LOGINThe day I decided to donate my body to science, my family gathered around my adopted sister, Hailey, celebrating her acceptance into a cutting-edge experimental treatment program. The one with brain cancer was supposed to be me. But Hailey used my husband Zane's position at the hospital to swap her healthy medical records with my terminal diagnosis, stealing the one chance I had to survive. And the worst part? Everyone cheered her on. The pain became too much. I fought to stay present, only to overhear the nurses whispering, "It's a good thing Dr. Zane secured that spot for Hailey. They said she only had three days left." So, in the last 72 hours of my life, I quietly let go of everything. When I gave Hailey the original manuscripts of my novels I had poured my heart and soul into, my father and brother gave me a satisfied smile. When Zane decided to grant Hailey her dying wish by marrying her, he handed me the divorce papers. I signed without a moment's hesitation. He sighed and praised me for finally being "so reasonable." And when I was the one who coaxed our daughter, Olivia, into calling Hailey "Mommy," Olivia gushed that her new mom was the best. "Don't worry," Zane soothed. "We're just keeping it safe for now. Once she's gone, it'll all come back to you." I gave Hailey everything I had, just like they wanted. So why, when they find out this was all Hailey's vicious lie, do they come crying, saying I'm the one they wanted all along?
View MoreJakarta, Jumat, 17Januari 2003 itu adalah kelahiran ku. Aku dilahirkan dari pasangan yang bernama Eva Amelia dan Daniel Anggara. Pada saat aku berusia 8 tahun aku dan keluargaku pindah ke Bandung, disaat itu juga awal pertemuan aku dan David.
Aku tinggal disebuah perumahan, rumah ku dan david bersebelahan lebih tepatnya kita bertetangga. Saat itu aku sedang duduk di depan rumahku sambil memeluk boneka dan aku menangis tersedu-sedu. Lalu datanglah seorang anak kecil, ya dia David. David bertanya mengapa aku sendirian dan kenapa aku menangis. Lalu dia selalu berusaha membuat aku tersenyum dengan cara menghiburku.
"Hi aku David, nama kamu siapa?" Sapa David sambil mengulurkan tangan
"Aku Rara" jawabku sambil menangis
"Ra kamu kenapa menangis?"
"Aku sedih aku harus pindah kesini, sedangkan teman-teman ku disana" Rara menjawab dengan perasaan sedih
"Kamu tenang aja kan ada aku, aku siap ko jadi sahabat kamu selamanya" jawab David dengan tersenyum
Saat itu juga aku dan David bersahabat, ternyata dia asik juga orangnya, baik lagi dia juga selalu melindungi aku layaknya seorang kakak.
Saat aku dan David sedang bermain sepeda tiba-tiba aku terjatuh, aku menangis menahan kesakitan. Lalu david berusaha membantuku dan membersihkan lukaku, lalu aku diantar pulang. Saat itu mama bertanya mengapa aku bisa terjatu, lalu david menjelaskan dengan detail.
"David, Rara ko bisa jatuh?" Tanya mama dengan lembut
"Maafin aku tante aku gak bisa jagain Rara, tadi waktu kita lagi main sepeda ban sepeda Rara melindas batu lalu Rara terjatuh. Saat itu juga aku langsung menolong dan membersihkan lukanya." Jawab David dengan menangis tersedu-sedu
"David gak perlu merasa bersalah ini bukan salah David kok, tante terterimakasih sama David karena udah mau jagain Rara dan menjadi teman baik Rara."
=====
Saat aku dan David sedang bermain di taman, aku melihat David sedang bermain sepedah. Dan aku yang sedang melukis aku sempat terpikir suatu saat nanti aku ingin membangun istana, aku berharap suatu saat ada yang bisa mewujudkan impianku ini.
David bercerita kepadaku kalo dia bercita-cita ingin menjadi pilot, tapi yang bikin aku ketawa lucunya dia itu ingin menjadi pilot namun dia takut akan ketinggian. Bagaimana kita bisa meraih cita-cita kalo kita takut.
David sedang tiduran di sebelahku sambil menyantap coklat kesukaan nya, lalu dia bercerita tentang cita-citanya dan akupun menceritakan tentang impianku.
"Ra kamu tau gak kalo aku punya cita-cita yang tinggi sekali." Dengan senang David menyampaikan
"Apa itu?"
"Aku ingin menjadi pilot, tapi aku takut ketinggian"
"Hahahha lucu banget si kamu, masa pengen jadi pilot tapi takut ketinggian" jawabku dengan terbahak-bahak
"Ih Ra aku serius, kamu ini"
"Iya semoga kamu bisa mewujudkannya ya, nanti kamu bisa bawa aku terbang naik pesawat deh. Oh iya aku juga punya impian tapi aku gak tau bakal terwujud apa ngga"
"Emang kamu pengen apa Ra?"
"Aku pengen punya istana yang megah, aku harap suatu saat ada orang yang bisa mewujudkannya"
"Doain aku ya Ra semoga bisa mewujudkan impian kamu"
Mendengar perkataan David aku sangat senang dan aku berharap semoga itu menjadi kenyataan untuk aku dan David. Rasanya tak sabar aku ingin cepat dewasa dan bisa mewujudkan cita-cita ku.
