6. Kak Yoan

“Nona Sia, benar?” Yoan langsung bertanya ketika nada tunggu diseberang menghilang.

“Ya, benar. Maaf ... dengan siapa aku bicara?” Sia baru saja melepas mantel hijau tua kumal pemberian Limora—lagi—dari tubuhnya. Berdiri terpaku di sudut ruangan. Khawatir akan sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan.

“Aku Yoan Bailey, pelayan Tuan Rigel,” jawab Yoan.

“Apa? Siapa itu? Lalu ... maksudku, ada hubungan apa—”

“Ah, Limora Catty tidak memberitahumu apapun?” sela Yoan. Dia mengusap tengkuk sekilas, merasa sedikit berdebar karena suara halus bergetar dan lembut dari seberang.

“Tidak, tidak ada,” jawab Sia cepat. Dia masih berdiri, menatap keluar jendela. Memperhatikan daun-daun berguguran dari pohon samping rumah, sambil berpikir dengan baik, apa ada kesalahan yang telah dia perbuat yang melibatkan Limora, atau tidak.

“Akan kujelaskan, singkatnya, kau bekerja di rumah Tuanku yang bernama Rigel Auberon. Mulai hari ini, segala perintah atau hal yang diinginkan Tuan Rigel, akan aku beritahukan melalui pesan atau panggilan dari nomor ini,” jelas Yoan.

Kelegaan besar melingkupi diri Sia, dia menghela napas senang dan tenang secara cepat. “Oh, baiklah. Tentu saja. Silahkan kalau begitu.”

“Mulai besok ... tolong bersihkan kamar Tuan Rigel juga. Tapi jangan menggeser tata letak barang-barang pribadi miliknya, meski barang sekecil apapun, karena dia akan menyadari hal itu. Apa kau paham maksudku?”

“Ah, ya tentu saja, baiklah.” Sia mengerti dan dia pun tidak berniat untuk itu. “Lalu ... apa ada hal lainnya?”

“Tidak ada, untuk saat ini tidak ada. Kalau begitu, terima kasih, Nona Sia, selamat sore.”

“Ya, baik. Selamat sore.”

Panggilan berakhir dengan kelegaan yang menghadirkan rasa berbeda di masing-masing individu. Sia merasa sangat bersyukur karena ternyata tidak ada yang salah dan semua baik-baik saja.

Sedangkan Yoan dapat bernapas lega ketika percakapan mereka berakhir. Bukan membenci percakapan singkat mereka tadi, justru Yoan baru pertama kali merasa gugup saat bicara di telepon dengan seorang wanita. Membuatnya seakan tidak bisa merasakan suaranya sendiri. Yang ada hanya debaran jantung, menutupi indera pendengarannya.

*****

“Kenapa terburu-buru? Kau mau kemana?” tanya Rigel heran. Dia menatap Yoan yang bergerak cepat menyiapkan segala keperluan di kantor, mengapit sebuah dokumen, lalu bersiap keluar lagi.

Yoan hanya tersenyum sekilas, lalu sibuk melihat arlojinya. “Ada yang tertinggal di rumah. Aku akan segera kembali, Tuan.” Dengan cepat, Yoan memutar gagang pintu, menyadari hatinya yang ingin melihat wajah pelayan baru di rumah Rigel dan dia tahu bahwa Sia akan datang satu atau satu setengah jam setelah dirinya dan Rigel pergi keluar rumah.

Hanya sekitar lima belas menit untuk Yoan bisa melihat seperti apa rupa Sia yang kini sedang membersihkan kamar Rigel.

Yoan berdeham dan tentu saja, itu mengejutkan Sia. “Oh, maaf ... apa Anda pemilik rumah?” Sia segera menurunkan kain kecil untuk membersihkan jendela kaca besar di kamar Rigel. Menatapnya dengan tatapan canggung, tersenyum sedikit kaku.

“Ah, bukan, bukan. Sama sepertimu. Aku juga pelayan Tuan Rigel.” Yoan tersenyum, benar dugaan hatinya, wajah Sia memancarkan keceriaan yang meredup meski masih terasa kehangatannya.

“Kalau begitu ... apa aku melakukan kesalahan?”

“Tidak, tidak.” Yoan menggeleng, memasang senyum yang entah kenapa, ingin dia tunjukkan selebar mungkin dihadapan Sia. “Aku hanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Kebetulan aku melihatmu dan ingin menyapa.” Yoan memandangi Sia, menunggu seperti apa reaksi wanita itu. Tidak ada kecurigaan, Sia hanya mengangguk sambil tersenyum kaku, sama seperti tadi.

“Maaf, Tuan ... Yoan? Benar?” Sia melihat Yoan mengangguk, senyum pria itu belum juga menghilang. “Apa ada menu makanan khusus yang harus aku siapkan untuk makan malam nanti?”

Yoan berpikir sejenak. Selama ini Rigel tidak menginginkan menu makanan khusus untuk makan malamnya. Meski dia tergila-gila pada kesempurnaan, tapi Rigel tidak suka mengeluh soal apa yang ada di meja makan. Apalagi, Rigel lebih sering melewatkan makan malamnya dengan tidur lebih awal karena lelah.

“Tidak. Tidak ada menu khusus. Tuan Rigel juga tidak menyukai atau membenci jenis makanan tertentu.”

