MasukRafael, dokter tampan berwajah blasteran yang berusia 32 tahun. Setia menanti kekasihnya yang sedang meraih cita-citanya di negara lain. Kirei, gadis belia berusia 20 tahun yang harus bekerja keras untuk menyambung hidup dan membiayai pengobatan mamanya. Karena satu dan lain hal membuat Rafael dan Kirei bertemu, namun diwarnai dengan kesalahpahaman membuat mereka berdua terpaksa harus menikah karena desakan dari orangtua Rafael yang terlanjur salah paham. Terdesak, Rafael menjanjikan pernikahan kontrak selama 1 tahun pada Kirei yang disetujui dengan berat hati oleh gadis itu. Akankah pernikahan mereka bertahan selama 1 tahun? Akankah benih-benih cinta muncul selama Rafael dan Kirei menjalani kehidupan pernikahan? Dan bagaimana dengan Alice, kekasih Rafael, yang tiba-tiba kembali ke Indonesia?
Lihat lebih banyak"Apa kurangnya aku selama menjadi istrimu, Mas? Katakan! Biar aku perbaiki?"
Lily bertanya dengan ekspresi datar, namun kentara sekali kecewa di matanya yang mulai berkaca-kaca."Aku mau anak perempuan, Dek! Dan kamu, sudah tidak bisa lagi memberikan aku anak," jawab Rizal dengan nada yang terdengar meremehkan, di telinga Lily.
"Jangan lupa, Mas! Dulu kamu yang memaksaku untuk melakukan steril, dengan alasan tidak ingin menambah anak lagi! Supaya aku bisa fokus kerja, dan perhatianku tidak banyak terbagi," tukas Lily dengan gigi gemeretak.
"Itu dulu, Lily! Kamu lihat Bu Wati dan Pak Ibrahim yang sudah sepuh, hidup menyendiri karena semua anaknya laki-laki. Menantunya mana ada yang mau ngurusin. Aku enggak mau hal itu terjadi pada kita nanti," alasan Rizal.
Lily menghela napas, seandainya ada Mimi Peri yang bisa mengabulkan permohonan, ia akan meminta agar suaminya diubah menjadi seekor katak, lalu tangannya akan memisahkan bagian kepala dengan badan secara paksa. Dulu dengan manisnya, ia mengatakan tidak apa-apa kedua anaknya laki-laki. Nanti juga dapat menantu perempuan.
"Alasanmu, Mas," rengut Lily sambil menghentakkan kaki melangkah menuju kamar.
Lily mematung, memandang wajahnya di cermin. Wajahnya masih tetap cantik, hanya saja kurang terurus beberapa bulan ini.
Dulu sewaktu dia masih bekerja sendiri, wajahnya begitu terawat. Rizal selalu memuji kecantikannya. Tapi perawatan yang ia dapat, bukan dari uang pemberian suaminya melainkan uang gajinya sendiri.
Gaji Rizal selama mereka menikah, jarang sampai ke tangan Lily. Ibu mertuanya yang berkuasa dalam hal itu. Alasan Rizal, karena yang belanja kebutuhan mereka satu bulan adalah ibunya, juga kedua anak mereka juga diasuh oleh ibunya juga.
Semula Lily pernah berniat berhenti bekerja, dan ingin fokus mengurus buah hatinya. Tapi Bu Erna bersikeras melarang. Lily juga pernah berinisiatif untuk mencari pengasuh, lagi-lagi Bu Erna melarang dengan alasan dia masih sanggup mengasuh kedua cucunya. Tak perlu membayar orang lain.
Selama bekerja sendiri, Lily tidak pernah mempermasalahkan, walau ia hanya dapat jatah pampers dan empat kotak susu dengan berat satu kilo untuk kedua putranya dalam satu bulan. Tentu saja kurang. Dan kekurangannya yang menutupi adalah Lily sendiri. Bagi Lily, anaknya di asuh dengan baik saja ia sudah sangat bersyukur.
Karena Lily menduduki posisi yang lumayan, di perusahaan tempatnya bekerja. Ia masih bisa menginvestasikan sisa uang gajih yang ia dapatkan, untuk membeli aset berupa dua hektar tanah di kampung halamannya. Kebetulan ada warga kampungnya kepepet dan perlu uang, sehingga menjual tanah dengan harga yang tergolong murah saat itu. Suami dan mertuanya pun mendukung hal tersebut.
