تسجيل الدخولLorraine terdiam.Jordi melanjutkan, "Kalau kemarin benar-benar terjadi kecelakaan gara-gara kembang api di lokasi pernikahan, seluruh hartaku pun belum tentu cukup buat ganti rugi. Aku juga harus berterima kasih karena kamu bersikeras mempertahankan pendapatmu."Lorraine berkata itu memang sudah seharusnya. "Pak Jordi, mulai sekarang nggak perlu panggil aku seformal itu. Panggil saja Raine."Jordi langsung mengerti. "Tenang saja. Aku jamin kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi. Kalau sampai ada lagi, langsung telepon aku saja."Lorraine berbasa-basi beberapa kalimat, lalu menutup telepon.Nora langsung bertanya dengan penasaran. Lorraine pun menjelaskan dengan singkat.Nora mengangguk, lalu menghela napas. "Pada akhirnya, mereka tetap harus menghormati Delvin."Lorraine memeluk lengan Nora sambil bermanja-manja. "Nggak juga. Cucumu ini memang hebat. Nenek tunggu saja."Nora langsung tertawa terbahak-bahak. Baru tertawa beberapa saat, dia buru-buru memegangi dada. "Nggak boleh
Suara rendah di sampingnya terdengar mantap.Lorraine mengangkat kepala dengan susah payah. Bibir penuhnya terkatup rapat sebelum menjawab, "Aku nggak apa-apa."Dia sudah cukup merepotkan karena menumpang mobil Derby untuk pulang.Baru saja selesai bicara, rasa sakit tajam kembali menyerang. Lorraine tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.Gilga mendengarnya dengan jelas. Dia berkata, "Rest area terdekat masih sekitar 40 menit lagi, Bu. Gimana kalau minum air hangat dulu? Aku coba bawa mobil lebih cepat."Bahkan sebelum Lorraine sempat menjawab Gilga, tangan yang menekan perutnya sudah lebih dulu digenggam.Derby menggenggam tangannya, lalu meletakkannya di atas lututnya sendiri, membuat telapak tangan Lorraine menghadap ke atas."Tahan sebentar."Ibu jari Derby menekan tepat di bagian dalam pergelangan tangannya. Tekanannya kuat. Rasa pegal dan ngilu langsung menjalar di sepanjang lengan, dan sakit lambungnya benar-benar sedikit mereda.Lorraine terpaku. Dia hanya bisa menatap bulu mat
Alyssa membuka aplikasi pemesanan taksi.Setelah melakukan pemesanan, dia melihat lingkaran pencarian terus melebar mencari mobil di sekitar, tetapi selama 2,5 menit tidak ada respons sama sekali. Hingga akhirnya, pesanan otomatis dibatalkan.Alyssa mengentakkan kaki. "Hotel sebesar ini kok nggak bisa dapat taksi sih? Aku coba lagi ...."Lorraine menepuk bahu Alyssa. "Kita jalan sedikit ke depan saja. Siapa tahu ketemu taksi di jalan."Meskipun hotelnya besar, tempat ini berada di kawasan baru yang baru dikembangkan. Tidak seramai pusat kota dengan kehidupan malamnya. Ini hal yang wajar.Alyssa tidak keberatan. Dia merasa badannya kuat. Hanya saja, melihat wajah Lorraine yang pucat, dia jadi khawatir. "Kak Raine, kamu kuat nggak?"Lorraine tersenyum sambil menggeleng. "Aku nggak apa-apa."Mereka berdua berjalan menyusuri pinggir jalan. Semakin berjalan, jalan terasa semakin panjang. Semakin berjalan, lambung Lorraine juga semakin sakit.Namun dia tahu, kalau dirinya tumbang, Alyssa pas
Perut Lorraine memang sudah tidak nyaman sejak tadi. Kakinya langsung lemas setelah didorong, lalu dia jatuh terduduk ke tanah.Melihat itu, Alyssa berteriak kepada fotografer itu dan asistennya, "Coba saja kalian berani main tangan lagi! Aku langsung lapor polisi!"Fotografer itu mencibir sambil menunjuk Lorraine. "Kamu sengaja pura-pura jatuh di lokasi pernikahan orang begini, masih punya etika kerja nggak sih? Masih tahu malu nggak?"Alyssa langsung naik pitam. Dia menunjuk fotografer itu. "Kamu ngomong sama siapa? Mulutmu bisa dijaga sedikit nggak?!"Fotografer itu langsung mencengkeram lengan Alyssa. "Berani juga kamu nunjuk-nunjuk aku sambil maki-maki?"Lorraine sudah kesakitan karena lambungnya, tetapi dia tetap mengambil sepotong batu bata dari tanah, lalu bangkit. "Lepaskan dia! Kalau nggak, alat kerja yang jadi sumber nafkahmu juga akan kuhancurkan!"Fotografer itu malah tertawa sambil mendekati Lorraine. "Ayo, jangan cuma hancurin alat kerjaku. Sekalian saja hancurin kepalak
Saat wajah tampan dan familier itu terpantul di bola matanya yang jernih, Lorraine buru-buru melepaskan tangan Derby. "Terima kasih, Pak Derby. Kenapa kamu bisa ada di sini?"Melihat wajah Lorraine yang pucat, tetapi dia sudah bisa berdiri tegak, Derby baru menarik kembali tangannya.Dengan nada alami, dia menjawab, "Putra salah satu senior kenalanku akan menikah, jadi aku diundang. Kalau kamu?"Dalam hati, Lorraine tak bisa menyangkal perasaan bahwa ini semua terlalu kebetulan.Dengan suara lembut, dia menjelaskan, "Wedding organizer yang bertanggung jawab menata lokasi acara hari ini adalah perusahaan milik Pak Jordi, sementara studio kami juga bekerja sama dengan Pak Jordi. Jadi kami yang bertanggung jawab untuk pertunjukan kembang api malam ini."Tatapan Derby tertuju pada keringat dingin di dahi Lorraine. "Kamu nggak enak badan?"Lorraine buru-buru menggeleng. "Aku nggak apa-apa."Gilga berlari menghampiri sambil memegang ponsel. "Pak, kenapa malah ke sini? Eh? Ada Bu Lorraine jug
"Kak Raine, Pak Jordi baru saja kasih tahu kalau kita harus pergi ke Kota Nelus sekarang untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Aku mau berangkat sekarang juga.""Tapi Pak Jordi nggak tahu kalau semua karyawan studio kita sudah resign. Dia bersikeras harus ada dua orang bersertifikat. Aku bilang aku sendiri juga bisa, tapi mereka tetap nggak tenang.""Kamu sekarang di mana? Aku ke sana.""Di Centrium.""Aku segera datang."Lorraine menahan sakit lambungnya sambil buru-buru bangkit, lalu asal memasukkan beberapa barang ke tas perjalanan.Setelah itu, dia pergi mengetuk pintu kamar Regina di sebelah. "Kak Regi, aku ada tugas mendadak dan harus pergi ke luar kota. Mungkin dua hari baru pulang. Roman kutitipkan padamu. Besok siang tolong bawa Roman ke rumah sakit supaya dia bisa temani nenekku ngobrol."Regina yang masih mengantuk langsung tertegun sesaat setelah mendengarnya. "Baik, baik. Hati-hati di jalan, Nyonya."Lorraine menggumam sebagai jawaban, lalu berkata lagi, "Pagi nanti mungki







