-tiba, aku tidak tahu setan mana yang merasuki seorang pria raksasa tambun berambut gondrong disemir pirang. Dia tiba-tiba menjelaskan padaku niat Ryg’s—band heavy metalnya—datang ke Dukuh Jerut, Desa Teram, Kecamatan Padak, Kota Surabaya ini. Lengkap dah lokasinya, biar kalian gak bingung.

Sebelum melanjutkan, raksasa gendut itu meminum segelas dimple mug yang berisi cairan keemasan berbuih, hingga tandas. Kemudian, dia mengambil rokok filter dan menyalakannya. Kabut tebal terlihat berhembus dari mulutnya yang hitam.

Ryg's, kata si raksasa gendut gondrong ini dengan serius, diundang oleh Pemerintah Desa Teram untuk membahas rencana aksi damai menolak penggusuran oleh Pemkot Surabaya. Dia menambahkan, Ryg’s juga dimintai pendapat untuk merumuskan tuntutan para penduduk desa.

"Jika tidak ada yang protes, lalu siapa?" sebut raksasa gendut gondrong pirang itu dengan lantang. "Persetan dengan hukum. Ini soal moral dan akal sehat!"

Tuh kan, dia jelas kesurupan. Aku kira bakal diajaknya berbagi bir dan wiski. Eh! aku malah mendapat siraman rohani.

Raksasa itu kembali menyedot rokoknya lantas bercerita. Katanya, sebagian besar anggota DPRD Kota Surabaya rupanya diam-diam mendukung rencana pembangunan kompleks perumahan elite dan resor perhotelan tepi pantai di Kecamatan Padak, kayak Marina Bay Sands di Singapura sono. Pada saat yang sama, ada upaya untuk mengubah status tanah Desa Teram, dari tanah ulayat menjadi tanah negara.

“Bajingan!" umpat si raksasa pirang.

Tiba-tiba, aku merasakan suasana dalam ruang karaoke ini semakin panas saja. Ternyata, ada satu cewek yang mulai menyanyi lagu melayu. Sembari berdendang, dia berjoget layaknya biduan dangdut amatir versi YouTube. Dia menggoyang pinggangnya dengan sangat menggoda. Tank top gelap plus rok denim biru super ketat yang dikenakannya, menambah aura keseksiannya.

Setelah puas bernyanyi, dia terduduk kembali. Kali ini, dia sengaja meregangkan pahanya, seolah berniat memamerkan sesuatu di pangkalnya. Apakah dia mengenakan anu? Entahlah, aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena minim pencahayaan. Sugesti sajalah!

Jelas sekali, cewek yang satu ini sedang dalam pengaruh alkohol. Tapi, dia sepertinya berusaha keras agar dia bisa ‘bersekolah'.

“Yuk, sekolah,” rayunya.

Ya, kami semua tahu sekolah macam apa yang dia inginkan dengan cara ‘akrobatik’ semacam itu. Mungkin cewek ini sudah hilang kesadaran karena efek alkohol—maksudku kerasukan, lebih tepatnya.

Sini aku kasih tahu kalian.

'Sekolah' di lokalisasi, khususnya di lokalisasi Selamat Datang ini, artinya adalah berhubungan seks. Julukan lain dari Selamat Datang adalah Sekolah Dasar 2 atau biasa disingkat dengan SD 2. Di seluruh pelosok Kecamatan Padak, cuma ada satu SD yaitu SDN 1 Teram. Dari situlah orang-orang lantas menjuluki lokalisasi itu dengan Sekolah Dasar 2 atau SD 2 atau ‘SD yang satunya lagi’.

Oh iya, mengapa 'Selamat Datang'? Karena lokasinya yang dekat dengan tugu atau gapura atau apapun namanya, "Selamat Datang di Kota Surabaya," di perbatasan Surabaya - Gresik.

Nah, tempat aku dan para pendekar mabuk serta cewek-cewek ini bermaksiat adalah Wisma Arini. Selain Wisma Arini, ada puluhan, atau mungkin ratusan wisma-wisma lainnya di Dukuh Jerut, Desa Teram ini. Namanya juga yang terbesar se-ASEAN, kan!

“Ayo sekolah?” ulang si cewek provokatif tadi.

Namun, para tamu yang hadir dalam majelis maksiat ini tampak malu-malu kucing garong. Mereka hanya tersenyum. Cewek itu sendiri terlihat gusar, sehingga dia marah.

“Udah ditemani dari siang, kok gak ada yang ngajak aku sekolah, sih!” keluhnya.

Semakin lama dalam ruang karaoke di Wisma Arini ini, asap membuat perih mata dan sesak nafasku. Tapi, aku bersikeras bertahan. Soalnya, ada salah seorang ladies companion lainnya yang telah mencuri perhatianku, sejak seminggu yang lalu. Dan dialah yang mesti bertanggungjawab karena telah membuatku terjebak dalam ruangan karaoke nan panas ini.

