1. You will Get Hurt

Namanya adalah Audrey Luna, namun ia lebih sering dipanggil dengan nama latin dari bulan ketimbang nama depannya. Dia adalah siswa sekolah menengah atas tahun kedua. Seperti sebuah takdir yang sudah direncanakan sejak lama, kehidupannya berubah setelah ibunya menikah lagi.

Luna tidak pernah keberatan dengan keputusan ibunya. Justru ia merasa sangat senang, karena sang ibu yang sudah menjaganya dengan sepenuh hati itu akhirnya bisa merasakan perasaan cinta lagi. Meskipun ia belum genap dewasa, ia sudah tahu seperti apa seharusnya ia bersikap. Ia tidak akan berlaku kekanakan dengan menolak pernikahan. Ia menyambutnya dengan baik. Ia pikir semua orang pasti akan melakukan apa saja untuk membahagiakan orang tua mereka, jadi menurutnya sikap yang ia perlihatkan pada pernikahan itu adalah sudah tepat: ia turut bahagia.

Namun, beberapa hari terakhir, ia merasa tidak menentu. Ini sudah tiga bulan sejak pernikahan ibunya. Sejak saat itu pula ia mulai tinggal di rumah sang Ayah tiri. Tidak ada yang salah dengan pria paruh baya itu. Luna merasa sangat senang karena ia diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Namun Luna bingung terhadap sang kakak tiri.

Namanya Colin Dewangga. Tidak seperti Luna yang senang, kakak tirinya itu sangat menolak pernikahan sang ayah. Bahkan sejak pernikahan dilangsungkan, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah keluarganya sendiri. Dia memang tidak tinggal di sana, tetapi jangankan untuk berkunjung, memberikan kabar saja tak pernah. Luna merasa sangat terbebani. Dia bahkan tidak menyambut baik sang ibu, apalagi dirinya sebagai sang adik. Sang ayah memang sudah memintanya untuk tidak khawatir, tetapi tetap saja. Luna merasa telah merebut kebahagiaan seseorang.

Sore itu tepat di waktu pulang sekolah, seperti biasa Luna berdiri di halte depan sekolah untuk menunggu bus. Karena dia sudah pindah rumah, dia tidak lagi punya teman pulang satu arah yang bisa ia tumpangi. Meski ada beberapa orang yang menawarkan tumpangan, gadis itu menolak, karena tujuan yang tidak searah. Dia tidak suka merepotkan orang lain.

Ketika dia sedang menunggu, tiba-tiba saja sebuah mobil sedan berwarna biru tua merapat ke halte bus. Luna hanya tetap diam di tempat ia berdiri, karena dia merasa tidak akan ada orang yang menjemputnya. Tetapi, ketika kaca mobil itu turun tepat di hadapannya, dia tertegun. Sang kakak tiri muncul di balik jendela.

Luna memang pangling beberapa saat, tidak menyangka bahwa sang kakak yang tidak ia temui sejak beberapa bulan itu akan muncul di depan sekolahnya. Lebih dari itu ia merasa senang, terutama ketika ia melihat sang kakak begitu tampan dan rapi dengan kemeja berwarna biru langit. Benar-benar seorang pria yang memesona.

“Kak Colin?”

Pria itu menoleh ke arahnya, menunjukkan aura yang lebih memikat dengan sedikit senyuman. “Masuklah,” ujarnya.

“Kak Colin datang untuk menjemputku?” Luna bertanya seakan-akan dia tidak percaya, ia mendadak bingung juga bersemangat di waktu bersamaan.

“Iya, adikku sayang. Masuklah.” Jawab Colin masih dengan senyuman.

Redaksi sang kakak begitu menggetarkan. Bagaimana dirinya dipanggil begitu manis, ia suka. Ia bukan mengharapkan hal-hal romansa, tetapi jika itu berarti ia diterima sebagai seorang anggota keluarga, ia sangat bersyukur. Ia mengira sang kakak tidak akan pernah mau bicara dengannya. Namun perkiraan itu melenceng.

 “Kau tidak mau pulang?”

