Jalan Keluar

Kurapikan meja dan kursi bekas tempat duduk Devan dan Reno, makanan yang ia pesan tadi sama sekali belum ia sentuh dan di tinggal begitu saja.

"Dasar, orang kaya," gerutuku sambil meletakan dua piring berisi steak ke atas nampan, juga gelas berisi Orange jus yang masih penuh ku taruh di sudut meja.

 "Mentang-mentang banyak uang, tak pernah menghargai makanan, dan kerja keras orang lain, kalau dia tak mau memakannya, ya udah, gak usah di pesan, untuk apa coba, dia memesannya padaku, kalau ujung-ujungnya gak di makan, hanya ingin mengerjai ku saja, gara-gara dia, kan aku di marahi sama Bu Maya," omel ku sambil bergumam.

Aku tak peduli meski banyak pasang mata para pelanggan memerhatikan ku, karena aku terus saja bersungut-sungut, rasa kesal yang masih berkecamuk di dalam dada ini, membuatku tak puas-puasnya mengomel, gara-gara ulah Pria tampan tapi aneh tadi.

Beberapa pengunjung ada yang menggeleng pelan, ada juga yang menatapku dengan tatapan bermacam arti, mungkin mereka bingung karena aku terus mengomel, ah, terserah aku kepalang jengkel.

Hati ku masih sangat kesal sampai sekarang pada Devan, ku mengelap meja dengan gerakan kasar sampai kinclong, meskipun kepala panas, tapi tanggung jawab yang utama.

Ku menyampirkan serbet di pundak, bekas lap meja, lalu ku beranjak ke dapur untuk membawa piring-piring dan gelas yang masih penuh makanan, minumannya pun belum di sentuh sama sekali.

"Bu, ini taruh di mana? Makanannya masih bagus loh, sayang kalau di buang," ucapku pada Bu Elia, dia sedang mengecek pesanan yang siap di antarkan pada pelanggan oleh para waiters.

"Ya udah Sil, taruh aja di meja! kalau kamu mau, kamu boleh ambil, buat kamu nanti makan,"

"Gak Bu... terimakasih, aku mau makan sama lauk yang tersedia di kotak nasi saja," sergahku sambil meletakkan piring ke atas meja.

"Eum, kenapa?"

"Aku gak suka Bu, makanan kaya gitu, gak cocok di lidah ku." Aku mengambil satu box plastik jatah makan siang ku, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 sa'atnya aku istirahat.

"Bener nih?" ucap Bu Elia.

"Iya Bu..." sahut ku.

Lalu dia membungkus steak daging dengan kertas nasi, buat ia berikan pada siapa saja yang mau, dari pada mubadzir, karena makanan nya masih layak dan bersih untuk di makan, sayang jika di buang cuma-cuma.

Aku masih kesal sampai saat ini pada Devan meski tadi aku mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya, tapi aku terpaksa, dari pada aku kena damprat lagi oleh Bu Maya.

Kalau aku tak butuh uang, rasanya aku ingin sekali berhenti kerja dari sini, dan mencari pekerjaan lain di luaran sana, agar tak bertemu si Devan lagi, tapi bukan perkara mudah bagiku untuk mencari pekerjaan baru, tak semudah membalikkan telapak tangan.

Hah, aku bener-bener sial hari ini, semoga saja di hari-hari berikutnya Devan tak membuat ku kesal, dan membuat masalah lagi denganku, yang dia sengaja.

Bu Elia memiringkan kepalanya menatapku dengan penuh selidik, "Silvi, kamu lagi marah pada siapa?"

"Gak Bu." Aku menggeleng, sembari mencebik bibir.

"Terus, kenapa wajahmu di tekuk?"

"Aku cuma lelah Bu,"

"Kalau kamu lelah, cepat istirahat sana! Sil, ini ambil, untuk lauk kamu makan siang!"

"Terimakasih  Bu, aku gak mau, kan aku sudah bilang, kalau aku tak suka." Aku meyakinkan Bu Elia, dia manggut-manggut, "Bu, aku istirahat dulu ya!" lanjut ku sambil beranjak.

"Iya, silahkan!" 

 Lalu aku masuk ke ruangan di samping dapur tempat khusus untuk para karyawan makan, ku duduk bersila di pinggir pintu, lalu ku buka box makan siang, menu hari ini nasi putih, ikan bawal goreng dan tumis kangkung juga tahu tempe, dan satu buah jeruk.

Ku tundukkan kepala sambil membaca do'a sebelum makan, lalu ku menyendok nasi beserta lauknya, suap demi suap nasi masuk ke dalam mulutku, namun rasanya hambar di lidah meski ini enak.

Di dalam hati ini masih ada yang mengganjal, ku teringat dengan Adik-adik juga ibu, gimana keadaan mereka, sudah hampir 2 Minggu aku jauh dari keluarga, dan aku tak tau kabar tentang mereka.

