A Broken Marriage
A Broken Marriage
Author: Jaeho Love
Prolog

Kulihat nanar seorang lelaki dari balik layar kaca yang ada di depanku. Senyuman pria itu begitu menawan dan mampu menggetarkan hatiku. Senyuman yang selama ini tak pernah terlupakan olehku, saat ini seolah tengah mendaratkan senyuman itu untukku. Di sana, laki-laki itu berdiri dengan gagahnya. Beberapa orang membicarakan betapa hebatnya ia saat ini.  Namun, seberapa besar rasaku untuknya, takkan pernah ia mau mengerti akan hal itu. Ketika bayangan gelap itu menyelimutiku, aku sadar bahwa senyuman itu takkan pernah menjadi milikku. Lelaki yang kupuja itu takkan pernah membalas apapun yang pernah aku berikan untuknya. 

Akulah yang merelakan semua untuknya. Harusnya aku tak perlu mengharapkan balasan apapun. Akan tetapi, aku terlalu egois. Aku tak pernah memikirkan bagaimana perasaannya padaku. Laki-laki itu sudah jelas mengatakan tak pernah mencintaiku, tapi aku tetap bersikeras untuk bersamanya sampai akhirnya.

Kuusap lagi perutku yang mulai membuncit. Di sanalah, ada sebuah nyawa yang menghubungkanku dengannya. Nyawa yang terlahir meski tanpa kasih dari ayahnya. Dan, bahkan ayahnya tak pernah mengetahui bahwa anak ini sebentar lagi akan hadir di dunia ini. Anak yang tak pernah diinginkan oleh lelaki itu, tapi aku sangat menginginkannya. Namun aku begitu mencintai anak ini hingga jantungku terasa seperti akan meledak. Mengetahui bahwa aku tak sendiri, membuatku memiliki semangat untuk hidup. 

Aku tahu bahwa aku takkan pernah bisa memiliki lelaki itu. Meski kami pernah menjalin sebuah ikatan yang suci, lelaki itu takkan pernah bisa membalas perasaanku, terlebih dengan semua kebencian yang dia tumpahkan kepadaku. Aku tak tahu mengapa dia begitu membenciku. Aku tak tahu penyebab dari semua perlakuan kasarnya padaku. Akan tetapi aku sadar bahwa aku takkan pernah bisa membencinya. Sedalam apapun dia menusukkan pisah ke dalam hatiku, maka semakin dalam pula perasaanku.

Pernikahan antara Martha dan seorang pengusaha sukses bernama Jean menjadi topik terpanas minggu ini. Dilansir dari biaya pernikahan yang menghabiskan biaya hampir puluhan miliyar, dikatakan bahwa pernikahan ini merupakan yang paling mahal dan termewah tahun ini. Dikabarkan keduanya akan menghabiskan liburan bulan madu ke paris. Sebagai pernikahan pertama untuk keduanya, ini merupakan hal yang sangat romantis dan banyak yang mengharapkan hubungan keduanya akan langgeng.

Jantungku terasa seperti terhenti secara mendadak saat berita itu secara lisan sampai ke dalam gendang telingaku. Entah mengapa mendengar berita yang terpampang dalam layar kaca itu membuat aku meringis. Jean dan pernikahan pertamanya. 

Pernikahan pertamanya. 

Tak ada yang mengetahui bahwa aku pernah menjadi istrinya. tak ada yang tahu bahwa aku pernah menjadi bagian dari hidup pria itu. Aku yang hanya seorang istri tak pernah diinginkan. Jean tak pernah secara resmi mengenalkanku kepada teman-temannya. Bahkan didepan orang lain, Jean menganggapku tak lebih dari seorang pembantu. Hubungan kami tak pernah berjalan normal sebagai mana mestinya. Dalam hubungan intim saja, Jika hanya Jean membutuhkanku, maka aku harus siap melayaninya. Aku tak boleh menolaknya. Jika sampai aku melakukannya maka tangan besarnya akan menghantam wajahku. 

Sering kali kuungkapkan pada diriku agar membencinya. Pria itu suda terlewat jauh melangkah. Namun aku takkan pernah bisa. Aku terlalu mencintainya. Anggaplah aku ini bodoh. Aku wanita yang lemah dan hanya mengandalkan cinta dalam hidupku. Tapi sungguh.. aku begitu mencintainya. Hanya Jean yang aku punya.

....

"..Kau tak lebih dari seorang budak disini.."

