Share

Bab 2 Namanya Randu

Tujuh tahun kemudian.

“Kemana Ran?” tanya Theo saat melihat sang adik tengah berjalan menuruni anak tangga. Ia yang baru saja keluar dari kamar, terheran-heran melihat penampilan sang adik.

“Ran mau pergi ketemu teman-teman SMA. Ada acara reuni, Kak!” seru gadis berambut hitam legam nan panjang itu. Rambutnya bergoyang-goyang ke sana ke mari saat ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Langkah kakinya terlihat anggun dengan tubuh yang berjalan tidak membungkuk atau membusung. Persis seperti putri-putri yang telah mempelajari etika bangsawan.

Bibir tipisnya dipoles dengan lipstik merah muda.  Memberikan kesan imut dan manis saat menatap wajahnya yang mulus itu.

“Jangan pulang terlalu malam,” titah Theo mengingatkan. Ia tahu Ran kalau sudah melakukan kegiatan di luar, bisa lupa waktu. Lebih tepatnya ia tidak ingat untuk pulang!

“Siap Boss!” Ran melayangkan senyum hangat pada sang kakak, lalu berlalu meninggalkan kakaknya itu.

Langkah Ran terhenti begitu ia hendak membuka pintu mobil karena tiba-tiba ponselnya berdering.

“Ada apa, Her?” tanya Ran mengangkat telepon.

“Kamu kok belum sampai?” tanya Hera di balik sambungan telepon.

“Iya nih, aku masih di rumah. Sebentar lagi sampai.” Bergegas Ran masuk ke dalam mobilnya.

Mendapat panggilan itu membuat Ran tidak ingin menunda waktu. Ia sudah sangat rindu untuk bertemu dengan teman-temannya, bertemu dengan orang-orang yang pernah menghabiskan waktu selama tiga tahun masa sekolah. Mobil pun ia lajukan dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai tepat waktu.

Ran adalah anak yang hanya terlihat baik di hadapan keluarga saja. Kalau di luar, kelakuannya sungguh berbanding terbalik. Meski begitu, ia selalu bisa menempatkan semuanya hingga tidak ada yang tahu dua sisi yang ada pada dirinya itu.

Kali ini Ran akan berkumpul dengan teman-teman masa SMA-nya dulu. Sebelum masuk ke dalam kafe, ia mengubah penampilannya sedikit.

Ran menatap dirinya di sebuah cermin kecil yang ia ambil dari dalam tas. Ia mengganti warna lipstik yang tadinya merah muda menjadi warna merah lebih menyala. Apa penampilannya sebelum datang ke sini itu adalah penyamaran supaya sang kakak tidak curiga? Mengapa Ran berdandan begitu mencolok? Untuk apa ia melakukan itu?

“Nah, begini lebih bagus,” puji Ran pada dirinya sendiri.

Ran terlihat sangat anggun begitu keluar dari mobil putih mewah itu. Dibandingkan dengan semua mobil yang terparkir di sana, hanya mobil Ran sendiri yang terlihat mencolok. Ya, mobil itu memang mobil yang spesial dan edisi terbatas. Papanya memberikan sebagai hadiah saat ulang tahunnya yang ke-17.

Ran tidak sengaja menabrak seseorang saat ia masuk ke dalam kafe.

“Maaf,” ucap Ran sambil memperbaiki posisi rambutnya yang agak berantakan.

“Ya, tidak apa-apa. Maaf karena saya juga terburu-buru,” ujar orang itu pada Ran.

“Tidak masalah,” ujar Ran disertai cengiran lebar.

“Baiklah, saya duluan.” Lelaki itu pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ran.

Ran pun berpikir, apakah ada yang aneh dengan penampilannya? Padahal ia sudah berkaca beberapa kali sebelum masuk ke dalam.

“Kenapa dia lihat begitu, ya?” pikir Ran. Namun, ia segera mengenyahkan pikirannya itu. Mungkin saja laki-laki itu terpesona dengan kecantikannya.

“Ran!” seru Sisi di dalam sana.

“Yuk, pergi ke lantai tiga. Kita akan pesta di sana,” ujar perempuan yang mempunyai pipi bulat seperti bakpao. Badannya juga berisi, tetapi ia lebih tinggi daripada Ran.

“Iya Sisi, aku udah tahu kok kalau pestanya di lantai tiga,” sambar Ran sambil merangkul tubuh Sisi.

Sisi mengerlingkan matanya. “Kamu makin cantik aja, Ran. Seksi juga,” cetus Sisi sambil melihat penampilan Ran dari bawah hingga atas.

“Hmm, ‘kan udah bawaan sejak lahir,” sahut Ran percaya diri.

“Tingkat pede kamu nggak berubah sejak aku mengenalmu, Ran,” balas Sisi sambil terus berjalan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, ternyata mereka bertemu dengan laki-laki yang tadinya tidak sengaja bertabrakan dengan Ran.

Akan tetapi, Ran bersikap seolah tidak mengetahui laki-laki itu. Ia hanya sibuk berbincang dengan Sisi temannya.

