Evelyn pulih dengan baik di luar negeri, kini tidak berbeda dari orang normal.Duduk di bangku rumah sakit, pikirannya melayang jauh.Kepala dokter rumah sakit ini, Freddie Wijaya, berdiri di belakangnya memegangi selimut.Daun-daun berguguran diterpa angin. Evelyn tanpa sadar bergidik kedinginan.Freddie cepat-cepat menyelimutinya dan bertanya dengan lembut."Rencananya mau berapa lama lagi tinggal di sini?"Evelyn terdiam sejenak, lalu menundukkan kepala dan tetap diam.Mungkin karena masih terguncang setelah berada di ambang kematian, dia masih tidak bersemangat.Tiba-tiba, dia menceletuk."Kalau istrimu meninggal, tapi kamu cinta orang lain, kamu sedih nggak?"Freddie mengerutkan kening, diam sejenak, lalu melangkah lebih dekat untuk menjawab."Aku belum punya istri, jadi aku nggak bisa jawab.""Andai aku dulu nggak terlambat, dia pasti sudah jadi istriku sekarang."Suaranya dalam, seolah menyimpan emosi yang tak terucap.Evelyn mendongak menatapnya, perasaan aneh yang familier mer
Ler mais