Part 04

—4—

James mendatangi club tempatnya semalam bertemu dengan Lea, dia berniat memastikan kembali apa yang telah terjadi semalam.

Suara berisik musik terdengar memekakan telinga, begitu mengganggu. James melihat ke sekeliling mencari sosok Lea, namun tak menemukannya.

Hingga manager yang semalam seperti mengenalinya, menghampiri James.

"Apa kau mencari seseorang, Sir?"

"Ah ya... Aku mencari Lea," jawab James.

"Kau yang semalam diantarkan oleh Lea?" tanya balik manager bertubuh gempal tersebut.

"Iya, apa dia ada?"

"Tentu... Ikuti aku," ujar si manager berjalan lebih dulu menuju ke sebuah ruangan yang lebih tenang untuk bicara.

“Permisi, Sir. Tamu ini ingin menemui Lea,” ujar manager tersebut kepada seseorang yang berada di balik kursi. Pria yang duduk itu ternyata adalah pemilik club tempat Lea bekerja.

Pria yang berasal dari Inggris bernama lengkap Jonathan Walz. Sahabat yang sudah dianggap Lea seperti kakaknya sendiri.

Jonathan yang akrab dipanggil Joe oleh Leanor itu berdiri dari duduknya dan menyuruh managernya untuk pergi dan menutup pintu ruangannya.

"Bug!" satu bogem mendarat di wajah tampan James. Setelah Jonathan berada di hadapannya..

"What the he—"

"Apa yang kau lakukan padanya hingga dia sakit dan tak masuk hari ini?" tanya Joe setelah melayangkan tinjunya.

James menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.

"Bagaimana bisa dia tak masuk, sore tadi aku bertemu dengannya. Dia berniat berobat, namun diurungkannya karena aku dokternya," jelas James.

"Apa yang kau lakukan padanya semalam?"

"Justru itu yang ingin ku pastikan, semalam... Aku tak mengingatnya dengan benar dan dia tak bicara tak jelas padaku," ujar James.

"Apa kau melakukan itu?" tanya Joe.

"Aku... Sungguh tak mengingatnya... Tapi sepertinya iya. Mengingat dia yang sempat berucap tanpa sadar sore tadi," jawab James.

"Berengsek!! Beraninya kau menyentuh dia! Kau!" Joe meradang dia menarik kejah baju James dan berniat memukulnya lagi, namun James menahan dan menangkisnya.

"Sebenarnya kau ini siapanya? Kenapa kau begitu peduli padanya?" tanya James kesal. Niatnya ingin memastikan malah mendapat pukulan.

"Kau tak perlu tau siapa aku! Jika dia sampai hamil kau harus bertanggung jawab atau aku dan orangku akan mengejarmu!" ancam Joe.

"Aku ke sini untuk mencari tau semua itu! Tapi dia menghindar! Jangan mengancamku, karena aku tak pernah takut." James menepis tangan Joe dan hendak beranjak dari tempat itu.

"Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri semenjak dia menjadi yatim piatu dan tulang punggung keluarganya," ungkap Joe, membuat James menghentikan langkahnya.

"Adiknya harus berobat, dia memaksaku untuk mempekerjakannya di sini. Aku sudah melarangnya karena aku takut dia... Hah! Kau sungguh melakukan hal yang salah dude! Jika semalam kau melakukannya karena mabuk, aku bisa memaklumi, tapi ku harap kau berhenti sampai di sini," ujar Joe.

"Apa maksudmu?"

"Jangan mencarinya lagi, jangan membuat hidupnya semakin sulit, jangan menyentuhnya lagi! Intinya, aku ingin kau melupakan semua yang semalam terjadi dan jauhi dia," tukas Joe.

"Aku... tak bisa berjanji, aku juga tak ingin berurusan denganmu dan dia lebih jauh. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja dan tak akan mendatangiku kelak. Karena aku hanya ingin hidup tenang dengan wanita yang ku cintai," ujar James keluar dari ruangan tersebut.

