Mati di tengah rasa malu dan kenikmatan yang meluap.Akal sehatku berteriak, menjerit, menyuruhku untuk mendorongnya dan kabur dari tempat ini.Namun, tubuhku malah mendamba, memohon, meminta sentuhannya yang lebih banyak dan lebih dalam lagi.Aku memejamkan mata, menyerah untuk melawan.Air mata keputusasaan mengalir dari sudut mataku.Biarlah seperti ini.Karena tak bisa melawan, biarlah tenggelam saja.Mungkin… ini memang sudah takdirku.Tepat di saat aku hampir tertelan sepenuhnya oleh ombak gairah, sebuah benda berbulu merosot keluar dari kursi sebelah dan jatuh tepat di atas kakiku.Aku reflek membuka mata dan menunduk melihatnya.Itu boneka kelinci merah muda kecil, mainan kesayangan Madelyn yang selalu dipeluknya setiap kali tidur.Sepasang mata kelinci yang bulat dan polos tampak sedang ‘menatap’ lurus ke arahku.Seolah sedang bertanya, “Bu Ester, kamu lagi apain?”Seketika, wajah Madelyn yang polos terlintas di benakku.Wajah seriusnya saat mengangkat tangan untuk menjawab pe
더 보기