LOGINDi tengah padatnya jam sibuk pagi hari di dalam kereta, dengan mata yang memerah, aku terdesak oleh lautan manusia hingga ke sudut gerbong dan ikut terhuyung mengikuti laju kereta. Sosok tubuh pria yang terasa hangat menempel begitu erat di tubuhku, sementara hembusan napasnya sesekali terasa menyapu lembut di telingaku. Yang lebih parahnya lagi, aku bisa merasakan dengan sangat jelas sebuah benda keras yang terhalang oleh kain rok tipisku, berulang kali bergesekan dan membentur area sensitifku. Benturan itu membuat kakiku terasa lemas. Gemetar reflek dari tubuhku tampaknya malah memicu desahan napas tertahan dari pria itu, yang perlahan mulai meruntuhkan akal sehatku. Awalnya kupikir, begitu melangkah keluar dari gerbong itu, perasaan yang membuatku hilang kendali ini bisa kutinggalkan sepenuhnya di masa lalu. Namun, semua berubah ketika pria itu kembali muncul di hadapanku dan mulai berbicara dengan suaranya yang serak. Barulah aku menyadari, sejak mencicipi momen yang begitu mendebarkan, sepertinya diriku tak bisa lagi benar-benar lepas darinya.
View MoreMati di tengah rasa malu dan kenikmatan yang meluap.Akal sehatku berteriak, menjerit, menyuruhku untuk mendorongnya dan kabur dari tempat ini.Namun, tubuhku malah mendamba, memohon, meminta sentuhannya yang lebih banyak dan lebih dalam lagi.Aku memejamkan mata, menyerah untuk melawan.Air mata keputusasaan mengalir dari sudut mataku.Biarlah seperti ini.Karena tak bisa melawan, biarlah tenggelam saja.Mungkin… ini memang sudah takdirku.Tepat di saat aku hampir tertelan sepenuhnya oleh ombak gairah, sebuah benda berbulu merosot keluar dari kursi sebelah dan jatuh tepat di atas kakiku.Aku reflek membuka mata dan menunduk melihatnya.Itu boneka kelinci merah muda kecil, mainan kesayangan Madelyn yang selalu dipeluknya setiap kali tidur.Sepasang mata kelinci yang bulat dan polos tampak sedang ‘menatap’ lurus ke arahku.Seolah sedang bertanya, “Bu Ester, kamu lagi apain?”Seketika, wajah Madelyn yang polos terlintas di benakku.Wajah seriusnya saat mengangkat tangan untuk menjawab pe
Aku tak tahu dia mau membawaku ke mana. Aku juga tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.Satu-satunya hal yang kutahu adalah diriku sedang dibawa olehnya, melaju menuju sebuah jurang tak dikenal yang sangat berbahaya.Mobil itu tidak mengarah ke rumahku, melainkan berhenti di tepi danau yang sepi.Tempat ini sangat sunyi, hampir tidak ada kendaraan maupun pejalan kaki yang lewat. Permukaan danau memantulkan cahaya bulan, tampak berkilau indah.Sangat indah, tapi keindahannya malah membuat hati gelisah.Dia mematikan mesin dan seketika itu juga suasana di dalam mobil benar-benar senyap.“Calvin, sebenarnya apa yang mau kamu lakukan?” Akhirnya aku tak bisa menahan diri lagi, suaraku terdengar serak menahan tangis.“Apa yang mau kulakukan? Bukannya kamu paling tahu?”Dia melepas sabuk pengamannya, lalu seluruh tubuhnya bergerak ke depan untuk menindihku.Ruang di kursi penumpang depan memang sudah sangat sempit, begitu tubuh tegapnya mendekat, aku sama sekali tak punya ruang untuk kab
Wajahku kembali terasa panas membara.Dia jelas-jelas tahu kalau aku tidak kurus sama sekali.Semua daging di tubuhku tumbuh padat di bagian-bagian yang memang seharusnya berisi.Setelah makan malam, semua orang duduk di ruang tamu sambil mengobrol dan Calvin membuka beberapa botol anggur merah.Tadinya aku tak berniat minum, tapi karena tak enak menolak desakan antusias dari rekan-rekan kerja, mau tak mau terpaksa meminum dua gelas.Ternyata efek anggur merah sangat kuat. Tak butuh waktu lama, kepalaku mulai terasa pening dan tubuhku perlahan menghangat.Sensasi yang sudah sangat kukenal itu, sensasi saat tubuhku mulai dikuasai gairah, kini perlahan mulai bergejolak kembali.Aku pun mencari alasan ke kamar mandi, berniat membasuh wajah dengan air dingin agar bisa sedikit sadar.Begitu keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke ruang tamu, tepat di belokan koridor, aku berpapasan dengan Calvin.Sepertinya dia juga habis minum. Sorot matanya tampak agak sayu, sementara dari tubuhnya
Bom!Aku merasa seluruh darah di tubuhku langsung berdesir ke ubun-ubun!Ternyata dia tahu! Dia tahu semuanya!“Aku… aku nggak tahu apa yang kamu bilang!” bantahku dengan kekeh, meski tatapanku sudah gelisah karena merasa bersalah.“Oh iya?” Dia terkekeh pelan, lalu perlahan membungkuk hingga bibirnya hampir menempel di telingaku.Hembusan napasnya yang panas menerpa daun telingaku, memicu sensasi geli yang membuatku merinding.“Tubuhmu jauh lebih jujur daripada mulutmu.”Suaranya terdengar bagaikan bisikan iblis, di mana setiap katanya seolah menghantam sarafku yang paling rapuh.“Tubuhmu gemetar hebat, rasanya sangat panas dan basah….”“Cukup!” Akhirnya, aku lepas kendali dan berteriak histeris sambil mendorongnya kuat-kuat.Karena tidak bersiap, dia terdorong mundur satu langkah olehku.Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap keluar melalui celah di samping tubuhnya. Bagaikan seekor kelinci yang ketakutan, aku berlari keluar dari ruang istirahat tanpa berani menoleh ke bela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.