Share

Bab 4

Author: Haryanto Wijaya
"Nadira." Julia melangkah cepat ke depan. "Syukurlah, aku tahu putriku bernasib baik, pasti nggak akan terjadi apa-apa."

Surya juga tampak penuh semangat. Dia segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi dokter pribadi. Niniek dan kepala pelayan juga terlihat sangat senang. Sebaliknya, wajah Adinia dan putrinya terlihat seperti habis makan kotoran.

Tak lama kemudian, beberapa tenaga medis datang membawa peralatan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Nadira.

"Dokter, gimana?" tanya Julia dengan gugup.

"Kondisi Nadira sangat baik, hanya sedikit lemah." Dokter itu tampak tidak percaya. Sebagai dokter pribadi Keluarga Pradana, dia rutin memeriksa kondisi tubuh Nadira.

Beberapa hari lalu baru saja diperiksa, kondisi otaknya sama seperti sebelumnya, hanya ada sedikit fluktuasi. Banyak otot di seluruh tubuh mengalami atrofi. Sekarang bukan hanya bangun secara ajaib, otot-otot yang sebelumnya menyusut juga telah kembali normal. Sungguh luar biasa.

Surya tertawa keras. "Haha, pasti leluhur Keluarga Pradana memberkati."

Putrinya bangun, membuat kabut kelam di hatinya lenyap seketika.

Sementara itu, Julia melirik Elang, teringat kejadian sebelumnya. Apa mungkin benar-benar kebetulan? Namun, dia tak sempat memikirkannya lebih dalam, langsung menatap Adinia dengan wajah bangga.

"Wah, Kakak Ipar, lihatlah, menantuku ini benar-benar pembawa keberuntungan. Baru saja datang ke rumah kita, Nadira langsung bangun."

"Dengan Elang sebagai pembawa keberuntungan, keluarga kita pasti makin maju. Keluarga kalian harus hati-hati, jangan sampai nggak sengaja kehilangan posisi presdir yang didapat secara cuma-cuma itu lagi."

Wajah Adinia menjadi pucat. Dia tak pernah menyangka tamparan balik datang secepat ini. "Hmph, cuma mantan narapidana, bangga apa sih? Nggak tahu malu."

Adinia menatap Julia dengan tak rela, lalu membawa putrinya pergi dengan kesal. Para dokter juga ikut pergi. Setelah semua orang pergi, Julia segera menghampiri Elang.

"Menantuku, kamu benar-benar pembawa keberuntungan untuk keluarga kita. Ibu percaya Nadira pasti akan bahagia bersamamu." Dia semakin puas dengan menantu ini.

Surya mengernyit. "Julia, Nadira sudah bangun. Menurutku, sandiwara tolak bala ini sebaiknya dihentikan saja."

Saat Nadira masih koma, dia memang sudah tidak menyukai Elang, apalagi sekarang.

Nadira adalah sosok wanita yang terkenal di Kota Kamujra karena kecantikannya. Baik kemampuan, wajah, maupun latar belakang keluarga, semuanya unggul. Anak-anak muda berbakat yang mengejarnya tak terhitung jumlahnya.

Dia sama sekali tidak bisa menerima putri yang dianggapnya seperti permata ini menikah dengan mantan narapidana.

Amarah Julia langsung naik. "Surya, apa maksudmu? Habis manis sepah dibuang? Tanpa Elang, apa Nadira bisa bangun?"

Surya berkata dengan dingin, "Nadira bangun karena memang bernasib baik, karena leluhur Keluarga Pradana memberkati. Apa hubungannya dengan bocah ini? Masa kamu benar-benar percaya omong kosong tolak bala seperti itu?"

"Oh ya? Kalau begitu, jelaskan kenapa Nadira nggak sadar dari kemarin, tapi justru sadar saat Elang baru saja datang ke rumah kita?" Julia bertanya dengan wajah dingin, "Kamu lupa kejadian tadi?"

"Hmph, cuma kebetulan." Surya mendengus. "Kamu benar-benar percaya omongan bocah ini? Dia itu mantan narapidana ...."

Julia murka. "Surya, Elang adalah menantuku. Kalau kamu berani lagi menyebut soal dia masuk penjara, aku nggak akan diam!"

Surya agak tak percaya, istrinya marah besar padanya demi bocah yang baru masuk ke keluarga mereka?

Amarahnya pun ikut naik. "Julia, urusan lain aku bisa turuti kamu, tapi soal ini nggak bisa ditawar. Bocah ini harus cerai dengan Nadira."

