Chapter: bab 10: Paviliun Awan Tenang dan Penyakit yang semakin parahKeheningan itu mencekik. Sang kusir, yang tadinya berteriak pongah, kini membeku dengan cambuk yang masih melayang di udara. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Sebagai kultivator Penempaan Raga puncak, ia memiliki insting yang lebih tajam dari majikannya, dan insting itu menjeritkan satu kata: lari. Tuan Muda di dalam kereta menelan ludah. Wajahnya yang tadi memerah karena marah kini pucat pasi. Ia ingin membalas cacian gadis misterius itu, namun lidahnya terasa kelu. Tatapan Tian Hei seolah sedang menelanjangi jiwanya, menimbang bagian tubuh mana yang akan dipatahkan lebih dulu. “Ja… jangan berlagak!” Tuan Muda itu akhirnya terbata, mencoba menyelamatkan harga dirinya di depan kerumunan yang menonton. “Paman Lin! Kenapa diam saja? Bereskan mereka!” Namun sebelum kusir itu sempat bergerak—atau bahkan memohon maaf—kaki Tian Hei bergerak sedikit, menghentak bumi dengan tekanan yang halus namun presisi. KRAK! Roda depan kereta kayu mewah itu hancur berkeping-keping
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: bab 9: Gerbang kota dan Kereta MewahIa melangkah menyusuri jalur sempit di antara pepohonan, langkahnya mantap dan nyaris tanpa suara meski membawa beban tambahan. Gadis itu terkejut bukan karena cara ia diangkat—melainkan karena keseimbangan Tian Hei sama sekali tak berubah, seolah tubuhnya memang tak terpengaruh oleh berat manusia lain. Beberapa saat berlalu dalam diam. “Turunkan aku,” ucap gadis itu akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Tidak,” jawab Tian Hei singkat. “Kondisimu tidak memungkinkan.” Gadis itu mengerutkan kening. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri segera menjalar, memaksanya berhenti. Napasnya sedikit tersengal. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku,” katanya dingin. “Cukup tahu kau tidak bisa berjalan,” balas Tian Hei tanpa menoleh. Langkah Tian Hei tiba-tiba melambat. Bukan karena kelelahan—melainkan karena sesuatu yang lain. Alisnya sedikit mengerut saat indra spiritualnya menangkap getaran asing di udara. Tipis, namun jelas. Satu… dua… lalu lebih banyak lagi. Aura-
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: bab 8: Tunjukkan Jalan: Penyelamatan yang Tak DiinginkanPerjalanan keluar dari area inti hutan berlangsung tanpa hambatan berarti. Dengan bimbingan keempat binatang buas tingkat tertinggi, Tian Hei tidak perlu menghadapi satu pun makhluk kuat. Jalur yang mereka pilih adalah jalur tercepat, melewati wilayah-wilayah yang secara alami dijauhi oleh binatang buas lain karena tekanan aura. Beberapa jam kemudian, tekanan berat yang khas dari area inti perlahan memudar. Tian Hei tahu— Ia telah mendekati batas antara area inti dan area dalam Hutan Abadi. Telur besar yang sebelumnya ia peluk kini telah ia samarkan sepenuhnya. Permukaannya dibungkus rapat dengan beberapa lapis kulit binatang buas tingkat menengah, lalu diikat menggunakan serat tanaman yang kuat. Dari luar, benda itu tampak tak lebih dari gulungan barang rampasan biasa. Auranya pun ia tekan hingga hampir tak terasa. Jika tidak diperiksa dengan sangat teliti, tak seorang pun akan menyangka bahwa Tian Hei membawa sesuatu yang mampu mengguncang keseimbangan hutan ini. Ia terus me
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: bab 7: Benda terkutut dan hadia para penguasaTatapan Tian Hei tetap tertuju ke arah cekungan itu. Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak awal, tanah di sekeliling bangkai naga hitam tidak sepenuhnya datar. Permukaannya membentuk kemiringan halus, nyaris tak terasa saat dilalui dengan berjalan kaki—namun cukup untuk menciptakan perbedaan ketinggian yang jelas jika diamati dari sudut tertentu. Posisinya saat ini berada sedikit lebih tinggi. Sementara cekungan besar itu… terletak lebih rendah, seperti kawah alami yang terbentuk akibat benturan atau tekanan luar biasa di masa lampau. Hutan di sekitarnya tumbuh tidak wajar. Pepohonan di pinggiran cekungan tampak melengkung ke luar, akar-akar besar mencuat dari tanah seolah pernah dipaksa menjauh oleh sesuatu yang sangat kuat. Bahkan tanah di sekitar bangkai naga hitam memperlihatkan bekas retakan samar, tertutup lumut dan dedaunan tua—jejak yang nyaris tak terlihat jika tidak diamati dari ketinggian. Jika Tian Hei berada di posisi sejajar dengan tanah, besar kemungkinan benda i
Last Updated: 2025-12-29
Chapter: bab 6: Energi yang tidak seharusnya dimilikiTian Hei melangkah keluar dari tempat peristirahatan sementaranya tanpa membawa arah yang pasti. Hutan ini terlalu luas, terlalu asing, dan terlalu sunyi untuk mengandalkan logika semata. Ia tidak tahu di mana pintu keluar berada, maka ia memilih mempercayakan langkahnya pada satu-satunya hal yang tak pernah mengkhianatinya sejak kecil—insting. Namun, insting yang sama justru menuntunnya semakin dalam. Semakin jauh ia melangkah, perubahan di sekelilingnya kian terasa nyata. Udara menjadi berat, seolah mengandung tekanan tak kasatmata yang menekan dada dan pikiran. Suara malam menghilang satu per satu. Serangga tak lagi bersuara, binatang kecil tak lagi berlarian. Bahkan angin pun enggan berhembus. Kanopi pepohonan raksasa menutup langit sepenuhnya. Cahaya bulan yang seharusnya menerangi malam kini hanya menetes dalam serpihan tipis, terpantul di sela dedaunan seperti sisa-sisa cahaya dari dunia lain. Pandangan menjadi terbatas. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan saksama.
Last Updated: 2025-12-28
Chapter: bab 5: Tanpa jalan pulang“Apa yang terjadi…?” gumam Tian Hei pelan. Kejadian barusan jelas mengejutkannya. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, ketenangannya kembali. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya—dan itu cukup untuk membuat pikirannya kembali stabil. Untungnya, ia telah membaca isi kitab itu berulang kali. Seluruh pola dan gambaran telah tercatat rapi di dalam ingatannya, meski ia belum sepenuhnya memahami maknanya. Tian Hei yakin, seiring berjalannya waktu, pemahaman itu akan terbuka dengan sendirinya. Ia masih duduk bersila di tengah ruang sunyi. Punggungnya tegak. Napasnya teratur, nyaris tanpa suara. Matanya setengah terpejam, namun kesadarannya sepenuhnya terjaga, menelusuri setiap aliran Qi yang beredar di dalam tubuhnya dengan ketelitian dingin. Tak satu pun denyut energi luput dari pengamatannya . “Hm… Ranah Nafas Awal puncak.” Suara Tian Hei rendah dan datar, seolah hanya berbicara pada dirinya sendiri. “Dengan pemahamanku saat ini, menembus Ranah Simpul Nadi seharusny
Last Updated: 2025-12-27