เข้าสู่ระบบDicampakkan di depan sepasar karena cuma tukang rumput, Juki disengat lebah ratu putih di sebuah rumah tua. Sejak itu tanaman yang ia sentuh bernilai ratusan juta, tubuhnya wangi madu, dan dia menjadi pria idaman yang didambakan semua orang.
ดูเพิ่มเติมJam enam pagi, Pasar Bunga Rawa Belong baru separuh buka.
Juki, dua puluh empat tahun, sudah beres menyiram semua pot di depan kios Pak Darma. Aglonema, sirih gading, kuping gajah, semuanya basah dan segar. Lantai juga sudah dia sapu. Di meja kayu ada dua bungkus nasi uduk dan satu pot kecil anggrek bulan putih, tiga kuntumnya baru mekar.
Anggrek itu dia rawat dua bulan di jendela kamar kos.
Hari ini genap setahun dia jadian sama Silvi.
‘Pokoknya hari ini Silvi harus senyum.’
Jam tujuh lewat sedikit, mobil putih berhenti di mulut lorong. Silvi turun. Umurnya dua puluh tiga, anak Pak Darma, pemilik kios ini sekaligus bos Juki. Blusnya putih, rambutnya baru di-blow, kacamata hitamnya tetap nangkring di hidung.
Mesin mobil itu tidak dimatikan.
Juki cepat-cepat mengelap tangan ke celana. “Pagi, Sil. Nih, nasi uduk Bu Imah. Semur jengkol, kesukaan kamu.”
Silvi cuma melirik bungkusan itu. Tangannya tetap terlipat.
“Juk, kita putus. Mulai hari ini.”
Bungkusan nasi uduk masih di tangan Juki. “Hah?”
“Pu-tus. Perlu aku eja?” Silvi mengangkat dagu. “Aku dijodohin sama Rendi. Papa udah setuju, Mama juga.”
“Rendi? Rendi siapa?”
Silvi menunjuk mobil putih itu pakai dagu. Kaca depannya turun. Lelaki berkemeja biru muda di balik setir melambai dengan malas. Jam tangannya berkilat kena matahari.
“Anaknya pengusaha properti,” kata Silvi. “Tiap hari dia yang nganter aku. Kamu aja yang nggak ngeh.”
Dua karyawan kios mendadak sibuk merapikan bunga yang sudah rapi. Pedagang sebelah mulai melongok. Ibu tukang tahu goreng di ujung lorong berhenti mengipas.
“Sil, bentar...” Juki menelan ludah. “Hari ini kan kita pas setahun. Aku bawain ini, lho.”
Pot anggrek itu dia angkat.
Silvi memandanginya sebentar, lalu tertawa pendek lewat hidung.
“Anggrek lima belas ribuan? Buat setahun?” Kacamatanya dia turunkan sedikit. “Juk, kamu ngaca deh. Kaus belel, sandal jepit, kuku item semua. Kamu tuh tukang rumput. Tukang rumput Papa.”
Dari kios sebelah ada yang terkikik. Lalu satu lagi.
Panas naik ke muka Juki sampai ke kuping.
‘Jangan nangis, Juk. Jangan di sini. Malu-maluin.’
“Dulu kamu bilang nggak masalah aku kerja ginian,” katanya pelan.
“Itu dulu. Waktu aku masih bego.”
Juki maju selangkah, tangannya terulur. “Sil, ngomongnya baik-baik, yuk. Jangan di sini. Ke belakang aja...”
Plak!
Tangan Juki ditepis keras.
“Ih, jangan pegang-pegang! Tangan kamu bau pupuk kandang!”
Silvi mencopot gelang perak tipis dari pergelangan kirinya. Gelang itu dibeli Juki pakai tabungan tiga bulan, buat ulang tahun Silvi. Hari itu Silvi memeluknya lama sekali.
“Nih. Ambil lagi barang murahanmu.”
Gelang itu dia lempar. Benda kecil itu sempat memantul di aspal, lalu nyemplung ke got depan kios.
