Share

Bab 5

Author: Haryanto Wijaya
Kabar tentang sadarnya Nadira segera menyebar di kalangan atas Kota Kamujra. Para pemuda berbakat yang dulu mengejarnya pun satu per satu datang berkunjung.

Namun, semuanya diusir oleh Julia, bahkan ditegaskan bahwa putrinya sudah menikah, meminta mereka jangan lagi datang mengganggu.

Selama itu, Nadira beberapa kali mengajukan perceraian, tetapi setiap kali dimarahi habis-habisan oleh Julia. Akhirnya, kare tak punya pilihan lain lagi, Nadira pun mencari Elang.

"Elang, karaktermu memang nggak buruk. Kamu pria yang bertanggung jawab, tapi kita benar-benar nggak cocok."

Setelah menyuruh orang menyelidiki Elang, Nadira semakin mengenalnya. Walaupun agak pengecut, karakternya masih tergolong baik. Jika dirinya hanya putri keluarga besar biasa, menerima suami seperti ini sebenarnya juga tidak buruk.

Namun, statusnya istimewa, ditakdirkan tak mungkin bersama orang biasa seperti Elang. Dipaksakan bersama bukan hanya berarti hidup bersama tanpa perasaan, bahkan bisa mencelakakan pihak lain. Meskipun kejam, itulah kenyataannya.

Elang mengangguk. "Cerai, 'kan? Selama Ibu setuju, aku nggak keberatan."

Nadira merasa pusing. "Sikap ibuku sudah kamu lihat. Soal cerai, untuk sementara lupakan dulu. Aku memanggilmu untuk kasih tahu, mulai sekarang kita cuma pasangan suami istri secara nama."

"Nanti setelah Ibu berhasil diyakinkan, kita langsung cerai. Selama itu, jangan mencampuri kehidupan masing-masing. Kamu juga boleh mencari wanita lain. Aku cuma punya satu syarat, jangan dibawa pulang saja."

"Aku tahu syarat ini mungkin agak ...."

"Bisa." Elang langsung menyetujui, dalam hati berpikir ada hal sebaik ini? Dia memang sedang pusing apa yang harus dilakukan kalau bertemu fisik khusus lain.

Julia sangat baik padanya. Kalau dia mencari wanita lain diam-diam, itu terlalu tidak tahu diri. Sekarang Nadira yang mengusulkan sendiri. Kalau nanti ketahuan, itu bukan urusannya.

Nadira tertegun. Menyetujuinya secepat itu? Bahkan tidak berjuang sedikit pun? Apa dia tidak takut dirinya mencari pria lain di luar? Nadira tahu, hal yang paling tak bisa diterima pria adalah diselingkuhi, meskipun mereka bukan pasangan asli.

'Apa pesonaku kurang atau orang ini memang pengecut?' Nadira tak bisa menahan diri untuk curiga. Mengingat data tentang Elang, rasanya memang yang kedua.

Anak haram, masuk penjara demi kakaknya, baru keluar langsung dijual keluarganya tanpa sedikit pun perlawanan. Kalau itu bukan pengecut, lalu apa?

Nadira semakin kecewa. Benar saja, pria seperti ini memang bukan dari dunia yang sama dengannya.

Begitu Elang turun, Surya langsung memasang wajah tidak puas. "Laki-laki kok seharian di rumah saja? Nggak kepikiran cari uang buat menafkahi keluarga? Apa mau Keluarga Pradana membiayaimu seumur hidup?"

"Surya, pagi-pagi sudah makan cabai ya? Cari uang apanya? Keluarga kita kekurangan uang?" bentak Julia dengan keras, lalu menoleh pada Elang. "Menantuku, jangan dengarkan dia."

Elang tersenyum. "Ayah benar. Aku memang seharusnya mencari uang untuk keluarga."

Sikap Julia langsung berubah. "Ya, ya, menantuku hebat. Punya ambisi. Biar Ibu pikirkan dulu di perusahaan ada posisi kosong apa."

Dia mengernyit sambil berpikir. Tiba-tiba, Surya berkata, "Bukannya masih ada beberapa sisa pembayaran yang belum ditagih? Suruh saja bocah ini mencobanya."