Paras cewek satu ini berseri, tubuhnya semlohai, dan suaranya aduhai ketika dia mulai menyanyi. Aku sampai tak percaya ada perempuan sepertinya, bekerja di tempat seperti Wisma Arini ini. Aku merasa perlu untuk menenangkan diri. Aku pun beranjak keluar ruangan, selagi dirinya menyelesaikan lagu Chandelier by Sia.

Di beranda ruang karaoke, ada kursi kayu panjang dengan meja yang penuh botol bir kosong, gelas dimple mug, bungkus plastik, dan kulit kacang. Tidak ada satu orang pun di sana. Aku pun duduk sambil mendengarkan teknik olah vokal yang luar biasa dari seorang cewek istimewa, dari balik dinding yang retak-retak.

Dari beranda ini, mataku lantas menyapu lingkungan sekitar. Aku bisa melihat desa ini lebih hidup dari sebelumnya. Anak-anak bermain dengan ceria di bawah payungan dedaunan pepaya dan pohon pisang. Angin laut yang berhembus menggoyang pelepah-pelepahnya hingga menciptakan gemerisik yang syahdu. Pikiranku melayang ...

Tiba-tiba!

"Kok gak di dalam?" cewek istimewa itu mendadak muncul mengagetkanku. "Ceweknya gak ada yang cocok, ya? Atau, suaraku yang jelek?"

"Asap," jawabku berdalih.

Kemudian, dia duduk di sebelahku, mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya tanpa minta izin, seolah-olah rokok itu miliknya sendiri. Lantas, dia pun melihat sekeliling. Asap rokok mengepul dari bibirnya yang ranum. Sesekali, dia memindahkan rambut ke belakang telinganya. Aku bisa membayangkan seorang dewi yang sedang diselimuti kabut keanggunan.

Aku pun bertanya padanya, mengapa dia tak jadi penyanyi profesional saja, alih-alih menyanyi di tempat seperti ini? Lalu, mengapa dia bisa tinggal di Wisma Arini? Dia bergeming dengan rasa penasaranku itu. Dengan wajah tertekuk, sepertinya dia sedang tersinggung.

"Sudahlah," dia marah, "sekarang kamu mau pakai aku nggak? Kalau nggak, aku masuk lagi. Kali aja ada temen-temenmu yang mau 'sekolah' sama aku."

Dia mematikan rokok, lantas berdiri beranjak.

Oh, tidak! Jangan sampai dia ‘bersekolah’ dengan teman-temanku. Aku tidak rela! Aku tidak akan membiarkannya.

"Berapa-berapa?" tanyaku buru-buru menghentikan niatnya masuk kembali.

"Satu juta," jawabnya tegas, "short time."

“Iya, deh," sahutku lirih.

Mengetahui aku menyerah melawan ucapan manipulatifnya, dia buru-buru menyeretku melintasi jalan setapak yang membelah rumah utama dan wisma. Di bagian belakang rumah utama, aku bisa melihat deretan kamar berwarna-warni yang menyerupai komplek kos-kosan cewek.

Di sini, terlihat beberapa cewek sedang mencuci dan menjemur pakaian. Salah satu dari mereka bahkan hanya berbalut handuk untuk menutupi aset-asetnya.

Saat itu pula, aku melihat ada sebuah pohon rimbun yang menjulang di tengah komplek ‘kos-kosan’ cewek ini. Sepengetahuanku—saat aku belajar Cross-Cultural Understanding di kampus—pohon ini memiliki makna yang mendalam bagi agama dan budaya mainstream.

Sini, simak baik-baik. Siapa tahu, ada wawasan baru buat kalian.

Ketika Budha mencapai pencerahan, dia bermeditasi di bawah pohon ini. Sedangkan bagi umat Hindu, pohon ini merupakan lambang pohon dunia yang akarnya menjadi sumber bagi Sungai Sarasvati. Kemudian bagi umat Kristiani, Adam dan Hawa memanfaatkan daun pohon ini untuk membuat cawat demi menutupi tubuh mereka yang telanjang.

Bagi Islam, pohon ini merupakan salah satu pohon suci. Bahkan, Surat At-Tin dimulai dengan sumpah Allah, "Demi (buah) Tin dan (buah) zaitun." Apalagi, Nabi Muhammad menjadikan buah pohon ini sebagai salah satu buah favoritnya, lho. Dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad bersabda, buah ini adalah buah yang turun dari surga.