Dia berniat kembali ke apartemen, namun dia mengingat bahwa Keyla sedang di rumah sakit. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.

-

"Kau sudah selesai Jamie?" tanya Keyla begitu James tiba di ruangannya.

"Ya... Maaf tadi aku mencari makanan dulu baru ke sini," ujar James berdusta.

"Tak apa, kau pasti lelah, istirahat lah Jamie," ujar Keyla tersenyum.

"Aku tak lelah, aku merindukanmu, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya James.

"Aku sudah lebih baik, mereka merawatku dengan baik," jawab Keyla.

James mendekat dan duduk di pinggiran ranjang yang Keyla tempati, dia mengusap pipi Keyla dan mengelusnya, lalu dia mendekat dan mencium bibir Keyla sekilas namun tersirat rasa bersalah.

"Apa ada masalah Jamie? Kau terlihat lelah, apa kau sakit?" tanya Keyla khawatir, sambil mengusap rahang James.

"Aku... Baik-baik saja, aku hanya merindukanmu. Maksudku... Sebelum ini terjadi, kita sedang bertengkar, dan sekarang kau harus... Sudahlah, aku cukup senang kau bisa kuat sampai sejauh ini. Apa kau yakin padaku bahwa aku bisa membahagiakanmu? Aku...." James menggantung perkataannya, Keyla menunggu lanjutannya.

"Aku hanya ingin kau bahagia dan berhenti memikirkan Xander, jangan merasa bersalah padaku karena aku selalu mengalah. Aku ingin kau juga memiliki perasaan yang sama padaku bukan rasa kasihan padaku," ujar James, dia sendiri tak tahu dengan apa yang dia bicarakan. Pikirannya terbagi dua, dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Lea tanpa diketahui oleh Keyla. Karena mendapatkan Keyla adalah hal yang sejak lama dinantikan, dan dia tak ingin semuanya berantakan.

"Aku tau kau pasti akan merasa seperti itu... Tapi apa kau tau, semalam saat kau pergi? aku takut, sangat takut kehilanganmu. Hingga aku berpikir ingin membuatmu bahagia dengan menjadi lebih baik, aku ingin kau merasakan perasaan sayangku padamu sudah ada sejak lama tanpa aku sadari." James memeluk Keyla, kepalanya semakin sakit karena sungguh merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan malam itu bersama Lea.

"Aku akan di sisimu selalu Key, itu janjiku, sekarang kau tidurlah." James melepas pelukannya dan kembali mencium bibir Keyla dengan perlahan dan lembut.

"Mandilah... Kau terlihat lelah sekali," ujar Keyla.

"Baiklah." James beranjak dari ranjang Keyla dan menuju kamar mandi yang tersedia dalam ruangan itu juga.

***

Lea menarik Aleandra untuk pulang dari rumah sakit tersebut, membiarkan dirinya yang masih merasa tak sehat untuk langsung tidur tanpa bicara apapun pada Adiknya.

Aleandra bingung dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba mendiamkannya, dan sempat membentaknya saat tadi menanyakan dirinya yang sudah diperiksa keadaannya atau belum.

"Ka... Kau sudah tidur? Aku membawakan kau makanan dan obat, tak apa jika kau tak ingin diperiksa oleh dokter yang bernama James tadi. Tapi... Setidaknya kau harus minum obat penurun panas ini," ujar Aleandra di depan pintu kamar Lea. Namun tak ada jawaban lagi. Membuat Aleandra semakin merasa bersalah.

Tak lama suara bel pintu berbunyi. Aleandrs beralih dan meletakkan senampan makanan dan obat di meja lalu beranjak ke pintu apartemen dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.

"Ka Joe?"

"Dimana kakakmu, Al?"

