LOGINMy boyfriend and his godsister were caught by the vice squad at a scandalous party. When I went to the police station to bail him out, he was disheveled, his exposed skin marked with dried candle wax and whiplash scars. His godsister, Sonia, clung to him, sobbing into his arms. “The light in Sonia’s house was broken. It was too dark, so I went to accompany her,” he said. I couldn’t help but wonder, Did he accompany her all the way to the police station too? In the past, I would’ve demanded an explanation, but I was too tired now—too drained to argue. Without a word, I signed the papers. The vice squad officer looked at me and asked, “Are you Anthony Leeman’s family?” I shook my head. “No, I’m not familiar with him. Just a colleague.” Lowering my gaze, I typed out a message to my father: [I agree to get married. Give me three days, and I’ll marry him.]
View MoreTiga Tahun Lalu
Raja melangkah meninggalkan Cahaya yang kembali menolaknya, menolak uluran cinta yang ditawarkannya. Entah apa yang salah dengannya, hingga Cahaya seakan enggan terikat padanya. Dia sangat mencintai gadis itu, mencintai dengan setulusnya. Namun, dia harus berlapang dada menerima penolakan untuk kedua kalinya.
Cahaya terdiam sendiri.Tempat dia berada sekarang adalah salah satu tempat hiburan terbaik di Korea. Akan tetapi, keramaian dan keindahan tempat itu tidak dapat membuatnya merasakan bahagia.
Lagi, dia bersikap angkuh menolak Raja. Merasa jumawa dengan rasa cinta lelaki itu, dia berkata tidak dengan mudahnya walaupun hatinya juga mendamba.
Munafikkah dia?
Tidak. Semua dilakukan untuk kebaikan Raja. Dia layak mendapat perempuan lebih baik dari Cahaya.
Sudah cukup dia melukai perasaan Raja beberapa bulan yang lalu, dan mungkin juga barusan atas penolakannya. Akan tetapi, di masa depan, lelaki itu akan bersyukur karena dia tidak menjalin hubungan dengan Cahaya.
Lagi pula, waktu akan menyembuhkan luka, kan?
Lukanya dan juga luka hati Raja. Semua akan baik-baik saja walau sekarang terasa menyiksa. "Ya, naik kora-kora, yuk? Tuh, Andri sama Adrian udah naik." Alya--sang sahabat menghampiri, memilih kursi kosong di sebelahnya untuk dia duduki. Cahaya tersenyum mencoba menutupi luka hatinya. Orang mungkin merasa Cahaya bodoh karena mengingkari perasaannya. Akan tetapi, dia sudah yakin bahwa inilah yang terbaik. "Males, Al. Kenapa nggak naik aja bareng mereka tadi?" kata Cahaya mencoba bersikap biasa. "Tadinya, mau bareng yang lain. Cuma, nggak enak aja kalau hanya bareng mereka. Aa Raja mana? Tadi, aku lihat dia bareng kamu?" Alya menoleh mencari keberadaan Raja yang tadi memang bersama Cahaya."Pergi, nemuin Norri mungkin," kata Cahaya mencoba abai, padahal hatinya berteriak lantang.Ya, alasan lain Cahaya menolak Raja adalah kedekatan Raja dengan manajer pemasaran dari Malaysia itu. Selain cantik dan tentunya pintar, Norri begitu terlihat menunjukkan ketertarikan pada Raja. Cahaya yang telah mengecewakan Raja, ingin memberi kesempatan pada Raja untuk membuka hati untuk orang yang lebih baik.Raja pantas mendapatkan yang terbaik dan sepadan dengannya. Bukan seperti dirinya yang hanya seorang anak petani.
"Norri? Manager dari Malaysia itu?"Cahaya mengangguk.
"Kamu cemburu, ya?" lanjut Alya.
Cahaya menatap Alya tajam, menolak mengakui apa yang dikatakan. "Tidak!""Bohong!""Terserah!"Alya menghembuskan napas kesal, merasa heran dengan pemikiran Cahaya, kenapa gadis itu tidak pernah mau mengakui perasaannya sendiri?"Kamu akan menyesal, Ya." "Kenapa? Aku hanya ingin yang terbaik untuk Aa Raja." Mata Alya memicing, menatap penuh selidik pada Cahaya. "Jangan bilang kamu menolak A Raja lagi, Ya?" tanya Alya tepat sasaran."Ya, dan itu yang terbaik untuk A Raja."
"Konyol! Bagaimana bisa kamu bilang itu yang terbaik, Ya? Kalau bahagianya dia itu kamu! Kamu bodoh!" Alya tak dapat menutupi kekesalannya pada Cahaya dan dia semakin kesal saat dengan enteng Cahaya mengendikkan bahunya menanggapi perkataan Alya.
