Share

Lexa 2

Saat dalam perjalan pulang di dalam mobil Marcus, tidak ada yang memulai pembicaraan. Semuanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai ponsel Lexa berbunyi nyaring.

Kring! Kring!

Mommy calling….

“Siapa yang nelpon?”

“Mommy.” Lexa segera menggeser icon hijau untuk menerima panggilan Alyicia.

“Hi, honey. Kamu lagi aa dimana?”

“Hi, mom. Alex baru jalan pulang sama Marcus dari kampus. Ada apa mom?”

“Kamu nginep di rumah Marcus saja ya, karena mendadak mommy sama daddy harus pergi urusan bisnis selama seminggu.” Lexa yang mendengar ucapan Alyicia merasa senang karena sebenarnya Lexa gak mau pisah sama Marcus. Tanpa sadar sambil senyum-senyum sendiri.

“Emang mommy mau pergi kemana?”

“Mommy sama daddy ma uke Swiss karena teman bisnis daddy ngadain acara ulang taun perusahaan. Daddy merasa gak enak kalo gak hadir.”

Swiss! Lexa sedikit kecewa gak bisa ikut karena kegiatan kampus sudah dimulai dengan berat hati untuk sementara waktu Lexa harus sendiri, selama seminggu pertama menyandang status baru sebagai mahasiswa.

“Yaudah deh Alex nginep di rumah Marcus. Bye mommy, safe flight.”

“Bye honey, take care okay.”

Tut.

“So? Kamu disuruh sama tante Alyicia buat nginep di rumah aku?” Marcus pura-pura bodoh saja sebenarnya. Walaupun dalam hati bersorak riang karena bisa ….

“Iya. Mommy sama daddy pergi seminggu.” Lexa jawab lesu karena awal kuliah dia harus sendiri gak ada yang bertanya tentang kegiatan kampus. Kasihan sekali.

Lexa tertidur selama perjalanan karena merasa letih, hingga sampai di rumah Marcus. Marcus yang tidak tega membangunkan Lexa, akhirnya mengangkat tubuh mungil Lexa masuk ke dalam rumah nya dan membaringkan Lexa di kamar Marcus.

Setelah mebaringkan Lexa di kamar, Marcus berjalan menuju ruang TV karena disana ada Fanny. “Lexa masih tidur?”

“Masih mom.”

“Yasudah kebetulan pakaiannya Lexa sudah dianterin sama supirnya jadi dia gak perlu ke rumah buat ambil keperluan.” Jelas Fanny.

“Thanks mom.” Marcus memutuskan untuk Kembali ke kamarnya untuk mandi karena badannya terasa lengket. Samapi di depan pintu kamar, Marcus membuka pintunya secara perlahan melihat Lexa masih tidur pulas meringkuk dibawah selimut. Marcus tak kuas menahan senyumnya. Ternyata ada yang lebih menggemaskan. Lexa yang terkenal tomboy dan apa adanya, bisa menggemaskan Ketika tidur. Marcus mengurungkan niatnya untuk mandi dan memilih untuk ikutan tidur di sebelah Lexa masuk ke dalam satu selimut. Marcus menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah Lexa. Manis. Batin Marcus. Sambil sesekali memberikan kecupan ringan di kening Lexa.

Lexa yang merasa terganggu waktu tidurnya, menggeliat dan perlahan kedua matanya terbuka. Pendangan pertama yang dilihat adalah wajah Marcus ada di depannya. “Hey.. Tidurmu nyenyak?”

“Hm… lumayan.” Lexa mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. “Ini dimana?”

Marcus tersenyum simpul sambil menarik Lexa ke dalam dekapan Marcus. “Ini di kamarku sayang. Sekarang kamu mandi ya ini udah mau sore.”

“Kamarmu? Kenapa aku disini?”

Sepertinya Lexa lupa kalau dia akan menginap di rumah Marcus sampai minggu depan atau lebih tepatnya sampai acara pengenalan kampus selesai.

