مشاركة

Bab 2

مؤلف: Dwi Cheng
Salju turun diam-diam, seolah mengubur segala sesuatu di dunia ini. Di dalam mobil, hanya terdengar penjelasan Lervi. "Setelah menikah, kendali keuangan keluarga selalu dipegang Delvin, 'kan? Kusarankan Bu Lorraine cari tahu dulu aset milik Delvin."

Lorraine memiringkan kepala dengan bingung.

Lervi berkata, "Aku tiba-tiba teringat kasus bos perusahaan internet dulu yang hanya menerima gaji 2000 per tahun. Tapi Delvin seharusnya nggak begitu. Rasanya dia nggak mungkin sudah mulai menghitung-hitung dan menjebak Bu Lorraine sejak menikah."

Lorraine mengangguk pelan. "Aku akan selidiki soal itu. Kalau begitu ... tolong antar aku ke bank dulu."

Setelah dari bank, Lorraine kembali ke rumah.

Begitu masuk ke dalam rumah, dia melihat Vanessa sedang menggendong seekor anjing liar. Delvin memegang handuk, sedang mengeringkan bulu anjing itu yang lengket dan kotor. Yang membungkus tubuh anjing liar itu, adalah syal cokelat tua.

Syal yang tahun lalu dibuat sendiri oleh Lorraine selama satu bulan penuh sebagai hadiah tahun baru untuk Delvin. Keduanya tertawa dan berbincang santai.

Sampai Vanessa melihat Lorraine, dia diam-diam menarik ujung baju Delvin, lalu sedikit bersembunyi di belakang tubuh Delvin. "Itu Kakak Ipar."

Delvin meletakkan handuk.

[ Kamu sudah pulang! ]

Lorraine berjalan mendekat dengan tenang. Tatapannya tertuju pada anjing kecil di pelukan Vanessa, lalu dia menyunggingkan senyum sinis.

"Binatang ini pintar juga cari tempat."

Wajah Vanessa langsung memerah. Dia memandang Delvin dengan wajah penuh keluhan dan sedih. Jemari Delvin bergerak cepat menjelaskan.

[ Aku temukan di pinggir jalan. Saljunya sebesar ini, kalau nggak ada yang menolong, pasti mati kedinginan musim dingin ini. Lorraine, dulu kamu suka sekali hewan kecil. ]

Lorraine menarik sudut bibirnya tipis.

"Manusia bisa berubah. Terus, ikut aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Setelah berkata demikian, Lorraine langsung berjalan menuju ruang tamu. Vanessa mengerucutkan bibir, lalu manja kepada Delvin.

"Kakak Ipar masih belum memaafkanku. Dia masih nyalahin aku. Kalau begitu aku bawa anjing ini pergi menginap di hotel saja. Aku nggak mau Kakak Ipar dan Kakak bertengkar gara-gara aku, apalagi membuatmu serba salah."

Delvin mengusap belakang kepala Vanessa dengan santai. "Aku yang selesaikan."

Lalu, dia ikut masuk ke ruang tamu.

Lorraine mengangkat matanya. "Aku nggak suka Vanessa, kamu nggak tahu? Kenapa Aston terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit, kamu juga nggak tahu?"

Tatapan Delvin mulai terlihat kesal. Dia memijat pelipisnya sejenak, lalu mulai menggunakan bahasa isyarat.

[ Lorraine, polisi sudah menyelidiki semuanya saat itu. Kejadian Aston menjadi vegetatif memang nggak berhubungan langsung dengan Vanessa. Jangankan pacar Aston, bahkan kalau hanya teman biasa, siapa pun pasti akan menolong saat melihat temannya diganggu preman. ]

[ Aston sendiri yang menyuruh Vanessa bersembunyi, makanya Vanessa masuk ke gudang. Hanya saja ketika Aston berlari ke sana, pintu gudang rusak karena sudah tua dan nggak bisa dibuka. Karena itulah Aston dipukuli sampai menjadi vegetatif. Vanessa juga korban. ]

[ Bukannya dulu kamu sendiri memperlakukannya seperti adik kandung? Kamu bahkan menyuruhku lebih perhatian padanya. Dia mengalami pelecehan seksual dari tetangganya, nggak punya tempat tinggal, dan cuma kenal kita di Kota Jeram. Lorraine, jangan sampai kebencian yang nggak berdasar membutakan matamu. ]

Ujung jari Lorraine terasa dingin. Dia menarik sudut bibirnya ingin tertawa, tetapi pada akhirnya hanya menghasilkan senyum yang lebih buruk daripada tangisan.