"..Kau takkan pernah menjadi seperti apa yang kau bayangkan didalam kepala sialanmu itu.."

"..Aku jijik melihatmu.."

"Tanda tangani itu, aku akan menikah dengan kekasihku."

"Jangan pernah sesekali kau berani menunjukkan wajahmu dihadapanku."

...

Setiap kali Kupejamkan mataku mengingat kata-kata kasar yang terlontar dari bibirnya, rasanya seperti ada ribuan jarum yang tertancap didadaku. Rasanya sakit dan perih. Mungkin saja jika itu terlihat, luka yang ditorehkan untukku begitu besar dan menganga lebar. Membuka luka yang mengalir darah disana. 

Saat dimana lelaki itu menyatakan ketidaksudiannya kepadaku, aku memohon. Aku bersujud dikakinya agar mau memaafkan apapun itu, semua kesalahanku padanya. Aku bahkan bersedia jika saat itu Jean bersedia untuk membunuhku. Aku tak peduli seberapa banyak luka yang telah Jean berikan padaku. Aku rela asalkan dia tak membuangku. Namun apalah dayaku, saat Jean menyeretku keluar dari rumah itu. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu pernikahan kami. 

Aku sadar bahwa tingkat kebenciannya terhadapku begitu besar hingga memuncak pada tindakan kasarnya yang memukuliku. Namun aku berharap sebuah kebahagiaan kecil saat bersamanya. Aku ingin merasakan pelukan hangat darinya. Hanya itu tak lebih. Setidaknya lelaki itu bisa mengijinkanku untuk tetap disampingnya meski dengan keadaan yang berbeda. 

Kurasakan sebuah gejolak yang menggetarkan tubuhku. Anakku, disana ia bergerak seolah mengatakan bahwa saat ini aku tak sendirian. Ya, aku memang tak pernah sendiri karena kehadirannya. Aku pun tersenyum samar merasakan gerakannya yang sangat lincah disana. kuusap pelan permukaan perutku merespon gerakannya. 

"Nak, biar saja kita hanya hidup berdua yang penting kita senang." Ucapku padanya. Aku hanya berharap jika anaknya kelak akan menjadi anak yang membanggakan baginya. Bukan seperti ibunya yang miskin dan sering menyusahkan orang lain. 

Sekali lagi, aku menghembuskan napas pelan. Ketika mataku terpejam, aku selalu mengingat bagaimana kehidupanku dulu. Semua yang pernah terjadi begitu jelas terlihat dalam bayangan hitam putih dalam benakku.

Jeanattan. 

Entah apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Aku tak berharap banyak untuk hubungan kami. Aku hanya berharap semua yang terbaik datang kepadanya. Aku harap semoga Martha, istri barunya bisa memberikannya cinta yang selama ini tak mampu kuberikan. Kudoakan semoga kalian selalu bahagia, meski aku disini tak bisa ikut merasakan kebahagiaan itu. 

Aku disini, dan juga anak kita. 

***

Matahari sudah mulai lelah mengeluarkan sinarnya. Terang pun tersembunyi dibalik kegelapan malam, seakan enggan untuk kembali bersinar. Siapapun mungkin memilih untuk pulang ke rumah mereka. Menikmati suasana hangat dirumah. Meski hal itu pun juga dilakukan oleh wanita yang tengah berbadan dua itu, namun wanita itu tahu bahwa di rumahnya takkan ada yang menyambutnya. Ia hanya akan kembali ke tempat dimana ia bisa menghabiskan malam dengan keheningan. Hanya itu yang bisa ia lakukan dimalam-malam tidurnya. Sendiri. 

Odelia saat itu baru saja pulang dari restoran tempat ia bekerja, berjalan dengan pelan ke arah sebuah gang sempit dan kumuh dipinggiran kota Jakarta. Disanalah.. tempatnya untuk menorehkan jejak kehidupannya yang baru. Rumah yang selama ini ia jadikan tempat bernaung bersama calon anaknya. Rumah itu dulunya Gudang yang dulunya digunakan untuk memisahkan limbah plastik yang masih bisa diolah. Namun karena semakin canggihnya teknologi, gudang itu mulai ditinggalkan. Luasnya hanya cukup untuk menampung Odelia dan anaknya kelak. Beruntung malamnya saat ia terusir, Odelia bertemu dengan seorang pria tua yang merasa iba padanya. Pria tua itu menunjukkan gudang itu dan berkata jika ia bisa menempatinya. Sungguh dunia ini sungguh pedih bila dirasa.

