6 CARLOS ANDERSON

6 CARLOS ANDERSON

Sementara menunggu pembangun hotel yang masih dalam proses pengerjaan, Ziko telah membeli peralatan lukis yang harus dipesan dari luar negeri. Kuas, cat dan kanvas, semuanya terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas.

Lukisan yang akan diletakkan di lobi nanti berukuran dua kali satu meter, dengan bingkai yang terbuat dari emas murni, kacanya pun terbuat dari kaca khusus. Lila, yang mendengar biaya yang harus dikeluarkan untuk satu lukisan saja, rasanya ingin pingsan.

Phia mulai menggerakkan tangannya. Tangannya dengan terampil memegang kuas untuk melukis. Hal pertama yang dia buat adalah daun-daun yang berguguran. Entah akan seperti apa lukisannya nanti, dia juga belum tahu. Menurut Lila, Phia itu memiliki bakat melukis yang sangat luar biasa, karena dia dapat dengan mudah menyampaikan idenya begitu saja tanpa ada perencanaan akan lukisannya. Sedangkan bagi Phia, terlalu berpikir hal apa yang ingin dia lukis bisa menghilangkan feel akan lukisan itu sendiri.

Ziko menyaksikan kegiatan Phia saat dia datang dengan alasan untuk melihat perkembangan dari lukisan tersebut, padahal itu hanya alasannya saja agar bisa bertemu dengan Phia. Setiap gerakan Phia tidak luput dari pengawasannya. Bukan karena Ziko tidak percaya akan kemampuan Phia, tetapi karena Ziko ingin terus memandang Phia sepuas mungkin tanpa membuat gadis itu risih.

Di tempat lain, seorang pria muda yang akrab dipanggil Aidan oleh keluarga dan sahabat-sahabatnya terlihat gelisah menunggu kabar dari orang suruhannya. Berkas-berkas pekerjaan dia abaikan, bajunya tak lagi rapih, sedangkan dasi yang tadi pagi dia pakai sudah tak lagi ada di lehernya. Tampangnya sangat kusut, menunjukkan betapa banyaknya beban pikirannya.

“Di mana keberadaannya sekarang?”

Aidan menghela nafasnya dengan berat. Sama dengan Ziko, tapi jika dulu Ziko mencari perempuan bernama Ayura, maka Aidan mencari perempuan bernama Elphia, yang sebenarnya adalah perempuan yang sama.

☆☆☆

“Tuan, saya sudah mencari tahu mengenai pelukis Promise, pelukisnya seorang warga negara Indonesia, namun saya belum mendapatkan informasi mengenai tempat tinggalnya dan latar belakangnya.”

Informasi itu diucapkan oleh Jhon, tangan kanan Carlos Anderson. Carlos Anderson, pria berumur tujuh puluh tahun, seorang pengusaha perhiasan yang terkenal di dunia. Dia tidak hanya menjualnya, tapi dia juga membuatnya. Meskipun telah berumur tujuh puluh tahun, namun fisiknya masih prima dan wajahnya masih terlihat tampan.

Jhon, orang kepercayaan dari Carlos Anderson menyuruh anak buahnya untuk pergi ke Indonesia. Hal pertama yang harus anak buahnya lakukan setelah tiba di Indonesia yaitu mencari keberadaan Lila.

Sementara itu di Samarinda, Phia memandang lukisannya yang baru setengah jadi di ruangan pribadinya untuk melukis. Lukisan itu menyiratkan kesedihan. Ziko berdecak kagum memandangnya. Bukan hanya lukisannya, bahkan pelukisnya mampu menggetarkan hatinya.

☆☆☆

Carlos Anderson memandang foto lama yang ada di dalam ruang rahasianya. Pria tua itu menyeka sudut matanya yang basah.

“Aku merindukanmu, dimana kamu sekarang berada? Apa kamu baik-baik saja?”

Ruang rahasia itu dipenuhi oleh barang-barang pribadi milik Carlos Anderson. Foto-foto lama, perhiasan yang dipenuhi oleh permata mahal, buku harian, surat-surat kepemilikan dari asetnya yang nilainya triliunan.

Perebutan kekuasaan dan kekayaan yang telah mendarah daging, salah satunya dalam keluarga Anderson telah lama terjadi. Keluarga Anderson sangat memuja keturunan laki-laki, yang akan diakui sebagai pewaris sah dari Anderson. Anderson Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang properti.

Di usia remaja, Carlos Anderson yang merupakan satu-satunya keturunan laki-laki mendirikan perusahaan perhiasan yang dia buat sendiri sebagai tanda cintanya kepada seorang wanita. Carlos Anderson dikabarkan tidak memiliki anak laki-laki, dari situlah awal semua konflik dalam keluarga besar Anderson terjadi.

