Part 06

Leanor tertidur dengan lelap setelah dia lelah menangis dipelukan James.

James bingung. Saat dia menciumnya, Lea malah menangis dan terduduk lalu semakin menangis dengan kencang.

James hanya memeluknya dan membiarkan Lea menangis hingga terlelap. Dia membiarkan semua beban dipundak Lea hilang walau sesaat.

James membawa Lea menuju kamar, lalu membaringkannya di atas ranjang. Dia berbaring di sampingnya, meratapi wajah lelah Lea. Dia mengusap pipi Lea dengan lembut kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Lea. Semua dia lakukan tanpa sadar. Dia hanya melakukan apa yang hatinya inginkan hingga akhirnya dia ikut terlelap. Kebetulan dia sendiri kurang tidur selama Keyla dirawat.

Sore hari saat Lea terbangun. James ikut terbangun akibat gerakan Lea dalam pelukannya.

"Ada apa?" tanya James masih tak melepaskan pelukannya.

"Aku ingin mandi.”

"Memangnya kau ingin ke mana?"

"Aku harus bekerja!"

"Tidurlah. Aku akan pesankan makanan," ucap James.

"Tidak. aku akan bekerja. Aku sudah tiga hari tak bekerja. Pelangganku pasti mencariku. Mereka akan mencari yang lain jika aku—"

"Jika kau sudah jadi milikku!" Seketika James berada di atas Lea karena pergerakan Lea yang terbilang mengusik ketenangan adik kecil James.

"Apa kau bercanda? Aku bukan milik siapa-siapa. Jadi hmfftt…"

Lelaki itu menciumnya dengan kasar. Dia tak tahan melihat bibir Lea bergerak mencaci dirinya. Lea berusaha menolak, namun permainan James lebih menggoda. Hati dan pikirannya bersinggungan.

James melepaskan ciumannya. Dia melihat bibir Lea yang membengkak akibat perbuatannya. Masih menindih dan menempelkan keningnya pada Lea, napas mereka terengah.

"Mulai sekarang kau tak boleh bekerja di sana. Itu perjanjian pertama," ujar James yang bibirnya masih menyentuh bibir Lea saat dia bicara.

"Kedua, jangan pernah membantahku seperti tadi," ucap James lalu kembali melumat bibir Lea. Kali ini lebih lembut dan tenang. Membiarkan Lea merasakan sesuatu yang berbeda mengalir dalam tubuhnya. Hingga ciuman itu turun ke lehernya, membelai telinganya dengan lidah James, memberikan sensasi geli pada Lea.

Lea memekik saat tangan James meremas payudaranya dengan keras secara bergantian. Sedangkan satu tangan James menahan bobot tubuhnya.

James mengangkat Lea untuk duduk di atas pangkuannya. Dia membiarkan Lea merasakan bukti gairahnya yang mengeras. Ciuman pada bibir mereka yang semakin memanas sedikit terjeda karena James membuka baju Lea dengan tak sabar. Dia menatap kedua gunung kembar yang terlihat menggiurkan. Dia segera menarik paksa bra yang melingkar pada dada Lea.

"Ah…! Sakit James!" pekik Lea.

James hanya tersenyum dan langsung meraup dada Lea dengan cepat. Perbuatannya membuat Lea kembali memekik. Antara sakit dan nikmat yang terasa secara bersamaan. James semakin merapatkan tubuh Lea padanya, seakan dia ingin membiarkan Lea ikut tersiksa karena miliknya yang terus mendesak minta keluar.

James mengangkat tubuh Lea sambil mengisap dadanya yang berhasil membuat Lea melenguh dan senyum James mengembang. Dia mendudukkan Lea di atas sofa single dengan sandaran tinggi yang berada di dekat jendela kamar. Dia berjongkok, dan membuka celana pendek Lea. Dia melihat celana dalam Lea sudah basah lalu kembali membukanya. Menit berikutnya dia membuka baju dan celana panjangnya hingga menyisakan celana boxer yang menonjol cukup besar di bagian tengah.

"Kali ini aku akan melakukannya secara perlahan dan benar. Aku ingin kau menikmatinya juga Lea." James menundukkan kepalanya di antara pangkal paha Lea. Dia menyapukan lidahnya, mengisap dan menjelajahi lembah hangat milik Lea. Hal ini membuat Lea mendesah dan bersandar pasrah di atas sofa. Dirinya semakin merosot hingga kedua kakinya bertumpu pada pundak James, membuat James semakin leluasa memainkan miliknya.

