Stay Away From Me (BAHASA INDONESIA)
Stay Away From Me (BAHASA INDONESIA)
Author: refimariskaa_
Past 1 | Happy Birthday, Honey

Selamat membaca. Hope you like it, Guys!

***

Caitlin Deborah R.

Begitulah nama yang tersampir di name tag tepat di dada kiri gadis itu. Kulit kecokelatannya sangat kontras dengan seragam putih yang dikenakan, rok abu-abu di atas lutut, serta sepatu berwarna hitam. Ah, penampilan yang sempurna untuk berangkat menuntut ilmu.

Kemudian, Caitlin tersenyum kecut begitu matanya tak sengaja melirik kalender. Hari ini, delapan belas tahun lalu, kelahirannya yang tidak diinginkan terjadi. Namun, masalahnya Caitlin masih sering berpikir krisis tentang ....

Kenapa dirinya tetap dilahirkan?

Kembali, Caitlin menghela napas panjang. Mau bagaimanapun, kehidupan tetap berlanjut. Mungkin saja sebuah keajaiban akan menimpanya suatu saat. Walau saat ini juga, Caitlin berusaha menulikan indra pendengarannya begitu teriakan-teriakan terdengar dari luar.

Sudah biasa sekali, sebenarnya.

“Mas, kenapa enggak pulang semalam?!” Itu teriakan milik Yena Roland, ibunya, yang selalu mengamuk di segala kondisi—setidaknya, menurut Caitlin sendiri.

“Kalau aku tanya balik, memangnya kamu pulang?” Giliran Andra Roland, sang ayah, menjawab.

Caitlin termenung, lebih ke mengasihani nafsi. Terjebak di keluarga penuh drama, terkesan toxic, dan cap buruk lainnya membuatnya terkadang muak. Politikus hebat ... katanya, tetapi urusan keluarga bernilai nol.

“Aku pulang, Mas, jam sebelas malam. Kamu yang ke mana, ha?”

“Cepat sekali,tumben. Memangnya puas main sama selingkuhan sampai jam begitu?”

“Kamu jangan playing victim, ya, Mas. Jangan bilang aku enggak tahu kalaj kamu semalaman check in hotel. Aku lihat pakai mata kepalaku sendiri!”

“Kalau kamu mau marah, coba tanya diri kamu. Sama saja, ’kan?”

“Mas!”

Tampaknya, Caitlin tidak tahan lagi. Dengan raut datar dan rambut sesekali berkibar sebab langkah tegasnya, Caitlin berdeham santai sambil memungut kotak bekal yang disiapkan di meja makan, tidak lupa meneriaki Bi Yati—pembantu di rumahnya—untuk pamit seperti biasa.

“Bi, Caitlin berangkat, ya!”

“Hati-hati, ya, Non. Maaf, Bibi enggak bisa keluar karena ada kerjaan sedikit di kamar.”

Caitlin terkekeh, tahu kebohongan Bi Yati. Beliau hanya tidak mau menampakkan diri di saat ayah dan ibunya bertengkar hebat. “Iya, Bi. Aku berangkat, as-salamu ’alaikum.”

Wa ’alaikumus-salam, Non.”

Selanjutnya, Caitlin berjalan dan bersiul. Tentu tingkahnya menarik perhatian dua manusia yang berhadapan di ruang keluarga. Di sudut matanya, Caitlin menangkap telunjuk Yena yang terarah ke wajah suaminya, begitu pun tangan Andra mencengkeram kerah sang istri. Pertunjukan menarik kalau-kalau Caitlin kekurangan stok drama Korea.

“Caitlin .... Sayang.”

Dalam hati, Caitlin berdecak kagum. Jarang-jarang Yena ataupun Andra notice keberadaannya. Jadi, Caitlin berdeham kembali sebelum berkata, “Ya?”

“Ka-kamu mau berangkat sekolah?”

Sejenak kening Caitlin berkerut mendengar pertanyaan ibunya, lalu mengangguk sebagai balasan.

“Mau bareng sama Ayah, Cait?”

“Enggak usah, ada ojek online.”

“Yakin?”

“Tumben,” tutur Caitlin sarkatis, serta merta mesem penuh makna memandang orang tuanya. “No problem. Aku pergi sekarang. As-salamu ’alaikum.”

“Cait, malam ini Ayah enggak pulang, ya. Baru ingat, tanggal segini sampai akhir bulan Ayah trip business.” Berikut pemberitahuan yang diterima Caitlin dari Andra.

“Mama juga, Sayang. Ada klien yang minta ketemu di Bandung di tanggal 24, yang artinya besok. Mungkin Mama pulang tiga hari lagi,” sambung Yena dengan senyuman ala kadarnya.

Caitlin memutar bola matanya, jengah luar biasa. “Jadwal kerja always ingat, sedangkan kapan anak ulang tahun pikun tiba-tiba,” selorohnya lugas. “Lain kali jangan sok-sok pamit. Enggak penting banget!”