Samar-samar laki-laki itu mendengar nama lengkap Ran.

“Namanya Randu?” tanya laki-laki itu membatin. Ia seperti pernah mendengar nama Randu. Namun, di mana?

Hingga tiba di lantai tiga mereka pun keluar dari lift. Ran dan Sisi masuk ke tempat acara mereka.

Suasana di dalam ruangan itu begitu heboh. Semua orang saling melepas rindu satu sama lain. Mereka menikmati pertemuan ini karena semenjak kelulusan belum ada berjumpa sama sekali.

Randu Zevaline, anak kedua dari Tito Heru Bagaskara dan Keirefa Bayu Satya. Gadis itu lahir pada tanggal 7 September 18 tahun yang lalu. Tepat di hari itu adalah hari yang menyedihkan bagi keluarga Ran. Hari yang membuat papanya Ran menjadi ditinggal oleh istri tercintanya. Hari itu menjadi hari terakhir ia bersama dengan sang istri.

Ran besar tanpa adanya kasih sayang seorang ibu. Ia hanya punya papa dan juga kakak laki-laki yang sangat menyayangi lebih dari apa pun. Ia sangat dimanja, bahkan tidak pernah dimarahi.

Apa pun yang diinginkan oleh Ran pasti dikabulkan oleh papa dan juga kakaknya tersebut. Gadis itu selalu berkecukupan. Ia juga punya teman-teman yang sangat mengidolakannya. Ia adalah ketua geng besar saat di SMA. Tentu saja karena latar belakang Ran yang bukan diragukan lagi, hingga membuat ia punya posisi tinggi. Ia sangat dihargai oleh banyak orang.

“Wah, Ratu kita sudah datang!” seru teman-teman Ran. Kecantikan Ran membuat semua mata yang memandang terpana. Jauh lebih cantik dari semasa SMA.

“Sayangnya Raja kita tidak ada di sini,” ujar yang lain.

Ran tidak menanggapi ucapan teman-temannya yang membahas tentang hal itu. Ia bahkan tidak tahu kabar laki-laki yang dahulu diberi julukan sebagai raja tersebut. Sudah setahun berlalu, tetapi tidak ada kabar sedikit pun tentangnya. Bagai hilang ditelan bumi, lenyap, dan tidak ada tempat untuk bisa ditanyakan.

“Teman-teman, kalian jangan membuat Ran sedih. Ran pasti akan menemukan Raja yang baru,” timpal Hera, teman baik Ran. Hera langsung menggenggam tangan Ran dan menatap matanya lekat.

Ran mengedipkan matanya pada Hera. Ia mengode gadis itu untuk menemaninya pergi.

“Aku temani Ran ambil minuman dulu,” ujar Hera pada yang lain.

Sambil berjalan, Ran tidak membicarakan apa pun pada Hera. Mood-nya langsung berubah setelah mendengar ucapan teman-temannya yang membahas tentang ‘Raja’ tersebut.

“Masih mikirin Darell, ya, Ran?” tanya Hera saat mereka sudah jauh dari kerumunan teman-teman yang lain.

“Aku nggak mau mikirin dia lagi, Her. Tapi gimana caranya buat lupa?” tanya Ran pasrah. Sudah segala cara ia coba untuk bisa move on, tetapi usahanya itu selalu gagal. Ia terlalu mencintai Darell. Ia hanya ingin Darell memberikan kejelasan tentang hubungan mereka. Hanya itu saja.

“Aku ambilin minuman dulu, ya,” tawar Hera.

Ran mengangguk. Ia tidak mood mengikuti acara ini. Padahal, tadi ia sangat bersemangat. Wajahnya berubah jadi cemberut. Kepalanya ia tekuk ke bawah.

Saat mengambil minuman, Hera melirik kanan-kiri dan depan-belakang. Ia seperti mempunyai maksud tertentu.

“Setelah ini … hidupmu akan hancur, Ran,” gumam Hera. Senyum licik pun terbit di bibirnya.

Hera bergegas menghampiri Ran lalu menyerahkan gelas minuman tersebut. Ran mengambilnya dan mengucapkan terima kasih kepada Hera.

Thanks, Hera.”

“Iya, sama-sama.”

Ran hendak meminum, tetapi tiba-tiba Sisi memanggilnya untuk pergi bernyanyi.

“Ran, ayo nyanyi dong!” seru Sisi di atas panggung kafe. Ran melirik semua orang yang kini tengah memandanginya. Ran tidak tahu akan bernyanyi apa. Sudah lama ia tidak mengeluarkan suara emasnya di hadapan banyak orang.

“Nggak deh,” tolak Ran sambil melambaikan tangan ke atas sebelah. Ia pun meminum minuman yang Hera berikan padanya beberapa teguk.

“Yes,” batin Hera begitu Ran sudah meminum minuman itu.

***

Bersambung—

Comments (1)
goodnovel comment avatar
meta candra
Kelakuan si ran. 😂 Di rumah mut imut di luar mit amit.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status