LOGIN“What happens if I don’t give you what you want” “Then we’ll make you worship us on your knees, piccola.” Rafael muttered with certainty. Leone’s lips brushed my ear. “You’ll fight, you’ll curse…but in the end, amore mio, you’ll beg.” “…And you’ll beg for all of us.” Enzo added, as he crouched between my legs. Aurelia Reed has spent her life trying to outrun her family’s shadow. Being the daughter of a traitor, and a rising model means she has to work twice as hard to make a name for herself outside the Outfit. She is stubborn, opinionated, and the last woman who would ever submit quietly to a mafia marriage. But when her cousin refuses to wed, Aurelia is forced into her place, and handed to the infamous Moretti twins, two brothers who despise each other but are now bound to her. Different in every way, neither brother is particularly eager for her presence, and Aurelia quickly learns that her marriage is less about love than it is about survival. And then there’s Enzo, the youngest. He was never supposed to be hers, yet every stolen moment with him crosses another forbidden line. Caught between two husbands locked in rivalry and the brother she was never meant to touch, Aurelia soon realizes that in the Morretti's world, nothing is safe—not her heart, not her body, and certainly not the line she’s about to cross.
View MoreDi tengah ketegangan, suara gemuruh memecah keheningan malam. Seorang pria kekar muncul, wajahnya menunjukkan ketegasan dan keberanian yang luar biasa. "Cepat, bawa anak kita pergi. Aku akan menahan mereka," ujarnya, mengirimkan wanita yang menggendong bayi untuk segera pergi.
"Tapi, kamu—" tak sempat menyelesaikan kata-katanya, wanita yang menggendong bayi kecil di pelukannya segera didorong dengan instruksi pergi.Wanita itu memandang dengan ratapan sedih, air mata tak terbendung dan tidak bertahan lama untuk tidak menetes. Akhirnya, wanita itu hanya menurut dan berpaling, segera pergi. Namun, di sepanjang perjalanan, ia terus menoleh ke belakang, mengkhawatirkan nasib suaminya.Sementara itu, sosok laki-laki yang baru saja ditinggalkan menggenggam pedang erat-erat di tangannya. Dia berdiri seolah bersiap menunggu kedatangan sesuatu yang semakin mendekat.Kelebat hitam muncul seriring waktu, lima sosok berpakaian gelap dari ujung kepala sampai ujung kaki mengepung keberadaan pria itu."Maafkan aku, nak," ucapnya dalam nada yang lirih. Terpancar jelas kesedihan di sorot mata dan raut wajahnya yang tegas."Huh? Apa yang kalian tunggu, bunuh dia!" Tegur salah seorang dari lima sosok berpakaian hitam.Sang suami atau jelasnya Tiupaksa, dengan pedangnya yang bersinar di bawah cahaya bulan, mulai bergerak. Dia menghadapi kegelapan yang mengelilinginya, siap melawan meskipun kesedihan masih membayang di matanya.Tanpa kata-kata, pertarungan dimulai. Kilatan pedang dan bayangan hitam bergerak cepat, menciptakan tarian yang memutuskan kehidupan dan kematian. Tiupaksa, meski terlihat lemah akibat memikirkan keadaan istri dan anaknya, menghadapi lawannya dengan tekad yang tak tergoyahkan.Namun, pertarungan ini tak hanya soal fisik. Tiupaksa, sembari bertarung, dia merenung tentang masa depan yang terancam bagi keluarganya. Dia tahu bahwa tak hanya nyawanya yang dipertaruhkan, tetapi juga kehidupan istri dan anaknya.Dengan begitu, laki-laki tersebut memobilisasi seluruh kekuatannya, pancaran kilat muncul menghiasi bilah pedangnya. Hanya demi anak dan istri, segalanya dapat dikorbankan.Sabetan pedangnya menghantam beberapa kali pada sosok berpakaian hitam, namun serangan beruntun dari berbagai sisi membuat Tiupaksa harus lebih cekatan dan waspada. Selain itu, setiap lawannya memiliki kekuatan yang cukup tinggi, memaksa dia mundur beberapa langkah.Kobaran api tersulut ketika bilah pedangnya menebas udara, hampir menyentuh tubuh Tiupaksa. Pertarungan terus berlanjut dengan masing-masing mengerahkan seni bela diri dan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki.Dengan usaha kerasnya, satu dari lima sosok berpakaian hitam tertusuk tepat di dadanya. Orang itu menjerit kesakitan, wajahnya yang tertutup hanya memperlihatkan kedua mata yang melotot penuh sentakan.Tersisa empat musuh yang harus dihadapi oleh Tiupaksa. Sayangnya, nafasnya mulai tersenggal dan tenaganya pun mulai menipis."Sudah kukatakan untuk berhati-hati, dasar bodoh!" Maki, salah satu dari sosok berpakaian hitam, dengan geram memandang Tiupaksa.Sejenak, kobaran api tersulut dari lengannya yang kemudian menjalar melewati permukaan pedang di genggamannya. Pria itu menyusun kuda-kuda bela diri lalu menerjang ke arah Tiupaksa."Mati!" Geramnya menghadap Tiupaksa dengan kemarahan.Sosok laki-laki sederhana sepertinya tidak dapat diremehkan. Bahkan dengan lima pembunuh bayaran, mereka masih kewalahan menghadapinya. Ketangguhan