"Dia di kamar, bantu aku membujuknya untuk makan, dia marah denganku. Aku mengajaknya ke dokter yang bernama James aku tak tau apa masalahnya dengan dokter itu," jelas Aleandra.

"Kau bersiaplah, kita akan mengangkut kakakmu ke dokter lain tanpa bantahan darinya," ujar Joe memasuki kamar Lea.

Dia memang sudah terbiasa dengan kakak beradik yang baru ditinggalkan oleh kedua orang tuanya itu.

Karena dulu mereka bertetangga dan sangat mengenal keluarga Lea dan Ale, hingga Joe sudah menganggap mereka seperti adiknya.

"Lea... Ayo kita ke dokter," ujar Joe berdiri di hadapan Lea.

Namun kembali tak ada jawaban apapun, Lea terlihat menahan sakit dengan mata terpejam.

Joe duduk di pinggiran ranjang Lea berniat memeriksakan suhu tubuh Lea dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Lea.

"Ya ampun! Lea apa kau habis memakan api? Suhu tubuhmu sangat panas dan kau hanya diam?" pekik Joe tanpa menunggu jawaban Lea, dia mengangkat Lea untuk ke rumah sakit terdekat.

"Kau sudah siap Al?" tanya Joe mendapati Ale yang baru saja ingin menyusul ke kamar.

"Ya, ada apa dengan kakak?"

"Kita akan membawanya ke rumah sakit, ambil kunci mobilku di meja, kau bukakan pintunya nanti," ujar Joe dan berjalan lebih dulu membiarkan Ale menutup pintu apartemennya dan menyusulnya segera.

***

Setelah mandi, James merasa lebih segar dari sebelumnya, dia berniat membacakan sebuah novel untuk Keyla yang masih menunggunya.

"Baiklah, kali ini cerita apa yang ingin aku bacakan?" tanya James mendekati Keyla yang sudah siap dengan novel di tangannya.

"Aku tak bisa berpaling dari kisah romantis Jamie, jangan bosan dengan kisah yang akan kau bacakan ini," ujar Keyla menunjukan cover novel tersebut.

"Aku Akan—"

"Tok, tok, tok...." ucapan James terhenti dengan suara ketukan pintu kamar rawat Keyla.

James berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang perawat terlihat panik.

"Ah... Syukulah dokter belum tidur, maaf mengganggumu dok, ini darurat. Ada pasien dengan demam tinggi, dokter Albert hari ini yang berjaga, sedang mengurus pasiennya," ujar perawat tersebut.

"Baiklah aku akan ke sana, tunggu sebentar," ujar James. Lalu dia berbalik ke Keyla.

"Lakukan tugasmu Jamie, aku akan tidur jika sudah mengantuk," ujar Keyla tersenyum. James mendekat dan mencium kening Keyla.

"Maaf Key, kau tidurlah dulu." Keyla mengangguk mengerti, lalu James beranjak dari ruang rawat Keyla menuju tempat pasien tersebut menunggunya untuk ditangani.

***

Tak ada pilihan lain. Rumah sakit terdekat dari apartemen Lea adalah tempat di mana James praktek, seolah ini adalah takdir bahwa mereka akan kembali bertemu.

"Jika dia sadar, dia akan marah. Dia tidak menyukai rumah sakit ini,” ujar Aleandra memberitahukan pada Joe. Pasalnya tadi sore dia dan Lea sudah pergi ke sini.

"Kakakmu yang keras kepala akan diam jika aku yang membawanya. Selain rumah sakit ini, jarak rumah sakit lain akan memakan waktu satu jam untuk tiba di sana," jelas Joe.

"Tapi—"

"Sudah! Kau tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab jika dia memarahimu," ujar Joe.

Tak lama James datang dengan seragam putih khas seorang dokter yang akan praktek. "Di mana pasiennya?" James menuju ruang UGD tanpa menoleh ke arah Joe dan Aleandra yang menunggu di luar. Dia tak bisa santai jika ada seorang pasien yang membutuhkan uluran tangannya.