Carlos Anderson sendiri sebenarnya tidak peduli dengan perusahaan Anderson Group, dia hanya akan mempertahankan perusahaan yang dia dirikan sendiri. Ini bukan hanya masalah perhiasan, permata dan kekuasaan, tapi perusahaan itu adalah bentuk cintanya pada seorang wanita.

Wanita yang sangat dia cintai hingga saat ini.

Design perhiasan yang dibuat oleh Carlos terkenal unik, tidak dapat ditiru oleh siapa pun karena memiliki ciri khas khusus, proses pembuatannya juga tidak mudah.

Tiara adalah nama perusahaan itu. Perusahaan itu sudah berdiri selama lima puluh dua tahun, didirikan sejak Carlos baru berusia delapan belas tahun.

☆☆☆

Salah satu anak buah Jhon, kini berada di desa Sila. Dia bertanya kepada warga mengenai gadis yang suka melukis, namun tidak ada yang mengetahuinya. Posisinya sangat dekat dengan rumah nenek.

Dia mulai menyusuri jalan setapak menuju pantai yang tidak jauh dari kediaman Phia sebelumnya. Anak buah Jhon yang lain tersebar di kota-kota lain seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya. Mereka juga pergi ke desa-desa kecil lainnya, meskipun tidak yakin bahwa seorang pelukis yang mereka cari akan berada di desa kecil seperti itu.

Sedangkan di tempat lain, gadis yang sedang di cari itu mulai melukis lukisan keduanya. Kali ini dia melukis seorang pria yang menangis, dengan mata berwarna biru.

“Phi, kamu bisa kaya mendadak kalau seperti ini.”

Lila melihat Phia melukis sambil menikmati kacang goreng. Lila tidak tahu saja, kalau Phia memang sudah kaya dengan hasil penjualan lukisan-lukisan dia selama bertahun-tahun.

Itulah sebabnya Phia tetap bisa bertahan selama ini, pergi ke berbagai tempat termasuk luar negeri. Namun Phia tidak menonjolkan semua itu. Rumah yang dia tinggali sederhana, pergi dengan angkutan umum, dan makan di tempat makan yang sederhana. Bukan karena dia pelit, hanya saja dia memang sederhana.

“Kamu mau apa, La?”

“Maksudnya?”

“Apa yang mau kamu beli? Nati aku belikan.”

“Maksudku bicara seperti itu bukan karena aku minta dibelikan sesuatu, Phi.”

“Iya Lila, Sayang. Aku tahu itu, hanya saja aku memang ingin membelikan sesuatu buat kamu. Kamu mau apa? Mobil, perhiasan, rumah?”

“Dih, sombong. Mentang-mentang uangnya banyak.”

“Hahaha, pusing aku mau aku apakan uangku itu.”

Lila memanyunkan bibirnya. Meskipun terkesan sombong, tapi Lila tahu bukan itu maksud Phia.

Phia memang tidak pernah pelit, selama ini Phia sering membelikan Lila baju, tas, sepatu dan perhiasan. Pernah Phia ingin membelikan Lila mobil, namun gadis itu menolaknya. Bisa mengenal, bersahabat dan bekerja dengan Phia saja dia sudah sangat bersyukur. Dia tidak ingin persahabatan dengan Phia karena materi.

Lagi pula selama ini mereka sering berpindah-pindah tempat, jadi tidak memerlukan rumah mewah atau kendaraan pribadi. Phia memang suka menggunakan alat transportasi umum agar dia bebas mengamati sekitarnya dan memotret.

Selain melukis, Phia memang suka photografi. Hasil fotonya juga disimpan di galery khusus, namun tidak pernah dia publikasikan kepada orang-orang. Mengenai hobinya yang satu ini hanya nenek, Aisar dan Lila saja yang tahu.

Phia memang menyukai hal-hal yang bersifat seni. Itulah sebabnya orang tuanya tidak menyukainya, bagi mereka itu hal yang sia-sia dan tak berguna. Itulah yang mereka pikirkan selama ini.

Selama ini hanya kakeknya yang mendukungnya. Dulu kakeknya sering membelikan dia peralatan lukis, mengajaknya melihat pameran lukisan bahkan sempat ingin memasukkannya ke kursus melukis namun ditentang oleh orang tuanya karena masalah dana.

Ya, keluarganya memang bukan dari keluarga yang sangat kaya. Dia memiliki satu kakak perempuan yang bekerja sebagai manager di perusahaan properti dan adik perempuan yang dari kabar yang dia dengar, sekarang sedang kuliah kedokteran semester awal.

Tidak ada yang tahu tentang masalah keluarga yang dia alami selama ini, termasuk Lila. Semuanya dia pendam seorang diri dan dia lampiaskan melalui lukisan dan photografi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status