“Ka-kamu ulang ... astaga, Caitlin! Mama minta maaf karena lupa ulang tahunmu, Nak!” Penyesalan Yena dibalas dengusan kasar Caitlin yang mesti meladeni dialog memuakkan pagi ini. “Jadi, sekarang umurmu berapa, Sayang?”

“Dua puluh empat tahun.”

“Oh, my little girl sudah besar ternyata. Eh, tunggu ... kamu bukannya masih SMA?”

Caitlin memejam, tak lucu mengotori hari dengan kemarahannya. “Aku baru delapan belas tahun hari ini.”

“Oh, eng—okay.” Andra perlahan menghampiri Caitlin, lalu mengusap ubun-ubun putrinya tersebut. “Kamu mau kado apa? Nanti Ayah belikan dari Singapura.”

“Kamu juga mau kado dari Ibu, Cait?” sambung Yena yang kali ini menampilkan senyum manisnya.

Caitlin menggeleng, mimik mukanya masih terkesan tak bersahabat. “Enggak perlu. Ayah dan Ibu kerja aja.”

“Cait—”

“Sudah, ya, Bu, Yah. Aku mau pergi sekolah, nanti keburu terlambat. As-salamu ’alaikum.”

Wa ’alaikumus-salam.”

Karena bagi Caitlin, tidak ada lagi rumah ternyaman.

***

“Cait, ada yang ingin berkenalan denganmu.”

Caitlin melirik jenuh Zara, teman sebangkunya. Sungguh, dirinya paling malas jika berurusan dengan seseorang yang katanya ingin berkenalan menjerumus ke tahap pendekatan. Well, kepercayaan diri Caitlin bukan sekadar omong kosong, melainkan fakta terselubung bila mengenal makhluk Tuhan berjenis laki-laki.

“Cait, aku serius. Efrain ..., masa kamu enggak tahu, kan. Masih seangkatan kita, kok, anak XII IPS 2,” seloroh Zara tak terhentikan. “Nih, lihat. Dia neror aku untuk minta nomor telepon kamu. Oke, nih?”

“Jangan.”

“Lah, masa kamu mau menolak Kak Efrain? Rugi kamu, ah!”

“Enggak penting, Ra,” jawab Caitlin seadanya.

Zara memberengut. Sambil komat kami, gadis putih semampai itu beralih membalas pesan berisi permintaan Efrain. Andai bukan lewat pacarnya laki-laki beringas itu meminta bantuan, pasti Zara tidak akan keblangsakan seperti sekarang. “Yakin enggak mau dicoba dulu, Cait?” tanyanya lagi, memastikan.

No.”

“Telat. Orangnya sudah menuju ke arah kita.”

Caitlin pikir Zara hanya bermain-main. Namun, begitu merasakan tepukan di bahunya, Caitlin mendongak. Tidak lama, karena selanjutnya ia mulai mendengkus kesal. “Ada apa?”

“Menurutmu?” Efrain balas bertanya. Seringainya yang bermain sukses membuat Caitlin bergidik dalam satu waktu.

“Minggir atau pergi.”

“Kalau aku enggak mau?”

“Aku pindah kursi belakang, Ra.” Caitlin bangkit diiringi sorak-sorai rombongan yang mengikuti sang bos ke mana pun dan kapan pun. Sial, Caitlin lupa bagaimana berpengaruhnya seorang Efrain Reagan di sekolah ini.

Honey.”

Tidak ada balasan.

Efrain nyaris mengumpat kalau tidak ingat akan rencananya. “Aku ingin mengucapkan sesuatu.”

No thanks.”

Happy birthday.”

Dua kata Efrain tersebut menyebabkan Caitlin terdiam cukup lama. Lehernya spontan menoleh, menangkap jelas seringai mematikan itu. “A-apa?”

Happy birthday, Honey.

“B-bagaimana kamu tahu?

I know you so well, right?” Efrain menarik sudut bibirnya ke sekian kali. “Want something, Honey?”

Setengah syok, Caitlin menggeleng. “No thanks,” ucapnya lagi dengan kalimat yang sama.

“Tapi aku memaksa,” kekeh Efrain, beralih menarik Caitlin menduduki meja gadis itu. Ia benar-benar tidak peduli walau semua orang mengamati serta ekspresi tidak nyaman Caitlin. “Malam ini, aku akan menjemputmu.”

“Ogah!”

Please?”

No thanks.”

Efrain manggut-manggut bersama senyumannya yang mengembang. “Oke. Kalau begitu, aku yang bermalam di rumahmu.”

“A-apa?” Caitlin membelalak, mulai hadir perasaan marah atas semena-mena Efrain. “Jangan macam-macam. Ingat, selama ini kita enggak saling mengenal.”

“Kamu enggak, tapi aku iya.”

“Aku enggak peduli, Ef.”

“Jam tujuh malam. Sambut aku di rumahmu,” ucap Efrain tak terbantahkan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status