Para pendiri negara Indonesia pun menjadikan pohon ini sebagai lambang sila kelima Pancasila. Mengetahui semua ini, bisa menyaksikan pohon suci yang tumbuh di tengah-tengah rumah pelacuran adalah sebuah ironi tersendiri.

Kamar cewek ini rupanya berada di bagian pojok belakang. Di sini, suara gegap gempita karaoke dari wisma depan tak terdengar lagi. Dia membuka kunci pintu kamarnya, lalu masuk. Sebelum aku melangkahkan kaki masuk kamarnya, aku ditodongnya.

“Mana?” dia menodongku dengan telapak tangannya.

Aku mengambil dompet dan menyerahkan semua isinya kepadanya. Dia menerimanya lantas tersenyum senang. Saat dia memasukkan uangku dalam dompetnya, aku sempat melihat selembar foto yang terselip. Foto itu menampilkan dua gadis balita yang tertawa riang.

Aku pun masuk dan terduduk di ranjang kapuk sambil memandangi isi ruangan yang aku taksir dari plafonnya, sebesar 3x3 meter. Dinding kamar ini dicat warna hijau tosca dengan deretan rak yang penuh dengan koleksi boneka dari berbagai ukuran. 

“Kamu mau aku ngapain dulu?” dia bertanya, setelah mengunci pintu.

Dia lantas tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke samping, sementara jari-jarinya yang lentik memelintir rambut—yang entah kapan—sudah terjumbai di dadanya yang buntal. Bahunya mengayun-ayun. Sepertinya, dia sedang malu.

Tapi aku bergeming.

Dia lantas berjalan mendekat, lalu duduk bersimpuh di hadapanku. Aku mulai merinding memikirkan apa yang akan dia lakukan padaku. Kemudian, dia meletakkan masing-masing telapak tangannya di pahaku. Keringatku pun mulai bercucuran segede biji jagung, sementara bulu kudukku mendadak berdiri—bulunya aja yang berdiri, bukan yang lain. Dia menatap mataku dalam-dalam dan mulai membuka resleting celana jinsku.

“Enggak-enggak,” aku menghentikannya.

Dia terkejut.

Kemudian, dia beranjak berdiri, menghela nafas lantas berbalik memunggungiku. Aku tidak tahu apakah dia kecewa atau bahagia? Aku pun memanggilnya dan memintanya duduk di sisiku. Aku bisa melihatnya enggan menuruti permintaanku. Dia menghela nafas lagi, lalu meletakkan pantatnya dengan berat.

“Oke, aku mendengarkan," tuturku.

Bahunya lantas jatuh.

“Ceritanya panjang,” jawabnya.

“Aku masih punya waktu satu setengah jam,” aku bersikukuh.

Mulailah dia cerita

Cewek cantik ini mengaku jarang sekali berkesempatan 'sekolah' karena biaya yang dibanderol Mami—yang punya wisma—kepadanya sangat mahal, yaitu Rp1 juta untuk sekali gulat di atas ranjang alias short time. Bahkan, katanya lagi, banderolnya itu yang paling mahal se-SD 2 Dukuh Jerut.

Oleh sebab itu, sambungnya, mau tak mau dirinya mesti merayu banyak laki-laki, supaya setidaknya ada satu yang terjaring. Tapi, kebanyakan pria hidung belang itu tidak ada yang mampu membayarnya.

Dia juga mengaku mengincarku karena aku dikiranya masih polos, jadi gampang dirayunya. Dia pura-pura tak tertarik padaku, supaya dia tampak misterius di mataku. Oke, aku mengaku kalah. Dia berhasil. Selamat!

Lalu, aku pun bertanya mengapa dia bisa berakhir di Dukuh Jerut? Dia lagi-lagi menghela nafas, seolah berat untuk bercerita. Dia lantas meminta rokokku, lalu menyalakannya. Kali ini dia minta izin lebih dulu.

"Aku diusir keluargaku," tuturnya.

Cewek bersuara emas ini mengaku, empat tahun yang lalu, dia merupakan penyanyi yang selalu menjuarai lomba-lomba tarik suara pada berbagai ajang, baik tingkat lokal, regional, hingga nasional. Bahkan, dia lolos seleksi ajang Indonesian Idol. Tapi, karena satu kejadian, membuatnya harus mundur dari ajang tarik suara paling bergensi setanah air itu. Satu kejadian itu pula yang mengubah sisa hidupnya.

Ketika baru saja lulus SMA, cewek ini berkisah, dia hamil di luar nikah dengan pacarnya. Dia sendiri enggan memberitahu namanya. Dia hanya mengatakan, putra dari salah seorang terpandang pendiri pondok pesantren di Jombang. Tapi, sambungnya, pacarnya itu tidak bersedia bertanggungjawab. Sedihnya lagi, cowoknya itu malah menuduhnya berselingkuh.