Terlalu banyak melamun membuat ekspresinya sulit dikendalikan, ia merasa malu. “Ah, iya. Maaf, kak.”

Segeralah gadis itu masuk Luna bukan orang yang suka berprasangka. Tanpa ada pikiran negatif, dia percaya bahwa sang kakak mulai menerimanya sebagai seorang adik. Namun pada akhirnya, dia menyesali tindakan itu.

.

.

.

.

.

“Kalau kau menurut, aku mungkin akan bersikap baik padamu.”

Belum sempat Luna mencari kebenaran, ia kembali mengalami rasa sakit karena sang kakak dengan mudah menariknya kembali untuk sebuah ciuman. Gadis itu berontak. Tangannya sebisa mungkin mendorong sang kakak yang dengan penuh semangat menciuminya.

“Kakak!”

“Luna, diam!” Pria itu mengunci kedua tangannya di atas kepala, tidak peduli jika gadis itu menangis karena menolak ataupun kesakitan. Bibirnya tidak diam, memberikan kecupan-kecupan penuh nafsu seakan-akan itu adalah candunya. Di sela-sela semua itu dia masih sempat menarik blus seragam Luna ke atas. Meski telah mencoba sebisa mungkin, si pemilik seragam tidak bisa menghentikan penutup tubuhnya itu dikacaukan bentuknya.

Tangan Colin masuk ke dalam seragam Luna, mencoba menyentuh kulitnya dengan tangan kosong. Perhatiannya sedikit teralihkan, Luna melihat sebuah kesempatan untuk mendorong pria itu sekali lagi. Tanpa menunggu ia segera melakukannya. Sekuat tenaga ia menjauhkan tubuh beserta tangan pria itu.

Ia berhasil. Sesuatu yang sangat mengejutkan bagi Colin karena dia tidak menyangka tubuhnya harus terpental oleh dorongan seorang gadis kurus.

“A-aku harus pulang ke rumah sekarang.”

Luna tahu bahwa keberadaannya di sana lebih lama lagi tidak akan berakhir baik, segeralah ia merealisasikan niatnya untuk pergi ke luar apartemen. Posisi mereka memang tidak jauh dari pintu, karena sejak tadi ciuman dan segala yang terjadi itu dilakukan di belakang pintu masuk.

Luna melangkahkan kakinya sekali untuk pergi, tetapi ia tidak berhasil melakukan lebih banyak langkah karena tangannya ditahan dengan begitu erat oleh sang kakak. Pelan, gadis itu berbalik untuk menatap wajahnya, mencoba memberikan ekspresi memelas, namun niat itu lagi-lagi tidak terlaksana karena ia langsung tersentak oleh tatapan dari sang kakak. Tatapan yang entah mengapa membuatnya tidak berkutik, seperti ia tengah menatap seorang yang kerasukan.

“Siapa yang berkata kau boleh pergi dari sini?”

Bahkan nada suara pria itu lebih berat dari sebelumnya, membuat telinga Luna seperti diteror. Tatapan matanya tetap mematikan, ditambah lagi dengan caranya menggenggam tangan Luna. Gadis itu tidak bisa menahan tangis. Entah sakit atau takut, ia tidak tahu mana yang menyebabkannya menangis.

“Kakak….” Luna tahu bahwa dia harus segera kabur, ia berusaha melepaskan genggaman Colin pada lengannya. Namun hasil yang didapatkannya tidaklah lebih baik dari rasa sakit yang bertambah terus-menerus. “S-sakit.”

Colin menarik lengan itu keras hingga Luna hampir terpental. Tubuh Luna berakhir membentur dadanya. Kemudian pelan, ia melingkarkan lengannya yang lain pada gadis itu. “.…bukankah sudah kukatakan? Aku akan bersikap baik padamu kalau kau menurutiku. Sekarang, jadilah adik yang baik, ya?”

“Tapi….”

“Apa?”

“Aku tidak mau, Kak.”

