Chapter: Bab 8: Tambang EmasSuara gemuruh kawanan beast membuat seluruh kedai kacau. Para pengunjung berhamburan melalui pintu belakang dan jendela.Bansu ikut panik. Sedangkan Pak Tua Hasi sudah melesat menuju pintu masuk.“Yang Mulia! Kita harus pergi!”Namun, Kai justru berjalan menyusul Pak Tua Hasi.“Yang Mulia!” teriak Bansu, tapi tetap mengikutinya.Pak Tua Hasi sempat menoleh ke arah Kai. Belum sempat dia bertanya, Kai sudah membuka pintu.“Apa yang kau lakukan, Tuan Mantan Putra Mahkota?” teriak Nyonya An dengan mata penuh ketakutan.Bansu dan Pak Tua Hasi terperanjat kaget.Tepat di depan kedai, seekor beast setinggi hampir dua meter menyeruduk gerobak sayur milik Nyonya An. Setelahnya, beast-beast lain berdatangan—berlari melewati kedai dan menabrak apa pun yang menghalangi.Kai menatap para beast yang lewat itu dengan tatapan yang sulit diartikan.“Mereka berbeda dengan yang sebelumnya,” gumam Kai.Seekor beast paling besar berbelok saat melihat Kai. Matanya langsung mengunci pria itu, lalu mengaum d
Última atualização: 2026-08-15
Chapter: Bab 7: Aroma KematianKeheningan menyelimuti kedai itu untuk beberapa saat. Semua mata bergantian memandang Kai dan pria tua bercaping itu. “Apa maksud dari ucapanmu itu, Pak Tua?” tanya seorang pengunjung. Pria tua itu tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja Kai dengan mata yang terpaku pada pemuda itu, seolah sedang memastikan sesuatu. Bansu berdiri menghalangi pria tua itu agar tidak terlalu dekat dengan Kai. “Tolong jaga sopan santunmu, Pak Tua.” “Kota kita hampir diserang beast tingkat tinggi pagi ini, dan kau menyuruhku menjaga sopan santun?” tanya pria tua tadi. Tangannya menyilang di dada, seolah ingin menantang Bansu. “Kedatangan beast itu tidak ada kaitannya dengan Yang Mulia Kaizen,” ucap Bansu mencoba tetap tenang. “Kau tahu apa?” tanya pria tua itu, lalu mendorong Bansu agar menyingkir. Pria tua itu tampak renta dan kumal, tapi tenaganya tidak bisa diremehkan. Bansu terdorong cukup jauh dan nyaris terjatuh jika tidak ditahan Nyonya An. Pria tua itu menggebrak meja Kai. Tidak
Última atualização: 2026-07-27
Chapter: Bab 6: Wilayah BuanganMelihat Kai yang masih mematung di tempatnya, Bansu segera menarik lengan tuannya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, Kai menepis tangan pelayan tua itu.“Yang tadi itu makhluk apa, Bansu?” tanya Kai.“Itu beast, Yang Mulia,” jawab Bansu dengan tenang.“Monster?”“Kurang lebih seperti itu, Yang Mulia.”Beast. Kata itu terdengar asing bagi Kai, seasing wujud makhluk itu sendiri.“Beast tingkat tinggi sangat berbahaya, tapi beast tingkat rendah bisa dijinakkan,” tutur Bansu. “Meski demikian, hampir seluruh anggota tubuh mereka bernilai tinggi.”“Begitu rupanya,” gumam Kai.“Sebaiknya kita kembali ke dalam, Yang Mulia. Mari,” ajak Bansu.Kai menggeleng. “Tidak. Kita akan ke kedai, Bansu. Kau lupa?”Bansu ternganga. Kaizen memang selalu ingin tahu akan banyak hal, tapi dia tidak pernah membahayakan dirinya sendiri.“Tapi Yang Mulia, bagaimana jika beast tadi kembali lagi?” tanya Bansu, lalu menuturkan, “itu beast tingkat tinggi. Makhluk itu liar dan menyerang apa saja yang ada
Última atualização: 2026-06-04
Chapter: Bab 5: Dunia yang AsingKai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia
Última atualização: 2026-06-04
Chapter: Bab 4: Kesempatan KeduaRuangan itu masih sunyi setelah Kai membentak tabib tadi. Ruhi dan Bansu saling menatap dengan alis yang mengernyit. Sementara itu, tabib tadi—yang kerap dipanggil Tabib Wi—tampak ragu untuk melakukan pemeriksaan.“Yang Mulia,” ucap Bansu dengan hati-hati. “Tolong izinkan Tabib Wi untuk memeriksa kondisi Anda.”Kai tidak langsung menjawab. Dia justru menatap mereka satu per satu.Ruhi tampak gelisah. Tabib Wi dan Bansu terlihat khawatir.Kai memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya masih berdenyut sakit sesekali, dengan ingatan lain yang bermunculan secara samar.Namun setidaknya, sekarang Kai semakin memahami beberapa hal. Tempat ini bukan penculikan. Orang-orang di depan Kai mengenalnya, atau lebih tepatnya mengenal Kaizen—pemilik tubuh ini.Kai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak benar-benar selamat. Jiwanya pindah ke tubuh orang lain di dunia lain—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.Kaizen Wilang. Kai mengembuskan napas dengan pelan.
Última atualização: 2026-06-04
Chapter: Bab 3: Pewaris TerbuangRasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.Apakah aku selamat? Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia b
Última atualização: 2026-06-04