"Kamu akan menyesal, Ya!"'Ya, dan aku menyesal sudah sejak lama. Aku akan terus seperti ini, Al.' batin Cahaya."Kamu memang sudah terobsesi pada si Oppa! Kamu menutup mata dan hati pada cinta yang Aa Raja tawarkan."
"Tidak, karena aku pun akan mengakhiri semuanya dengan Oppa. Aku akan fokus pada tujuan awalku datang ke negeri ini. Aku hanya akan berpikir tentang masa depan." "Aa Raja juga bisa jadi bagian masa depan kamu, Aya! Dia mencintai kamu!""Kamu tidak akan mengerti apa yang ada di kepalaku, Al," balas Cahaya tak mau kalah. "Tentu saja aku tak mengerti dan tak ingin mengerti! Sudahlah, aku malas berbicara padamu."Alya bangkit dan berjalan menjauhi Cahaya, menghampiri Adrian dan Andri yang baru turun dari wahana kora-kora.
Cahaya menghembuskan napas kasar. Biarlah semua orang menganggapnya keras kepala, dia akan tetap dalam pemikirannya sendiri. Cahaya mengangkat wajahnya saat seseorang datang.Dari aroma minyak wangi yang menguar, dia sudah bisa menebak siapa yang ada di depannya. Si Oppa yang dimaksud Alya, Kim. Lelaki keturunan Korea itu tersenyum, lalu duduk di samping Cahaya. Wajahnya menunjukkan kerinduan pada Cahaya yang sempat dimarahinya.
Bodoh memang. Kim cemburu dan bersikap kekanakan.
"Honey!" panggil Kim, dengan panggilan yang pernah membuat Cahaya merasa hangat. Sayangnya, kini Cahaya merasa hambar."Masih marah? Aku minta maaf. Aku menyesal!" kata Kim.
Cahaya memalingkan muka. Untuk kesekian kalinya, lelaki itu meminta maaf atas sikap possesif-nya. Namun, Cahaya sudah lelah dan tidak ingin memberikan maaf kembali. Dia menyerah untuk bertahan di sisi Kim."Aku lelah, Oppa!" kata Cahaya ambigu, membuat Kim mengernyit tak mengerti.
"Lelah? Kalau begitu istirahatlah."
"No, bukan itu. Aku lelah dengan semua, dengan hubungan kita--""Honey?" Kim merasakan sesuatu menusuk dalam hatinya. Apa Cahaya akan memutuskannya? "Iya, aku lelah. Kita akhiri saja semua."Ada yang menghentak keras dada Kim. Sakit. Pria itu merasa sesak.
Cahaya memutuskannya. Padahal, baru saja dia tersenyum penuh kemenangan karena Raja mengaku dia kembali ditolak oleh Cahaya. Namun apa sekarang? Nasibnya pun tak jauh beda: Cahaya memutuskannya! Kim merasa tidak terima. Dia akan melakukan apa saja untuk menahan Cahaya di sisinya.
Apa pun."Kenapa ... kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita, Honey? Aku sangat mencintaimu, apa kamu meragukan itu?" tanya Kim berusaha mengubah keputusan gadisnya itu.
Kim menggenggam tangan Cahaya dengan erat. Orang yang tidak tahu akan salah sangka. Mereka akan mengira kalau keduanya tengah saling mengungkapkan rasa cinta mereka.
"Tapi, cintamu membuatku tersiksa, Oppa! Aku tersiksa!" kata Cahaya sambil menangis.Kim tersentak. Semenyakitkan itu kah? Dia hanya ingin melindungi miliknya, Cahaya-nya. Semua sikap possesif yang ditunjukkan Kim hanya sebagai ungkapan cinta yang tak terbatas pada Cahaya.
"Aku minta maaf kalau semua yang aku lakukan sudah menyakitimu, Honey. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak ingin kita putus, aku sangat mencintaimu!" Kim mengusap pipi Cahaya. Walau hatinya sakit dengan semua kenyataan yang ada, pria itu masih berusaha. "Maaf, Oppa. Berikan aku waktu untuk menguji kembali hatiku. Aku butuh waktu." "Ok, baik. Kamu butuh waktu? Aku berikan, sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi tolong, jangan putuskan aku. Kumohon?!" Kim menghiba penuh pengharapan. Bagaimana dia tidak sanggup kehilangan Cahaya.Lagi pula bagaimana tanggapan Raja kalau tahu dia juga diputuskan oleh Cahaya? Tentunya, itu akan melukai harga diri Kim.