"Haruskah seperti ini?"

Delvin berjalan ke depan Lorraine lalu berjongkok.

[ Vanessa sudah menerima konsekuensinya. Dulu demi mendoakan Aston, dia berlutut di depan altar selama tiga hari tiga malam di tengah salju. Kakinya bahkan hampir membeku. ]

Bagus. Sungguh bagus.

Adiknya hanya kehilangan setengah nyawa.

Sedangkan Vanessa ... hanya hampir membekukan kakinya. Seluruh tenaga Lorraine seakan terkuras habis. "Terserah kamu saja."

Lagi pula, mereka sudah berselingkuh sampai 666 kali. Apa masih penting satu bulan terakhir ini?

Namun, hatinya tetap tak bisa menahan rasa sakit.

Mungkin ... mencungkil daging busuk memang harus dibayar dengan ganjaran yang setimpal.

Delvin menggenggam tangan Lorraine lalu menciumnya di bibir.

[ Aku tahu Lorraine-ku adalah orang paling baik di dunia. ]

Lorraine mendorongnya menjauh, lalu berbalik hendak naik ke lantai atas. Delvin memandang punggungnya. Lorraine mengenakan sweter rajut, tubuhnya tampak begitu kurus dan rapuh.

Dia mengernyit.

Kenapa Lorraine jadi sekurus ini?

Delvin mengulurkan tangan menarik lengan Lorraine.

Lorraine berbalik. Delvin menundukkan mata sambil tersenyum tipis.

[ Lorraine, jangan lupa soal rencana malam ini. ]

Suara Vanessa terdengar nyaring dan merdu. "Kakak, malam ini ada rencana apa? Bukannya tadi bilang mau temani aku bawa anjing ini periksa?"

Lorraine tak ingin mendengar sepatah kata pun lagi, dia hanya mengangguk sekali. Lalu melepaskan tangan Delvin dan melangkah naik ke atas.

Delvin mengernyit, memandang sosok Lorraine sampai menghilang di tikungan tangga, baru kemudian menarik kembali pandangannya dan berkata kepada Vanessa, "Besok ada acara lelang di Kota Jeram. Perancang utamanya adalah sepupu dari keluarga om ketiga, Rosabel. Malam ini dia mentraktir semua orang ke kelab supaya kami ikut menyemangatinya."

Vanessa berkata manja, "Aku juga mau ikut."

Alis Delvin sedikit berkerut. "Nggak cocok."

Vanessa mengentakkan kaki dan mendengus manja. "Kalau begitu aku pergi sendiri ke kelab buat minum!"

Setelah berkata demikian, dia langsung berlari keluar sambil menggendong anjing itu. Delvin tidak memedulikan Vanessa. Dia duduk di ruang tamu sambil mengingat kembali sikap dan ucapan Lorraine hari ini.

Semakin dipikir, semakin terasa ada yang tidak beres.

Apa mungkin Lorraine tahu hubungannya dengan Vanessa?

Tidak mungkin.

Kalau benar begitu, Lorraine pasti sudah membuat keributan sejak tadi. Delvin memijat pelipisnya dengan kesal. Dia memperkirakan Lorraine mungkin marah karena hari ini dia tidak menemani ziarah makam. Paling besok di acara lelang dia tinggal membelikan beberapa perhiasan tambahan untuknya saja.

Lorraine baru turun dari lantai atas menjelang sore. Melihat hanya Delvin seorang diri di ruang tamu, Lorraine merasa pandangannya bahkan menjadi lebih bersih.

"Sudah bisa berangkat?"