"Ah... James!!"

"Hm... ya, Lea? Mintalah, maka aku akan memberikannya."

"Tidak!! Kau benar-benar dokter brengsek! Hentikan, aku... ahhh... Jameess!!" teriak Lea saat pelepasan terjadi. James bangun setelah menjilati cairan Lea. Dia berdiri dan tersenyum puas.

Kaki Lea tampak lemas. James membenarkan posisi Lea lalu dia membuka celana boxer-nya, menampilkan miliknya yang berdiri tegak menantang. Lea terkejut melihat milik James yang sudah sangat siap memasuki dirinya.

James mendekat dan membalik posisi Lea untuk berlutut menghadap sofa dengan menumpukan kedua lututnya di atas sofa dan sedikit menaikan bokongnya.

"Kau sudah sangat siap, Lea? Sekarang biarkan aku memasukimu. Maka aku akan membuatmu kembali meneriakkan namaku." Dalam satu hentakan dia langsung memasuki Lea.

Lea memekik saat milik James telah menyatu dengan miliknya. Benar apa yang dikatakan dalam cerita novel yang sering dia baca. Untuk kedua kalinya dia merasakan sesuatu yang nikmat sedang bergerak lincah dalam dirinya yang menyebabkan dia mendesah tak tahu malu dan melupakan harga diri yang sudah James ambil untuk kedua kalinya.

"Ah... James..."

"Ya, mendesahlah. Sebutlah namaku Lea. Oh, damn!! Kau... sanghat... sempit Lea... ahh..." James meracau dan mempercepat gerakannya hingga sebuah pelepasan kembali dirasakan oleh keduanya.

James melepas miliknya dan mengangkat tubuh lemah Lea ke atas ranjang, membaringkannya di sana dan menciumi wajah Lea.

"Kuharap ku benar-benar meminum pil Lea," bisik James lalu beranjak mengajak Lea ke kamar mandi.

Lea terdiam mendengar bisikan dari James. Dia teringat bahwa dia sama sekali tak meminum pil apapun. Dia bahkan lupa meminumnya setelah pertama kali bermain dengan James.

Kucuran air shower mengagetkannya. Dia tersadar dari lamunannya.

James menyabuni dirinya dengan lembut, sedikit bermain pada bagian dada dan area sensitifnya.

Tatapan James sangat lembut yang membuatnya menyadari bahwa iris biru terang milik James terlihat rapuh walau terpancar banyaknya cinta di sana.

"Sudah selesai. Keluarlah sebelum aku memakanmu lagi," ucap James setelah memandikan Lea. Dia sendiri ingin meredam gairahnya yang kembali terbangkitkan saat memandikan Lea.

Apa yang terjadi padaku saat bersama Lea? Aku benar-benar terlihat brengsek dimatanya. Sialnya otak dan hatiku selalu bersinggungan. Maafkan aku Key, sungguh aku tak bermaksud mengkhianatimu. Sesuatu dalam diriku seolah menguasaiku. Aku janji ini yang terakhir, Key. James membatin kala dirinya kembali mengingat Keyla yang berada di rumah sakit sedang menunggunya menyiapkan pernikahan indah. Namun dirinya malah kembali bermain dengan Lea yang membuatnya semakin bingung dengan apa yang dia rasakan.

Setengah jam lamanya James mengguyur dirinya di bawah kucuran shower, merasa dirinya harus bisa bersikap tegas dihadapan Lea. Dia tak ingin terlihat brengsek walau kenyataannya Lea sudah menganggapnya begitu.

Keadaan kamar sudah rapi. Baju sudah terlipat dan diletakkan di atas sofa bekas mereka bermain sebelumnya.

James keluar dari kamar dengan keadaan yang sudah sangat rapi dan tingkat ketampanannya semakin tinggi.

"Kau sedang apa?" tanya James melihat Lea sibuk berkutat di dapur.

"Memasak sesuatu yang bisa dimakan. Kau duduklah dulu. Sebentar lagi selesai," jawab Lea.

"Maaf mengecewakanmu, aku harus segera pergi untuk mengurus sesuatu. Kau makan saja. Dan jangan ke club!

Aku akan membuat surat perjanjiannya. Jadi jangan berani menentangku!" James mencium sekilas bibir Lea kemudian pergi.

