LOGINDi sebuah dunia kultivator yang kejam, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Di dunia inilah kisah Tian Hei bermula. Tian Hei adalah seorang pemuda berusia delapan belas tahun, tumbuh bersama dengan kakek misterius sekaligus Gurunya di sebuah pegunungan terpencil yang luas dan berbahaya, jauh dari peradaban. Di tempat itulah Tian Hei dibesarkan, bukan dengan kasih sayang biasa, melainkan dengan pelatihan brutal dan tanpa ampun sejak usianya menginjak lima tahun. Setiap hari adalah perjuangan hidup dan mati. Setiap latihan adalah batas antara bertahan atau binasa. Hingga pada hari Tian Hei genap berusia delapan belas tahun, sang Guru mengungkap sebuah fakta mengejutkan—sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan. Fakta apakah itu?
View More"Gagal lagi… gagal lagi…"
Cetasss. Cetasss. Cetasss. Tiga suara cambukan menggema, memecah keheningan puncak pegunungan. Di baliknya terdengar suara berat seorang kakek tua, penuh wibawa. Di puncak yang diselimuti kabut dingin, seorang pemuda bertelanjang dada berdiri tegap. Di tangan kanannya tergenggam besi panjang berukuran satu meter. Tatapannya lurus ke depan, menahan perih tanpa sepatah kata pun. Di belakangnya, sang guru berdiri—kakek tua berhanfu hitam, wajah keras namun tenang. Di tangannya tergenggam sebatang ranting kayu, bukan sekadar alat hukuman, melainkan ujian tekad dan keteguhan muridnya. Angin gunung berhembus dingin, membawa keheningan setelah cambukan terakhir. Kakek tua itu menurunkan ranting kayu, napasnya berat namun teratur. Ia menatap punggung pemuda itu, yang kini terdapat tanda merah bekas cambukan—tetap tegap meski bekas cambukan kemarin belum hilang. “Cukup sampai hari ini,” ucapnya pelan, tenggelam di antara desir angin. Tian Hei mengendurkan genggamannya sejenak, lalu kembali mencengkeram besi panjang. Setetes keringat jatuh ke tanah berbatu. Ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat, matanya menampakkan keengganan. “Hari ini adalah latihan terakhirmu di pegunungan ini,” lanjut sang kakek, melangkah ke samping tebing. “Setelah ini, temui aku di dalam goa.” Tian Hei menarik napas dalam-dalam. Ucapan sang guru terasa lebih berat daripada cambukan sebelumnya. Ia menggenggam besi panjangnya dengan tekad yang lebih kokoh. “Baik, Guru,” jawabnya singkat. Tanpa menunggu balasan, kakek tua itu berbalik. Jubah hanfu hitamnya berkibar diterpa angin, menyatu dengan kabut di tepi puncak. Tak lama kemudian, hanya suara angin dan detak jantung Tian Hei yang tersisa. Ia berdiri sendirian, memandangi langit yang mulai berubah warna. Setiap luka di punggungnya mengingatkan pada tahun-tahun penuh sunyi, dingin, dan ujian. Besi sepanjang satu meter kini terasa berbeda—bukan sekadar alat latihan, tapi saksi perjalanan yang akan segera berakhir. Setelah beberapa saat, ia menuruni jalur sempit yang berliku di sisi gunung. Kabut tipis menyelimuti lereng, dan suara gemuruh air semakin jelas. Tak lama kemudian, terpampanglah pemandangan menakjubkan: air terjun tinggi menghantam sungai jernih di bawahnya. Di sanalah Tian Hei membersihkan tubuhnya dari peluh dan rasa perih. Air dingin membasuh kulitnya, membawa pergi kelelahan. Setelah selesai, ia melompat dari batu ke batu, menuju pertengahan air terjun. Di balik tirai air deras, tersembunyi bebatuan besar dan akar pohon tua menjalar seperti cakar naga. Di sanalah mulut goa—tersembunyi sempurna. Tian Hei menarik napas, menegakkan punggung, dan melangkah masuk ke kegelapan. Suara gemuruh air terjun perlahan menghilang, digantikan keheningan yang menekan. Cahaya dari luar meredup, meninggalkan bayangan kelam di dinding goa. Udara dingin dan lembap membawa aroma tanah tua dan bebatuan basah—seakan tempat itu telah lama tak tersentuh dunia luar. Langkah kakinya bergema pelan. Setiap pijakan terasa berat, bukan karena lelah, tapi oleh perasaan asing yang menekan dadanya. Di dinding goa, ukiran kuno mulai tampak samar. Garis-garisnya kasar, menggambarkan sosok manusia berlatih, bertarung, dan bermeditasi. Ia