Delvin segera mengangguk, lalu buru-buru membantu Lorraine turun dari tangga. Dia juga mengambil mantel putih Lorraine dan memakaikannya dengan penuh perhatian.

[ Lagi turun salju. Di luar sangat dingin. Pakai lebih tebal, jangan sampai masuk angin. ]

Lorraine membiarkan Delvin menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke mobil sampai mereka tiba di kelab.

Setelah menyapa Rosabel, Lorraine duduk di sudut ruangan seperti biasa dan menyesap jus sedikit demi sedikit. Sambil memandang mereka bernyanyi dan bercanda.

Setelah beberapa ronde minum, Rosabel teringat pesan neneknya. Diam-diam dia mengeluarkan pil dari saku, lalu memasukkannya ke dalam segelas sparkling wine sebelum menyerahkannya kepada Lorraine.

Lorraine menerimanya. Rosabel menggunakan bahasa isyarat yang masih canggung.

[ Kakak Ipar, besok kamu harus banyak mendukungku di acara lelang, ya. Aku bersulang untukmu. Ini sparkling wine, kadar alkoholnya rendah. ]

Lorraine tersenyum dan mengangguk. Rosabel termasuk salah satu dari sedikit orang di Keluarga Hermanto yang memperlakukannya dengan baik. Dia sangat menghargainya.

Lorraine mengangkat gelas dan bersulang dengan Rosabel, lalu langsung menghabiskannya.

Rosabel melirik sekilas ke arah gelas kosong itu, lalu akhirnya menghela napas lega. Setidaknya dia tidak mengecewakan pesan nenek. Kalau nenek nanti bisa menggendong cicit, dia juga berjasa besar!

Di sana ada salah satu sahabat Delvin bernama Donny.

Tadi dia sempat keluar sebentar. Begitu kembali, dia langsung duduk di samping Delvin.

Dengan suara rendah dia berkata, "Ada apa ini? Rumah lama dibawa ke sini, tapi rumah baru malah kebakaran. Barusan aku lihat ada orang sedang menyatakan cinta sama Vanessa di aula."

Setelah berkata demikian, Donny juga melirik Lorraine sekilas. Ekspresi Delvin tetap datar. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun, buku-buku jarinya yang menggenggam gelas sampai memutih.

Donny melanjutkan, "Toh Kak Lorraine juga nggak bisa dengar. Cari alasan saja buat mengelabuinya, lalu pergi lihat rumah barumu itu?"

Delvin meletakkan gelasnya, lalu berbalik memandang Lorraine.

[ Lorraine, aku keluar sebentar untuk menelepon. Aku segera kembali. Tunggu aku baik-baik. ]

Lorraine mengangguk. Dia menatap Delvin yang melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Donny segera ditarik pergi untuk bermain kartu. Seperti biasanya, mereka mengabaikan Lorraine. Jadi, tidak seorang pun menyadari Lorraine keluar dari ruang VIP.

Dentuman musik keras menghantam gendang telinganya. Lorraine menutup kedua telinganya sambil berjalan menuju aula utama. Dia berdiri di belakang kerumunan orang yang sedang menonton keributan.

Dengan mata kepalanya sendiri, Lorraine melihat Delvin menendang dekorasi acara pengakuan cinta itu hingga hancur. Pria yang sedang menyatakan cinta langsung marah besar. "Kamu siapa? Memangnya kamu itu apa?"

Tatapan Delvin tajam dan penuh tekanan saat menoleh kepada Vanessa. "Kasih tahu dia siapa aku."

Vanessa berjalan ke sisi pria itu dan berkata dengan keras kepala, "Aku nggak kenal Bapak ini ...."

Belum selesai bicara, Delvin langsung menarik lengan Vanessa dengan kasar dan menyeretnya ke depan tubuhnya. Kedua tangannya memegangi wajah kecil Vanessa, lalu dia menciumnya dengan penuh hukuman dan gairah, memancing teriakan heboh di sekitar mereka.

Lorraine mengeluarkan ponsel dan merekam video itu. Kalau saja wanita yang diselingkuhi Delvin bukan Vanessa, Lorraine mungkin tidak akan sebegitu membencinya.

