LOGINI was in love with him for five years—until he pushed me into the fire with his own hands. I thought I had simply fallen out of favor, but I was wrong—he married the girl he’d grown up calling his “sister.” During the month I spent in the hospital, he never came once. When I finally returned home, I saw her sitting on his lap, smiling sweetly. And me? I was nothing but the “gold digger,” the “shameless outsider” in his eyes. It wasn’t until I turned my back and took the Alpha throne of the Bloodmoon Pack that he went mad, chasing after me, tears streaming down his face. “I broke off the engagement,” he cried. “Just come back—we’ll get married right now!”
View More"Teh Laili! Kaus kaki Doni ke mana nih yang warna hitam?" teriak Doni, si sulung yang berusia tiga belas tahun pada Laili, pembantu rumah tangganya yang sedang sibuk memasak nasi goreng di dapur.
"Udah, sana gih! Cariin kaus kaki Doni," titah ibunya yang juga ART di rumah keluarga Arya Jovan dan Ririn Anastasia.
Laili mengangguk. Lalu dengan setengah berlari naik ke lantai dua. "Iya, sebentar Teteh carikan!" sahutnya dengan sedikit berteriak.
"Laili, obat nyonya yang harus diminum pagi hari sudah kamu berikan?" suara bariton berat membuat langkah Laili berhenti, lalu menoleh pada majikannya yang bernama Arya Jovan, suami dari Ibu Ririn Anastasia.
"Belum, Tuan. Sebentar lagi, saya mau cari kaus..."
"Teeh, cepaaat!" teriak Doni semakin kencang dari kamarnya.
"Permisi, Tuan," pamit Laili, lalu berlari masuk ke dalam kamar Doni.
Ternyata, kaus kaki yang diminta oleh Doni sudah ia masukkan ke dalam tas tadi malam. Pantas saja mencari hingga sepuluh menit tidak ketemu. Wajah Laili memucat saat Doni mulai marah-marah karena kaus kakinya tidak ditemukan.
"Maaf, Teh. Ternyata ada di dalam tas," ujar Doni sambil menyeringai.
"Teteh...tolong kuncirin rambut Anes!" suara anak kecil berusia enam tahun, memanggil Laili untuk meminta dirapikan rambutnya. Dengan tersenyum, Laili menghampiri gadis kecil itu, lalu membantunya mengikat rambut.
"Mau dikepang seperti teteh," pintanya menunjuk rambut Laili yang selalu saja dikepang dua.
"Tidak bisa, Anes sayang. Rambut Anes masih kurang panjang untuk dikepang. Nanti ya kalau sudah lebih panjang," terang Laili dengan lemah lembut.
"Ya sudah." Gadis kecil itu pun menurut.
"Laili, tolong buatkan susu Dira!" teriak Bu Ririm dari kamarnya.
Dira, bayi berusia sepuluh bulan yang sangat lucu dan menggemaskan. Laili begitu betah berlama-lama bila bermain bersama bayi gembul itu. Jika semua minta tolong padanya, lalu ke mana ibu mereka, sang Nyonya rumah?. Bu Ririn mengalami lumpuh permanen sesaat setelah melahirkan bayi Dira, sepuluh bulan lalu. Sehingga untuk mengurus rumah tangganya, ia mempekerjakan Bu Laila dan juga puterinya Laili.
"Laili, cepat! Dira nangis ini!" seri suara Bu Ririn lagi, menyadarkan Laili dari lamunnya.
"Ah, iya Nyonya."
Semua ia lakukan dengan semangat penuh dan suka cita. Karena apa? Karena keluarga Bu Ririn sudah mau membiayai sekolahnya hingga ia hampir lulus SMA satu bulan lagi. Laili dan ibunya, tentu saja tidak bisa membalas kebaikan keluarga Bu Ririn, selain dengan bekerja sebaik-baiknya.
****
Laili mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah. Keringat mengucur deras membasahi baju seragam putih abunya. Tak pernah ia pedulikan penampilannya seperti teman-teman sekolah seusianya. Hanya mengenakan ransel besar milik Tuan Arya yang sudah tidak terpakai, serta rambut yang selalu saja dikepang dua. Tidak mengenakan jam tangan ataupun aksesoris yang lain. Ia berpenampilan apa adanya.
