Share

Bab 8

Author: Haryanto Wijaya
"Satu triliun? Kenapa kalian nggak merampok saja?" Donna murka. "Kami sudah menyelidikinya sejak lama. Biaya gedung ini paling mahal 100 miliar."

Baldo tetap tenang. Dia menerima teko teh dari sekretaris, lalu secara pribadi menuangkan teh untuk mereka bertiga.

"Hehe, jangan marah. Ada pepatah lama, harga boleh dinaikkan di tempat, tapi tetap bisa ditawar. Soal harga, bisa dibicarakan pelan-pelan."

Dia mengangkat cangkir teh hangat di depannya dan berkata sambil tersenyum, "Bu Vellin, silakan minum teh dulu."

Namun, Vellin sama sekali tak tergerak.

Mata Baldo sedikit menyipit. "Kalau Bu Vellin bahkan nggak mau memberi muka sedikit pun, silakan kembali saja."

Donna berkata dengan dingin, "Jangan keterlaluan. Kamu kira kami nggak berani menyentuhmu?"

Wajah Baldo meredup. Dia mendengus dingin. "Gadis kecil, aku sudah berkecimpung di dunia mafia puluhan tahun, berkali-kali berjalan di ambang kematian. Aku nggak takut ancaman. Mau bicara baik-baik atau enyah dari sini."

Kilatan dingin muncul di mata Donna. Dia sangat ingin memberi pelajaran kepada mereka. Namun, mengingat ini wilayah lawan, dia menahan diri dengan susah payah.

Vellin berkata dengan tenang, "Pak Solihin, nggak perlu basa-basi. Sebutkan harga yang sebenarnya kamu mau."

Baldo bersandar dengan santai di sofa, sama sekali tak menjawab.

Vellin mengernyit. Kilatan amarah melintas di matanya. Namun, dia tidak membiarkan dirinya lepas kendali. Dia mengangkat cangkir teh di depannya dan menyesap sedikit, lalu bertanya dengan dingin, "Sekarang sudah bisa bicara?"

"Hahaha, begitu dong." Baldo tertawa keras. "Aku bukannya ingin menyulitkanmu, tapi gedung ini memang kubangun dengan banyak usaha ...."

Vellin memotong ucapannya dengan dingin, "Orang cerdas nggak perlu bertele-tele. Meskipun aku nggak tahu dari mana kalian mendapatkan kabar kalau Keluarga Hidayat akan mengembangkan distrik selatan, lalu lebih dulu datang dan membangun gedung ini, aku sarankan kamu tahu diri. Terlalu serakah hanya akan mendatangkan malapetaka."

Elang terkejut. Bukankah keluarga besar yang bekerja sama dengan Keluarga Pradana adalah Keluarga Hidayat? Tak disangka, dia bertemu langsung dengan mereka.

Baldo tersenyum. "Tentu aku tahu kekuatan Keluarga Hidayat. Begini saja, asal kamu menyetujui satu syaratku, kami akan segera pindah."

Vellin mengucapkan satu kata, "Katakan."

Baldo menatap tubuh Vellin yang montok dan memikat dengan tatapan mesum. "Sederhana saja. Kamu hanya perlu nginap semalam di sini."

Donna murka. "Bajingan, kamu cari mati!"

Setelah berkata demikian, dia langsung menyerang, tak lagi peduli pada apa pun. Wajah cantik Vellin juga sedingin es. Jelas, dia benar-benar marah.

Baldo sama sekali tidak panik. Dia bangkit dan bertarung dengan Donna. Keduanya saling menyerang dan membalas. Setiap pukulan menimbulkan suara ledakan di udara. Terlihat jelas kekuatan yang terkandung di tinju mereka.

Elang terkejut. Dia dapat melihat bahwa keduanya adalah praktisi bela diri yang melatih fisik. Kekuatan mereka seharusnya berada di tingkat tujuh hingga delapan pelatihan fisik.

Tebakan Elang hampir benar. Kekuatan Baldo berada di tingkat delapan tahap awal, sementara Donna di tingkat delapan tahap puncak. Seiring berjalannya waktu, Donna yang sedikit lebih kuat mulai mendominasi.

Namun, Baldo tetap tenang. Dia menghindari satu tendangan Donna, lalu segera menjauh. Saat berikutnya, dia menekan tombol merah di atas meja kerja. Alarm nyaring langsung menggema di seluruh gedung.

Wajah Donna berubah. Dia kembali menyerang Baldo, tetapi kekuatan mereka tak berbeda jauh. Mustahil menjatuhkan lawan dalam waktu singkat.