Namun enam bulan yang lalu, karena pengurangan produksi, tenaga kerja juga mengalami pengurangan di perusahaan tempatnya bekerja. Lily termasuk salah satu pekerja yang harus dirumahkan.
Sejak itu pula, ia tidak ada pemasukan sama sekali. Bu Erna yang sudah terbiasa memegang gajih anaknya, juga tidak mau menyerahkan begitu saja ATM Rizal padanya. Lily masih bisa bersabar. Baginya, itu adalah resiko karena mereka masih menumpang di rumah mertua.
Tapi, permintaan Rizal untuk menikah lagi, dengan alasan yang menurutnya tak masuk akal, sungguh membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Harapannya hanya satu, Mertua. Ya ... selama ini ia selalu mengalah dan menurut pada mertua. Lily selalu mengingat pesan mendiang ibunya.
"Lily ... bila sudah menikah, jangan hanya baik pada suamimu. Berbaik-baiklah dengan orang tua dan sanak saudaranya. Apabila suatu saat dalam rumah tanggamu ada masalah, pasti salah satu dari keluarga suamimu ada yang membela."
Masih lekat dalam ingatan Lily, suara lembut mendiang ibunya menasehati sebelum ia menikah dulu. Lily tersenyum, menguatkan hatinya. Ia yakin, Bu Erna pasti akan menentang kemauan Rizal.
****
"Bu, Nesa minta mas kawinnya emas 100 gram. Mungkin sebaiknya dibatalkan saja, Bu.""Tapi, rugi Zal! Dia yang ngebet mau sama Kamu. Kerjaannya lumayan bagus. Kamu enggak perlu keluar uang buat dia tiap bulan setelah menikah, Kan?
"Tapi, uang buat beli emasnya dari mana, Bu? Emang uangku di ATM cukup?"
"Heh, kamu ini. Cerdas sedikit! Manfaatkan tuh, tanah yang kemaren di beli sama Lily. Jual aja sehektar. Lagian sudah berapa bulan ini, Lily enggak menghasilkan apa-apa, kamu semua yang keluar uang! Lily pasti nurut. Istrimu itu kan, kaya keledai."
Duuaaar!
Bagai ada petir yang menyambar, kaki Lily terasa terkunci. Ia mematung mendengar percakapan mertua dan suaminya saat melewati kamar mertua.Lily yang semula sudah siap mau ke pasar, seketika lupa niatnya untuk mengambil ponsel yang ketinggalan.
Lily mundur perlahan-lahan kembali menuju pintu, mendengar rencana busuk yang di susun oleh Sang Mertua. Padahal semula Lily menggantungkan harapan satu-satunya pada Bu Erna. Kini siapa yang akan membelanya? Ayah mertua sudah tidak ada. Arjuna? Kakak ipar satu-satunya, yang bahkan berbicara saja dengan Lily sangat terpaksa. Itu pun dengan suara dingin, bagai es batu yang baru keluar dari frezzer.
Ternyata Rizal dan ibunya setali tiga uang. Lidah mertuanya malah menebarkan bisa pada Rizal. Bisa-bisanya ia menyumbangkan ide untuk menjual tanah, yang seratus persen dibeli dengan jerih payah Lily sendiri.
"Malang nian nasibmu, Lily," gumamnya mengasihani diri sendiri.
Sepanjang jalan menuju pasar, Lily terus berpikir. Apa yang harus dia lakukan, jika Rizal benar-benar memaksa untuk menjual satu-satunya aset yang ia miliki saat ini. Lily yakin, Rizal pasti akan menurut pada perintah Ibunya.
Mengingat percakapan kedua manusia tadi, hati Lily seperti membeku. Rasa hormatnya pada mertua menghilang entah kemana. Ia baru menyadari, bahwa mertuanya dulu memaksa untuk tetap bekerja, supaya gaji Rizal utuh untuknya. Lily juga baru menyadari, bahwa Rizal memanfaatkan dirinya yang bisa menghasilkan uang sendiri.
