Home / Fantasi / Ambisi Sang Pewaris Terbuang / Bab 3: Pewaris Terbuang

Share

Bab 3: Pewaris Terbuang

Author: R. Ryuna
last update publish date: 2026-06-04 09:49:22

Rasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.

Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.

Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.

Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.

Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.

Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.

Apakah aku selamat?

Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia belum mati.

Pada saat yang sama, seorang gadis muda menghampiri dengan nampan di tangannya. Senyumnya tampak begitu ramah.

“Yang Mulia, tolong berbaring saja. Tubuh Anda belum pulih,” ucap gadis itu sembari meletakkan nampan di atas meja. Suaranya terdengar begitu lembut.

Kai menatap gadis itu cukup lama.

Paras gadis itu memang sangat cantik. Rambut hitamnya diikat sederhana dengan kain yang ikut menjuntai, sementara pakaiannya terlihat rapi meski warnanya sudah pudar.

Bahkan di kondisi aneh seperti ini, Kai masih sempat menyadari kecantikan gadis itu. Seolah kehadirannya bisa membuat Kai lupa tentang kecelakaan dan pengkhianatan Ren untuk sejenak.

“Yang Mulia, apakah ada yang salah dengan penampilan saya?” tanya gadis itu dengan malu-malu.

Detik itu juga, Kai tersadar dari lamunannya. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Di mana ini?” tanya Kai.

Gadis itu tampak terkejut. Namun sebelum dia bereaksi lebih jauh, suara langkah terburu-buru mengalihkan fokusnya.

“Yang Mulia, akhirnya Anda bangun.”

Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun segera menghampiri ranjang. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya langsung berbinar saat melihat Kai duduk di atas ranjang.

Alis Kai kembali mengernyit saat melihat pakaian yang dikenakan pria itu. Akan tetapi bukan hanya itu, dia baru menyadari bahwa kedua orang asing ini memanggilnya dengan sapaan yang terdengar begitu kuno di telinganya.

Merasa ada yang terlewat, Kai kembali bertanya, “Siapa kalian?”

Pria tadi tampak kebingungan. Dia sempat melirik gadis di sebelahnya yang juga tampak terheran-heran.

“S-saya Bansu, Yang Mulia. Dan ini Ruhi,” jawab pria itu dengan gugup. “K-kami pelayan Anda.”

Kai menatap keduanya dengan kebingungan yang tidak disembunyikan. Situasi ini terasa semakin aneh.

“Lalu, ini di mana?” tanya Kai.

Pria bernama Bansu itu terlihat semakin gugup. “Ini ... ini di kamar Anda, Yang Mulia.”

Kai kembali menatap sekeliling, lalu menatap Bansu dengan tajam. Ini bukan kamarnya, dan Kai merasa dipermainkan dengan semua keanehan ini.

“Kau bercanda?” tanya Kai sembari menarik kerah baju Bansu, mengabaikan rasa sakit di dadanya.

Mata Bansu langsung membelalak, napasnya tertahan, sementara mulutnya menganga. Dia terlalu terkejut mendapat perlakuan seperti ini sampai tidak sanggup menjawab lagi.

“Yang Mulia, tolong tenangkan diri Anda,” ucap Ruhi. “Ini memang di kamar Anda.”

Kai menatap Ruhi tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Bansu.

“Kalian ingin mempermainkanku?”

Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Kai ketika rasa sakit menghantam kepalanya dengan begitu hebat. Tangannya yang mencengkeram kerah baju Bansu terlepas, berpindah memegangi kepalanya sendiri dengan begitu erat.

“Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Bansu dengan panik.

Kai tidak menjawab. Dia justru menarik rambutnya yang panjang dan menatapnya cukup lama. Kepalanya masih berdenyut, tapi semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perasaan asing yang mulai dia rasakan.

“Yang Mulia, jangan menarik rambut Anda seperti itu,” ucap Ruhi, tidak kalah panik dengan Bansu.