Tak lama kemudian, sekelompok pria berpakaian hitam menerobos masuk dengan ganas. Sebagian mengepung Vellin dan Elang, sebagian lagi membantu Baldo.

Dengan adanya bala bantuan, Baldo segera membalikkan keadaan. Tak sampai satu menit, Donna ditendang terbang dan menghantam lantai dengan keras. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Dia tampak terluka cukup parah.

Sekelompok pria besar segera maju dan menahannya. Baldo duduk kembali di sofa dan tersenyum. "Gimana pertimbangannya?"

Bahkan pada saat seperti ini, ekspresi Vellin tetap tenang. "Sebaiknya kamu pikirkan matang-matang. Sekali kamu menyentuhku, kamu akan menanggung amarah Keluarga Hidayat."

Baldo tersenyum sinis. "Bu Vellin, terlalu percaya diri bukanlah hal baik. Pernahkah kamu berpikir kenapa aku, sebagai salah satu ketua aula Organisasi Serigala Putih, nggak berani menyentuhmu?"

Tubuh Vellin menegang. Setelah mengaitkan dengan beberapa hal lain, wajahnya tiba-tiba menjadi suram. "Kalau aku nggak salah tebak, Keluarga Hidayat memiliki pengkhianat. Siapa yang ada di belakangmu?"

Baldo tertawa keras. "Bu Vellin memang pintar. Soal siapa, kamu nggak perlu tahu. Sebaiknya kamu patuh saja."

Wajah Vellin menjadi suram. "Kalau aku nggak mau?"

Saat berbicara, aura kuat memancar dari tubuhnya.

Baldo terkejut. "Tingkat sembilan pelatihan fisik! Bagaimana mungkin?"

Suara Vellin terdengar angkuh. "Nggak ada yang mustahil. Kamu kira kenapa aku berani datang sendirian?"

Baldo segera menekan rasa terkejutnya dan menghela napas kagum. "Memang pantas disebut putri kebanggaan generasi termuda yang paling berbakat dari Keluarga Hidayat."

Dia berhenti sejenak, lalu tersenyum licik. "Meskipun kekuatanmu berada di tingkat sembilan, hari ini kamu tetap akan jatuh di tanganku."

Vellin mendengus dingin dan hendak bergerak, tetapi tiba-tiba ekspresinya berubah. Dia merasakan hawa panas aneh muncul dari dalam tubuhnya, segera menyebar ke seluruh tubuh. Pipi putihnya pun memerah. Hasrat primitif yang tak terkendali bangkit dari dasar hatinya.

Vellin langsung teringat teh tadi dan memaki dengan suara dingin menusuk, "Bajingan hina! Kamu memberiku obat?"

Baldo tertawa menyeramkan. "Bu Vellin, bagaimana bisa kamu sembarangan minum sesuatu dari orang lain?"

Wajah Vellin memucat karena marah. Dia terlalu percaya pada identitasnya sebagai anggota Keluarga Hidayat dan kekuatan tingkat sembilannya. Dia telah meremehkan lawan. Tak disangka, dia malah terjerumus.

Vellin segera menenangkan diri dan mengerahkan tekniknya sepenuh tenaga, mencoba mengusir efek obat dari tubuhnya dengan energi sejati. Namun, setelah beberapa kali mencoba, tak ada hasil.

"Nggak perlu buang tenaga. Yang kuberikan bukan racun, melainkan obat perangsang." Baldo tertawa keras. Matanya penuh ejekan.

Vellin mulai panik, tetapi di permukaan dia tetap tenang dan berkata dengan dingin, "Sampah! Kalau kamu berani menyentuhku, Keluarga Hidayat pasti akan memusnahkan Organisasi Serigala Putih sampai ke akar-akarnya."

Baldo sama sekali tak panik. "Bu Vellin berpikir terlalu jauh. Aku memang nggak berani menyentuhmu."

Sebelum Vellin sempat lega, Baldo tiba-tiba tersenyum licik. "Tapi ada yang berani."

Begitu kata-kata itu dilontarkan, pintu terbuka dan dua sosok masuk. Seorang pemuda tinggi dengan wajah arogan dan seorang lelaki tua kurus berambut putih.

Baldo segera maju dengan wajah penuh hormat. "Pak Rian, rencana berjalan lancar. Apa kamu puas?"

Pemuda tinggi itu mengangguk pelan. Pandangannya menyapu tubuh Vellin dari atas ke bawah. Matanya dipenuhi keserakahan dan nafsu.