Senyumnya terbit tatkala berpapasan dengan Danu, teman sekolahnya yang sudah setahun ini menjadi pacarnya. Meskipun tidak pernah berkencan seperti teman-teman lainnya, tetapi hubungan mereka tetap baik.
"Hai, Danu," sapa Laili dengan senyum manisnya. Laili segera memarkirkan sepeda lipat milik Doni, anak majikannya yang selalu di pakai ke sekolah. Danu tidak menjawab, hanya tersenyum tipis saja. Laili terheran, kenapa Danu berwajah masam? Apa mungkin ada masalah di rumahnya? Laili bermonolog. Memperhatikan Danu yang berjalan lebih dulu menuju kelas, meninggalkan dirinya yang masih tergugu di parkiran.
Laili merapikan baju, poni, berikut membetulkan letak tas ranselnya. Kemudian berjalan penuh semangat masuk ke dalam kelas.
Dua jam pelajaran sudah berlangsung, sebenarnya hanya tinggal penyampaian materi yang tertinggal saja, karena minggu depan mereka sudah melaksanakan Ujian Nasional. Laili menoleh ke belakang, tempat Danu duduk bersama Faisal, teman sebangkunya. Pacarnya itu berwajah murung dan tanpa bicara sedikit pun padanya.
Laili menghela nafas panjang, lalu kembali memperhatikan penjelasan dari guru. Saat jam istrirahat tiba, seperti biasa, Laili membawakan bekal untuk Danu. Kakinya ringan melangkah ke kantin, karena saat jam istirahat seperti ini, mereka selalu makan bekal berdua di kantin.
"Danu, kamu sakit ya?" tanya Laili kini sudah duduk di samping Danu. Tangan kanannya menyerahkan kotak bekal pada Danu sambil tersenyum pada angin, karena Danu tidak sedikit pun menoleh padanya.
"Hari ini, ibu masak ayam goreng rempah. Enak deh, ayo makan!" Laili membukakan bekal makan untuk Danu.
Prraaak!
Danu menghempas kotak bekal pemberian Laili, membuat gadis itu tersentak kaget. Semua orang yang berada di dekat mereka juga ikut memperhatikan kotak bekal yang telah berhamburan isinya di lantai kantin.
"A-ada apa, Nu?'" tanya Laili dengan tergagap. Air matanya sudah turun dengan deras membasahi kedua pipinya.
"Aku bosan dengan kamu, Laili. Mulai hari ini kita putus!" Danu menghentakkan kursi kantin di depan Laili, lalu meninggalkannya. Gadis itu masih menangis sedih, butiran nasi yang berserakan membuat hatinya sakit. Ayam goreng rempah yang sangat enak itu, terlihat mengenaskan berada di bawah kolong meja kantin. Dengan kaki gemetar, ia mengambil sapu yang tak jauh dari mejanya. Tangannya yang juga gemetar, memungut satu per satu benda yang teronggok lantai. Mulai dari kotak bekal, tutup kotaknya, serta ayam goreng yang telah kotor.
Semua mata memandang Laili dengan iba, tetapi ada juga yang cuek saja.
"Laili, ada apa?" Suci teman sebangku Laili menghampiri Laili di kantin. Betapa kagetnya ia, saat melihat Laili menangis dengan kotak bekal yang ia pegang sambil bergetar.
"Danu memutuskan hubungan kami," lirih Laili begitu sedih.
"Ya Allah, emangnya kenapa?" tanya Suci. Laili menggeleng tidak tahu. Lalu melanjutkan kegiatan menyapu membersihkan remah nasi di lantai kantin.
Air matanya susah sekali diajak berhenti, bahkan hingga jam pelajaran berakhir di pukul dua siang. Tidak berani kepalanya menoleh ke bangku belakang, hatinya begitu sakit saat ini.
"Kamu bisa pulang dalam keadaan sedih begini?" tanya Suci saat mengantar Laili ke parkiran sepeda.
"Bisa, hiks... Aku ga papa , kok. Terimakasih Suci, aku pulang dulu ya," Laili mencoba tersenyum pada sahabatnya Suci. Lalu mulai mengayuh sepeda menuju rumah majikannya.
Dada Laili berdebar kencang, ia begitu sakit hati dan terpukul bila mengingat perlakuan Danu padanya di kantin tadi. Apa yang salah dengan dirinya? Bukannya dia menyukai Danu, begitu juga Danu. Ia setiap hari membawakan makanan untuk pacar ABGnya itu, bahkan ia juga membantu Danu mengerjakan PR. Apa yang salah dengan semua yang ia lakukan?