Tiupaksa berasal dari kekhawatiran terhadap istri dan anaknya.Dalam kegelapan malam, Tiupaksa dan pembunuh itu saling berhadapan di medan pertempuran. Angin sepoi-sepoi membawa getaran tegang. Tiupaksa, dengan keberanian yang membara, melancarkan serangan pertamanya, menggetarkan udara dengan ketangguhan hatinya. Sementara itu, pembunuh bayaran mencoba menaklukkan Tiupaksa dengan kecepatan dan keahlian mereka.Dalam serangkaian gerakan yang cepat, pedang dengan api dan kilat bersentuhan, menciptakan percikan cahaya memukau. Kekuatan Tiupaksa terus berkelebat, didorong oleh tekadnya untuk melindungi keluarganya. Setiap serangannya membawa kekuatan emosional yang membuatnya sulit diatasi oleh lawannya. Namun, tidak selamanya Tiupaksa dalam keadaan normal penuh tenaga, dan ini menjadi batasan dalam dirinya.Tiupaksa, kendati penuh tekad, mulai merasa kewalahan di hadapan keahlian luar biasa para pembunuh bayaran. Setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya terasa seperti badai yang tidak dapat dihindari. Meskipun kekuatannya bersumber dari cinta dan tekad, Tiupaksa merasakan kelelahan yang semakin mendalam.Pembunuh itu saling berkoordinasi, menciptakan strategi yang sulit dipecahkan oleh Tiupaksa. Langkah-langkahnya menjadi terhenti, dan senjatanya mulai terasa berat. Kehadiran gelap mengitari dirinya, memperlihatkan bahwa bahkan sosok laki-laki tangguh sekalipun dapat mengalami kekalahan di tengah pertempuran yang sulit.Bilah pedang menusuk melewati dada, perut dan kakinya, seketika itu juga darah terciprat bercucuran membasahi kain yang melapisi tubuhnya. Tiupaksa berusaha keras menahan rasa sakit ketika darah hangat mengalir di tubuhnya.Dalam keheningan malam yang gelap, Tiupaksa merasakan kelemahan tubuhnya, namun tekadnya tidak padam. Sambil tersenyum kepada pembunuh yang mendekat, dia berkata dengan suara perlahan."Kekuatan terakhirku bukan untuk kehidupan, melainkan untuk melindungi cinta yang tak tergoyahkan. Kalian mungkin mengalahkan tubuh ini, tetapi rohku akan menjadi badai yang melibas kalian."Dengan gerakan terakhir, Tiupaksa mengumpulkan seluruh kekuatannya. Cahaya terang menyinari matanya yang penuh tekad, dan seakan-akan energi berbasis kilat tersembur dari dirinya. Pada saat yang sama, pembunuh itu merasakan getaran aneh di udara.Tiupaksa, dengan suara tegas: "Dalam kekalahan ini, aku bawa kalian bersamaku."Pembunuh bayaran yang awalnya yakin mulai merasakan ketidakpastian di hadapan sosok sederhana ini. Firasat buruk menghampiri setiap dari mereka, namun sudah terlambat untuk mengelak dari daya tarik luar biasa energi kilat.Bang!Dalam ledakan energi yang dramatis, Tiupaksa mengeluarkan kekuatan terakhirnya, membawa kematian kepada para pembunuh. Serangan terakhirnya menghasilkan kilatan yang menyapu mereka dalam tarian cahaya dan desis kilat.Saat debu pertempuran mereda, hanya tinggal senyap yang menyaksikan pengorbanan Tiupaksa, seorang pahlawan sederhana yang membawa mati musuh-musuhnya untuk melindungi keluarga tercintanya.Dalam detik terakhir, Tiupaksa menatap langit malam dengan mata penuh penyesalan, menyesal tidak dapat melihat anaknya tumbuh bahagia. Pada akhirnya, tubuhnya yang setengah hancur merosot ke tanah, memberikan pengorbanan terakhirnya demi melindungi keluarga. Pertarungan epik ini berakhir dengan kekalahan dan kemenangan yang mengguncang, meninggalkan cerita tentang keberanian dan pengorbanan yang tak terlupakan.Ketegangan mencapai puncaknya, dan seluruh hutan menjadi saksi bisu dari perjuangan yang tak terelakkan ini...Di bawah sinar bulan, suara tangisan bayi terdengar di tempat yang lebih aman di kedalaman hutan, sosok wanita yang mendekap bayi itu menatap jauh ke arah tempat suaminya. Derai air mata membasahi pipinya, menggambarkan kecemasan yang begitu mendalam. Namun, dalam kegelapan malam yang sunyi, semangat bertahan dan harapan pun masih berkobar di mata wanita itu.Dengan senyum yang terpaut kesedihan, wanita itu melihat anaknya dengan gembira, berusaha menenangkan agar tidak menangis. Wajahnya mencerminkan kelelahan, tapi kehadiran anak kecil di pangkuannya memberikan secercah kebahagiaan di tengah-tengah kesulitan."Tak apa-apa nak, ibu di sini," bisiknya dengan lembut seraya mengelus lembut bayi kecil itu. Matanya yang lelah berkilat-kilat melihat keajaiban yang terletak dalam setiap senyuman dan tangisan anaknya....AURELIA I tugged at the embroidery immediately, but of course, it stayed stuck on the shirt—not moving an inch. Did Enzo not realize what he’d done by giving me a fucking monogrammed shirt? I was dead for sure if Leone managed to put two and two together. Gianna had gone silent beside me, waiting for my answer and no doubt wondering why I had chosen not to wear something of hers instead. “What’s going on?” Enzo had made it downstairs, immediately taking the seat beside Leone, making the already weird situation worse. “I was just asking Lia here why she got your shirt on.” Enzo cut into the steak on his plate, so unbothered as he answered. “Oh, that? I made her take it since i got water on the one she wore previously.” He paused, tilting his head to look at Leone, a smile on his lips. “What? Is that jealousy?” Leone scoffed, and focused on his food instead. “And why should I be jealous?” Gianna snorted, before turning to me. “I know! We should totally go get you some