"Cowok brengsek itu, sekarang sekolah di luar negeri," tuturnya berapi-api. "Entah di mana? Aku gak peduli!"

Dia melanjutkan, keluarga yang mengetahui kehamilannya itu lantas mencecar, siapa ‘pelakunya’? Dia pun menjawab, putra dari seorang terpandang di Jombang itu. Katanya, kalau dia menyebut nama orang terpandang itu, aku juga gak bakal percaya. Tapi aku gak memaksanya.

Menurutnya, keluarganya datang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang taat beragama. Ketika dia menyebut nama putra dari orang terpandang itu, keluarganya justru mengatakan hal itu mustahil, karena keluarga itu adalah keluarga pendiri pondok pesantren yang taat beribadah.

"Keluargaku sendiri malah menuduhku fitnah dan mencemarkan nama baik keluarga orang itu," ucapnya. "Aku dituduh sundal, lalu aku diusir."

Cewek ini pun lantas berdiri, disusul dengan hembusan asap rokok dari bibirnya. Aku merasa, sudah tidak ingin mendesaknya lagi untuk berkisah kalau tahu sepedih itu ceritanya. Tapi, dia tampaknya bersikukuh melanjutkan. Seolah-olah, dia ingin membuang semua beban yang menyesakkan hati dan pikirannya.

Setelah diusir keluarganya, dia pergi ke rumah bibinya yang bersedia menampungnya di Nganjuk. Di sana, dia malah diperkosa berkali-kali oleh suami bibinya sendiri. Karena stres, dia mengalami keguguran. Setelah itu, oleh paman iparnya itu, dia dijual ke salah satu mucikari di Guyangan, sebuah lokalisasi di Nganjuk. Setelah beberapa lama, dia dijual lagi ke Surabaya ini.

"Mungkin, bibiku mengira aku kabur. Padahal aku dijual suaminya sendiri. Baru enam atau tujuh bulanan aku di sini," tuturnya.

Belakangan, lanjutnya lagi, dia mendapat kabar kalau ibunya jatuh sakit. Oleh sebab itu, uang yang dia peroleh dari 'bersekolah' di Wisma Arini ini, dikirimnya ke Jombang via wesel. Tapi, sang ibu menolak dengan mengembalikan pemberiannya. Sang ibu, katanya, sudah tidak mengakuinya lagi sebagai putrinya.

“Aku menyerahkan diriku kepada laki-laki. Dan laki-laki itu pula yang menghancurkanku,” dia lantas nyengir, sambil menyalakan rokoknya lagi. "Bodohnya aku."

“Sejak itulah, karir menyanyiku jadi hanya mimpi," tambahnya.

Entah aku mendapat kekuatan dari mana? Seolah-olah, ada suara misterius yang membisikiku untuk membantunya mewujudkan apa yang sudah dibangunnya. Aku pun bertekad akan membantunya mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.

“Lalu, bagaimana caranya kamu bisa keluar dari sini?” tanyaku.

“Ya, nebus ke Mami,” jawabnya. “Lagipula, kalau aku keluar dari sini, aku mau ngapain juga?”

“Berapa, sih tebusannya?”

“Seratus juta!”

“Aku akan menebus dan membebaskanmu dari sini,” aku meyakini ucapanku sendiri.

Dia lantas tertawa.

"Memangnya, apa yang akan kamu lakukan padaku? Menjualku lagi?" tukasnya tajam, setajam silet.

Aku terdiam, begitupula dirinya. Mungkin, aku memang naif. Tapi, aku benar punya niat untuk membebaskannya dari sini. Entah bagaimana caranya?

Lantas, aku melihatnya terduduk kembali di ranjang dan mulai terisak. Dia memalingkan wajahnya dariku. Seolah, dia tak mau aku melihat wajahnya. Dari arah sebelah, aku bisa melihat sebelah telapak tangannya menutup mulut, sementara sebelah satunya lagi menopang tubuhnya di ranjang. Seakan-akan, dia menahan sesengguknya agar tidak pecah.

Seperti yang dikatakannya tadi, dia mempercayakan hidupnya pada para laki-laki, tapi para laki-laki itu pula yang menghancurkannya. Mungkin, dia trauma dan ragu terhadap niatku. Tapi, aku tidak berniat menjadi laki-laki yang sama yang telah menghancurkannya.

“Katakan padaku sekarang, apakah kau mau keluar dari kehidupan seperti ini?” aku bertanya lagi.

Dia tak mau menoleh ke arahku maupun menjawab pertanyaanku. Sambil menahan isak, dia bersikukuh memalingkan wajahnya dariku. Sejurus kemudian, aku melihatnya mengangguk.

Bagiku, itu sudah cukup.

“Bertahanlah, aku akan membebaskanmu."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status