Cahaya menatap Kim sendu. Karena lelaki ini, dulu dia mengkhianati Raja. Karena cinta ... atau mungkin obsesinya dia memilih Kim daripada Raja. "Aku butuh sendiri, Oppa," putus Cahaya. "Tentu, ambil waktu sebanyak yang kau mau. Aku akan menunggu kamu kembali. Aku mencintaimu, Honey! Sangat mencintaimu," ujar Kim penuh keyakinan, berharap sang pujaan sudi menerima kesalahan yang terus dia lakukan berulang. "Aku pergi dulu."Cahaya melepaskan genggam tangan Kim. Dia beranjak pergi dari sana, sedangkan Kim mengepalkan tangannya kuat. Pria itu menyesali sikapnya yang tak berubah sama sekali.
Kim sadar Cahaya sudah sering memberinya kesempatan, namun selalu saja dia melakukan kesalahan. Kali ini Kim bertekad, tidak akan membuat Cahaya menyesal telah memberinya kesempatan.
"Akan aku buktikan kalau aku bisa menjadi seperti yang kamu mau, Honey. Aku tak bisa kehilanganmu. Tidak pernah bisa!"Someone pushed me.Turning back, I saw a large bloodstain on the ground. The blood belonged to Anthony. Both his hands were drenched in it, and his eyes reddened as he looked at me. “Celine, I’m in pain…”I froze, suddenly in a trance, remembering a time years ago when he cut his finger while insisting on cooking for me. Back then, he had looked at me with the same pitiful expression. But this time, I didn’t reach out to hold his hand or bandage his wounds. I wasn’t that person anymore.I hurried to Hugo, checking him over for injuries. Thankfully, he only had a few minor scratches.The scene around us descended into chaos as someone called for an ambulance. Anthony’s eyes were filled with longing, but I didn’t even glance at him again. He was soon taken away.Despite the disruption, the wedding continued and managed to maintain order until the end.After that day, I didn’t see Anthony again for a long time.I heard rumors that the head of the Leeman family had locked him up. Th
I never expected Sonia to barge into my house. The housekeepers stopped her, but her face was pale and full of desperation.“Celine, please,” she pleaded, her voice trembling. “Don’t let Tony leave me.”I glanced at my phone; I had only five minutes before I needed to leave.Before I could respond, Sonia’s demeanor shifted. Something I said—or didn’t say—must have touched a nerve. Her eyes darkened with fury, and she began to scream, her voice trembling with both laughter and sobs.“B*tch! It’s because of you that Tony doesn’t want me! He loves me! He’s mine! Why do you want to steal my man? My father’s dead. I have nothing left. Can’t you spare me?”Her words spilled out in a chaotic mix of rage and despair, her emotions spiraling out of control.I met her gaze coldly. “Your father deserved to die.”The room fell silent. Sonia froze, her body trembling as if I had struck her. Slowly, something seemed to click in her mind.I continued, “Your father stole something I was going t
There was still so much to do before the wedding.Hugo, ever considerate, put aside his responsibilities at the company to accompany me. I couldn’t refuse his insistence and eventually relented.As we walked past a luxury jewelry store, an attentive store assistant ushered us inside.The store was dazzling, its displays reflecting brilliant glimmers of light. Rows of fine jewelry sparkled behind the glass cases; each piece more exquisite than the last.Under the assistant’s guidance, I moved from display to display, examining each item. When we reached the gemstone counter, my gaze lingered on a particular necklace. Hugo noticed and immediately offered to buy it, but I shook my head and declined.Suddenly uninterested, I turned to leave. Just as I took a step, a familiar voice called out from behind.“Celine!”I turned around and saw Anthony, holding a gemstone necklace. His hands trembled slightly, and he seemed uncharacteristically clumsy. “Do you remember this necklace?” he a
I had started a relationship with Anthony because of a promise. If I could go back and start over, I’d stay as far away from him as possible.When I first left home, Anthony’s mother was my landlord. She was kind to me, treating me with care and looking out for me in every way. It was through her that I met Anthony. Back then, we barely interacted.When Anthony’s mother was diagnosed with cancer, she entrusted him to me on her deathbed. She begged me to look after him, and I promised. Over time, that promise pulled me into Anthony’s life.We had known each other for ten years and been together for seven.Now, stuck in this quagmire, I realized I had fulfilled that promise and repaid the kindness I owed her.“Celine, what are you thinking about? You should go out.”My family hosted a banquet to celebrate my upcoming wedding with the Young family. The lights were dazzling, and countless reporters surrounded me, their cameras flashing.I wanted to hide, but Hugo stayed close, shiel
It was fine. If Anthony didn't care about me anymore, he would be happy to see me leave.That night, I packed my things and left the house I had shared with him for seven years—empty-handed.On my way out, I put together all the evidence of Anthony and Sonia's years of flirting and posted it on my m






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews