Part 1

"Lintang," panggil seorang gadis dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

Cowok yang dipanggil Lintang itu terus berjalan tanpa menoleh pada gadis itu.

Tidak menyerah, gadis itu segera menyusul Lintang dan berhasil menghadangnya.

"Kenapa gak berhenti waktu gue panggil sih?" tanya gadis itu dengan wajah sedikit cemberut.

"Kenapa Vanka?" tanya Lintang malas.

Ivanka Clarisa. Gadis cantik dan cerewet yang Lintang kenal di SMA Bina Negara. Dia adalah pacar Lintang.

"Nih, ada roti sama susu buat lo. Gue tahu lo belum sarapan. Dimakan ya," ucap Vanka memberikan sebungkus roti dan satu susu kotak coklat pada Lintang.

"Gue gak mau. Buat lo aja," tolak Lintang.

"Ih. Kok gitu sih? Terima dong, Lintang. Gue beli ini khusus buat lo."

Lintang Wijaya adalah cowok nakal di SMA Bina Negara. Ia terkenal sering membuat masalah. Bahkan, hampir semua guru mengenalnya karena kelakuan buruknya.

"Hai Lintang," sapa seorang cewek cantik dengan rambut panjang yang terurai.

"Hai Lisa," balas Lintang sembari tersenyum.

Vanka sedikit kesal karena Lintang terlihat ramah pada Lisa. 

"Tang, terima dong," pinta Vinka.

Dengan wajah kesal, Lintang mengambil sebungkus roti dan susu kotak itu dari tangan Vanka membuat gadis itu tersenyum.

Namun, belum sedetik senyumnya langsung pudar ketika Lintang memberikan roti dan susu kotak pemberiannya pada Lisa.

"Nih, buat lo aja," ucap Lintang pada Lisa.

"Makasih Lintang."

Vanka membulatkan kedua matanya. Tidak terima dengan sikap Lintang.

"Ih, Lintang! Kok lo kasih ke dia sih? Itu kan gue kasih buat lo!" sungut Vanka tidak terima.

"Terserah gue dong mau kasih ke siapa."

"Kok lo gak ngehargain gue sih? Gue rela beliin itu buat lo dari uang jajan gue tahu," ucap Vanka.

"Emangnya gue peduli? Udah deh gak usah bacot. Udah mending gue kasih ke Lisa, daripada gue buang."

"Ayo Lis, kita ke kelas. Malas gue liat muka dia," ajak Lintang pada Lisa. Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan bersama Lintang ke kelas mereka.

"IH LINTANG!  KOK LO GITU SIH SAMA GUE?!" teriak Vanka tapi tak dipedulikan oleh Lintang.

*****

Vanka mendudukkan bokongnya di kursi dengan wajah kesal. Melihat wajah Vanka yang kesal membuat kedua sahabatnya langsung mendekatinya.

"Lo kenapa Van?" tanya salah satu temannya yang bernama Lia.

"Gue kesel sama Lintang. Masa dia kasih roti sama susu kotak pemberian gue ke Lisa? Dia gak ngehargain gue banget," curhat Vanka.

"Lagi-lagi masalah Lintang. Gue kan udah bilang sama lo putusin Lintang," sahut Sela.

Vanka menatap tidak suka ke arah Sela. Putus dari Lintang? Itu tidak akan mungkin ia lakukan. Mendapatkan Lintang saja susah, dan dengan mudahnya Sela menyuruhnya untuk memutuskan Lintang? Sampai kapanpun ia tidak mau.

"Gue gak akan mau putusin Lintang. Lo berdua kan tahu kalau gue suka banget sama dia," ucap Vanka.

"Iya kita tahu. Tapi, mau sampai kapan lo kayak gini terus? Lintang itu gak pernah peduli sama lo. Bahkan, sampai sekarang gue masih gak percaya kalau lo itu pacaran sama Lintang," ucap Sela.

"Bener yang dibilang Sela, Van. Mendingan lo putus aja dari Lintang. Dia itu gak pernah suka sama lo. Gue yakin dia pacaran sama lo karena terpaksa," timpal Lia.

"Ck! Percuma curhat sama lo berdua. Gak ada manfaatnya," ucap Vanka kemudian kembali tenggelam dengan pikirannya.

