Kalau ngomongin Pak E, yang langsung terlintas di kepala tuh perannya sebagai tokoh antagonis di 'Gie'. Karakternya bikin gregetan banget, tapi justru itu yang bikin melekat di ingatan penonton. Aku inget betul adegan dia ngomong dengan nada datar tapi bikin merinding. Peran itu emang jadi salah satu puncak aktingnya, dan sering jadi bahan obrolan di komunitas film lokal sampai sekarang.
Yang menarik, meski sering jadi 'bad guy', dia selalu bawa nuansa yang berbeda di tiap film. Di 'The Raid 2' misalnya, dia jadi penjahat yang lebih fisik dan brutal, beda banget sama 'Gie'. Kayaknya kemampuan adaptasi inilah yang bikin karakternya selalu memorable, meski durasi tampilnya kadang nggak lama.
Aku ingat pertama kali melihat Pak E di 'The Raid'—aksi brutalnya langsung bikin mata melek! Film itu kayak rollercoaster tanpa rem, dan dia bener-bener bawa energi gila sebagai penjahat. Terus ada 'The Night Comes for Us' di mana dia jadi mantan anggota geng yang berusaha tebus dosa, fight choreography-nya ngeri-ngeri sedap. Baru-baru ini aku juga nemu dia main di 'Gundala' sebagai pengusaha korup yang surprisingly punya depth karakter. Oh iya, jangan lupa 'Headshot' di mana dia jadi dokter yang berubah jadi mesin pembantai!
Yang bikin aku respect sama Pak E itu kemampuan dia bikin karakter antagonis jadi memorable. Dari gerakan silat sampai ekspresi dinginnya, selalu ada nuance yang bikin nggak cuma sekedar 'musuh protagonist'. Aku selalu nungguin project barunya karena jarang aktor Indonesia yang bisa bawa aura segitu kuat di layar lebar.
Kalau ngomongin Pak E, inget banget sama masa-masa dia sering muncul di layar kaca dengan berbagai program hiburan yang iconic. Kayak 'Tawa Sutra' atau 'Opera Van Java', keberadaannya bener-bener ngejadiin acara itu lebih hidup. Tapi belakangan ini, jarang banget liat dia muncul di TV atau media mainstream. Mungkin lebih fokus ke balik layar atau ngurusin proyek lain yang nggak terekspos media. Atau jangan-jangan dia memilih untuk lebih privat aja sekarang? Entahlah, tapi kontribusinya buat dunia hiburan Indonesia tuh nggak bisa dilupain.
Dari obrolan sama temen-temen yang masih ngikutin dunia entertain, katanya sih sesekali masih muncul di acara spesial atau jadi bintang tamu. Tapi emang frekuensinya udah jarang banget dibanding dulu. Mungkin generasi sekarang lebih kenal dengan sosok komedian baru, tapi buat kita yang grew up di era 2000-an, Pak E tuh salah satu legenda yang bikin sore-sore di depan TV jadi berwarna.
Mengikuti jejak Pak E dalam industri film selalu bikin penasaran. Awalnya, beliau mulai dari bawah banget—kerja sebagai runner di produksi indie lokal, ngambil kopi sampe bawa peralatan berat. Tapi yang bikin beda, Pak E punya mata untuk detail. Suatu hari, sutradara produksi itu liat sketsa storyboard-nya di sela-sela istirahat, langsung tertarik. Dalam setahun, dia sudah naik jadi asisten sutradara. Kuncinya? Kemampuan observasi tajam dan kesediaan belajar dari kesalahan kecil. Sekarang lihatlah—film-filmnya selalu jadi bahan diskusi hangat di forum-forum penggemar.
Yang bikin inspiratif, Pak E sering cerita di podcast bahwa titik baliknya justru saat dia 'gagal' mengarahkan adegan lari dalam film pendek pertamanya. Adegannya berantakan, tapi malah jadi bahan evaluasi intensif sama kru senior. Dari situ, pola pikirnya berubah total: film bukan cuma soal bakat, tapi juga ketahanan mental.