"Kemari dok, kami sudah menginfusnya karena adiknya bilang dia belum makan dari siang dan suhu tubuhnya sangat tinggi. Pasien ini sudah tak sadarkan diri," jawab perawat tersebut. Mereka memasuki UGD dan perawat itu membuka tirai penutup pasien. James kembali dikejutkan dengan wajah pucat pasi Lea. Dia mendekat dan mengecek suhu tubuhnya.

James meminta perawat tersebut untuk menyiapkan obat suntik penurun panas, sementara dia berusaha membangunkan Lea. Tidak lama kemudian suster memberikan obat yang siap untuk dia suntikan. Setelah beberapa saat akhirnya Lea terbangun walau keadaannya masih sangat lemah.

"Akhirnya kau sadar. Apa yang kau rasakan Lea?" tanya James kembali memeriksa keadaan Lea.

"Kepalaku sangat sakit dan aku merasa kedinginan. Kenapa aku berada di sini?"

"Sejak kapan kau merasa seperti itu?"

"Semalam. Kenapa aku di sini? Di mana adikku?"

"Kau bisa kehilangan nyawamu jika adikmu tak membawamu ke sini. Jangan memikirkan hal lain, kau harus istirahat. Aku akan memanggilkannya," ujar James.

"Tunggu!" panggil Lea menahan lengan James.

James berhenti dan menatap tangannya yang ditahan oleh Lea.

"Tolong... jangan katakan apapun padanya tentang kejadian malam itu," pinta Lea dengan suara lemah. James menggenggam tangan Lea dan meletakannya di atas perut Lea, masih sambil menggenggamnya.

"Kau tenang saja, pikirkan kesembuhanmu lebih dulu. Jangan memikirkan masalah biaya, aku yang akan menanggungnya. Aku akan katakan pada adikmu bahwa aku akan menepati janjiku pagi tadi," ujar James. Entah dorongan apa yang membuatnya harus mencium kening Lea, membuat Lea merasakan perasaan yang aneh.

"Istirahatlah." James beranjak keluar dari ruang UGD.

"Dok, bagaimana keadaan kakakku?" tanya Aleandra.

James melirik Joe yang berdiri di belakang Aleandra. "Kakakmu sudah sadar. Aku akan menyuruh perawat memindahkannya ke kamar inap. Untung kau membawanya ke sini sebelum terlambat. Aku sudah meminta perawat mengambil sampel darahnya untuk memeriksa keadaannya. Setelah hasil laboratorium keluar kita akan tau," jelas James.

"Syukurlah," ujar Aleandra.

"Untuk masalah biayanya kau tak perlu mencemaskannya. Aku yang akan menanggungnya. Aku akan menepati janjiku tadi pagi karena membuatmu mengantri makanan lagi," ujar lagi James membuat Aleandra semakin bersyukur.

"Apa aku boleh menemui dia sekarang?" tanya lagi Aleandra sebelum James beranjak.

"Ya, silahkan," jawab James. Kemudian Aleandra masuk ke dalam UGD.

Dia menatap Joe yang juga menatapnya tajam. Dia berniat mengabaikan Joe yang seolah menyalahkannya.

"Aku rasa kita perlu bicara dokter James Savier!" seru Joe menghentikan langkah James. James berbalik mendekat padanya.

"Tak ada yang perlu kita bicarakan Sir, kau bahkan bukan keluarganya. Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya. Jadi hentikan tatapanmu yang mengintimidasiku seolah semua ini terjadi karenaku," bisik James yang kemudian dia langsung pergi dari hadapan Joe.

Kau dokter bodoh yang tak tahu apa yang telah kau lakukan. Aku tak akan diam melihatmu mempermainkan orang yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri. batin Joe menatap sinis punggung James yang tampak menunjukkan kesombongan.

**   

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status