Pria Alfiyah
Pria Alfiyah
Author: Syska Nabila
Aini

Aini menyusuri satu persatu lukisan kakaknya. Lukisan yang selalu mengingatkan pada kematian kakaknya yang begitu tragis. Kakaknya tewas saat ia hendak pergi ke pesantren. Mobil bak tanpa aling-aling yang menabrak kakak Aini hingga tewas. Dari kejadian itu, Aini berfikir bahwa kematian kakaknya disebabkan oleh pesantren. Peraturan pesantren yang membuat kakaknya harus pergi--hingga akhirnya tewas. Aini sekarang sudah lulus sekolah menengah pertama, itu saatnya Aini melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Yap, sekolah menengah atas. Sudah terlalu banyak sindiran orang tuanya tentang pesantren. Kedua orang tuanya menginginkan Aini pergi ke pesantren. Tidak salah lagi, orang tua siapa yang tidak menginginkan putra-putrinya sukses? Ingin putra-putrinya terjerumus pergaulan zaman sekarang? Zaman dimana anak-anak, remaja, bahkan dewasa, melakukan perzinahan, mencopet, bahkan saling membunuh. Itu harga yang mahal sekali. Apakah negara ini berontak? Jawabannya adalah, tidak. Negara terlalu sibuk dengan uang, uang, dan uang. Perkara kecil pun tidak dihukum, apalagi perkara besar. Itulah zaman millenium, remaja tak tahu cara sopan santun pada orang yang lebih tua, dan sebaliknya. Orang tua Aini tidak mau seperti itu, mereka ingin putrinya tumbuh menjadi pemuka agama, pintar dalam berbagai hal. 

Langkah Aini terhenti pada foto berbingkai. Foto Aini bersama kakaknya. 

"Andai kakak masih di sini. Mungkin aku juga akan menuruti apa kata ibu, pergi ke pesantren." Aini tersenyum getir saat menatap kembali kenangan masa lalu.

"Kamu jangan terus bersedih, Nak. Kenapa? Teringat masa lalu lagi?" Ibu Aidah yang baru saja muncul dari balik daun pintu bertanya. 

"Iya, Bu. Jika Ibu akan memaksaku untuk ke pesantren kali ini, aku sudah bilang beberapa kali, aku tidak mau." Aini menjawab pertanyaan Ibu Aidah, kedua kelopak mata Aini masih menatap foto-foto kenangan.

"Kenapa tidak mau? Aini ingin mengecewakan Ibu?"

"Bukannya Aini ingin mengecewakan, Bu. Jika Aini pergi ke pesantren, sama saja dengan Aini membuat luka kembali. Saat Ibu mengatakan pesantren, hatiku teriris, Bu. Kematian kakak, apa Ibu sudah lupa? Apa Ibu ingin aku juga tewas?" Aini mengusap wajahnya, bulir-bulir kecil berjatuhan lewat pipi Aini. 

"Astagfirullah, Nak. Jangan mengatakan seperti itu. Ibu mencoba tersenyum setiap detik, itu bukan berarti Ibu melupakan Ranala. Kamu anak Ibu satu-satunya, Ibu tidak ingin kamu terjerumus pergaulan zaman sekarang."

Ruangan tamu lengang, menyisakan gemercik kolam air di depan teras rumah. Ayah Aini, ikut bersuara, "Ada apa ini?" Pak Amar memegang pundak Ibu Aidah, kemudian melihat Aini yang sedang menangis. 

"Tidak apa-apa, Ayah." Aini yang menjawab. 

"Kenapa menangis?" Pak Amar bertanya kembali.

"Tadi kami sedang memandangi foto-foto Ranala bersama Aini. Tidak disengaja, air mata kami mengalir." Ibu Aidah kali ini yang bersuara.

"Ayah juga tau. Aini menolak kembali untuk pergi ke pesantren, bukan?"

Ruangan tamu kembali lengang. Pertanyaan Pak Amar tergantung di langit-langit ruangan, tidak ada jawaban.

"Aini, sekali lagi Ayah bertanya padamu, Nak. Apakah kamu tidak mau membahagiakan orang tua ini? Kami juga mengerti, rasa sakitmu belum terobati. Namun, obatilah luka-luka itu dengan pergi kesana, ke pesantren. Aini pasti akan mengerti, kenapa Kak Ranala pergi, kenapa Kak Ranala ingin ke pesantren. Hanya sekarang, Aini penuh dengan ego. Aini masih remaja, belum berfikir dewasa. Pergilah, Nak. Bukannya kami tidak menginginkanmu tinggal di sini. Kami akan selalu merindukanmu nanti." Pak Amar mengusap wajahnya, setelah memberikan nasihat pada Aini.