Lily menepikan Honda Beat yang akan mengantarkannya ke pasar. Lily mengepalkan tangan dengan gigi gemeretak karena geram. Apa yang harus ia lakukan?
Menentang langsung? Pasti ia akan kalah!
Mengadu pada kakaknya? Lily tidak ingin menambah beban, untuk saudara satu-satunya yang ia miliki. Mengalah? Lemah! Membalas perlakuan suaminya dengan hal yang sama? Murahan!****
"Dek! Bagaimana kalau tanahmu di jual satu hektar. Aku perlu uang," ucap Rizal."Untuk apa, Mas?" tanya Lily sok perduli.
"Pokoknya, perlu aja, Dek! Nanti pasti kuganti, kalau sudah ada uang," janjinya pasti.
Puih!
"Kapan kamu punya uang, Mas? Selama ini uangmu, uang ibumu," cibir Lily dalam hati."Tanah itu posisinya di kampung, Mas. Jualnya enggak gampang dan harganya enggak bisa mahal. Lagian Aku enggak mau jual, kalau keperluannya enggak jelas," jawab Lily datar.
"Berapa-berapa aja lakunya, Dek! Aku benar-benar butuh uang!"
"Di tingkat kampung sana, paling-paling sehektarnya seratus dua puluh juta sekarang, Mas!"
"Itu sudah cukup," jawab Rizal bersemangat mendengar nominal yang di sebut istrinya.
"Tapi kamu butuh uang untuk apa, Mas?" tanya Lily lagi berpura-pura tidak mengerti. Rizal terdiam. Ijin untuk menikah lagi saja belum resmi ia dapatkan. Jika ia jujur, sama saja bunuh diri di depan istrinya.
"A-aku ... ma-mau nanam modal, di usaha temanku yang baru dirintis, Dek! Nanti kan, kalau sudah ada hasilnya kamu juga menikmati ...." rayu Rizal dengan gaya meyakinkan.
"Rayuan receh! Nanam modal? Modal kawin lagi," batin Lily sembari berusaha menekan emosinya yang mulai merambat ke ubun-ubun.
"Tapi sepertinya, kamu butuh modal untuk kawin lagi, Mas!" tukas Lily dengan wajah masam.
Skak mat!
Rizal tak menyangka Lily bisa mematahkan kebohongan yang susah payah ia susun dengan benar."Aku akan menuruti apa yang kamu mau, asal kamu katakan dengan jujur uangnya untuk apa?" Lily berusaha melembutkan pandangan menatap mata suaminya.
"Kamu ... benar mau menuruti kemauanku, asal aku jujur?"
Lily menganngguk.
"I-iya ... Dek! Sebenarnya ... uangnya mau ku pinjam untuk beli mas kawin, emas 100 gram," jawab Rizal tanpa perasaan.
"Baiklah! Aku akan menjual tanahnya dan mengijinkanmu menikah lagi, dengan satu syarat!"
"Apa Dek? Jangan susah-susah syaratnya ya?" suara Rizal nampak bersemangat.
"Aku sendiri yang akan memilih dan membeli mas kawinnya, seratus gram!" jawab Lily tegas.
Rizal berpikir sejenak. Tak lama senyumnya merekah. Ia mengangguk tanda menyetujui syarat dari Lily. Lily menarik napas panjang melihat tingkah Rizal, seperti sedang memasuki usia puber kedua saja. Padahal usianya masih belum sampai untuk mendapat predikat itu.
****
Butuh waktu sekitar satu bulan, untuk menemukan pembeli yang cocok dengan tanah milik Lily. Agak susah menjualnya, karena posisinya berada di kampung. Beruntung, ada yang memang sedang mencari tanah di daerah tersebut, sehingga harganya tidak terlalu jatuh. Masih bisa terjual seharga seratus sepuluh juta.Rizal tersenyum puas, melihat kebat uang hasil penjualan tanah milik Lily. Tapi ia tidak berani meminta kelebihannya. Ia hanya meminta secepatnya di belikan emas.
"Mana perhisasannya, Dek?" tanya Rizal malam harinya. Ia nampak sudah tak sabar.
