7. Fake Little Brother

Angka di jam dinding menunjukkan pukul empat. Suasana di luar rumah cerah. Matahari bersinar lembut. Tidak seperti tadi pagi, kali ini langit bersih dari mendung yang menggelayut. Angin sore segar berhembus sepoi-sepoi, menggerakkan dedaunan di depan rumah.

Lisa menyerut jus mangga, duduk lesehan di teras rumahnya. Ia menatap buku tugas yang ia pegang, mengecek jawaban seseorang. Beberapa detik kemudian dahinya langsung terlipat. Ada jawaban yang salah.

"Positif kali negatif kok positif sih, Yan? Itu pelajaran anak SD tahu. Masih aja salah." Lisa berucap sebal pada pemuda blasteran di depannya. Ia ingin mengikuti teladan Dimas yang sabar ketika mengajari orang. Tetapi sepertinya gagal. Lisa gemas sekali dengan jawaban pemuda di depannya yang nyaris salah perhitungan keseluruhannya. Terlebih moodnya sedang tidak baik sekarang.

"Tadi yang bilang hasilnya plus siapa? Aku cuma ngikut," ujar pemuda bermarga Miller itu santai.

"Jangan ngada-ngada ya, Yan. Mana ada rumusnya kuubah," ucap Lisa tidak terima. Bukannya mengakui kesalahannya, pemuda bernama panjang Devian Matthew Miller itu malah balik menyalahkan Lisa.

"Bilang aja lupa. Masa guru payah?"

Lisa gregetan sendiri. Ia memukul pelan kepala Vian yang juga duduk lesehan dengan pena.

"Kalau payah kenapa nggak suruh mamamu cari guru les aja? Udah diajarin, gratisan, sekarang ngatain pula." Lisa berdecak sebal. Adik kelas sekaligus tetangganya itu memang begitu, agak kurang ajar. Jadinya memang butuh sedikit dihajar.

"Nggak ada gunanya sama guru les. Pelajarannya sama sekali nggak masuk di otak. Ngehabisin duit. Kalau ada yang gratis, kenapa harus yang bayar?" ujar Vian santai, menyomot keripik apel di sebelahnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Lagian belajar sama Kak Lisa udah enak, disuguhin makanan terus," lanjutnya.

"Dasar." Lisa menimpuk kepala Vian dengan pena untuk kedua kalinya.

Vian itu tetangga depan rumah Lisa sejak tiga tahun yang lalu. Papanya yang merupakan orang asli Brazil pindah ke Indonesia karena urusan pekerjaan. Vian sangat akrab dengan Lisa. Bahkan pemuda itu sudah Lisa anggap seperti adik sendiri. Ia anak tengah. Punya satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Hampir setiap hari ia dan adiknya pergi ke rumah Lisa untuk belajar bersama---lebih tepatnya Lisa yang mengajari mereka berdua.

Hal itu berawal saat Vian mengeluh kesusahan menghadapi UN SMP padanya setahun yang lalu. Lisa akhirnya mencoba mengajarinya. Setelah beberapa kali ia ajari, Vian bilang penjelasan Lisa lebih mudah dipahami daripada guru-gurunya yang lain. Akhirnya hal itu berlanjut sampai sekarang. Jika ada PR, pemuda itu selalu mengerjakannya di rumah Lisa. Vian akan bertanya jika ada soal yang tidak ia pahami pada Lisa. Vela-adik Vian-yang duduk di bangku SMP juga kadang meminta Lisa membantunya mengerjakan PR. Mereka libur belajar di tempat Lisa hanya ketika liburan panjang. Itupun masih sering pergi ke rumahnya untuk bermain. Lisa memang anak tunggal. Tapi dengan adanya Vian dan Vela, ia jadi merasa punya saudara.

Vian juga satu sekolah dengan Lisa. Mulai masuk SMA beberapa bulan yang lalu. Lisa kelas dua SMA, sedangkan ia anak baru, kelas satu. Tapi meskipun begitu, kelakuan Vian masih seperti bocah. Bahkan pemuda itu lebih kekanakkan dari Vela adik perempuannya. Ia terlalu manja, imut, dan menggemaskan untuk ukuran anak SMA. Hal yang paling menyebalkan darinya hanya satu; Vian itu sopan sekali kepada Lisa. Tapi dalam konteks kalimat ironi tentunya.

"Lagian dari tadi marah-marah mulu. Emang ada masalah apa? Badmood terus dari kemarin." Vian bertanya.

"Nggak." Lisa menjawab singkat. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Vian. Yang ada pemuda itu membuat heboh satu RT jika mendengarnya. Dan yang lebih mengerikan, Vian langsung ilfeel pada Lisa saat itu juga.

Astaga... bayangkan saja. Di umur tujuh belas telah menikah? Satu rumah sendiri dan terpisah dari kedua orangtua? Itu menyeramkan. Apa kata orang-orang jika tahu hal itu?