Pupil mata Vellin menyempit. "Rian, ternyata kamu!"

Rian tersenyum. "Vellin, kaget ya? Nggak nyangka, 'kan?"

Suara Vellin sedingin es. "Rian, kalau kamu berani menyentuhku, aku pasti akan membunuhmu."

Rian tertawa keras. "Menurutmu aku akan takut? Setelah berhasil menaklukkanmu, aku akan datang ke rumahmu untuk melamar. Saat itu kamu hanya bisa menikah denganku."

Vellin pun menjawab, suaranya sedingin es, "Jangan mimpi! Ayahku nggak mungkin setuju."

Rian tertawa aneh. "Kalau dia nggak setuju, akan ada yang setuju. Kamu bukan nggak tahu, seluruh Keluarga Hidayat berharap kamu segera menikah."

Bagaimana mungkin Vellin tidak tahu hal itu? Hatinya tenggelam hingga ke dasar.

"Vellin, kamu tahu perasaanku. Patuhlah padaku. Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik nanti." Suara Rian menjadi lembut. Dia perlahan mendekati Vellin.

"Minggir!" Vellin tiba-tiba melancarkan satu pukulan ke wajah Rian.

Lelaki tua berambut putih bergerak secepat kilat, menahan pukulan itu. Vellin mundur beberapa langkah. Wajahnya benar-benar dipenuhi keputusasaan.

Ternyata lelaki tua di depannya juga seorang ahli tingkat sembilan pelatihan fisik.

Wajah Rian menjadi masam. "Ikat perempuan jalang ini untukku. Nanti setelah di atas ranjang, aku mau lihat bagaimana dia masih bisa melawan?"

Lelaki tua berambut putih itu segera mendekati Vellin yang wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 50

    "Hehe, ternyata dia cukup menarik."....Tak lama setelah Elang pergi, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkannya dan melihat nama Wesley muncul di layar. Elang segera mengangkat panggilan.Dari seberang langsung terdengar suara tangisan, "Kak Elang, cepat datang selamatkan Pak Wesley. Dia ... dia mau dipukuli sampai mati…"Suara itu sangat familier. Itu perawat muda di klinik mereka.Ekspresi Elang langsung berubah."Di mana kalian?"Di seberang sana segera menjawab, "Kami di Apotek Seratus Obat, Pasar Obat Selatan."Elang tertegun sejenak. Kebetulan sekali?"Aku segera ke sana." Dia menutup telepon, lalu bertanya pada pemilik toko di dekatnya tentang lokasi Apotek Seratus Obat dan bergegas ke sana.....Pada saat yang sama, di Apotek Seratus Obat yang terletak di sisi barat pasar, Wesley sedang dipukuli oleh beberapa pria bertubuh besar. Dia memeluk kepalanya sambil meringkuk di lantai dan sesekali mengerang kesakitan."Jangan pukul lagi ... tolong berhenti ...."Perawat muda

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 49

    Kalau dijumlahkan, nilainya pasti mencapai beberapa miliar. Mata pegawai itu langsung berbinar. Hari ini dia jelas bertemu pelanggan besar."Pak, mohon tunggu sebentar. Saya perlu konfirmasi dengan manajer toko."Setelah berkata demikian, dia naik ke lantai atas. Elang duduk santai menunggu. Tak lama kemudian, pegawai itu turun bersama seorang lelaki tua berambut setengah putih."Manajer, ini Bapak yang tadi," kata pegawai sambil menunjuk Elang.Melihat Elang yang masih begitu muda, lelaki tua itu tampak terkejut."Pak, Anda yakin menginginkan semua bahan ini?" tanya pria itu memastikan.Elang mengangguk ringan. "Siapkan lima set."Lelaki tua itu kembali terkejut. Lima set berarti nilainya sudah menembus puluhan miliar."Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."Melihat Elang tidak tampak bercanda, dia tidak menunda dan segera menyiapkan bahan-bahan tersebut.Tak lama kemudian, lima paket sudah dibungkus rapi."Pak, semua bahan sudah lengkap. Silakan diperiksa."Elang menerimanya dan memeriks