Air matanya tak kunjung berhenti saat ia sampai di rumah majikannya. Sudah ada Tuan Arya dan beberapa orang di dalam rumah majikannya dengan bendera kuning yang menempel di pagar rumah. Dada Laili semakin berdebar, apakah Nyonya Ririn? Ya Allah. Dengan wajah pucat, Laili mengayuh sepedanya memasuki pekarang rumah majikannya.
"Ya Allah, Laili. Untung kamu sudah pulang," ujar Tuan Alam, adik dari Tuan Arya.
"Ini ada apa, Tuan?" tanya Laili bingung.
"Laili, maaf. Bu Laila kena serangan jantung dan.."
"Apa?!"
*****
“Alright,” I said quietly. “Let’s meet one last time—just to say goodbye properly.”When I saw Joe again, he was wearing the suit I’d given him years ago.He sat stiffly across from me, both hands pressed to his knees, his eyes cautious—like he was afraid that even breathing too loud would scare me away.He’d brought everything that was left of us.The safety charm bracelet I once gave him, and a few old keepsakes I’d forgotten in the Silver Claw villa.He turned each item over in his hands, his voice trembling with nostalgia.“This was the charm you begged for when I was sick,” he murmured, lifting the bracelet. “You said it wasn’t really for men, but I never took it off. Not once. Are you really sure you don’t want any of this back?”He kept his gaze lowered, fingers clenched tightly around the bracelet. The sight of him—once proud and untouchable—now so small and broken, made something deep in me ache.I remembered the day I bought it, teasing him as I fastened it around his wrist.
As the days passed, Joe finally disappeared from my sight.But that didn’t mean he was gone.One evening, my phone lit up with an unfamiliar number.I hesitated before answering—only to hear a voice I hadn’t expected in this lifetime.“Carol…” His tone was tired, frayed around the edges. “You never told me your father was the Alpha of the most powerful pack.”“If you’d told me the truth, we could’ve been married long ago. I just… I wanted to hear your voice.”Joe’s voice cracked, trembling with something between regret and desperation.I gripped the phone tighter, saying nothing.There was nothing left between us to say.This was the man who had shoved me in a restaurant,who had stood by while I was burned,who didn’t visit once while I lay in the ICU fighting for my life—because he was already planning his engagement with Emma.The kind of pain that once hollowed me out—I refused to feel it again.Now, back in the Bloodmoon Pack, people whispered to me:“Joe’s still in love with yo
“Mr. Smith,” Kane’s voice was low but sharp, “Carol’s made herself clear. You should stop harassing her.”He stepped closer, his gaze hard. “This isn’t Silver Claw Pack. If you keep acting like this, you’ll be thrown out—and it won’t just be your pride that takes the hit, it’ll be the Smith family’s reputation too.”The tension between them was instant, like two Alphas on the verge of a fight.Joe had never been spoken to like that before. Rage twisted his face as he lunged forward, his fist raised.“So you’re the bastard she’s been seeing, huh?”Instinct took over. I moved without thinking, stepping in front of Kane and shoving Joe back with all the strength I had left.He stumbled, losing his balance, and fell hard onto the ground. When he looked up at me, his eyes were red—more from betrayal than pain.“You pushed me?”He stared at me as if he didn’t recognize me. “You pushed me—for him! You’re not the woman I knew. You love him now, don’t you?!”His voice cracked into a raw, furiou
I never expected to run into him here—and even less that he’d turn out to be the mate my father had chosen for me.“This is my homeland,” I said softly. “I was bound to come back someday.”Kane, the quiet boy I remembered from training camp, suddenly seemed talkative when he was around me.“So you’re staying here for good?! Joe didn’t come with you?! I thought… you two would be married by now.”There was a flicker of something, hope, maybe—in his eyes as he asked.My hand froze mid-motion. Then I smiled faintly.“We broke up. There won’t be a wedding.”For a second, I could’ve sworn he smiled when I said: broke up.Before I could say more, a loud crash sounded behind me.I turned instinctively—and there he was.Joe.His face was dark with fury as he strode toward me, fingers closing around my wrist before I could react.“Carol, you came back to Bloodmoon Pack just to find another man?” he hissed. “You think you have the right to talk about love?”His jaw clenched so tightly I could s












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.