AURELIA I froze. I completely went stock still in Enzo’s arms, unable to breathe as I heard Gianna just outside the door. This couldn’t be happening. Enzo placed his index finger on his place in a ‘shush’ gesture, before hurriedly picking up his trousers from where he had tossed it on the floor and pulling it on. I watched with bated breath as he opened the door just enough for him to poke his head through. “Hi Gianna, Aurelia was here like twenty minutes ago. Didn’t she say she was going to find you?” The lie rolled off his tongue perfectly, and I hoped it would be enough to turn Gianna away. I fisted the blanket harder, afraid she’d insist on coming inside the room, where she’d find me naked in the wrong brothers bed. “Oh, I must have missed her. By the way, how are you doing?” I groaned inwardly. Gianna was a sweet, sweet soul but at that moment, I would have given everything for her to leave already. I heard Enzo chuckle, “I’ve never been better. I’ll be down in a b
ENZO“Spread those pretty legs for me, Princess.” I urged, leaving a wet trail of kisses down her thighs as I reverently made my way to her glistening sex.She was clean shaven, except for the soft feathering of blond hair that I oddly found attractive. Gods, she was wet. I could see her pussy dripping with her arousal, and it only turned me on as she squirmed, blushing as she tried to clamp her legs together.“Are you shy, Princess?” I teased, my hands on her knees gently prying her legs apart. She blushed, turning her face to the side, her face against the pillow as she admitted breathlessly. “I don’t know…I’ve never done this before.” Perfect.I wanted to be her first. Not that I had any right, but the thought of me being the first to worship her pussy with my mouth sent an heady pleasure rushing through me. Pausing my growing need, I laced my fingers through hers until she was forced to look into my eyes. “Do you trust me, amore mio” She bit her lips, drawing my eyes to the
AURELIA Enzo wants me. Enzo wants me. Enzo wants me. That single thought kept replaying in my head as I dropped the soap back into its holder, then brushed my fingers across his lips. Somewhere between the moment I had entered and saw him jerking off to my thoughts, and this moment with me in between his legs in the ridiculously large and fancy tub, I had dropped all my shame and defenses. Enzo groaned, a restlessness behind his blue eyes. His hands roamed over my body, cupping my breasts through the now wet and see through fabric I was wearing, before snaking around my neck, pulling me closer with an urgency until my lips crashed into his. I moaned as he kissed me, his tongue softly sliding into my mouth. He kissed with a desperation, an hunger so feral it made my pussy drip with it’s wetness. He tugged at my bottom lip with his teeth, and I made a low sound of satisfaction in my throat, as I threaded my fingers through his dark hair. It was as soft as I had expected it to
AURELIAWhat the fuck had I just seen?I couldn’t stop staring at Enzo’s cock as he stroked it under the water, making it spring back into its full, hard length. Maybe it was inappropriate, but I couldn’t resist the allure. Enzo, my brother-in-law, was touching himself, and muttering my name!“R
ENZO“You’re awake.”I painstakingly turned my head towards the voice, my eyes too blurry to make out the figure.“How do you feel? You’ve been asleep for more than twenty four hours.” The voice asked again, and this time I could see it was Hector, the family doctor.I felt awful. I had an headache
AURELIAThis was it. This was the day i was going to die. Rafael was staring daggers at me, his lips pulled back in something that wasn’t quite a snarl but wasn’t human either, a thin, trembling line that told me he was one breath away from lashing out at me, and I could feel dread settling into m
LEONEI hadn’t meant to touch her.The plan i had made in my head was to find her, haul her out of any mess she had found herself in, then leave Rafael to handle her punishment, but all that went out of the window when I saw that bastard rip her clothes.Her. My wife. Aurelia Morretti.It was only n
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.