berhenti sejenak, menelusuri ukiran dengan pandangan. “Ini…” gumamnya pelan. Ia pernah melihat simbol serupa pada gulungan tua sang kakek. Lorong goa melebar hingga membuka ke sebuah ruangan batu luas. Di tengah ruangan, pilar batu kuno berdiri, retak dan dipenuhi lumut. Di atasnya terletak kotak kayu hitam—sederhana, namun memancarkan aura berat. Tian Hei melangkah hati-hati. Setiap langkah seakan diuji, goa itu seolah mengamatinya. Saat jarinya hampir menyentuh kotak, suara berat bergema: “Jika kau melangkah lebih jauh, jalan kembali tak lagi sama.” tak jauh darinya, sosok kakek misterius duduk bersila di atas batu persegi, dikelilingi aura kelam yang bergejolak. Tekanan aura membuat udara bergetar halus. Ia bukan orang lain, dialah guru yang telah menemani Tian Hei sejak bayi. “Kita tidak memiliki ikatan darah,” ujar kakek itu, tajam menembus jiwa Tian Hei. “Namun takdir mempertemukan kita, menciptakan ikatan guru dan murid.” Ia menatap liontin giok di dada Tian Hei. “Itu satu-satunya petunjuk tentang asal-usulmu. Keputusan kini ada padamu: menjadi kuat dan mencari tahu keluargamu… atau tetap lemah, menutup mata dari kebenaran, hidup dalam penyesalan.” Tian Hei mengepalkan tangan, matanya bersinar penuh tekad. Sang kakek menatap lama, dia berahda di sisi Tian Hei bukan lah waktu singkat melaikan sudah 18 tahun dia berada di sisi pemuda itu, jadi dia tahu betul seperti apa karakter Tian Hei ini. Tegas, tangguh, berkomitmen, keras kepala, sekali berkata pantang baginya untuk menariknya kembali. Dengan satu lambaian tangan, kotak kayu yang belumnya Tian Hei lihat melayang ke hadapannya. Perlahan, tutup kotak terbuka. Di dalamnya terbaring kitab usang, memancarkan aura dominan—seakan memiliki kehendak sendiri. Tian Hei tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Beberapa detik kemudian, tangan kakek misterius itu bergerak membentuk rangkaian pola yang nyaris tak terlihat oleh mata. Gerakannya begitu cepat hingga bahkan satu tarikan napas pun belum sempat berlalu, sosok kakek itu sudah berdiri hanya satu langkah di depan Tian Hei. Tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, jari-jarinya menyentuh beberapa titik di tubuh Tian Hei dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa. Tak lama kemudian, aliran energi asing menyusup ke dalam tubuh Tian Hei. Energi itu menelusuri setiap syaraf dan meridian, hingga berpusat pada satu titik tempat diama suatu hari akan terbentuk sebuah dantian, pusat energi atau inti dari seorang kultivator. “Sekarang kau bukan lagi orang biasa,” ucap kakek tua itu, tatapannya menembus jiwa. “Jalan kultivator kejam. Hukum rimba berlaku—menindas atau ditindas, membunuh atau dibunuh,pilihan itu ada di tangan mu, setelah kau meninggalkan pegunungan ini aku tidak akan ikut campur lagi dengan latihan mu, ingat! Latihan ini berbeda dari latihan-latihan sebelumnya." Ucap kakek itu. "Aku hanya bisa memberikan mu ini, ini hadiah kecil dariku, untuk sedik membantumu di luar sana. Waktumu hanya tiga tahun untuk mencapai Ranah jiwa mula. Jika gagal… kau tak pantas memanggilku seorang guru dengan kata lain kau tak pantas menjadi muridku” ucap kakek itu tegas nan tajam, suaranya menggema di dalam goa “Guru pernah berkata, semakin berisiko suatu jalan, semakin besar manfaat yang akan didapat. Aku memilih menjadi kuat. Aku adalah murid Guru. Suatu hari, aku akan berhasil… dan membuat Guru bangga.” ucapan Tian Hei ini membuat sang guru mengangguk puas Tanpa aba-aba, setelah mengtankan semua apa yang ingin dia katakan dan mendengar respon Tian Hei, kaki kakek tua itu terangkat menendang tubuh Tian Hei membuat tubuh itu melayang keluar goa , melesat menembus udara, meninggalkan pegunungan, menuju takdir yang belum ia ketahui. "Tian... Aku yakin tidak butuh lama kau akan menguncang dunia ini dengan kekuatan mu" suara tua itu berangsur-angsur menghilang di ikuti tubuh kakek tua menghilang bak di telan bumi.Kabut Lembah Kematian tidak menipis setelah kematian Ular Rawa Bersayap Empat—ia justru