Plung!
Mobil putih membunyikan klakson dua kali.
“Udah ya. Nggak usah chat aku lagi. Rendi nggak suka.” Silvi balik badan.
“Sil.”
Suara Juki pelan, tapi Silvi berhenti juga. Seisi lorong ikut diam.
“Inget-inget hari ini,” kata Juki. Tangannya gemetar, tapi matanya tetap lurus. “Suatu hari kamu bakal nyesel ngomong gitu ke aku.”
Silvi menoleh pelan-pelan. Kacamatanya dia turunkan. Matanya menyisir Juki dari sandal jepit sampai ujung rambut, lalu dia tertawa.
“Nyesel? Sama tukang rumput?” Kacamatanya didorong naik lagi. “Juk, kamu kebanyakan nonton sinetron. Mending kerja yang bener dulu, biar bisa bayar kos.”
Kali ini tawa orang-orang lebih kencang.
Hak sepatu Silvi berketuk sepanjang lorong. Mobil putih itu pergi. Rendi menoleh pun tidak.
Juki jongkok di bibir got.
Airnya hitam pekat, baunya menusuk. Gelangnya tidak kelihatan sama sekali.
“Mas Juki, udah, Mas. Nggak usah,” kata salah satu karyawan kios.
Juki tidak menggubris. Lengan kausnya dia gulung, lalu tangannya masuk ke air hitam itu sampai siku. Dingin, licin. Ujung jarinya meraba plastik, kulit jeruk, dan sesuatu yang lembek.
“Waduh, dicariin beneran,” celetuk seorang pedagang. Beberapa orang ketawa lagi.
Lalu jarinya menyentuh sesuatu yang tipis dan keras.
Juki menariknya. Gelang perak itu keluar hitam berlumpur, satu sisinya penyok.
Lama dia memandanginya. Tangannya bau, lengannya hitam. Penonton mulai bubar, sudah puas.
Setahun. Setahun dia antar-jemput Silvi naik motor bebek yang businya hobi ngadat. Setahun dia makan nasi pakai kerupuk biar bisa traktir Silvi es kopi susu. Kos petaknya di Kebon Jeruk sudah nunggak dua bulan. Kiriman buat emak di Kebumen bulan ini juga belum terkirim.
Semua itu ternyata cuma dihargai satu kalimat. Tukang rumput Papa.
‘Kalau aku punya duit, dia bakal ngomong gitu nggak, ya?’
Jawabannya Juki sudah tahu. Justru itu yang paling nyesek.
Dia meremas gelang itu sampai pinggirnya menekan telapak tangan.
‘Gelang ini aku simpen. Nanti pas kamu nyesel, aku balikin. Di depan orang sepasar juga.’
“Heh! Ngapain pada ngeliatin?! Nggak ada kerjaan, ya?!”
Teriakan itu datang dari kios bunga potong sebelah. Ayu, dua puluh empat tahun, penjaga kios itu, berdiri di antara ember-ember mawar dengan muka merah padam.
Kerumunan langsung bubar.
Ayu menghampiri Juki dan ikut jongkok di sebelahnya. Dia membawa sebotol air mineral dan sabun batangan dari laci kiosnya.
“Cuci tangan dulu, Mas. Sini, aku tuangin airnya.”
“Nggak usah, Yu. Ntar kamu ikut...”
“Diem. Tangannya sini.”
Juki menurut. Ayu menuang air sedikit-sedikit, Juki menggosok tangannya pakai sabun. Air hitam kembali mengalir ke got.
“Gelangnya juga,” kata Ayu. “Siniin.”
Gelang itu dia ambil tanpa jijik, dia cuci, lalu dia lap pakai tisu. Penyoknya tetap ada, tapi warna peraknya muncul lagi.
“Nih.”
“Makasih, Yu,” ucap Juki.
“Lagian ngapain sih pakai nyemplungin tangan segala? Bau, tahu,” omel Ayu.