Apakah Ibu dan Adik-adik sudah makan, atau belum? Apa mereka masih punya persediaan makanan, apa jualan Ibu lancar, apakah mereka baik-baik saja? apakah Bu Tati mendatangi Ibu lagi, dan menagih uang yang aku janjikan.

 Ah... ini membuatku stress, ku mengacak rambut ini, Kepala ku rasanya terus berputar dan mau pecah, hati ini terus bertanya-tanya, aku khawatir dengan Adik-adik dan juga Ibu, aku ingin sekali tau tentang kabar mereka, tapi bagaimana caranya.

Ya Tuhan, aku hanya bisa berdoa agar Keluarga ku di beri kesehatan, dan kelancaran rejeki. Makan siang tak aku habiskan karena aku terus memikirkan orang-orang yang aku cintai.

Ku duduk menekuk lutut sembari menopang dagu, "Apa, aku ke rumah Mbak Karina saja ya, nanti pulang kerja? Meminta tolong pada dia, untuk menghubungi Bu haji, aku ingin tau kabar Ibu, aku merindukan mereka, tapi aku gak tau jalan?" ucapku bergumam sendiri.

Sempat terfikir aku ingin meminjam ponsel pada Mbak Ridha, untuk menghubungi Bu haji tetangga ku, tapi aku tak punya nomor dia, hanya Mbak Karina yang punya, kalau aku ke rumahnya, siapa yang mau mengantar ku kesana?.

Aku pun keluar dari ruangan itu, setelah menyelesaikan makan siang ku, ku mencuci wadah di wastafel lalu ku meletakkannya di tempat yang di sediakan.

"Silvi, sudah selesai makannya?" tanya Bu Elia.

"Sudah Bu,"

"Masih ada waktu 15 menit lagi Sil, untuk beristirahat,"

"Iya Bu, aku mau ke musholla dulu ya!"

Diapun mengangguk aku berlalu dari hadapannya, dan masuk ke musholla untuk rebahan sejenak, meluruskan otot-otot tubuh yang kaku karena segudang aktivitas.

*

"Silvi," ucap Mbak Ridha kami duduk di depan TV rumah kontrakan. selepas pulang kerja sambil menghilangkan rasa lelah sejenak, ku lirik jam dinding waktu menunjukkan pukul 15.15 sore.

"Iya Mbak," jawabku menoleh padanya.

"Tadi, kenapa kamu bisa sampai di marahi oleh Bu Maya?"

Aku menarik nafas panjang, "Gara-gara Devan, aku di adukan macam-macam oleh dia, pada Bu Maya,"

"Terus, Bu Maya ngomong apa?" tanyanya dengan tatapan menelisik.

"Yah... Gitu aja, aku gak ngerti,"

"Apa?"

"Bu Maya menyuruh ku! katanya Devan meminta dia, bahwa aku yang harus selalu melayani Devan, dia gak mau di layani oleh waitress lain, aneh banget kan?" Aku mengerutkan kening, sambil menatap wajah Mbak Ridha.

"Sil, jangan-jangan, Pak Devan suka sama kamu?" Mbak Ridha mencubit lengan ku.

"Ah, Mbak jangan ngawur!" sergahku,  sambil balas mencubit pipinya yang chubby.

Lalu aku keluarkan kertas tebal dari saku kemeja ku, yang tadi siang di berikan oleh Pak Reno asisten Devan padaku.

 "Sil, itu yang kamu pegang apa?" tanya Mbak Ridha mencondongkan badannya ke arah wajahku.

"Ini Mbak." Aku menyodorkan benda itu padanya. Secepat kilat benda itu di sambar oleh perempuan bertubuh agak gemuk ini.

"Silvi, ini kartu nama Pak Devan." Dia menatap ku dengan wajah berbinar, "Silvi, aku yakin, Pak Devan suka sama kamu!" pekiknya, ia meletakkan kedua tangannya yang mengepal di kedua belah pipinya, sembari memincingkan mata, kakinya ia hentak-hentakkan di lantai dengan sikap heboh.

"Apa sih Mbak? Gak jelas amat," gerutuku, "Dia cuma nawarin kerja'an sama aku, gak lebih,"

"Terus, kamu mau gak? Jangan di tolak loh! aku juga mau banget kalau di tawarin kerja sama dia." Mbak Ridha antusias sambil mengguncang pundakku.

"Hm, biasa aja kali Mbak, gak usah heboh kaya gitu!"

"Silvi, aku bukannya heboh, tapi kamu jangan lewatkan kesempatan emas ini loh! Pak Devan orangnya baik, dia pasti akan memberimu gaji yang besar,"

"Ah Mbak, sok tau,"

"Terima ya Silvi! Tapi dia nawarin kerja apa sama kamu?"