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji, Mas!" jawab Lily sambil meletakkan sebuah kotak perhiasan berisi satu kalung yang sangat besar beserta liontin, dua buah gelang dengan ukuran besar juga, dan tiga buah cincin. Tak lupa ia meletakkan surat pembelian emas di dalam kotaknya.
Rizal membuka kotak, lalu meraih dan mengamati selembar kertas tersebut. Emas dua puluh tiga karat.
"Tak mengapalah. Yang penting emas, dan nilainya 100 gram," pikir Rizal.
Melihat nominal yang tertera di jumlahnya, Rizal merasa lumayan lega. Karena masih bersisa walaupun sedikit untuk Lily.
"Terima kasih, Sayang ...." ucap Rizal sambil memeluk Lily, sebelum ia membawa kotak perhiasan tersebut keluar menuju kamar ibunya.
Lily mengusap dada. Perasaan marah, kesal, benci dan muak menjadi satu. Tapi ia berusaha tetap tersenyum, saat ibu mertuanya masuk ke kamar dan mendekat.
"Terima kasih, ya ... Lily, kamu memang baik sekali. Dan selamanya akan menjadi menantuku yang paling baik," Bu Erna meraih Lily ke dalam pelukannya. Lily tak menjawab, hanya diam meresapi pujian ibu mertua untuknya yang dikatakan seperti se-ekor keledai.
Lily menutup pintu kamar rapat-rapat, setelah ibu mertuanya keluar. Ia membuka lemari yang sejak tadi terkunci rapat. Mulutnya mengembangkan senyum, sambil mengeluarkan sebuah kalung, dua gelang, dan tiga cincin emas dari dalam dompet bertuliskan 'Toko Emas Sejati', tanpa surat. Karena suratnya ia letakkan di dalam kotak emas-emasan, yang akan menjadi mas kawin suami untuk istri barunya nanti. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan surat, karena di tempatnya membeli hanya terdapat potongan sedikit bila menjual kembali tanpa surat. Apalagi dia pelanggan mereka sedari masih kerja dulu.
"Keledaimu ini memang baik, Ibu! Tapi jangan salah, baik dan licik itu bedanya kadang lebih tipis daripada selembar tisu," ucap Lily dalam hati sambil menyimpan kembali emas hasil penjualan tanahnya, di tempat yang tidak akan di sentuh oleh suaminya sementara waktu.
Mata Kirei membola terkejut, otaknya mulai memahami apa yang terjadi. “Kalian berdua udah jadian?” tanya Kirei memastikan kepada Vanya. Regan mengernyit, tidak memahami arti ucapan Kirei membuat mommy muda itu tersadar dan kembali memperbaiki pertanyaannya. “Yes, we are officially dating!” jawab Regan, jawaban yang membuat pekik kebahagiaan Kirei muncul begitu saja. Sesaat Kirei lupa kalau dirinya baru melahirkan! Dan saat merasakan sentakan rasa nyeri di bagian sensitifnya, barulah Kirei meringis membuat Rafael khawatir. “Astaga, kamu jangan bergerak mendadak seperti itu, Kirei! Gimana kalau jahitan kamu terbuka lagi?” omel Rafael setengah hati dengan raut cemas. “Sorry! Aku kaget, nggak nyangka akhirnya kedua sahabatku ini resmi berubah status menjadi sepasang kekasih!” ucap Kirei dengan wajah berbinar. Tampak jelas Kirei begitu tulus saat mengucapkan kalimat itu. Regan tersenyum kecil dan mengangguk. “Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukanku dengan Vanya di hari pernikahan k
Tiga bulan kemudian….Kirei mengernyit saat perutnya terasa diremas, sudah sejak siang tadi Kirei merasakan hal ini tapi biasanya akan mereda dengan sendirinya dan dokter Reni juga sudah memberitahu Kirei kalau itu dinamakan dengan kontraksi palsu, tapi entah kenapa kali ini Kirei merasa remasan yang dirasakannya semakin kuat.Kirei menggigit bibir, tangannya refleks terjulur, berusaha membangunkan Rafael yang asyik tertidur pulas tanpa menyadari kalau sang istri sedang begitu kewalahan merasa desakan rasa sakit pada perutnya.“Rafa, bangun!” ucap Kirei berusaha mengguncang lengan Rafael, tidak peduli meski nanti pria itu terbangun dengan kepala pusing karena Kirei membangunkannya dengan tiba-tiba dan tergesa seperti ini. Disaat rasa mulas yang sudah begitu hebat mana iya Kirei memikirkan hal seperti itu lagi!Rafael yang merasakan guncangan pada lengannya langsung bangun dengan kaget, panik ia memandang sekeliling dan menemukan Kirei s