“Itu tabungan tiga bulan, Yu,” jawab Juki lesu.
“Ya justru itu.” Ayu mendengus. “Kebagusan buat dia.”
Juki ketawa kecil. Ketawa paksa, tapi lumayan.
Ayu bangkit ke warung kopi di ujung lorong, lalu balik membawa teh manis hangat dalam plastik. Dia jongkok lagi di sebelah Juki.
“Minum.”
Juki menyedotnya. Manis banget. Hangatnya turun sampai ke perut.
Sebentar mereka diam. Pasar mulai ramai. Truk bunga dari Bandung baru masuk.
“Mas,” panggil Ayu tanpa menoleh. “Omongan Mas ke Silvi tadi. Serius?”
“Yang mana?”
“Yang soal dia bakal nyesel.”
Juki memandangi plastik teh di tangannya. “Serius, Yu. Caranya belum tahu. Tapi serius.”
Ayu manggut-manggut. “Bagus. Aku saksinya.”
Lalu dia melirik meja kios. “Anggreknya buat aku aja, Mas.”
Juki menoleh. Pot anggrek itu masih di meja, tiga bunganya putih bersih.
“Buat kamu?”
“Daripada dibuang. Kasihan, anggreknya nggak salah apa-apa.” Ayu memainkan ujung kukunya. “Tenang, aku siramin tiap hari. Nggak kayak orang tadi.”
“Itu anggrek lima belas ribuan doang, Yu.”
“Terus kenapa?” Kali ini Ayu menatapnya lurus. Baru pertama pagi itu matanya tidak menghindar. “Yang ngerawat dua bulan siapa?”
Juki membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Lain kali kalau beli gelang,” lanjut Ayu, suaranya mengecil, “kasih ke orang yang mau makai tiap hari.”
“Emang ada yang mau dikasih gelang sama tukang rumput, Yu?”
Ayu diam. Mulutnya sempat terbuka, lalu mingkem lagi. Pipinya makin merah.
Dia berdiri, mengambil pot anggrek dari meja, dan mendekapnya.
“Abisin tehnya,” katanya, lalu balik ke kiosnya.
Juki menyeruput teh itu sampai tandas. Dia tidak sadar Ayu menoleh dua kali dari balik ember mawar.
Gelang penyok di saku celananya terasa dingin.
Tiiin! Tiiin!
Pikap bak terbuka CV Darma berhenti di mulut pasar. Darto, si mandor, melongok dari jendela dengan muka asam. Di bak belakang, Asep melambai sambil nyengir.
“JUKI! Buruan naik! Hari ini kita bongkar rumah tua di Menteng!”
Di atas motor, Juki menceritakan semuanya ke Ayu. Map biru, kontrak lima tahun, kunci kios yang dia tinggal di meja, dan suara Pak Darma di telepon. Rud. Jalanin rencanamu.Pelukan Ayu di pinggangnya makin erat. “Jadi Mas sekarang nganggur?”“Iya, Yu.”“Pengangguran yang megang cek tiga ratus juta.” Ayu menempelkan dagu ke bahu Juki. “Hidup Mas seminggu ini aneh banget.”Mereka mampir dulu ke BRI di Jalan Panjang. Teller perempuan memandangi cek itu, lalu pipi Juki yang ungu, lalu ceknya lagi. Dia memanggil atasannya. Lima belas menit kemudian, cek itu baru diterima.“Cairnya dua hari kerja, Pak,” kata teller itu. “Kliring dulu.”‘Dua hari. Semoga Pak Darma belum sempat macem-macem.’Waktu mereka keluar, satpam bank masih memandangi Juki dari kepala sampai sandal. Seminggu lalu Juki pasti menunduk. Siang ini dia cuma mengangguk sopan, lalu menyalakan motor.Dari bank, mereka langsung pulang ke gang. Rumah Pak Mansur paling ujung, pagarnya besi hijau, halamannya penuh pot kuping gajah.