"Kamu berani membentakku sekarang?"

Saat keduanya hampir bertengkar, Nadira yang berada di atas ranjang pun bersuara, "Ayah, Ibu, jangan bertengkar. Aku ingin tenang sebentar."

Keduanya langsung diam. Julia melotot pada Surya, lalu menatap Nadira. "Nadira, istirahatlah yang baik. Ibu akan buatkan tonik untukmu."

Dia lalu keluar dari kamar. Surya melotot pada Elang sebelum ikut pergi. Tatapan itu seakan-akan berkata, "Bocah, kalau kamu tahu diri, lebih baik ajukan cerai sendiri."

Pengasuh dan kepala pelayan juga tak berani tinggal lama.

Elang baru hendak pergi, tetapi Nadira memanggilnya, "Tunggu, ada yang ingin kubicarakan."

Elang berbalik, menatap wanita cantik di ranjang. Matanya sangat indah, seperti dua batu permata hitam. Namun, di dalamnya terpancar hawa dingin dan aura misterius.

Nadira menopang tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang, melirik Elang sambil berkata dengan tenang, "Aku kira-kira sudah paham situasinya. Ibuku terlalu khawatir, jadi melakukan hal konyol seperti tolak bala."

"Aku dan kamu nggak saling kenal, menjadi suami istri terlalu dipaksakan. Tapi saat ibuku putus asa, kamu memberinya secercah harapan. Sebagai rasa terima kasih, aku bisa memberimu 20 miliar sebagai imbalan."

Elang berdecak pelan. Dua puluh miliar? Meremehkan siapa?

"Sebenarnya kamu mau bilang apa?"

Sekilas keterkejutan melintas di mata Nadira. Saat mendengar 20 miliar, ekspresi Elang tidak berubah sedikit pun. Bagi orang biasa, 20 miliar bukan jumlah kecil.

Nadira menyampaikan tujuannya. "Cari waktu untuk cerai. Kita bukan dari dunia yang sama. Dipaksakan bersama nggak ada artinya."

Suaranya tenang tanpa gelombang, tidak merendahkan, tidak arogan. Namun, ketenangan itu sendiri adalah bentuk kesombongan sejati.

Mungkin di mata Nadira, Elang hanyalah semut kecil, sementara dirinya adalah foniks di langit sembilan.

Setelah bercerai, keduanya tak akan pernah bersinggungan lagi. Dia bahkan tak sudi menekan dengan kekuasaan. Mana mungkin foniks mempermasalahkan semut.

Elang hampir tertawa, lalu bertanya balik, "Dari mana kamu tahu kita bukan dari dunia yang sama? Kamu mengenalku?"

Nadira memijat pelipisnya. "Aku nggak suka orang yang terus memaksa. Kuharap kamu tahu diri."

Walaupun baru pertama kali bertemu Elang, dari percakapan orang tuanya, dia sudah paham bahwa Elang adalah mantan narapidana dan masuk sebagai menantu untuk tolak bala. Orang seperti itu terlalu biasa, sama sekali tidak cocok dengannya.

Karena sudah sampai pada titik ini, Elang juga tidak ingin bersikap merendah. Dia memang membutuhkan Fisik Foniks untuk menekan energi naga murka dalam tubuhnya, tetapi dia tetap punya harga diri.

Tanpa Fisik Foniks, dia bisa mencari fisik lain. Dia tak mungkin menjilat demi mendapatkan yang dia inginkan.

"Aku nggak keberatan, asal Ayah dan Ibu setuju." Elang tidak menutup kemungkinan sepenuhnya karena benar-benar menyukai Julia sebagai ibu mertua. Sejak ibunya pergi, Julia membuatnya kembali merasakan kasih ibu.

"Soal Ibu akan kuurus." Nadira kembali berbaring. "Kamu keluar saja. Aku ingin istirahat."

Melihat Elang pergi, Nadira menghela napas pelan. Walaupun agak tidak adil, statusnya memang khusus. Jika Elang terus di sisinya, cepat atau lambat akan terseret.

Elang turun. Julia sedang sibuk di dapur. Tak lama kemudian, satu meja penuh hidangan lezat siap tersaji.

Niniek membantu Nadira yang lemah turun.

"Nadira, cepat duduk. Ibu masak sup ayam hitam favoritmu." Julia berdiri menyambut.

