Se connecterKai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.
Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.
“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”
Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.
Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.
Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.
“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia Kaizen semakin kehilangan kewarasannya?”
Telinga Kai meruncing saat mendengar nama Kaizen disebut. Tubuhnya merapat pada jendela dengan rasa ingin tahu yang kentara.
“Tentu saja. Setelah kondisinya kumat, dia sempat melupakan banyak hal, termasuk sudah berapa lama diasingkan ke wilayah buangan ini.”
“Kau benar. Kalau terus seperti ini, kita tidak perlu menunggu terlalu lama lagi. Aku sudah muak tinggal di sini dan ingin segera kembali ke ibu kota.”
“Aku juga, tapi sudahlah. Ayo pergi menemui utusan Putra Mahkota di perbatasan.”
Suara langkah kaki terdengar menjauh. Kai mengembuskan napas dengan pelan, lalu duduk di kursi. Tangannya mengepal hingga urat-uratnya terlihat.
Kai mengenali salah satu suara itu.
“Menarik,” gumam Kai. “Berarti selama ini mereka memang sengaja memberi Kaizen sesuatu agar dia cepat mati.”
Kai tersenyum kecut. Dia teringat pada Pengkhianatan Ren.
Apakah Ren juga bersekongkol dengan orang-orang di perusahaan untuk membunuhku malam itu?
Kai tidak penasaran dengan alasannya. Dia hanya ingin balas dendam.
Pintu kamar terbuka, Bansu masuk dengan langkah pelan. Begitu melihat Kai sedang duduk di kursi dekat jendela, pria itu langsung menghentikan langkahnya.
“Yang Mulia,” ucap Bansu sembari mempercepat langkahnya. “Anda ... Anda sudah bisa bangun dan berjalan?”
Kai mengernyit. “Apa kau berpikir aku lumpuh?”
Bansu terdiam beberapa saat. “Bukan ... saya tidak bermaksud seperti itu, Yang Mulia. Saya justru sangat bersyukur karena selama ini untuk duduk lama pun Anda tidak kuat.”
Kai hanya mengangguk.
Tubuh ini memang lemah, tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Seolah sebagian besar penyakit yang selama ini menyiksa Kaizen ikut menghilang bersama pemilik aslinya, menyisakan tubuh yang lemah karena terlalu lama tidak bergerak aktif.
“Yang Mulia, saya membawakan sarapan untuk Anda,” ucap Bansu sembari meletakkan nampan di atas meja samping kursi tempat Kai duduk.
Kai menatap bubur itu cukup lama.
“Ruhi yang membuatnya?” tanya Kai.
“Benar, Yang Mulia.”
“Kalau begitu simpan saja. Aku sedang ingin makanan yang berbeda pagi ini.”
Bansu terkejut. Ini adalah kali pertama tuannya meminta sesuatu sejak mereka tinggal di Chizaru.
“Apa yang Anda inginkan, Yang Mulia?” tanya Bansu. “Saya akan mencarikannya untuk Anda.”
“Tidak perlu. Antar saja aku ke kedai terdekat,” titah Kai sembari mulai berjalan.
Bansu segera mencegatnya. Ekspresi wajahnya terlihat begitu khawatir—seperti biasanya.
“Yang Mulia, tubuh Anda belum pulih setelah serangan kambuh semalam,” ucap Bansu. “Sebaiknya Anda beristirahat dan biarkan saya pergi membeli apa yang Anda butuhkan.”
Kai menatap Bansu cukup lama.
“Tubuhku baik-baik saja.”
“Tapi Yang Mulia ....”
“Jika kau tidak ingin mengantarku, aku akan pergi sendiri.”
Kai kembali berjalan melewati Bansu. Jika dia menuruti pelayan tua itu dan hanya berbaring, maka tubuh ini akan tetap lemah meski tidak sakit parah.
Lagipula dalam ingatan Kaizen, Kai sudah melihat bahwa sebelum tubuhnya melemah karena sesuatu, Kaizen adalah pemuda yang tangguh dan sangat aktif—sebagaimana seorang putra mahkota seharusnya.
“Yang Mulia, tunggu saya.”
Bansu bergegas menyusul Kai setelah mengambil sebuah payung dengan kanopi hitam yang tampak elegan. Lalu berjalan dua langkah di belakang Kai.
Kai berjalan dengan santai melewati para pelayan yang menatapnya dengan terkejut. Beberapa menatap Bansu—meminta penjelasan, tapi Bansu hanya menggelengkan kepalanya.
Saat pintu gerbang terbuka, Kai langsung terdiam. Matanya membola, menatap sekeliling dengan tidak percaya.
Jalan di depan rumah mereka masih tanah dan becek bekas hujan semalam. Bangunan-bangunan di depannya tampak reot dan tidak layak huni. Orang-orang tampak lusuh dengan pakaian seperti gelandangan.
Pemandangan ini jelas sangat berbeda dengan dunia modern yang Kai tinggali. Bahkan terlalu jauh.
Setelah cukup lama terdiam, Kai bergumam, “Aku ... tinggal di wilayah seperti ini?”
Bansu yang mendengarnya hanya menunduk.
“Aku pernah melihat kawasan kumuh sebelumnya, tapi ini bahkan jauh lebih buruk,” lanjut Kai dengan kesal.
Bagi seorang CEO yang terbiasa dengan kemewahan seperti Kai, tiba-tiba terlempar ke tempat seperti ini sudah seperti penghinaan mutlak baginya.
Kai melangkah keluar. Baru dua langkah ketika keributan terdengar dari ujung jalan.
“Menjauh!”
“Semua menjauh dari jalan!”
Orang-orang lari berhamburan. Suara teriakan mereka memenuhi pagi yang tadinya sunyi.
Kai menoleh ke arah keributan.
