FAZER LOGINChristmas Eve was meant to be the culmination of seven years of long-distance longing—the day Lorenzo finally slid an engagement ring onto my finger. Instead, a sudden emergency surgery chained me to the operating table. The patient wasn't just suffering from a premature delivery and catastrophic hemorrhaging; she was riddled with infections, the biological fallout of a reckless, hedonistic lifestyle. The girl on the table spat out orders with a venomous entitlement that made my blood run cold. "My husband is the head of the Corleone family. He’s second to none, and this entire city bows to him. If you can’t save my baby, you’re all dead." My mind went blank. There was only one head of the Corleone family: Lorenzo. "You’ve got the wrong man," I said, my voice wavering despite my frown. "The news said he’s already engaged to a woman from a rival family for a strategic alliance." The girl looked at me as if I’d just told a pathetic joke. She surveyed me with a mocking sneer. "Oh, he’s mentioned that woman. He said she’s like a cold corpse—that even touching her makes him sick to his stomach. She doesn't provide him a fraction of the pleasure I do." She smirked. "He heard something happened to the baby. He’s en route from Sicily right now with his personal detail." She flicked her phone screen open. There it was: a photo of her and Lorenzo, locked in a suffocatingly intimate embrace. I froze. A second later, a notification from Lorenzo vibrated against my palm. “Darlin’, something urgent came up tonight. I’m skipping the engagement dinner. I’ll make it up to you later.” Since they were so utterly in love, I decided to give them exactly what they wanted. I dialed a number that had been silent for three years—the number of the true mastermind of the underworld, Don Sebastian. "Does your proposal from three years ago still stand?"
Ver mais"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGThe engagement ceremony Sebastian orchestrated for me was held at St. Mary’s Cathedral, the most august landmark in the city. White roses carpeted the streets for miles, every petal steeped in the sweet fragrance of absolute power.I wore a bespoke, hand-stitched lace gown, its voluminous train borne by six bridesmaids. Sebastian stood at the altar, his gaze fixed on me with unashamed fervor and devotion.Just as the priest was about to administer the vows, the heavy oak doors of the cathedral were flung open.A man clad in rags, reeking of sour alcohol and decay, stumbled into the sanctuary.It was Lorenzo. His once-expensive suit was now a nameless hue of filth, his cuffs encrusted with suspicious grime. His face was a topography of jagged scratches, and the dark red blotches on the backs of his hands had begun to fester and ooze."Joanna! Please... for the sake of our seven years, save me!"He collapsed onto the red carpet, his trembling hands reaching out as if to desecrate the hem
Lorenzo was holed up in a moldy slum apartment, where the air hung thick with the reek of cheap booze and rotting wood.Sebastian had stripped him of every asset tied to the Corleone family, revoked his title, and consigned him to total exile. In this city, no one dared stretch out a hand to a pariah personally blacklisted by the Don.Lorenzo stared at his own rough palms—hands that had once pulled the levers of power were now trembling under a leaking ceiling.His only remaining solace was that Bella was still by his side. She was his "true love," the one he had chosen against all odds. He naively believed that as long as they had each other, this cramped, squalid hole could be the bastion from which they would rebuild.From the shaky living area next door, the sharp, piercing laughter of Bella and several heavily made-up women drifted through the cracks.Lorenzo dragged his exhausted body toward the door, wanting nothing more than to sink into Bella’s embrace.However, Bella’s voice—
Lorenzo stared at Sebastian, who held me firmly in his arms, his own eyes bulging, bloodshot with a feral, unhinged intensity."Your Excellency, this is a family matter. Please, do not interfere!"He gritted his teeth, attempting to lunge forward to wrench me away from Sebastian’s possessive embrace.Sebastian merely flicked a finger, his gaze as cold as if he were observing a nuisance insect.Two hulking members of the elite guard moved instantly, their motions as fluid and lethal as black lightning. They seized Lorenzo by the shoulders, driving their knees with bone-crushing force into the back of his joints.With a heavy thud, the once-mighty Head of the Family crashed onto the hard marble floor.Lorenzo thrashed, trying to force himself up, but a guard pinned his neck down, grinding his face against the freezing tiles."Let me go! I’m the head of the Corleone family! You bastards, how dare you treat me like this!"He howled, stripped of every shred of dignity. Whatever noble refine
I stood in the empty corridor, half of my face swollen and burning hot. The pain was searing, a rhythmic throb that pulsed in time with my heartbeat.I didn't cry. Instead, I felt a sense of clarity more crystalline than I had ever known.Seven years of devotion, the blade I took six years ago, and the child I could never have—it had all been obliterated by the weight of Lorenzo’s slap.Leaning against the freezing wall, I pulled the phone from my pocket and dialed a number that had been gathering dust for three years.It was Sebastian. The supreme arbiter of the underworld. The only true Don. Even with Lorenzo sitting as a Head of the Family, he was nothing more than a disposable pawn in Sebastian’s eyes.The call connected. A deep, low chuckle vibrated through the receiver, sending a shiver down my spine."Joanna. I never imagined the day I’d actually get a call from you."I wiped the blood from the corner of my mouth, my gaze hardening into flint. "Sebastian. Three years ago, you sa


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.