Kai tidak menghiraukan kedua orang yang mengaku sebagai pelayannya itu. Tatapannya justru tertuju pada tangannya sendiri yang tampak pucat dan lebih ramping. Tidak seperti tangan yang dia ingat.

“Apa-apaan ini?”

Lalu perhatian Kai tertuju pada pakaian yang dia kenakan. Jantungnya langsung berdegup kencang. Itu bukan pakaian yang dia kenal.

“Yang Mulia?” tanya Bansu dengan ragu. Sesekali, dia menoleh pada Ruhi yang duduk di sampingnya.

Kai menatap kedua orang itu dengan tajam, ingin menuntut penjelasan. Namun pada saat bersamaan, rasa sakit kembali menghantam kepalanya. Kali ini terasa lebih hebat daripada sebelumnya.

“Ruhi, cepat panggil tabib!” titah Bansu.

Ruhi mengangguk, lalu melesat meninggalkan ruangan.

Sementara itu, di tengah rasa sakit kepala yang Kai alami, ingatan asing mulai bermunculan secara tiba-tiba. Potongan-potongan bayangan memenuhi pikirannya.

Awalnya bayangan sebuah istana yang sangat megah. Sebuah kekaisaran.

“Yang Mulia Putra Mahkota ....”

“Kekaisaran Ansa ....”

“Kaizen Wilang ....”

Lalu ingatan tentang kondisi tubuh yang melemah, hingga seseorang mengatakan dia terkena penyakit.

“Dia tidak akan bisa tetap menjadi penerus jika kondisinya lemah seperti ini ....”

Hingga akhirnya ingatan tentang sebuah pertengkaran, yang berakhir dengan penghakiman.

“Mulai hari ini ....”

“Status Putra Mahkota dicabut ....”

“Diasingkan ke Chizaru sebagai rakyat biasa.”

Setelah itu, wajah-wajah asing mulai bermunculan silih berganti. Keluarga, pelayan, hingga orang-orang yang tidak dia kenal, tapi terasa akrab bagi tubuh ini.

Kai merasa sakit kepalanya mulai reda, tapi bayangan ingatan-ingatan tadi membuatnya tidak nyaman.

Tidak lama, Ruhi kembali dengan seorang tabib yang dia panggil. Mereka segera menghampiri ranjang.

“Yang Mulia, izinkan saya memeriksa Anda,” ucap tabib itu dengan cemas. Tangannya sudah terulur untuk menyentuh Kai.

“Diam,” bentak Kai.

Ruangan langsung sunyi. Ruhi, Bansu, dan tabib itu tampak terkejut mendengar nada bicara Kai yang berubah. Ketiganya saling menatap dengan wajah pucat—tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sementara itu, Kai mulai memahami sesuatu yang mustahil. Dia memang selamat, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 8: Tambang Emas

    Suara gemuruh kawanan beast membuat seluruh kedai kacau. Para pengunjung berhamburan melalui pintu belakang dan jendela.Bansu ikut panik. Sedangkan Pak Tua Hasi sudah melesat menuju pintu masuk.“Yang Mulia! Kita harus pergi!”Namun, Kai justru berjalan menyusul Pak Tua Hasi.“Yang Mulia!” teriak Bansu, tapi tetap mengikutinya.Pak Tua Hasi sempat menoleh ke arah Kai. Belum sempat dia bertanya, Kai sudah membuka pintu.“Apa yang kau lakukan, Tuan Mantan Putra Mahkota?” teriak Nyonya An dengan mata penuh ketakutan.Bansu dan Pak Tua Hasi terperanjat kaget.Tepat di depan kedai, seekor beast setinggi hampir dua meter menyeruduk gerobak sayur milik Nyonya An. Setelahnya, beast-beast lain berdatangan—berlari melewati kedai dan menabrak apa pun yang menghalangi.Kai menatap para beast yang lewat itu dengan tatapan yang sulit diartikan.“Mereka berbeda dengan yang sebelumnya,” gumam Kai.Seekor beast paling besar berbelok saat melihat Kai. Matanya langsung mengunci pria itu, lalu mengaum d