Seekor makhluk setinggi hampir tiga meter berlari di jalan becek itu. Tubuhnya besar menyerupai serigala. Bulunya hitam mengkilap, dengan sisik hitam menutupi sebagian punggungnya seperti perisai. Dua tanduk melengkung tumbuh di kepalanya.
Kai membeku. Dia tidak pernah melihat makhluk sebesar dan seaneh itu seumur hidupnya.
Makhluk itu melesat begitu saja di depan Kai dan Bansu, menabrak sisi bangunan hingga roboh. Debu beterbangan.
Tatapan mata Kai terkunci pada makhluk yang semakin menjauh itu. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di tubuh Kaizen, Kai menyadari bahwa dunia ini jauh lebih asing daripada yang dia bayangkan.
Suara gemuruh kawanan beast membuat seluruh kedai kacau. Para pengunjung berhamburan melalui pintu belakang dan jendela.Bansu ikut panik. Sedangkan Pak Tua Hasi sudah melesat menuju pintu masuk.“Yang Mulia! Kita harus pergi!”Namun, Kai justru berjalan menyusul Pak Tua Hasi.“Yang Mulia!” teriak Bansu, tapi tetap mengikutinya.Pak Tua Hasi sempat menoleh ke arah Kai. Belum sempat dia bertanya, Kai sudah membuka pintu.“Apa yang kau lakukan, Tuan Mantan Putra Mahkota?” teriak Nyonya An dengan mata penuh ketakutan.Bansu dan Pak Tua Hasi terperanjat kaget.Tepat di depan kedai, seekor beast setinggi hampir dua meter menyeruduk gerobak sayur milik Nyonya An. Setelahnya, beast-beast lain berdatangan—berlari melewati kedai dan menabrak apa pun yang menghalangi.Kai menatap para beast yang lewat itu dengan tatapan yang sulit diartikan.“Mereka berbeda dengan yang sebelumnya,” gumam Kai.Seekor beast paling besar berbelok saat melihat Kai. Matanya langsung mengunci pria itu, lalu mengaum d
Keheningan menyelimuti kedai itu untuk beberapa saat. Semua mata bergantian memandang Kai dan pria tua bercaping itu. “Apa maksud dari ucapanmu itu, Pak Tua?” tanya seorang pengunjung. Pria tua itu tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja Kai dengan mata yang terpaku pada pemuda itu, seolah sedang memastikan sesuatu. Bansu berdiri menghalangi pria tua itu agar tidak terlalu dekat dengan Kai. “Tolong jaga sopan santunmu, Pak Tua.” “Kota kita hampir diserang beast tingkat tinggi pagi ini, dan kau menyuruhku menjaga sopan santun?” tanya pria tua tadi. Tangannya menyilang di dada, seolah ingin menantang Bansu. “Kedatangan beast itu tidak ada kaitannya dengan Yang Mulia Kaizen,” ucap Bansu mencoba tetap tenang. “Kau tahu apa?” tanya pria tua itu, lalu mendorong Bansu agar menyingkir. Pria tua itu tampak renta dan kumal, tapi tenaganya tidak bisa diremehkan. Bansu terdorong cukup jauh dan nyaris terjatuh jika tidak ditahan Nyonya An. Pria tua itu menggebrak meja Kai. Tidak
Melihat Kai yang masih mematung di tempatnya, Bansu segera menarik lengan tuannya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, Kai menepis tangan pelayan tua itu.“Yang tadi itu makhluk apa, Bansu?” tanya Kai.“Itu beast, Yang Mulia,” jawab Bansu dengan tenang.“Monster?”“Kurang lebih seperti itu, Yang Mulia.”Beast. Kata itu terdengar asing bagi Kai, seasing wujud makhluk itu sendiri.“Beast tingkat tinggi sangat berbahaya, tapi beast tingkat rendah bisa dijinakkan,” tutur Bansu. “Meski demikian, hampir seluruh anggota tubuh mereka bernilai tinggi.”“Begitu rupanya,” gumam Kai.“Sebaiknya kita kembali ke dalam, Yang Mulia. Mari,” ajak Bansu.Kai menggeleng. “Tidak. Kita akan ke kedai, Bansu. Kau lupa?”Bansu ternganga. Kaizen memang selalu ingin tahu akan banyak hal, tapi dia tidak pernah membahayakan dirinya sendiri.“Tapi Yang Mulia, bagaimana jika beast tadi kembali lagi?” tanya Bansu, lalu menuturkan, “itu beast tingkat tinggi. Makhluk itu liar dan menyerang apa saja yang ada
Kai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia
Ruangan itu masih sunyi setelah Kai membentak tabib tadi. Ruhi dan Bansu saling menatap dengan alis yang mengernyit. Sementara itu, tabib tadi—yang kerap dipanggil Tabib Wi—tampak ragu untuk melakukan pemeriksaan.“Yang Mulia,” ucap Bansu dengan hati-hati. “Tolong izinkan Tabib Wi untuk memeriksa kondisi Anda.”Kai tidak langsung menjawab. Dia justru menatap mereka satu per satu.Ruhi tampak gelisah. Tabib Wi dan Bansu terlihat khawatir.Kai memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya masih berdenyut sakit sesekali, dengan ingatan lain yang bermunculan secara samar.Namun setidaknya, sekarang Kai semakin memahami beberapa hal. Tempat ini bukan penculikan. Orang-orang di depan Kai mengenalnya, atau lebih tepatnya mengenal Kaizen—pemilik tubuh ini.Kai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak benar-benar selamat. Jiwanya pindah ke tubuh orang lain di dunia lain—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.Kaizen Wilang. Kai mengembuskan napas dengan pelan.
Rasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.Apakah aku selamat? Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia b