“Kau tidak boleh menolak.” Kalimat Colin begitu jelas, namun Luna tetap akan menolaknya. Apapun yang pria itu inginkan saat ini Luna sangat yakin bahwa itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuknya.

“Diamlah dan ikuti perkataanku.”

“Aku tidak mau, Kakak, tolong lepaskan tanganku.”

Luna tidak tahu apa yang terjadi, tetapi pria itu menuruti permintaannya. Tangannya yang sejak tadi dicengkram itu dilepaskan tanpa syarat. Begitu pula pelukan yang melemah membuat ia dengan mudah menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Ia tidak mau melepaskan kesempatan untuk segera kabur, jadi dengan segera Luna lari menuju pintu.

Andai saja keberuntungan berpihak padanya, gadis itu mungkin akan berhasil melewati pintu untuk pergi dari sana. Namun itu tidak terjadi. Luna terpental ke belakang setelah kulit kepalanya terasa panas akibat ribuan helai rambutnya ditarik dengan paksa. Matanya yang baru saja mengering kembali basah akibat air mata yang otomatis keluar. Ia merasa begitu perih, belum lagi ketika rambut-rambutnya itu menjadi tumpuan tubuhnya yang diseret masuk. Tidak lagi bisa kabur, kedua tangannya berusaha melepaskan setidaknya sedikit saja helai rambut itu.

Colin tidak memberikan rasa ampun walau satu detik, Luna tertarik sampai ke dalam apartemen. Luna tidak lagi sempat mengagumi pemandangan di dalam karena matanya menjadi kabur akibat air. Tubuh mungilnya dilempar ke sofa. Kepalanya membentur dengan keras meski seharusnya sofa itu empuk. Akhirnya rambutnya dilepaskan.

Luna terlalu sibuk mengurusi sakit pada kepalanya, tidak sadar bahwa orang yang tengah menatapnya itu begitu kesal. Ia mencoba untuk kabur sekali lagi, tetapi bahkan ia tidak bisa bangun. Tangannya menjauhkan segala yang mungkin hendak dilakukan sang kakak terhadapnya, sangat sibuk.

“Kakak, lepaskan!” Luna berteriak keras ketika kedua tangan dan kakinya terkunci. Colin telah menduduki pahanya. Semua pergerakannya terhenti ketika bibirnya kembali menjadi sasaran. Dengan mudah Colin mendorong tubuhnya untuk berbaring di sofa. Pria itu semakin mudah pula melumat bibirnya, memuaskan nafsu juga amarah yang mengukus kepalanya.

Perlawanan Luna mulai melemah, terutama saat ia tidak bisa lagi bergerak. Air matanya terus turun ketika bibirnya menjadi sumber kepuasan sang kakak. Perasaan yang dia rasakan terasa sangat beragam. Ia merasa sakit, hal yang paling mendominasi di antara semua yang ia rasakan sekarang. Mengapa seperti ini? Mengapa begini? Ia tersakiti oleh perlakuan sang kakak yang begitu tidak terduga.

Beberapa kecupan paksa setelah itu, Luna merasa jijik. Ia tidak lagi ingin dicium. Dengan cepat ia mengalihkan wajahnya. Andai saja sang kakak mengerti kemudian melepaskannya, itu akan jadi sesuatu yang lebih menyenangkan. Tetapi kenyataan yang dihadapinya tidak sebaik itu. Bibir itu beralih membasahi tempat lain. Ia tidak bisa memberikan perlawanan ketika ciuman beralih pada dagu, leher juga telinganya. Luna tidak lagi melihat seorang kakak yang baik.

Telinga Luna mesti merasa gelitikan hebat ketika kecupan-kecupan terdengar begitu jelas di telinganya. Apa yang dilakukan sang kakak? Dia melakukan hal semenjijikkan ini pada adiknya sendiri? Semakin ia mencoba berpikir logis, ia kalut.

“Ah!” Gadis itu memekik saat lehernya digigit tiba-tiba.

“Hm? Sudah mulai menikmati?” Sang kakak terkekeh di sela kegiatannya.