Kirei menebah dadanya dengan kaget, tidak menduga akan mendengar berita yang begitu tragis tentang Alice malam ini.“Ya Tuhan! Kenapa Alice senekat itu, Rafa?” tanya Kirei tidak percaya.“Kita tidak akan pernah tau jalan pikiran setiap orang, Kirei. Mungkin saja Alice sudah lelah dengan hidupnya. Kamu sendiri juga sudah tau kan apa yang terjadi pada dirinya? Apa yang dilakukan oleh agencynya selama ini?”Kirei mengangguk, paham dengan apa yang dimaksud oleh Rafael. Ya, Kirei melihat semua majalah, koran dan berita online membahas mengenai kasus Alice dan juga agencynya. Kirei tidak menyangka kalau kehidupan seorang model bisa separah itu, lebih baik dirinya dulu meski harus bekerja mati-matian tapi tidak tersiksa lahir batin seperti Alice!“Apa aku boleh memberi peristirahatan terakhir yang layak untuk Alice?” tanya Rafael ragu, takut Kirei tidak setuju.“Astaga! Tentu saja boleh, Rafa! Aku juga tidak tega
Wajah Rafael memerah saat mendengar ucapan adiknya, tidak menyangka kalau aktifitas ranjangnya tertangkah basah oleh keluarganya! Apalagi tadi dirinya memang begitu buas pada Kirei! Bagaimana tidak buas kalau pada akhirnya setelah sekian lama akhirnya Kirei mengijinkan Rafael untuk menyentuhnya tanpa paksaan!“Nggak usah malu gitu. Gue nggak bakal ngomong apapun sama Kirei! Janji!”“Awas kalau ingkar!” ancam Rafael.“Iya! Tapi gue masih nggak habis pikir, kasihan Kirei ya? Udah badannya kecil mungil, lagi hamil besar dan masih digempur abis-abisan sama lo!” kekeh Reynard.“Berisik!” sungut Rafael dengan wajah malu, tidak tau harus menjawab apalagi jika Reynard berbicara mengenai keganasannya saat bercinta dengan Kirei.“Tapi apa Kirei udah setuju buat menikah sama lo lagi?”“Of course! Gue akan langsung urus pernikahan gue sama Kirei secepatnya.”“Wow, congr
Alice hanya bisa memaki kesal saat dirinya digelandang begitu saja. Alice tidak menyangka kalau pada akhirnya dirinya akan ditemukan. Dan kini dirinya harus berada di dalam satu rumah yang tidak dikenalnya.Alice memicingkan mata saat pintu terbuka, sinar matahari yang masuk membuatnya sila
Kirei merasa hatinya sesak, akhirnya setelah tiga tahun lebih dirinya kembali ke Jakarta, kembali ke negara kelahirannya. Kirei pikir dirinya tidak akan pernah kembali kesini tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Kirei mengikuti langkah Rafael tanpa mengucapkan sepatah katapun. Masih terhanyut denga
Reynard yang sedang pusing tujuh keliling jadi semakin pusing saat mendengar ocehan kakaknya. Bulan ini sudah harus selesai? Rafael pikir mengurus kasus Alice segampang itu? Dan Reynard semakin dongkol saat dirinya belum sempat menjawab namun Rafael sudah menutup sambungan telepon! Kurang a
Rafael membelai rambut Kirei yang basah akibat keringat. Bukti kalau wanitanya lelah setelah percintaan mereka yang begitu menggebu-gebu. Saat ini Kirei masih asyik bersandar nyaman pada dada bidang Rafael, hal yang sudah begitu lama tidak pernah dilakukannya. Jujur, Kirei sangat merindukan momen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak