author-banner
NOVI RATNA SARI
Author

Novels by NOVI RATNA SARI

Luka di Ujung Senja

Luka di Ujung Senja

Anggi ditinggal pacarnya menikah dengan wanita lain saat dirinya sudah menyerahkan keperawanan sehingga membuat dirinya hamil dan memutuskan pergi dari rumahnya
Read
Chapter: Bab 114
Beberapa hari setelah itu, sesuatu berubah lagi—pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan baik-baik. Bukan juga pada papan emosi di rumah. Tapi pada Rafa sendiri. Ia mulai punya jeda. Jeda sebelum merespons. Jeda sebelum merasa harus melakukan sesuatu. Dan di dalam jeda itu, ia menemukan hal baru: pilihan. — Suatu siang di sekolah, Rafa sedang berjalan menuju kantin ketika ia mendengar suara ribut dari belakang gedung. Bukan teriak besar. Lebih seperti suara yang ditahan-tahan, tapi tajam. Ia berhenti. Dua anak laki-laki berdiri saling berhadapan. Salah satunya Arman. Yang satu lagi Rafa tidak terlalu kenal. “Udah gue bilang, jangan ikut campur!” kata anak itu. Arman tidak menjawab. Rahangnya tegang. Rafa berdiri cukup jauh. Dulu, ia mungkin langsung masuk, mencoba menenangkan, menjadi penengah. Sekarang, ia tetap di tempat. Mengamati. Menunggu. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia belajar: tidak semua situasi butuh dia. Beberapa detik berlalu. Gu
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 113
Hari berikutnya dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa: Rafa terlambat bangun. Bukan karena ia lupa pasang alarm, tapi karena tubuhnya benar-benar tidak ingin bangun lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur tanpa mimpi yang penuh potongan suara orang lain. Ia membuka mata perlahan, melihat cahaya matahari sudah masuk cukup jauh ke dalam kamar. “Yah,” gumamnya pelan. Di luar, suara Anggi terdengar. “Rafa, bangun. Udah jam segini.” “Udah bangun,” jawabnya, meski masih berbaring. Ia duduk, mengusap wajah, lalu menarik napas panjang. Tidak ada rasa panik. Tidak ada perasaan dikejar sesuatu. Hanya sedikit terburu, seperti anak sekolah biasa. Dan itu terasa… normal. — Di meja makan, Rendra sudah siap berangkat kerja. “Kamu telat,” katanya singkat, tapi tidak menghakimi. “Iya,” jawab Rafa sambil mengambil roti. Anggi menyodorkan segelas susu. “Nggak apa-apa sesekali.” Rafa menatapnya sebentar. “Aku nggak mimpi aneh semalam.” “Bagus,” kata Anggi. Re
Last Updated: 2026-03-27
Chapter: Bab 112
Langit masih abu-abu, tapi tidak berat. Seperti dunia sedang menarik napas panjang setelah semalam menangis pelan. Rafa bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat, menatap lantai tanpa benar-benar melihat apa-apa. Earphone yang diberikan anak itu masih tergeletak di meja kecil di sampingnya. Ia meraihnya. Tidak langsung dipakai—hanya digenggam, seperti memastikan sesuatu itu benar-benar ada. Di luar kamar, suara piring dari dapur terdengar ringan. Tidak tergesa. Tidak tegang. Rafa berdiri, membuka pintu, dan berjalan keluar. Anggi sedang menuang teh. Rendra duduk sambil membaca sesuatu di ponselnya, kacamata bertengger di ujung hidung. “Pagi,” kata Rafa. “Pagi,” jawab Anggi, menoleh dengan senyum kecil. “Hari ini jadwal jaga kamu?” Rafa mengangguk. “Iya… tapi gantian sama Dika.” “Bagus,” sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Jangan ambil semua shift lagi.” Rafa mengangkat alis. “Aku nggak pernah—” “Pernah,” potong Anggi rin
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 111