Ia merasa percuma menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya. Mereka tidak pernah memberikan solusi yang terbaik untuk dirinya. Yang ada, mereka selalu memintanya untuk putus dari Lintang. Padahal, mereka tahu kalau sampai kapanpun ia tidak akan memutuskan Lintang.

*****

Vanka mengedarkan pandangannya ke seluruh area kantin. Pandangannya berhenti tepat pada Lintang yang tengah mengobrol dengan teman-temannya.

Ia langsung berjalan mendekati Lintang. 

"Eh, Van. Lo mau ke mana?" tanya Lia.

"Ke Lintang," jawabnya tanpa menoleh pada Lia dan Sela.

Ia langsung menggeser Lisa dan duduk di tengah Lintang dan Lisa.

Lisa menatap kesal ke arah Vanka yang tiba-tiba menggeser tubuhnya.

"Lo ngapain sih duduk di sini?" tanya Lintang kesal.

"Gue kan mau duduk sama pacar gue."

"Vanka bisa aja," sahut teman Lintang yang bernama Vino.

Vanka tersenyum tipis.

"Mendingan lo balik sama temen-temen lo aja," suruh Lintang.

"Loh, kenapa?" 

"Gue gak suka dekat-dekat sama lo," jawab Lintang yang membuat Vanka cemberut.

"Ih kok lo gitu sih? Masa lo gak suka dekat-dekat sama gue? Gue kan pacar lo."

"Terus, lo pikir gue peduli gitu?"

Vanka berdecak pelan. Ia tidak membalas ucapan Lintang. Ia memilih melahap bakso yang tadi sudah dibelinya.

"Van, lo cinta banget ya sama Lintang?" tanya teman Lintang yang bernama Roy.

Vanka yang mengunyah baksonya langsung melirik ke arah Roy.

"Cinta banget lah. Kalau gue gak cinta sama dia, mana mungkin gue terima dia jadi pacar gue," jawab Vanka antusias.

Lintang yang mendengar jawaban Vanka hanya diam.

"Kalau Lintang cinta gak sama Vanka?" tanya Roy pada Lintang sembari tersenyum miring.

"Ya pasti cinta lah. Kalau gak cinta sama gue, mana mungkin dia berani nembak gue di tengah lapangan udah gitu banyak orang lagi," sahut Vanka dengan senyum lebar.

"Iya gak?" tanya Vanka pada Lintang.

Cowok itu hanya diam. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Vanka.

"Tang, kok gak jawab sih?"

Lintang menatap Vanka dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

"Tanpa gue jawab juga lo udah tahu, kan?"

Vanka mengembangkan senyumnya. Pipinya bersemu merah membuat Roy dan Vino menggodanya.

Lisa yang duduk di samping Vanka, menggeram kesal karena keberadaan Vanka. Ia merasa Vanka telah mengganggunya dengan Lintang.

*****

Vanka sudah berdiri di depan kelas Lintang. Kelasnya sudah berakhir lima menit yang lalu. Ia sedang menunggu Lintang yang masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Senyumnya mengembang begitu Lintang keluar dari kelas.

"Hai Lintang," sapa Vanka.

"Ngapain lo nunggu gue?" tanya Lintang dengan wajah datar.

"Mau pulang sama lo lah. Mau ngapain lagi coba?"

"Lo pulang sendiri aja."

"Loh, kenapa?" tanya Vanka sedikit kecewa.

"Ayo, Tang," ajak Lisa yang baru saja keluar dari kelas.

Vanka menatap Lintang dan Lisa secara bergantian.

"Tunggu. Jangan bilang lo mau pulang sama Lisa?" tebak Vanka.

"Emang gue mau pulang sama Lisa. Udah sana pulang sendiri aja," ucap Lintang.

"Tapi kan gue udah nunggu lo."

"Salah lo sendiri. Gue kan gak nyuruh lo buat nunggu gue." Setelah berucap demikian, Lintang langsung pergi dengan Lisa meninggalkan Vanka yang kecewa.

"Kenapa sih Tang, lo selalu gak peduli sama gue?" lirihnya.

*****

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Hurt
ih ih an mulu , risih bgt bacanya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status