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 48

    Langit mulai terang. Matahari pagi terbit dari ufuk timur dengan perlahan.Elang mengakhiri kultivasinya lalu kembali ke rumah Keluarga Pradana. Begitu masuk vila, dia mendapati Nadira sudah pergi. Di meja makan hanya ada Julia dan Surya."Pagi-pagi begini kamu keluyuran ke mana lagi? Nggak jelas banget tiap hari." Surya tampak tidak senang. Di matanya, apa pun yang dilakukan Elang selalu salah.Elang malas menanggapi. Julia segera memanggil, "Elang, sini sarapan dulu."Elang duduk. Dia melihat raut wajah keduanya agak berat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia pun bertanya, "Ibu, ada apa?"Julia menghela napas. "Upacara pelantikan Affan sebagai direktur utama dipercepat. Tiga hari lagi dia resmi menjabat sebagai dirut Grup Pradana."Elang tertegun. Bukankah sebelumnya dijadwalkan sebulan lagi?Namun, dia langsung mengerti.Kemungkinan besar pihak sana melihat Nadira sudah sadar dan takut akan muncul perubahan, jadi mereka mempercepat prosesnya.Wajah Surya juga tampak muram.Begitu

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 47

    Krek!Rasa sakit yang hebat meledak di dada lelaki tua itu. Kekuatan yang dahsyat langsung menghantamnya hingga terlempar jauh. Dengan suara keras, dia jatuh menghantam tanah. Begitu mendarat, darah muncrat dari mulutnya.Elang melangkah mendekat dan bertanya dengan suara dingin, "Kamu siapa? Kenapa menempatkan serangga guna-guna pada istri wali kota?"Lelaki tua itu berusaha bangkit, tetapi pukulan Elang barusan terlalu mengerikan. Organ dalamnya sudah hancur oleh getaran kekuatan itu. Dia mencoba beberapa kali, tetapi tetap saja gagal. Luka di dalam tubuhnya malah kembali terpicu dan dia memuntahkan darah lagi. Wajahnya memucat seketika."Grandmaster meridian ... nggak mungkin. Si ... siapa kamu sebenarnya?"Wajahnya dipenuhi keterkejutan. Bisa melukainya separah itu dengan satu pukulan jelas berarti lawannya adalah grandmaster meridian. Selain itu, tingkatannya itu bukan level biasa. Setidaknya sudah membuka tiga meridian atau lebih.Namun, Elang tampak baru berusia awal 20-an. Bisa

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 46

    Setelah mengetuk beberapa kali lagi tanpa respons, Elang pun malas melanjutkan. Dia melompat keluar lewat jendela samping dan meninggalkan vila.Kenapa tidak turun lewat tangga?Kalau turun dan bertemu Julia, bagaimana dia mau menjelaskannya? Mau bilang bahwa dia dikunci di luar kamar oleh istrinya?Elang juga punya harga diri.Di dalam kamar, Nadira yang mendapati sudah tidak ada suara lagi pintu berderit. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Lantaran tidak melihat bayangan Elang, raut wajahnya langsung diliputi sedikit amarah.Tindakan Elang malam ini memang membuatnya kurang puas. Terutama karena dia merasa Elang terlalu berani. Hari ini dia berani menjebak Deswan, siapa tahu besok dia berani melakukan hal lain?Kalau sampai menyinggung orang yang seharusnya tidak disentuh, dia tidak punya waktu untuk membereskan kekacauan itu.Awalnya Nadira hanya ingin memberi sedikit peringatan, tetapi ternyata orangnya sudah menghilang.....Setelah meninggalkan vila, Elang pergi ke sebuah tama

  • Legenda Kebangkitan Elang yang Dibebaskan   Bab 45

    Setengah jam kemudian, Elang dan yang lain kembali ke vila Keluarga Pradana. Begitu masuk rumah, Surya langsung meledak. "Dasar nggak berguna, sini kamu!"Elang duduk santai di sofa, lalu berkata pelan, "Ayah, kenapa? Masih kurang puas minumnya?"Ekspresi Surya sempat membeku, lalu kemarahannya makin membara. "Kenapa? Kamu nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan?"Elang pura-pura bingung. "Apa yang kulakukan? Kita cuma pergi makan."Melihat dia pura-pura bodoh, Surya makin naik darah. "Siapa suruh kamu pesan minuman semahal itu? Kamu tahu nggak kalau begitu bisa menyinggung orang?""Ayahnya Deswan itu anggota dewan Kamar Dagang Narniga. Apa kita bisa menyinggungnya sembarangan? Kamu ini nggak berguna, bukannya membantu keluarga malah bikin masalah."Walau dia sendiri ikut minum arak putih 80 tahun, begitu memikirkan kemungkinan menyinggung Deswan, amarah Surya langsung tak tertahankan. Semakin bicara, dia merasa semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menampar Elang. "Kupukul kamu s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status