Keluarga itu duduk bersama. Baru hendak makan, Nadira menatap Julia. "Ibu, tadi aku sudah bicara dengan Elang. Kami nggak cocok, jadi kami akan cerai."

Senyuman di wajah Julia membeku.

Surya tertawa keras. "Haha, sama seperti yang kupikirkan. Bocah ini memang nggak cocok untuk Nadira. Setelah makan, kita langsung ke pengadilan negeri."

Plak! Julia membanting sendok ke meja. "Aku mau lihat, siapa yang berani pergi! Nadira, manusia nggak boleh lupa budi. Soal ini, aku nggak akan setuju."

"Setelah kamu koma, para pengejarmu dulu menjauh satu per satu. Orang-orang seperti itu mana mungkin mau masuk Keluarga Pradana dan menjadi menantu kita."

"Di saat genting, Elang maju. Baru saja dia datang, kamu langsung bangun. Dia pembawa keberuntunganmu. Lagi pula, Elang juga berkarakter baik. Bagian mana darinya yang nggak kamu suka?"

Julia berbicara panjang lebar. Dia terus memuji Elang, jelas sangat mengakui menantu ini.

Surya berdecak. "Berkarakter baik kok masuk penjara?"

Julia melotot marah. "Kamu tahu apa? Aku sudah menyelidiki semuanya. Dulu Elang masuk penjara demi menggantikan kakaknya. Baru keluar langsung berkorban demi keluarga. Kalau itu bukan karakter baik, lalu apa?"

Surya tak mampu membalas. Sesaat kemudian, dia baru bergumam, "Tapi dia tetap anak haram. Anak haram mana pantas untuk Nadira."

"Diam!" bentak Julia, lalu menatap Nadira. "Biar kuperjelas, kalau kamu berani cerai dengan Elang, aku anggap nggak punya anak sepertimu."

Usai berkata demikian, dia naik ke lantai atas dengan marah.

Nadira memijat pelipisnya, tahu ibunya benar-benar marah. Dia berniat menunggu suasana mereda dulu.

Surya memandang putrinya. "Nadira, Ayah mendukungmu."

Nadira tak menjawab, langsung ke lantai atas setelah selesai makan. Elang berinisiatif membereskan piring.

Surya semakin kesal melihatnya, merasa menantu ini terlalu pengecut. Kemudian, dia keluar dari vila.

Elang tak peduli. Dia mengambilkan sepiring nasi dan lauk, lalu membawanya ke atas untuk ibu mertuanya. "Ibu, jangan sampai kelaparan. Kesehatan itu penting."

Julia menerima makanan itu, semakin puas pada Elang. "Elang, tenang saja. Selama ada Ibu, gadis keras kepala itu nggak akan bisa cerai."

Elang tersenyum dan mengangguk. Tentu dia tidak ingin bercerai.

Di kamar sebelah, Nadira mendengar perkataan ibunya dengan jelas dan merasa pusing. Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

Telepon tersambung. Terdengar suara terkejut. "Bu Nadira sudah siuman?"

"Selidiki soal kecelakaan itu." Nadira memberi perintah.

"Kebenarannya sudah lama terungkap. Itu ulah Affan dan yang lainnya." Suara di telepon terdengar geram. "Perlu aku kirim orang untuk diam-diam menyingkirkan mereka?"

Walaupun sudah menduga, saat mendengarnya langsung, Nadira tetap terdiam sejenak. Mereka benar-benar tak peduli hubungan darah. Baiklah, berarti selanjutnya dia tak perlu sungkan.

"Untuk sementara nggak perlu. Gimana situasi pihak Keluarga Hidayat?"

"Sudah berhasil masuk ke Kota Kamujra, hanya saja belakangan tampaknya ada sedikit konflik dengan Organisasi Serigala Putih soal pembongkaran."

"Apa yang terjadi?"

"Katanya harga belum mencapai kesepakatan."

Nadira mengernyit. "Organisasi Serigala Putih memang sulit dihadapi. Awasi wilayah selatan kota. Kalau ada kabar, segera hubungi aku."

Dia hendak menutup telepon, lalu teringat sesuatu. "Oh ya, selidiki satu orang untukku."

Setelah menutup telepon, Nadira duduk bersila di atas ranjang. Merasakan perubahan dalam tubuhnya, sesaat kemudian matanya menunjukkan keterkejutan dan kebingungan.

"Aneh, kenapa Racun Bunga Pantai menjadi sangat lemah? Apa selama aku koma, terjadi sesuatu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status