Luna sungguh jijik dengan detik-detik ini. Bahkan pertanyaan mesum dari sang kakak, atau apapun niat jahat yang sedang dipikirkannya, ia merasa geli dan ingin muntah. Sesekali, saat di mana kekuatannya kembali naik, Luna mencoba melarikan diri. Meski tiap-tiap kesempatan itu tidak berhasil ia dapatkan.

“Kakak, aku tidak mau! Lepaskan aku!”

Entah keberanian darimana, Luna berteriak keras. Kesempatan kembali datang dan ia berhasil memanfaatkannya. Luna menendang tepat ke bagian paling tepat—selangkangan Colin.  Pria itu dalam hitungan detik segera kesakitan, melemahkan pengawasannya sehingga ia dengan mudah didorong mundur oleh Luna.

Luna jatuh membentur lantai. Ia jelas kesakitan, tetapi karena fokusnya pada melarikan diri, rasa itu ia lupakan sejenak. Susah payah dia bangun dari sana. Setelah berhasil berdiri, ia menyeret kakinya untuk berlari menuju pintu.

“Sial!”

Telinga Luna mendengar umpatan, dengan segera ia berlari walau terpincang.

 “Dasar gadis jalang!”

Sekali lagi, gadis itu diseret dengan ditarik rambutnya. Ia dijatuhkan dengan kasar ke lantai, sehingga bunyi deguman terdengar begitu jelas karenanya. Colin menduduki tubuhnya, mencegah pelarian untuk kedua kali. Kedua tangan Luna juga dicengkramnya dengan sangat kuat. Meski Luna meronta, ia seperti telah ditulikan.

“Jangan!”

Hanya dengan sekali tarik, kancing seragam Luna beterbangan ke mana-mana. Blus itu segera sobek hingga tidak berbentuk karenanya.

“Kakak!”

“Diam!”

“Lepaskan!”

“Luna, diam!”

Plak!

Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Luna. Seketika pipi itu terasa nyeri dan panas.     “Dasar kau jalang rendahan!”

Luna baru saja ditampar. Pipinya segera memerah, dan ia membeku di tempat. Sepanjang hidupnya, ini pertama kali dia merasakan hal itu.

“Aku benar-benar membencimu, gadis sialan.”

Plak!

Satu kali lagi tamparan sampai di sana, suaranya begitu keras.

“Aku benar-benar membencimu, sampai rasanya aku ingin menyakitimu setiap saat.”

Tangan Colin bergerak lebih bebas karena Luna tidak lagi memberikan perlawanan. Pria itu dengan mudah merasukkan tangannya di antara rok sekolah Luna, menarik keluar celana dalam gadis itu dan membuangnya ke sembarang arah.

“Adik baru? Yang benar saja. Kau hanya akan jadi mainanku. Kau dan ibumu sama saja. Wanita jalang.”

Luna menangis. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan. Dengan mudah ia dilucuti, disentuh, dan dinikmati. Colin menciumi dadanya juga menyentuh pahanya tanpa gangguan.  Luna mendelik ketika pangkal pahanya disentuh. Ia menggigit bibirnya, tidak ingin mengeluarkan suara penuh ambigu yang hanya membuatnya semakin jijik.

Suara itu tentu saja disambut baik oleh pelakunya, “Kau suka? Ini pertama kalinya bagimu, kan? Hm, kau memang berbakat menjadi seorang jalang.”

“Kakak, jangan.” Luna melirih, mencoba mencari belas kasih. Pandangan matanya kabur akibat air mata. Kepalanya berputar, sebagian besar karena rambutnya yang ditarik juga kepalanya yang terbentur lebih dari satu kali. “A-aku minta maaf.”

Colin tersenyum. Sesuatu yang seharusnya sangat disenangi Luna. Namun kali ini, ia berharap tidak pernah melihat senyum itu.

Colin mendekatkan wajahnya pada telinga Luna, berniat membisikkan sesuatu di telinganya. “Kau begitu polos, Luna sayang. Seharusnya aku yang harus meminta maaf.” Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi seringai. “Karena aku akan menyakitimu.”

To be continued

by Ayasa

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status