"Katanya sih, eum... Asisten pribadinya dia,"

"Wahh... Hebat Silvi." Mbak Ridha memelukku erat, "Silvi, besok kamu datang ke rumahnya ya! setelah pulang kerja! Biar langsung di terima kerja sama Pak Devan! Kalau kamu malu, tar aku anterin,"

"Kan aku juga lagi kerja Mbak... ngapain cari kerja'an lain?"

"Sil, kamu jangan b*d*h lho! Banyak perempuan yang mendambakan menjadi asisten pribadi Pak Devan, Pria sempurna dari segala sisi, dia itu tampan, masih muda, dia pemilik perusahaan properti, mendingan kamu terima! Jangan banyak mikir! Dan menyia-nyiakan kesempatan ini, tinggalkan saja kerjaan di cafe, toh kamu akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dari pada kerja jadi pelayan,"

"Mbak, Mbak, aku gak mau, jangankan jadi asisten pribadinya Devan, melayaninya di cafe saja, aku sudah tak sanggup, yang hanya beberapa saat, apalagi jadi asistennya, bisa kurus kering aku, mengurusi kebutuhan dan keperluan pribadi nya, setiap waktu dan setiap detik, aku harus terus berada di dekatnya, aku gak mau! meskipun gajinya besar,"

"Jangan b*d*h Sil! Katanya kamu butuh uang banyak, buat membayar hutang pada rentenir, giliran ada kesempatan, kamu malah gak mau, Gimana sih?"

"Bukannya gitu Mbak, aku takut aja kerja sama lelaki kaya Devan." Aku mencondongkan tubuh ku ke arah Mbak Ridha, "Mbak, dari tatapan matanya saja, aku udah ketakutan, dia laki-laki mesum!"

Mbak Ridha menautkan alisnya, "Ah masa, jangan buruk sangka dulu! Sil, katanya ingin bayar hutang biar rumah kamu gak di sita, kamu mau kan memberikan kebahagiaan untuk keluarga mu! Ini kesempatan terbaik loh, kesempatan tidak datang dua kali,"

"Tar lah Mbak, aku mau pertimbangkan dulu!"

"Pertimbangan untuk apalagi sih? Silvi, aku tuh bangga loh sama kamu, karena kamu bisa menarik perhatian Pria setampan dan semapan Pak Devan, Sil, aku tau, kamu tuh lagi butuh uang, kamu lagi bingung kan, gimana caranya mendapatkan uang untuk melunasi hutang orang tua kamu,"

Aku hanya diam, mencerna ucapan Mbak Ridha.

"Sil, gaji kamu hanya 3,5 juta, gak akan cukup untuk membayar hutang ibu mu, butuh 9 bulan gaji untuk melunasi semuanya, kamu mau dapat uang dari mana? Apa kamu mau cari pinjaman,  kamu fikir Bu Maya mau ngasih kasbon, atau ngasih pinjaman sama kamu? Gak mungkin Silvi... dia orangnya pelit! Kamu belum kenal aja sama dia," tukas Mbak Ridha.

"Iya Mbak, aku tuh bingung... banget, ini sudah tanggal 17, sementara tanggal 2, harus ada uang 30 juta, dari mana uang sebanyak itu?"

Aku duduk menekuk lutut seraya membenamkan wajah di antara kedua lengan, entah apa yang harus aku lakukan, apa terima saja tawaran Devan, atau tidak, ah... aku benar-benar bimbang.

Mbak Ridha merengkuh pundak ku, sambil mengusap bahuku, "Sil, Ma'af ya, aku gak bisa bantu, cuma bisa mendoakan dan mendukung apapun keputusan kamu, tapi menurut ku, terima saja Silvi tawaran dari Pak Devan! Hanya itu satu-satunya jalan keluar, mungkin Tuhan mengirimkan dewa penolong untuk kamu melalui Pak Devan,"

"Gak tau Mbak, aku masih ragu, di sisi lain aku sangat membutuhkan uang itu, tapi aku takut,"

"Takut apa?"

Aku mengangkat kepalaku dan menoleh pada Mbak Ridha, tatapan matanya nampak prihatin dengan keada'an ku saat ini.

"Aku takut, kalau ternyata Devan itu orang jahat,"

"Silvi, kan aku udah bilang, kamu jangan berburuk sangka dulu! kita kan belum tau Pak Devan, tapi menurut orang-orang yang kerja di cafe, Pak Devan itu orangnya sangat baik, kalau kamu gak percaya tanya Bu Maya aja! Biar kamu yakin, dan tau seperti apa dia,"

"Gimana entar aja lah Mbak." Aku harus mempertimbangkan dengan baik, antara bimbing dan ragu, keputusan yang sangat berat bagiku untuk menerima tawaran Devan, aku tak mau salah langkah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status