menjadi lebih berat, lebih pekat, seolah alam menelan kembali darah penguasanya yang tumbang. Danau hitam itu kembali tenang, namun ketenangan tersebut bukan kedamaian, melainkan keheningan sebelum kelaparan berikutnya. Tian Hei duduk bersila di atas tulang-belulang di tepi danau. Tubuhnya nyaris tak lagi dapat disebut manusia. Bahu kirinya hancur, lengan kirinya tak merespons, dan setiap napas terasa seperti pisau yang menggores paru-parunya dari dalam. Namun auranya—auranya justru semakin mengerikan. Energi gelap berdenyut di sekelilingnya, berputar liar seperti badai yang kehilangan pusat. Xi Qianyue berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat. Ia ingin mendekat, namun naluri spiritualnya menjerit agar berhenti. Energi dalam tubuh Tian Hei saat ini terlalu tidak stabil. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya meledak dari dalam. Tian Hei membuka mata perlahan. Pandangannya buram, namun k
Waktu seolah kehilangan maknanya di bawah kanopi ungu kehitaman Lembah Kematian. Satu bulan telah berlalu sejak Tian Hei melahap rombongan Sekte Angin Hijau, dan selama tiga puluh hari itu, ia bersama Xi Qianyue tidak pernah benar-benar memejamkan mata dengan tenang. Lembah ini adalah neraka yang terus memberi makan. Sepanjang perjalanan mereka dari pinggiran menuju pedalaman, keduanya telah dihadang oleh barisan binatang buas yang haus darah. Mulai dari Kera Lengan Besi tingkat 5 hingga Ular Sanca Bayangan tingkat 6 yang bisa menyatu dengan kegelapan. Tian Hei menghadapi mereka semua dengan keganasan yang sama. Pakaian hitamnya kini bukan lagi hitam karena pewarna, melainkan karena lapisan darah kering yang bertumpuk-tumpuk. Xi Qianyue, meski awalnya merasa ngeri, kini telah terbiasa dengan metode brutal Tian Hei. Namun, semua pertarungan sebulan terakhir hanyalah pemanasan bagi apa yang menanti mereka di bagian dalam lembah. Kehadiran Sang Penguasa Udara di bagian dalam Lemb
Di tengah kabut pagi yang masih tebal, dua sosok berpakaian hitam melangkah keluar dari bayang-bayang tembok kota. Tian Hei berjalan dengan langkah mantap, palu Pemusnah Surga di punggungnya tampak lebih gelap di bawah cahaya temaram. Di sampingnya, Xi Qianyue bergerak dengan keanggunan yang sunyi, cadarnya berkibar lembut mengikuti embusan angin dingin. "Kau yakin ingin melewati jalur itu?" tanya Xi Qianyue pelan, matanya menatap ke arah jajaran pegunungan hitam yang menjulang di cakrawala utara. "Lembah kematian merupakan salah satu area terlarang yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Hutan Abadi." Tian Hei tidak berhenti melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menembus kabut. "hmm, kata bahaya hanyalah kedok untuk pelung besar bagi kultivator." Mereka meninggalkan jalan setapak utama dan mulai memasuki wilayah hutan tua yang semakin rapat. Semakin jauh mereka melangkah, suara kehidupan kota di belakang mereka perlahan memudar, digantikan oleh suara dahan yang berderi
Matahari mulai tenggelam di cakrawala Kota Qing Yun, menyisakan semburat merah darah yang seolah meramalkan masa depan yang akan ditempuh Tian Hei. Alun-alun yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk perekrutan murid kini sunyi, hanya menyisakan bisikan-bisikan ketakutan dari orang-orang yang menyaksikan jatuhnya harga diri Sekte Gang Quan. Tian Hei tidak mempedulikan tatapan mata yang tertuju padanya. Di tangannya, ia menggenggam plakat hitam kemerahan pemberian Lie Cang. Logam itu terasa dingin di permukaan, namun ada denyut energi yang sangat panas di dalamnya—seperti petir yang terperangkap dalam botol kaca. "Ayo pergi," ucap Tian Hei datar kepada Xi Qianyue. Keduanya berjalan menjauh dari alun-alun, meninggalkan sisa-sisa reruntuhan batu dan harga diri sekte yang telah hancur. Mereka kembali ke penginapan, tempat yang kini terasa lebih seperti tempat pengintaian daripada tempat beristirahat. Setelah sampai di kamar mereka, Xi Qianyue segera mengunci pintu dan memasang segel iso
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.