"Ayahmu benar, Nak. Sekarang keputusan ada ditangan Aini. Aini akan menuruti apa kata Ayah, atau Aini akan menuruti hawa nafsu." Ibu Aidah membenarkan ucapan Pak Amar. Memang benar, salah satu yang paling sulit dihindari adalah hawa nafsu. 

"Aini tidak menjanjikan, Ibu, Ayah. Aini akan berfikir dulu. Aini harus menerimanya, walau itu sulit."

      ***

Satu minggu setelah itu, setelah Aini memetakan kembali perasaannya. Aini menyetujui permintaan orang tuanya. 

Semua barang, peralatan, kebutuhan Aini yang akan dibawa ke pesantren disiapkan oleh Ibu Aidah. Persyaratan dan pendaftaran juga sudah dilengkapi Pak Amar. 

Aini meraih buku diary pemberian kakaknya. Buku bersampul unicorn, dengan warna pink kemerahan. Aini akan menceritakan semua kejadian pada kakaknya lewat tulisan. Karena kakaknya gemar dalam dunia literasi, Aini juga memilih jalan yang sama, mencintai dunia literasi. Dulu kakaknya pernah bercerita, 'Kakak ingin menjadi penulis yang terkenal, Dek. Jika nanti kakak tidak kesampaian, kamu harus menjadi penulis. Penulis yang tulisannya bisa dinikmati oleh semua kalangan.' Itu adalah pesan kakaknya sebelum Sang Pencipta merenggut nyawa Ranala. 

Aini memegang bollpoint dengan kuat, hendak menuliskan sesuatu.

"Jika kakak masih ada di sini. Mungkin kita akan pergi bersama-sama ke pesantren. Kita akan merajut kembali kenangan, kita juga akan membuat kedua orang tua kita bahagia karena melihat anak-anaknya yang begitu pintar. Kakak di sana baik-baik aja, kan? Aku di sini sedang tidak baik, Kak. Besok lusa, aku akan pergi ke pesantren. Entahlah seperti apa keadaan di sana, apakah menyenangkan atau menyedihkan. Kakak bahagia tidak jika aku akhirnya pergi ke pesantren? Semoga bahagia, ya. Aku harap begitu. Mungkin sampai sini dulu curahan hatiku ke kakak."

Aini menutup kembali buku diary-nya. Menatap langit-langit kamar yang lengang.

     ***

Bola besar yang mampu menyinari planet bumi baru saja mengudara. Memunculkan sinar hangatnya. Pagi yang sangat sejuk, embun yang menetap di atas dedaunan mulai berjatuhan, memberikan kesegaran jika dihirup. Burung berkicauan di sana-sini menghiasi kala itu. Jadwal Aini pergi ke pesantren adalah hari ini. Semuanya sudah siap, mulai dari alat solat, alat mandi, dan tak lupa buku diary bertemakan unicorn dibawa Aini. Box buku juga sudah tertata rapi di dalam bagasi mobil.

"Semuanya sudah? Pastikan tidak ada yang tertinggal." Pak Amar memerintahkan Aini untuk mengecek kembali.

"Sudah, Ayah." Aini menutup bagasi mobil. Ibu Aidah juga sudah menunggu di dalam mobil.

 Pak Amar, Ibu Aidah, dan Aini, ketiganya sudah menempati bangku masing-masing. Pak Amar mulai menyalakan mesin mobil, dan para penumpang memasang sabuk pengaman.

   *** 

Perjalanan yang sangat mulus. Sekarang mereka telah tiba di pesantren Tebu Ireng--di Jawa Timur. Mereka datang saat matahari membenamkan dirinya--malam hari. Semua aktivitas di sana begitu mengagumkan. Santri-santri yang tengah berjaga pada malam hari, ada yang bergurau, membaca nadzom, satu-dua ada yang tertidur sembarang di pos ronda.

Salah satu satpam menyapa, memberikan salam, "Selamat malam, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" 

Pak Amar membukakan kaca jendela, membalas salamnya.

"Selamat malam juga, Pak. Saya calon wali santri baru, hendak mendaftarkan putri saya." Pak Amar tersenyum.

"Ouh, kalau begitu, Bapak masuk saja dulu. Nanti saya bilang dulu ke Rois-nya." Pak satpam 

berkata dengan logat jawanya yang sangat khas, membungkukkan badannya.

Jendela kaca ditutup. Pak Amar kembali menyalakan mesin mobil, melajukannya perlahan. Memilah-milah tempat parkir. 

"Angkat barang-barangnya hati-hati, Nak." Pak Amar memerintahkan pada Aini.

Aini mengangguk.

Salah satu pria, berpakaian santri menghampiri Pak Amar dan keluarga.

"Ada yang bisa saya bantu?" Pria itu berkata, setelah sebelumnya mengucapkan salam.

Pak Amar, Aini, dan Ibu Aidah menoleh, mencari asal suara. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status