Julia langsung menggeleng. Yang menunggak sisa pembayaran, semuanya orang-orang yang sulit dihadapi. Elang yang masih muda mana mungkin bisa mengatasinya.

Surya berkata dengan nada datar, "Dia pernah di penjara, siapa tahu bisa."

Julia hendak membantah, tetapi Elang lebih dulu berkata, "Ayah benar. Biar aku coba."

Surya menimpali, "Lihat, bocah ini saja sudah setuju. Jangan sampai kamu meruntuhkan rasa percaya dirinya."

"Elang, pergilah. Nanti akan kukirimkan daftar orang yang menunggak."

Elang mengangguk dan melangkah ke luar.

Julia berpesan, "Jangan memaksakan diri. Lakukan semampumu."

"Ya, Ibu."

Baru saja keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat nomor itu, Elang langsung menolak. Namun tak lama kemudian, panggilan itu kembali masuk. Dengan wajah muram, dia mengangkatnya. "Ada apa?"

Dari seberang, terdengar suara Rio. "Elang, aku dengar Bu Nadira sudah bangun. Bisa kamu bicara dengannya? Ayah ingin bertemu."

Di sisi lain telepon, Rio menyesal setengah mati. Kalau tahu Nadira akan bangun, mana mungkin dia membiarkan Elang masuk sebagai menantu. Kalau tahu begitu, langsung saja dia suruh putra keduanya yang masuk ke sana.

Nadira bukan hanya berlatar keluarga kuat, tetapi juga muda dan berbakat. Yang terpenting adalah wajahnya tidak rusak dan dia tetap mutiara Keluarga Pradana. Menantu perempuan seperti itu sulit dicari.

Jika bisa merapat pada Keluarga Pradana, kelak putra sulungnya pasti mewarisi Keluarga Aksara.

Harus diketahui, karena kejadian tahun itu, ayahnya selalu tak puas pada keluarga cabang utama dan beberapa tahun terakhir terus membina keluarga cabang kedua.

Setelah tahu Nadira bangun, dia langsung ingin berkunjung, tetapi dia teringat sebelumnya menyuruh Elang, si anak haram, masuk sebagai menantu. Jelas, tindakannya itu berarti meremehkan Keluarga Pradana.

Rio tak berani datang dengan gegabah, lalu memutuskan menyuruh Elang menjajaki situasi.

Elang hampir tertawa marah. Masih punya muka minta tolong? Benar-benar tak tahu malu.

"Nggak ada waktu. Dan ke depannya, jangan telepon lagi. Aku sudah nggak ada hubungan dengan Keluarga Aksara." Usai berkata demikian, Elang langsung menutup telepon.

Di vila Keluarga Aksara, Rio marah besar. "Sialan, anak durhaka itu berani menutup teleponku!"

Talitha menyulut api. "Hehe, menurutku dia merasa sudah punya sandaran Keluarga Pradana, makanya jadi sok hebat."

"Dia berani?" Rio memaki.

Satya pun mencibir. "Cuma menantu pecundang. Mana mungkin Keluarga Pradana menganggapnya penting. Paling mantan narapidana itu yang merasa sok hebat."

Rio kembali menelepon, tetapi ditolak. Setelah menelepon beberapa kali, dia langsung diblokir oleh Elang.

"Berengsek, anak sialan itu berani memblokirku!" Wajah Rio memucat karena marah.

Arif tampak cemas. "Ayah, gimana? Kerja sama dengan Keluarga Pradana menyangkut masa depanku."

Rio tampak kesal, sesaat tak tahu harus bagaimana.

Talitha memutar bola mata, berkata dengan nada licik, "Aku ingat dulu waktu sekolah, anak haram itu punya seorang gadis kecil yang sangat dekat dengannya. Gimana kalau kita pakai dia sebagai ancaman? Anak haram itu orangnya setia, pasti akan mengalah."

Mata Rio dan anak-anaknya langsung berbinar.

Satya berkata, "Ayah, aku akan segera mengurusnya."

Rio mengangguk. "Lakukan dengan bersih. Jangan sampai menimbulkan keributan besar."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status