Pagi itu Rafa duduk di lantai ruang tengah dengan tas sekolah masih di punggung. Ia tidak melepas sepatu. Anggi yang baru keluar kamar langsung tahu: ada sesuatu. “Di luar dulu atau di dalam dulu?” tanyanya pelan—pertanyaan yang biasa ia pakai saat Rafa membawa cerita berat. “Di dalam,” jawab Rafa. Ia membuka tas, bukan mengeluarkan buku, tapi secarik kertas yang sudah diremas lalu dirapikan lagi. “Itu dari papan di sekolah,” katanya. “Ada yang masukin ke kotak saran.” Anggi tidak mengambil kertas itu. Ia menunggu. Rafa membacanya pelan. “Aku nulis di papan, tapi orang yang rumahnya ribut tiap malam nggak bisa napas cuma dengan nulis.” Sunyi jatuh, berat tapi jujur. Rafa menatap lantai. “Aku merasa… kita ngajarin orang ngomong, tapi nggak selalu bisa ngubah keadaan mereka.” Anggi duduk di depannya. “Itu benar.” Rafa mengangkat wajah, kaget. “Kita memang nggak bisa memperbaiki semua rumah,” lanjut Anggi lembut. “Tapi kita bisa jadi tempat orang ingat bahwa yang mereka rasa
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Bab 110
Hujan berhenti menjelang subuh, meninggalkan udara yang bersih dan bau tanah yang naik pelan dari halaman. Anggi membuka jendela dapur lebih lebar dari biasanya, membiarkan pagi masuk tanpa ditahan. Rafa sudah duduk di meja makan dengan buku catatan terbuka, tapi tidak benar-benar membaca. Pensilnya diam di satu titik, seperti pikirannya belum turun sepenuhnya dari semalam. “Masih kepikiran?” tanya Anggi lembut. Rafa mengangguk. “Tapi bukan yang bikin panik. Lebih kayak… habis gempa kecil, terus kita ngecek dinding retak atau nggak.” Anggi tersenyum. “Dan hasilnya?” “Masih berdiri,” jawab Rafa. “Cuma sekarang aku sadar kita harus rawat juga, bukan cuma pakai.” Di sekolah, efek kejadian itu belum sepenuhnya reda. Tapi suasananya berubah arah. Beberapa siswa yang sebelumnya hanya lewat kini benar-benar berhenti di depan Sudut Napas. Guru BK menambahkan kotak kecil di bawah papan—bukan untuk keluhan, tapi untuk saran dan pertanyaan. Sistem kecil mulai tumbuh di sekitar ide yang du
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 109
Pagi itu Bunyi ponsel Rafa bergetar terus-menerus di meja makan, seperti serangga terjebak di gelas. Rafa yang baru duduk dengan rambut masih basah menatap layar, lalu wajahnya berubah—bukan panik, tapi kaget yang menahan napas. “Ada apa?” tanya Anggi. Rafa memutar layar ponsel ke arahnya. Sebuah foto papan emosi baru mereka tersebar di grup sekolah—seseorang memotretnya dan mengunggahnya ke media sosial. Di bawahnya, komentar bercampur: ada yang mendukung, ada yang mengejek. “Sekolah kok jadi tempat curhat.” “Baper club.” “Cringe.” Rafa menelan ludah. “Aku nggak tahu siapa yang foto.” Rendra yang baru keluar kamar berhenti di pintu. “Kamu baik-baik?” Rafa mengangkat bahu, tapi matanya tidak setenang itu. “Aku cuma… takut yang nulis di situ jadi malu.” Anggi duduk di depannya. “Ini bukan salahmu.” “Tapi itu papan yang aku usul.” “Ide baik tetap baik, bahkan kalau ada yang belum mengerti,” kata Rendra pelan. Rafa menunduk. “Tapi rasanya kayak… tempat aman itu jadi dipajan
Last Updated: 2026-03-09
You may also like
Jerat Cinta Duda Bucin
Jerat Cinta Duda Bucin
Romansa · dtyas
178.1K views
(Bukan) Pernikahan Impian
(Bukan) Pernikahan Impian
Romansa · Yuyun Batalia
178.1K views
Si Mesum Jatuh Cinta
Si Mesum Jatuh Cinta
Romansa · Linilini
177.6K views
Baby Triplets Milik Om Tampan
Baby Triplets Milik Om Tampan
Romansa · Te Anastasia
176.2K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status