Lea mematikan kompor dan menghentikan acara memasaknya. Dirinya merasa seperti orang bodoh yang berharap seperti cerita novel yang dia baca yang mengatakan setelah melakukan percintaan salah satu pasangan membuat makanan dan memakannya bersama.

"Kenapa aku bertindak seperti orang bodoh? Percintaan? Bahkan dia telah memiliki orang yang dia cintai. Aku menganggap barusan adalah sebuah percintaan? Tadi itu hanya having sex, Lea! Kau harus sadar itu!" Lea berujar entah kepada siapa. Dadanya terasa sesak. Dia merasa kecewa. Entah pada James atau dirinya sendiri.

Dia merasa begitu lemah dihadapan James hingga membiarkan James melakukan apapun padanya. Dia menyesalinya saat James bersikap acuh padanya.

**

James meninggalkan Apartemen dan menuju sebuah hotel. Dia ingin menyiapkan yang terbaik untuk pernikahannya dengan Keyla. Setelah puas melihat-lihat apa saja yang ditawarkan oleh pihak hotel untuk membuat acara pernikahan. Dia mencari sebuah bridal ternama dan meminta dibuatkan rancangan gaun yang indah untuk Keyla. Dia pergi ke sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga rose untuk dia berikan pada Keyla.

Keyla, Keyla, dan Keyla. Sepanjang perjalanannya yang dia pikirkan hanya Keyla. Entah karena merasa bersalah atau apa, yang jelas dia ingin melakukan yang terbaik untuk wanita yang dia cintai.

Setelah Keyla menyelesaikan makan malamnya yang tak habis, James baru datang.

"Hai sayang. Maafkan aku."

"Kau ke mana saja? Aku kesepian. Aku tak nafsu makan." Keyla merajuk.

"Jangan begitu. Aku membawakanmu ini.” James memberikan bunga yang tadi dia beli. Senyum merekah di wajah Keyla.

"Hari ini aku sibuk melakukan banyak hal. Aku sedang menyiapkan sesuatu untuk hari pernikahan kita nanti. Jadi jangan marah padaku," jelas James.

Keyla tersenyum manis. Dia bahagia James melakukan semuanya dengan cepat dan selalu memanjakannya. Semakin membuatnya merasa bahwa dirinya sungguh telah jatuh cinta pada seorang James yang bertahan padanya selama bertahun-tahun untuk menunggunya melupakan masa lalunya.

"Jamie, aku ingin pulang sekarang saja. Aku tadi sudah meminta pada perawat untuk memberitahukan pada dokter Gabriel untuk mengizinkanku pulang hari ini. Dia mengizinkannya."

"Benarkah? Hm... baiklah. Kita pulang sekarang. Aku tahu kau sudah bosan di sini."

Mereka segera membereskan barang-barang dan bergegas untuk pulang.

***

Setengah jam perjalanan menuju Apartemen, mereka akhirnya tiba di lobi. James melihat Lea yang sudah rapi dan berjalan keluar dari Apartemen. Tatapan mereka sempat bertemu walau hanya sekilas.

Saat tiba di unit Apartemennya, James membiarkan Keyla melakukan apa yang dia mau. Sementara James membuka laptopnya mengetikkan sesuatu di sana. Hal tersebut menarik perhatian Keyla yang akhirnya mendekat dan bertanya.

"Apa yang kau kerjakan Jamie? Kau terlihat sangat serius."

James buru-buru menutup laptopnya dan tersenyum pada Keyla. "Ini sebuah kejutan, jadi kau tak boleh mengetahuinya. Apa kau sudah selesai?" tanya James. Dia menarik Keyla untuk duduk di atas pangkuannya.

"Jika kau masih sibuk, aku akan tidur duluan. Setelah meminum obat, aku jadi mengantuk."

"Tidak. Ayo kita tidur. Aku akan lanjutkan setelah kau tidur.” James menggendong Keyla ala bridal style menuju kamarnya, lalu dia membaringkannya secara perlahan.

Setengah jam kemudian Keyla sudah terlelap. James beranjak dari ranjang dan kembali membuka laptopnya. Dia mencetak surat perjanjian antara dirinya dan Lea. Setelah itu dia memasukannya ke dalam amplop putih.

James mengambil kunci mobil dan mengenakan jaketnya. Dia berniat mendatangi Lea. Dia tahu di mana Lea berada dan akan menyeretnya pulang jika wanita itu bersikeras untuk tetap di sana.

**   

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status