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 7: Aroma Kematian

    Keheningan menyelimuti kedai itu untuk beberapa saat. Semua mata bergantian memandang Kai dan pria tua bercaping itu. “Apa maksud dari ucapanmu itu, Pak Tua?” tanya seorang pengunjung. Pria tua itu tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja Kai dengan mata yang terpaku pada pemuda itu, seolah sedang memastikan sesuatu. Bansu berdiri menghalangi pria tua itu agar tidak terlalu dekat dengan Kai. “Tolong jaga sopan santunmu, Pak Tua.” “Kota kita hampir diserang beast tingkat tinggi pagi ini, dan kau menyuruhku menjaga sopan santun?” tanya pria tua tadi. Tangannya menyilang di dada, seolah ingin menantang Bansu. “Kedatangan beast itu tidak ada kaitannya dengan Yang Mulia Kaizen,” ucap Bansu mencoba tetap tenang. “Kau tahu apa?” tanya pria tua itu, lalu mendorong Bansu agar menyingkir. Pria tua itu tampak renta dan kumal, tapi tenaganya tidak bisa diremehkan. Bansu terdorong cukup jauh dan nyaris terjatuh jika tidak ditahan Nyonya An. Pria tua itu menggebrak meja Kai. Tidak

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 6: Wilayah Buangan

    Melihat Kai yang masih mematung di tempatnya, Bansu segera menarik lengan tuannya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, Kai menepis tangan pelayan tua itu.“Yang tadi itu makhluk apa, Bansu?” tanya Kai.“Itu beast, Yang Mulia,” jawab Bansu dengan tenang.“Monster?”“Kurang lebih seperti itu, Yang Mulia.”Beast. Kata itu terdengar asing bagi Kai, seasing wujud makhluk itu sendiri.“Beast tingkat tinggi sangat berbahaya, tapi beast tingkat rendah bisa dijinakkan,” tutur Bansu. “Meski demikian, hampir seluruh anggota tubuh mereka bernilai tinggi.”“Begitu rupanya,” gumam Kai.“Sebaiknya kita kembali ke dalam, Yang Mulia. Mari,” ajak Bansu.Kai menggeleng. “Tidak. Kita akan ke kedai, Bansu. Kau lupa?”Bansu ternganga. Kaizen memang selalu ingin tahu akan banyak hal, tapi dia tidak pernah membahayakan dirinya sendiri.“Tapi Yang Mulia, bagaimana jika beast tadi kembali lagi?” tanya Bansu, lalu menuturkan, “itu beast tingkat tinggi. Makhluk itu liar dan menyerang apa saja yang ada

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 5: Dunia yang Asing

    Kai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 4: Kesempatan Kedua

    Ruangan itu masih sunyi setelah Kai membentak tabib tadi. Ruhi dan Bansu saling menatap dengan alis yang mengernyit. Sementara itu, tabib tadi—yang kerap dipanggil Tabib Wi—tampak ragu untuk melakukan pemeriksaan.“Yang Mulia,” ucap Bansu dengan hati-hati. “Tolong izinkan Tabib Wi untuk memeriksa kondisi Anda.”Kai tidak langsung menjawab. Dia justru menatap mereka satu per satu.Ruhi tampak gelisah. Tabib Wi dan Bansu terlihat khawatir.Kai memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya masih berdenyut sakit sesekali, dengan ingatan lain yang bermunculan secara samar.Namun setidaknya, sekarang Kai semakin memahami beberapa hal. Tempat ini bukan penculikan. Orang-orang di depan Kai mengenalnya, atau lebih tepatnya mengenal Kaizen—pemilik tubuh ini.Kai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak benar-benar selamat. Jiwanya pindah ke tubuh orang lain di dunia lain—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.Kaizen Wilang. Kai mengembuskan napas dengan pelan.

  • Ambisi Sang Pewaris Terbuang   Bab 3: Pewaris Terbuang

    Rasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.Apakah aku selamat? Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status