“Lalu ... apa ada yang ingin Anda makan?” tanya Sia, berusaha ramah. Setidaknya, walau bukan pria di depannya ini yang membayar jerih payah Sia, tapi dia berlaku cukup baik dan sopan pada dirinya.

“A-apa?” Yoan tergagap, tidak menyangka akan mendapat tawaran semenyenangkan itu. Sebenarnya, dia juga sama seperti Rigel. Lebih sering melewatkan makan malam karena dia lelah, pekerjaannya dua kali lipat lebih berat dari Rigel.

“Maaf, aku hanya menawarkan, jika Anda tidak keberatan. Tapi kalau Anda—”

“Tahu kukus gandum,” sela Yoan. Tadinya dia hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikan Sia, tapi kini dia coba mendekat masuk dua langkah, “aku ingin makan itu malam ini.”

Sia memperhatikan kaki Yoan yang sudah maju dua langkah, tapi Sia tidak mundur, tak merasa bahwa Yoan membawanya pada keadaan yang mengancam. Dia tidak takut meski ini kali pertama mereka bertemu.

“Baik, Tuan. Aku akan siapkan untuk Anda.” Sia tersenyum. Selama terbangun dari koma, tidak ada hal yang bisa membuatnya merasa dibutuhkan atau diharapkan.

Josie hampir seharian menghabiskan waktu di Rumah Sakit, dan dia melarang Sia mengerjakan apapun, karena terkadang, jika Brandy tidak masuk kantor, maka pria itu yang akan mengerjakan semuanya. Begitu juga sebaliknya jika Josie berada seharian di rumah.

Tapi, Sia enggan keluar dari kamarnya jika giliran  Brandy sedang ada di rumah. Tatapan mendiang suami Josie itu selalu penuh kekurangajaran terhadap Sia.

“Berapa umurmu, Sia?”

“Hmm ... aku, seingatku ...” Sia gugup, dia tidak tahu apalagi ingat berapa umurnya, dia akan menerka sendiri dan berharap itu benar, “dua puluh ... lima tahun. Ya, usiaku kini dua puluh lima tahun.”

“Ah, aku lebih tua empat tahun darimu. Bisakah kau tidak memanggilku Tuan? Posisi kita sama, seorang pelayan, hanya dengan tugas yang berbeda.” Yoan tersenyum lagi, dia heran entah untuk ke berapa kalinya dia tersenyum pagi ini, hingga membuat dirinya serasa menjadi orang lain.

“Baiklah. Tapi kurasa akan sangat tidak sopan jika aku memanggilmu dengan sebutan nama saja,” gumam Sia, dia merasa canggung untuk hal sepele.

“Kakak. Bagaimana jika kau memanggilku dengan sebutan Kakak di depan namaku?” Yoan menawari hal yang terasa kaku serta canggung, tapi sekarang, dia tidak heran bahwa hatinya tidak bisa berbohong. Yoan tertarik pada Sia. Pada keseluruhan diri seorang Sia. Yoan ingin mereka segera dekat, secepat yang dia bisa lakukan.

Sia membulatkan kedua matanya. “Kakak? Kak Yoan? Maksud Anda begitu?” Ada nada rancu, tapi Sia menyukai sapaannya.

Tawa Yoan bergema pelan di kamar Rigel, tapi lebih melekat di kepala Sia. Dia menyukai tawa itu, terasa ramah dan bersahabat.

“Yap, benar begitu. Bagus sekali kedengarannya, Sia. Tidak kusangka kau akan langsung mengucapkannya. Tapi ...” Yoan sengaja, memang mulai ingin menggoda Sia. Dia melihat kedua mata Sia mengerjap menunggu lanjutan kalimatnya, Yoan tersenyum, “aku merasa senang saat kau memanggilku dengan panggilan itu barusan.”

Sia baru akan menanggapi pujian Yoan, ketika suara dering ponsel mengejutkan keduanya. Seketika itu juga Yoan mengutuki Rigel di dalam hatinya, dan mencoba bersabar bahwa fakta hidupnya bergelimang harta saat ini, berkat kepatuhannya pada Rigel.

“Ya, Tuan.”

“Sedang apa kau? Kenapa belum kembali?” Ketus dan penuh kecurigaan. Itulah nada suara dari seberang.

“Ya, aku akan segera kembali sekarang.” Bergegas, Yoan berbalik, mengambil langkah dengan cepat. Tapi berhenti sebentar untuk melihat Sia yang masih mematung menatapnya. Yoan tersenyum, melambai sembari mengeluarkan kalimat ‘Sampai nanti’ tanpa suara karena sekarang, panggilan telepon Rigel masih berlangsung.

“Kau harus tiba dalam waktu tujuh menit. Jika kau datang di saat aku sudah memasuki ruang rapat, kau akan kubiarkan menyelesaikan tugas di meja kerjaku sampai besok. Kau perlu menginap sesekali di kantor!” Rigel menggerutu tanpa henti. Membentak dan memerintah.

“Oh, jangan, jangan, jangan!” Yoan berteriak panik, berlari melesat seperti anak panah menuju ke arah mobil terparkir. “Akan kuusahakan tiba lagi delapan atau sepuluh menit.”

“Tidak akan pernah ada tawar menawar denganku, Yoan Bailey!”

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status