Kalau begitu ... jangan salahkan dia karena membuat Delvin kehilangan segalanya.

Membiarkan Delvin jatuh dari puncak tebing tepat di saat perusahaannya akan go public, nilai perusahaannya berlipat ganda, dan hidupnya hampir mencapai puncak kejayaan.

Kira-kira seperti apa ekspresi Delvin nanti?

Lorraine menghapus setetes air mata di sudut matanya.

Untuk pertama kalinya, dia mulai menantikannya.
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 50

    Lorraine terdiam.Jordi melanjutkan, "Kalau kemarin benar-benar terjadi kecelakaan gara-gara kembang api di lokasi pernikahan, seluruh hartaku pun belum tentu cukup buat ganti rugi. Aku juga harus berterima kasih karena kamu bersikeras mempertahankan pendapatmu."Lorraine berkata itu memang sudah seharusnya. "Pak Jordi, mulai sekarang nggak perlu panggil aku seformal itu. Panggil saja Raine."Jordi langsung mengerti. "Tenang saja. Aku jamin kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi. Kalau sampai ada lagi, langsung telepon aku saja."Lorraine berbasa-basi beberapa kalimat, lalu menutup telepon.Nora langsung bertanya dengan penasaran. Lorraine pun menjelaskan dengan singkat.Nora mengangguk, lalu menghela napas. "Pada akhirnya, mereka tetap harus menghormati Delvin."Lorraine memeluk lengan Nora sambil bermanja-manja. "Nggak juga. Cucumu ini memang hebat. Nenek tunggu saja."Nora langsung tertawa terbahak-bahak. Baru tertawa beberapa saat, dia buru-buru memegangi dada. "Nggak boleh

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 49

    Suara rendah di sampingnya terdengar mantap.Lorraine mengangkat kepala dengan susah payah. Bibir penuhnya terkatup rapat sebelum menjawab, "Aku nggak apa-apa."Dia sudah cukup merepotkan karena menumpang mobil Derby untuk pulang.Baru saja selesai bicara, rasa sakit tajam kembali menyerang. Lorraine tanpa sadar menarik napas dalam-dalam.Gilga mendengarnya dengan jelas. Dia berkata, "Rest area terdekat masih sekitar 40 menit lagi, Bu. Gimana kalau minum air hangat dulu? Aku coba bawa mobil lebih cepat."Bahkan sebelum Lorraine sempat menjawab Gilga, tangan yang menekan perutnya sudah lebih dulu digenggam.Derby menggenggam tangannya, lalu meletakkannya di atas lututnya sendiri, membuat telapak tangan Lorraine menghadap ke atas."Tahan sebentar."Ibu jari Derby menekan tepat di bagian dalam pergelangan tangannya. Tekanannya kuat. Rasa pegal dan ngilu langsung menjalar di sepanjang lengan, dan sakit lambungnya benar-benar sedikit mereda.Lorraine terpaku. Dia hanya bisa menatap bulu mat

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 48

    Alyssa membuka aplikasi pemesanan taksi.Setelah melakukan pemesanan, dia melihat lingkaran pencarian terus melebar mencari mobil di sekitar, tetapi selama 2,5 menit tidak ada respons sama sekali. Hingga akhirnya, pesanan otomatis dibatalkan.Alyssa mengentakkan kaki. "Hotel sebesar ini kok nggak bisa dapat taksi sih? Aku coba lagi ...."Lorraine menepuk bahu Alyssa. "Kita jalan sedikit ke depan saja. Siapa tahu ketemu taksi di jalan."Meskipun hotelnya besar, tempat ini berada di kawasan baru yang baru dikembangkan. Tidak seramai pusat kota dengan kehidupan malamnya. Ini hal yang wajar.Alyssa tidak keberatan. Dia merasa badannya kuat. Hanya saja, melihat wajah Lorraine yang pucat, dia jadi khawatir. "Kak Raine, kamu kuat nggak?"Lorraine tersenyum sambil menggeleng. "Aku nggak apa-apa."Mereka berdua berjalan menyusuri pinggir jalan. Semakin berjalan, jalan terasa semakin panjang. Semakin berjalan, lambung Lorraine juga semakin sakit.Namun dia tahu, kalau dirinya tumbang, Alyssa pas

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 47

    Perut Lorraine memang sudah tidak nyaman sejak tadi. Kakinya langsung lemas setelah didorong, lalu dia jatuh terduduk ke tanah.Melihat itu, Alyssa berteriak kepada fotografer itu dan asistennya, "Coba saja kalian berani main tangan lagi! Aku langsung lapor polisi!"Fotografer itu mencibir sambil menunjuk Lorraine. "Kamu sengaja pura-pura jatuh di lokasi pernikahan orang begini, masih punya etika kerja nggak sih? Masih tahu malu nggak?"Alyssa langsung naik pitam. Dia menunjuk fotografer itu. "Kamu ngomong sama siapa? Mulutmu bisa dijaga sedikit nggak?!"Fotografer itu langsung mencengkeram lengan Alyssa. "Berani juga kamu nunjuk-nunjuk aku sambil maki-maki?"Lorraine sudah kesakitan karena lambungnya, tetapi dia tetap mengambil sepotong batu bata dari tanah, lalu bangkit. "Lepaskan dia! Kalau nggak, alat kerja yang jadi sumber nafkahmu juga akan kuhancurkan!"Fotografer itu malah tertawa sambil mendekati Lorraine. "Ayo, jangan cuma hancurin alat kerjaku. Sekalian saja hancurin kepalak

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 46

    Saat wajah tampan dan familier itu terpantul di bola matanya yang jernih, Lorraine buru-buru melepaskan tangan Derby. "Terima kasih, Pak Derby. Kenapa kamu bisa ada di sini?"Melihat wajah Lorraine yang pucat, tetapi dia sudah bisa berdiri tegak, Derby baru menarik kembali tangannya.Dengan nada alami, dia menjawab, "Putra salah satu senior kenalanku akan menikah, jadi aku diundang. Kalau kamu?"Dalam hati, Lorraine tak bisa menyangkal perasaan bahwa ini semua terlalu kebetulan.Dengan suara lembut, dia menjelaskan, "Wedding organizer yang bertanggung jawab menata lokasi acara hari ini adalah perusahaan milik Pak Jordi, sementara studio kami juga bekerja sama dengan Pak Jordi. Jadi kami yang bertanggung jawab untuk pertunjukan kembang api malam ini."Tatapan Derby tertuju pada keringat dingin di dahi Lorraine. "Kamu nggak enak badan?"Lorraine buru-buru menggeleng. "Aku nggak apa-apa."Gilga berlari menghampiri sambil memegang ponsel. "Pak, kenapa malah ke sini? Eh? Ada Bu Lorraine jug

  • Pernikahan Demi Pernikahan, CEO Cemburu Parah Dan Mengejarku   Bab 45

    "Kak Raine, Pak Jordi baru saja kasih tahu kalau kita harus pergi ke Kota Nelus sekarang untuk mempersiapkan pesta pernikahan. Aku mau berangkat sekarang juga.""Tapi Pak Jordi nggak tahu kalau semua karyawan studio kita sudah resign. Dia bersikeras harus ada dua orang bersertifikat. Aku bilang aku sendiri juga bisa, tapi mereka tetap nggak tenang.""Kamu sekarang di mana? Aku ke sana.""Di Centrium.""Aku segera datang."Lorraine menahan sakit lambungnya sambil buru-buru bangkit, lalu asal memasukkan beberapa barang ke tas perjalanan.Setelah itu, dia pergi mengetuk pintu kamar Regina di sebelah. "Kak Regi, aku ada tugas mendadak dan harus pergi ke luar kota. Mungkin dua hari baru pulang. Roman kutitipkan padamu. Besok siang tolong bawa Roman ke rumah sakit supaya dia bisa temani nenekku ngobrol."Regina yang masih mengantuk langsung tertegun sesaat setelah mendengarnya. "Baik, baik. Hati-hati di jalan, Nyonya."Lorraine menggumam sebagai jawaban, lalu berkata lagi, "Pagi nanti mungki

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status