Ares tidak main-main dengan perkataannya saat istirahat tadi. Lisa memang akan tinggal serumah dengannya. Seperti ucapan pemuda itu, ada tiga rumah yang sudah disiapkan. Dan untuk masalah ini, Lisa tidak langsung menerima keputusan orangtuanya seperti sebelumya. Lisa bahkan merengek pada bundanya agar meminta ayahnya membatalkan keputusan itu. Tentu saja bundanya langsung iba, bilang akan berbicara pada ayahnya nanti. Sekarang Lisa hanya bisa menunggu dengan perasaan yang tidak tenang. Dan hal itu berimbas pada Vian yang sedari tadi ia omeli. Biar saja, sekali-kali Lisa memang harus memarahinya.

"Assalamu'alaikum, Kak Lisaa... Bang Vian-nya adaa?" Seseorang berteriak di depan gerbang rumah Lisa. Lisa mengernyitkan dahi samar. Itu suara Vela adik Vian.

"Ada dua makhkuk disini!" seru Vian. "Cari Vian atau cari cicak?" lanjutnya.

Lisa melebarkan mata, langsung menimpuk Vian dengan pena untuk ketiga kalinya. Pemuda itu nyengir di tempat, mengelus-elus kepalanya sok kesakitan. Kan, Vian itu memang kurang ajar. Bisa-bisanya menyamakan Lisa yang lebih tua darinya dengan hewan. Cicak pula!

Jika dipikir-pikir, Vian itu sebelas dua belas dengan Ares. Suka sekali menyebut kata cicak di depan Lisa. Bedanya, Vian hanya menyebut tanpa berniat menakuti, sedangkan Ares kebalikannya. Maka dari itu, sebalnya Lisa pada Vian tidak sesebal saat Ares yang mengatakan kata cicak. Entahlah, pemuda Reigara itu luar biasa menyebalkannya.

"Wa'alaikumussalam. Masuk aja, Vel. Vian ada disini," ujar Lisa memberitahu. Vela langsung membuka gerbang, berjalan ke arah Lisa dan Vian yang berada di teras rumah.

"Napa?" Vian bertanya ketika Vela sudah sampai di teras.

Lisa bertopang dagu, menyimak percakapan kakak beradik di depannya.

"Katanya mau ikut mama? Buruan siap-siap. Mama mau berangkat sekarang." Vela memberitahu.

Lisa menyeringai lucu. Dasar, Vian! Sudah SMA masih saja ikut mamanya kemana-mana.

"Bilang ke mama perginya nanti aja. PR Matematika sama Biologinya belum selesai" terang pemuda Miller itu.

Vela berdecak, "Ribet. Yaudah, mending belajar aja sana. Nggak usah ikut. Lagian nggak ada manfaatnya Bang Vian pergi sama mama. Cuma bikin penuh mobil aja," ujarnya.

"Yahhh... Nggak bisa. Pokoknya aku ikut!" Vian menekuk bibir, berucap sebal seperti sebalnya anak kecil.

Lisa kembali menggelengkan kepala melihat tingkah pemuda di depannya. Vian itu lebih cocok jadi adik Vela daripada kakaknya. Dia itu bocah sekali. Hanya menang tubuh tinggi dan besar saja. Wajah dan tingkahnya seperti anak usia SD.

"Yaudah sih, Yan. Sana buruan siap-siap. PR-nya dilanjutin besok kan bisa." Lisa menyarankan.

Vian menoleh ke Lisa, terdiam sejenak. "Emang besok Kak Lisa nggak pergi kemana-mana?"

Lisa menggeleng, "Nggak. Aku di rumah."

Vian mengembangkan senyum. "Yaudah, aku pulang dulu! Bye..." ia langsung bangkit berdiri, melangkah keluar teras.

"Bukunya nggak dibawa?" Lisa mengingatkan.

"Nitip dulu. Besok kan aku masih kesini."

Lisa menghela napas, menatap buku yang berserakan di teras rumahnya. Akhirnya ia juga yang harus membereskan buku-buku milik Vian. Ia malah mirip seperti emak-emak yang harus membereskan barang milik anaknya saja.

"Yaudah, Kak Lisa. Kita pergi dulu. Daahh..." Vela pamit, melambaikan tangan ke arah Lisa.

"Iya. Hati-hati nanti di jalan..." Lisa balas melambaikan tangan ke Vela. Vian sudah menghilang dari balik gerbang sedari tadi.

Beberapa detik kemudian, setelah Vian dan Vela kembali ke rumah mereka, suasana rumah Lisa mendadak sepi. Lisa menghela napas. Kata banyak orang, jadi anak tunggal itu menyenangkan. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Lisa. Baginya, anak tunggal itu sepi, garing, dan membosankan. Sehari-hari sendiri, apa serunya coba?

Ck! Daripada merenungi nasib, lebih baik Lisa segera membereskan teras rumahnya saja.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status