Share

Pt. 09 : Hewan Yang Terluka Jauh Lebih Beringas

Tanganku sedikit bergetar dengan otakku yang menduga-duga kenapa bapak menelponku bahkan saat aku hampir menelponnya, apa benar perasaanku yang merasa di awasi ini berkaitan dengan bapak yang menelponku di jam sepagi ini? Ya nggak pagi-pagi amat sih, masih jam 8 nan. 

"Hallo, Assalamu'alaikum pak..." sapaku dengan suara yang ku usahakan se ceria mungkin. 

"Wa'alaikumsalam nduk, maaf bapak telpon jam segini, darurat soalnya..." sahut bapak membuatku membeo sesaat. 

Darurat? Apa yang darurat? Benarkah aku sedang di awasi makanya bapak bilang darurat, aku ingat dengan jelas beberapa tahun lalu bapak juga begini tiba-tiba nelpon dengan kalimat darurat, jarang-jarang bapak nelpon diluar urusan pendidikanku, itupun seringnya aku yang menghubungi bapak duluan. 

"Ada apa pak?" tanyaku berusaha terdengar tenang. 

"Rumah yang kita tempati di sita bank..." jawaban bapak membuatku membola seketika, diluar ekspekstasiku.

"Ha???" 

"Iya, rumahnya
Agatha Orchidas

Terimakasih sudah berkenan membaca "Ruang Rindu"... Sekian terimagaji... eh... terimakasih... Sampai jumpa di pt.selanjutnya...

| Sukai
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status