****
Siang ini aku dan mama sedang mempersiapkan untuk acara makan malam nanti. Mama memintaku agar David dan keluarga nya di undang, kita mengadakan acara ini agar bisa lebih dekat seperti keluarga.
16.00
Sore itu aku mengunjungi rumah David dan membawakan coklat kesukaannya. David menghampiriku sambil memeluku dan berterimakasih atas coklat yang aku berikan.
"Hai Dav, aku bawa coklat buat kamu. Oh ya nanti malam mamah mengajak keluarga kamu buat makan malam di rumah ku datang ya"
"Wah makasi banyak Ra, pasti datang lah"
Setelah acara makan malam itu, papah mendapat telpon dari seseorang. Ternyata ada hal yang papa sembunyikan dari mama, papa mempunyai simpanan dan papa berkhianat pada mama.
Saat mama mengetahui itu, mama langsung meminta berpisah pada papa. Papa saat itu sangat menyesal karena harus berpisah denganku, tapi kenapa papa harus memilih perempuan itu dibandingkan mama.
Aku yang sedang duduk di depan rumah dan menangis atas kepergian papa yang telah meninggalkan aku dan mama, lalu David datang menenangkan ku.
"Rara kenapa?" Bertanya sambil kebingungan
"Papa Rara pergi ninggalin mama sama Rara, papa cerai David" sambil menangis tersedu-sedu
"Rara yang sabar ya, kan rara masih punya mama, aku, papa aku mama aku juga dan yang terpenting Rara masih punya Allah yang selalu lindungin Rara" kata David sambil memelukku
"Tapi udah gak ada laki-laki hebat yang bakal jagain Rara"
"Kata siapa David bisa kok jagain Rara selama-lamanya"
Saat itu juga aku percaya akan perkataan David. David selalu ada buat aku dikala senang maupun sedih, beruntungnya aku mempunyai teman seperti David.
After everything was settled, Zane returned from work to the empty apartment and collapsed onto the leather sofa.Clara's photo sat on the coffee table.He stared silently at the picture. In the frame, she was smiling gently, her eyes clear and bright.It was how she looked when they first met.But now, it felt like a lifetime ago, as if he'd only known her love in another life.He didn't deserve a love that good. Not in this lifetime.Zane closed his eyes. The pain of losing Clara was only now beginning to truly tear at his heart.The truth was a razor, slicing through his soul.He finally understood the meaning of regret.The door opened. It was Olivia.She had just come home from school and immediately saw Clara's picture on the table.Tears instantly welled in her eyes."Dad, is Mom really dead?" Olivia's voice trembled.Zane looked at his daughter's swollen eyes, his heart twisting in his chest."Olivia… yes. Mom is gone.""But I never got to tell her I love her!" Olivia sobbed, b
Clara's father stared at the evidence on the table, his hands trembling.The black-and-white text blurred before his eyes, each word a fresh stab of guilt.Hailey had planned every step, and every tear had been an act.And he, her father, had personally pushed his own daughter into the abyss.He hadn't even been there for her in her final moments.Damn it! Damn it all!His composure shattered. He surged to his feet, only to collapse back into his chair.He covered his face, his shoulders shaking violently as he let out a strangled sob, as hopeless as a child who had lost everything.Zane stared blankly at the will in his hands.There was no mention of him or their daughter, Olivia.It only stated that all of Clara's assets were to be donated to charity.It was clear Clara had never forgiven him.How desperate must she have been in the end, to not even mention him or Olivia?Hailey stood frozen, her body ice-cold, her heart hammering against her ribs.It was over.Every carefully woven
For three silent days, Zane locked himself in his study, poring over Clara's medical reports again and again.Olivia hovered outside the door, wanting to knock but too afraid.She was young, but she could feel the atmosphere in the house had changed.And she knew that change had something to do with her mother.But Olivia refused to believe it. Her award-winning painting was still on the table, waiting for her mother's praise…Olivia hugged her knees, sitting on the floor outside the door. Tears welled in her eyes, but she didn't dare let them fall.She could only listen to the sounds of Zane smashing things inside.Just as Zane tore the last report to shreds, the doorbell rang. It was a woman in a sharp suit.He glanced through the peephole, intending to ignore it, but the bell rang again, persistently.Zane yanked the door open, annoyed. The woman before him had a serious expression and held a briefcase."Dr. Zane Pierce?""My name is Jessica. I was Clara's attorney. Please gather yo
Zane stood frozen, unable to move.Death certificate?Zane grabbed Martinez by his uniform. "Are you sure you're not mistaken? What do you mean, a death certificate?"Martinez looked taken aback. "There's no mistake. The documents are all here.""Zane, your wife's death was registered on Bainbridge Island four days ago. It's already been processed.""And your wife had a lawyer. The lawyer handled the entire filing."His wife, who had been standing right in front of him just days ago, was… dead.Zane's legs gave out, and he collapsed onto the hard, cold chair.It took a long time for Clara's father to process the words.So Clara's phone hadn't just been turned off. She was actually… gone.Ethan grabbed Martinez's arm. "Officer, was my sister murdered? Did you catch the killer?"Martinez shook his head. "The report says it was late-stage brain cancer. Her lawyer didn't say much, only that she would be notifying the family in a few days. Then you all showed up."Brain cancer?!The word ex


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews