Hal itu juga bisa membuat orang lain merasa aku pilih kasih.Harus aku akui, Hairu memang lebih licik dan juga lebih cerdas dibanding Dono.Aku tersenyum sambil mengangguk. "Yah, kontribusi kalian besar sekali."Melihat suasana sudah pas, Hairu memberi isyarat dengan matanya pada Dono.Dono segera melangkah maju dan berkata, "Lihatlah, makin besar bisnis kita, makin banyak juga orang yang datang cari gara-gara.""Aku tahu kalian nggak suka sama aku, tapi kalau aku tetap di sini, aku bisa kasih sedikit kontribusi.""Benar, 'kan?"Dono menunjukkan sikapnya pada kami. Namun, dia tidak semau sendiri seperti dulu lagi. Kali ini, dia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kami.Harus aku akui, setelah sekian lama tidak bertemu, sepertinya orang ini mulai berpikir.Dia tidak seperti dulu yang selalu gegabah. Sekarang, dia sudah tahu caranya memakai akal juga.Kami bertiga saling berpandangan, lalu tersenyum sambil berkata, "Tentu, tapi soal ini masih perlu kita bicarakan dulu. Nanti, kalau sud
Read more