Kantor CV Darma menempati ruko dua lantai di Jalan Kebon Jeruk Raya. Lantai bawah dipakai buat gudang pupuk dan parkir pikap. Lantai atasnya kantor ber-AC yang dua tahun ini cuma bisa Juki lihat dari ujung tangga.Jam tujuh kurang lima, Juki memarkir motor bebeknya di depan rolling door. Pipi kirinya masih bengkak dan keunguan. Ayu turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi es batu.“Tempelin lagi, Mas,” suruh Ayu. “Biar bengkaknya nggak nambah.”“Udah nggak kerasa kok, Yu.”“Bohong. Tadi pas pakai helm Mas meringis.”Di meja depan lantai dua, Silvi duduk berkemeja kantor di depan laptop. Kepalanya terangkat. Matanya melihat pipi Juki, lalu Ayu di belakangnya.Alisnya naik. “Ngapain bawa-bawa tukang bunga ke sini?”“Saya pacarnya, Mbak,” sahut Ayu datar.Pulpen Silvi berhenti di atas kertas. Dia diam.Juki juga diam. Dia tidak membantah sama sekali.‘Pacar. Di depan Silvi pula. Waduh, Yu.’“Papa udah nungguin,” kata Silvi akhirnya, suaranya lebih ketus dari biasa. “T
“Mas, jangan ke sana,” bisik Ayu. Kukunya belum lepas dari tangan Juki.“Mbak, nanti saya telepon lagi, ya. Kunci pintu kosnya,” kata Juki ke HP, lalu memutus telepon Dinda.Mobil hitam itu diam di tempat. Pintunya tidak dibuka. Orang di dalamnya cuma menunggu.‘Kalau aku masuk kamar, dia bisa nungguin sampai besok. Atau malah nyamperin ke sini, ke depan kamar Ayu.’Pelan-pelan Juki melepas genggaman Ayu. “Masuk kamarmu, Yu. Kunci pintunya.”Ayu tidak beranjak. Dia malah merebut HP dari tangan Juki, membuka aplikasi perekam suara, lalu memencet tombol merah.“Kalau Mas tetep ke sana,” katanya cepat, suaranya bergetar, “ini jangan dimatiin. Aku panggil Pak Mansur.”Belum sempat Juki menjawab, Ayu sudah lari ke arah sebaliknya, ke rumah ketua RT di ujung gang.HP yang sedang merekam itu Juki selipkan ke saku depan celana, di sebelah cek tiga ratus juta. Lalu dia berjalan ke mulut gang. Lututnya gemetar di setiap langkah.Kaca jendela sopir turun. Dari balik kemudi, Pak Yoga tersenyum. K
Jam sembilan malam, Ayu sudah duduk menunggu di depan pintu kamar Juki. Tangannya terlipat. Ember mawarnya kosong di dekat kaki.Juki berhenti di ujung lorong. Badannya masih lemas sisa di greenhouse. Cek tiga ratus juta di saku celananya terasa lebih berat dari batu bata, dan omongan Pak Darma di telepon terus berputar di kepalanya. Kulaporin polisi. Nipu klien.Sepanjang jalan pulang, dia membayangkan dirinya diborgol di depan kios, jadi tontonan orang sepasar lagi.“Sedan tadi pagi,” kata Ayu tanpa basa-basi. “Punya siapa?”“Yu, aku jelasin di dalem aja, ya.”“Di sini aja. Biar Bu Rahmi sekalian denger.”Juki menghela napas.‘Jangan bohong, Juk. Bohongmu jelek, kata Bu Hesti.’“Ibunya Silvi.”Lama Ayu menatapnya. Lalu dia berdiri.“Ibunya Silvi?” Suaranya naik. “Mas dijemput ibunya mantan? Pakai sedan? Pagi-pagi buta?”“Dia nganter aku ke temennya. Kolektor tanaman. Urusan kerjaan, Yu.”“Kerjaan apaan yang pakai dijemput sedan?” Ayu maju sampai Juki terdesak ke dinding. “Mas ini tu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น