Chapter: BAB 20 SprinklerSampai sore, Ayu tidak bertanya apa pun. Dia membantu Juki menghitung ulang uang di kamar, menyisihkan sepuluh juta ke amplop bertuliskan Mang Ujang, lalu duduk di ambang pintu sambil memeluk lutut.Baru waktu Juki menyambar jaket, Ayu buka suara.“Mas jadi ke sana?”“Iya, Yu.” Juki duduk di sebelahnya. “Kamu yang pertama tahu, kan? Aku udah janji.”“Buat benerin pompa?”“Buat ngasih tahu Bu Hesti, yang nyuruh Rudi itu suaminya.” Juki memandangi tangannya sendiri. “Dia mau nanggung delapan puluh juta buat aku, Yu. Dia berhak tahu.”Lama Ayu diam. Lalu dia mengangguk kecil dan berdiri.“Pulangnya jangan kemaleman,” katanya tanpa menoleh. “Aku nungguin.”*****Malam ini, rumah bergerbang hitam itu sepi. Kata satpam kompleks, Mbok Sum pulang kampung. Silvi menginap di rumah Rendi.Bu Hesti membukakan pintu samping. Dia memakai kaus putih tipis dan celana kain, rambutnya digelung asal. Tangannya membawa senter.“Pompanya di belakang, deket kolam,” katanya. “Dari sore nggak mau nyala.”Rua
Última actualización: 2026-10-31
Chapter: BAB 19 Kalimat Orang KampungJumat, jam sembilan kurang, teras rumah Pak Mansur sudah penuh orang.Yang mengundang Pak Mansur sendiri. Ada bapak-bapak yang Rabu malam itu menenteng gelas kopi, ibu-ibu berdaster sambil menggendong anak, dua tukang ojek pangkalan, dan Bu Rahmi yang datang paling pagi lengkap dengan kursi lipatnya. Asep berdiri di dekat pagar sambil melipat tangan. Ayu duduk di sebelah Juki. Dari pagi dia belum ngomong apa-apa.“Kalau nanti Mas salah,” bisik Ayu akhirnya, “aku nggak bakal bilang ‘kan udah dibilangin’.”“Makasih ya, Yu.”“Tapi dalam hati aku bilang.”Jam sembilan lewat lima, motor Bang Rudi berhenti di mulut gang. Dia tidak datang sendirian. Di boncengannya duduk lelaki berperut buncit berkaus CV Darma.Darto.Asep menggeram pelan. “Tuh, kan. Apa kubilang.”Darto tidak berani menatap Juki. Dia berdiri di belakang Bang Rudi, gelisah, sibuk menarik-narik ujung kausnya. Bang Rudi kebalikannya. Dia senyum ke semua orang dan menyalami Pak Mansur pakai dua tangan.“Rame juga, Pak RT. Kayak
Última actualización: 2026-10-31
Chapter: BAB 18 Halaman TujuhTanpa permisi, Bang Rudi menarik satu kursi plastik lagi dari depan kamar sebelah, lalu menepuk-nepuknya.“Duduk, Mas. Santai aja. Saya bukan polisi.”Juki duduk. Ayu tidak ikut. Dia masuk ke kamarnya, tiga pintu dari situ, lalu keluar lagi membawa ember bunga dan gunting. Di teras kamarnya sendiri, dia duduk memotong-motong tangkai mawar yang sebenarnya sudah rapi.‘Dia nguping. Mantap.’“Saya langsung ke intinya, ya.” Bang Rudi membuka map cokelat di atas lutut. “Pot biru di Jatinegara. Albo-nya istri bos kamu. Spiritus sancti-nya Bu Melinda. Kolektor-kolektor udah pada ngomongin kamu, Mas. Tangan ajaib dari Kebon Jeruk.”“Saya cuma ngerawat aja, Bang.”“Iya, iya. Ngerawat.” Bang Rudi tersenyum lebar. Gigi emasnya berkilat. “Masalahnya, Mas, ngerawat itu butuh tempat. Butuh modal. Butuh pembeli. Kamu sekarang punya apa? Kerjaan aja udah nggak punya.”Juki diam sebentar.“Kok Abang tahu saya udah nggak kerja?”Senyum Bang Rudi tertahan sedetik, lalu melebar lagi. “Jakarta tuh sempit,
Última actualización: 2026-10-31
Chapter: BAB 17 Dua Perempuan di Rumah Pak RTDi atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Última actualización: 2026-10-30
Chapter: BAB 16 Surat di Meja BosKantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
Última actualización: 2026-10-30
Chapter: BAB 15 Sepuluh Juta untuk Diam“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Última actualización: 2026-10-30