Pelahan Odelia menyeret kakinya yang terasa lelah masuk ke dalam rumahnya. Berharap jika sesampainya disana, ia bisa mengistirahatkan kakinya yang seharian melayani para pelanggan yang datang ke restoran tempatnya bekerja. Beruntung pemilik tempat itu mengijinkannya bekerja dengan kondisi yang tengah berbadan dua. Kalau bukan karena belas kasihnya, Odelia mungkin takkan bisa menikmati sepiring nasi dipagi hari lantaran tak memiliki uang. 

Namun, tanpa ia sadari jika sedari tadi, aktivitasnya dipantau oleh seseorang yang sama sekali tak diketahui kehadirannya. Dari dalam mobil sedan miliknya, pria itu larut memandangi wanita yang sudah memasuki rumah kecil yang entah apakah itu layak disebut sebagai sebuah rumah. Kehidupan yang bahkan takkan pernah bisa dibayangkan oleh wanita yang tengah mengandung manapun. 

Hal itu seolah mencongkel bagian terdasar dalam dadanya. Odelia yang harus kembali hidup seperti ini, tak layak. Dan ia hanya mampu duduk ditempat ini terpaku memandangi kehidupan tragis wanita itu. Wanita yang pernah berbagi dengannya. Wanita yang pernah mencurahkan hidup untuk laki-laki bajingan sepertinya. Entah dari mana asalnya hati wanita itu. Begitu rapuh tapi mampu kembali berdiri meski keadaan yang tak memungkinkannya. 

Tanpa sadar lelaki itu mencengkram kuat stir mobil yang ada didepannya. Matanya berkilat penuh emosi.

Terdengar suara hembusan napas yang beradu tajam. Lelaki itu marah. Marah bukan kepada siapapun, melainkan kepada dirinya sendiri. Dia yang bertanggung jawab atas semua penderitaan ini, dan dirinya yang telah membuang impian bersama wanita yang ia cintai. 

"Odelia..."

...

Teruntuk yang tersayang, suamiku, Jean.

Mungkin setelah kau membaca ini, aku sudah tak lagi berada didekatmu. Mungkin saat ini kau pun sudah menjalani kehidupan barumu bersamanya. Tapi.. bisakah aku mengatakan beberapa baris kata.

Oh.. jangan marah, Jean. Itu bisa membuatmu menambah garis kerutan dikeningmu. Ijinkan aku mengatakan ini sebelum aku benar-benar melupakannya dan juga.. dirimu.

Entah mengapa setiap kali aku memikirkan nasibku, aku selalu mengatakan bahwa aku ini bodoh.

Setiap kali aku mengingatmu aku selalu mengatakan bahwa aku ini adalah wanita yang tidak tahu diuntung. Setiap kali aku memandangi tubuhku aku selalu mengatakan bahwa aku ini memang tak pantas bersanding denganmu. Mungkin dengan kepergianku dari hidupmu kau akan tenang dan bahagia. Meski aku bukanlah istri yang baik, kau selalu ada. Biarpun kau tak pernah mengijikanku untuk berdiri disampingmu. Aku selalu dibelakangmu. Melihatmu secara diam-diam. Namun aku sadar bahwa memang wanita sepertiku tak pantas memiliki hatimu. Cukup mencintaimu saja sudah membuatku bahagia.

Kau tak perlu menangis jika sedih untukku, kau tak perlu mengamuk ketika marah kepadaku, karena aku sudah mengijinkanmu memilih kebebasanmu. Aku sudah melepaskanmu dari belenggu keegoisan perasaanmu. Mengikatmu denganku dalam sebuah ikatan pernikahan rasanya membuat seolah aku yang menyiksamu.

Jean, terima kasih untuk waktu yang berharga ini. Aku sangat bahagia mengingat kenangan kita dulu. Dimana saat kau memanggilku, menggenggam tanganku hangat. Aku takkan meminta apapun lagi darimu. Cukup ini saja yang akan aku bawa hingga waktuku habis. Hanya ini yang akan aku jaga sebagai tanda perpisahan darimu... anak kita...

Jaga dirimu baik-baik. kudoakan segala yang terbaik untukmu dan juga dirinya. Aku disini tetap menjaga hatiku untukmu.

Kukatakan, kau tak perlu mencintaiku Jean.

Cukup aku saja yang mencintaimu.

Dari yang mencintaimu, selalu.

Istrimu, Odelia.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status