“Kan kamu bakal nginap di rumahku sayang.” Jawab Marcus gemas karena pertanyaan Lexa.

“Astaga. Aku lupa.”

“Sekarang kamu mandi, barang-barang kamu sudah dibawa sama Bang Birin-supir Lexa.”

Bukannya Lexa beranjak justru semakin mengeratkan pelukannya di dada Marcus. “Kenapa hm?”

“Begini dulu ya. Aku masih pengen peluk.” Astaga apakah setiap bangun tidur Lexa akan seperti ini? Marcus bertanya-tanya dalam hati. “Yasudah sebentar saja, habis ini mandi kemudian kita pergi ke toko buku buat beli perlengkapan kamu besok. Ingat, besok acaranya sudah dimulai.”

“Iya bawel.”

“Kok bawel?” Ya ampun ini pertama kalinya seorang Marcus yang dulunya terkenal dingin di sekolah ada yang memanggilnya bawel.

“Iya kamu lebih bawel dari papa mama aku sendiri.” Jawab Lexa sebelum mencebik. Dasar pasangan yang menggemaskan.

Setelah selesai acara pelukan, Lexa beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri sedangkan Marcus menunggu di ruang keluarga sambil memainkan ponsel untuk mengurangi rasa bosan.

Beberapa menit kemudian suara derap Langkah kaki dari tangga terdengar, Lexa telah selesai dari ritual mandi.

Marcus beranjak dari tempat duduknya ke kamar untuk mandi. “Kamu ngapain?” Lexa lihat Marcus yang berjalan kea rah dirinya.

“Mau mandi sayang.”

“Lah kamu belum mandi?”

“Belum sayang. Kan aku sibuk bangunin kamu yang susah bangun.” Terbitlah senyuman jahil dari wajah Marcus. Lexa langsung melotot tidak terima dengan ucapan Marcus.

“Aku gak susah ya kalo di bangunin! Dasar bawel.” Lexa mukul punggung lebar Marcus yang langsung disambut dengan ringisan.

“Sakit sayang.” Wajah Marcus langsung memelas.

“I don’t care.” Lexa pergi ke ruang TV dimana disitu ada Fanny-ibu Marcus. Sedangkan Marcus hanya terkekeh sambil menggeleng pelan, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.

“Halo tante Fanny.” Sapa Lexa Ketika sampai di ruang TV.

“Hallo sayang, bagaimana tidurmu?”

“Nyenyak tante.”

“Kamu sudah makan? Tante barusan selesai masak pasta.”

“Gak usah tante gapapa. Tadi siang aku sudah makan di kantin kampus, ini juga mau pergi sebentar buat persiapan besok.”

“Pergi sama Marcus kan?”

“Iya tante.”

“Yasudah, temani Marcus ya. Maafin Marcus kalo dia suka jahil sama kamu. Karena sebelum kalian bertemu, Marcus hampir gak pernah senyum.” Lexa yang dibuat bingung mau menanyakan apa maksud Fanny bicarakan sebelum suara Marcus menginterupsi pembicaraan mereka.

“Kalian bicara apa?”

“Gapapa sayang yasudah kalian berangkat saja, harus pulang sebelum jam makan malam ya.”

Lexa dan Marcus pamit pergi dan memasuki mobil Marcus kemudian pergi meninggalkan perkarangan rumah mereka.

Tidak butuh waktu lama, sekarang mereka sedang berada di toko buku untuk mencari perlengkapan Lexa untuk acara perkenalan kampus. Keduanya tampak Bahagia di sela-sela mencari bahan sampai sekarang mereka tiba di rak buku novel fiksi. Salah satu hobi Lexa tentunya. Marcus memandangi Lexa yang sedang fokus baca synopsis novel yang menarik, merasa hangat hatinya karena mereka berdua punya hobi yang sama yaitu membaca buku walaupun bidangnya berbeda fiksi dan bisnis.

Lexa yang sedang asik membaca sambil berpikir keras mana yang akan dia beli karena semuanya menarik untuk dibaca. Saking terlalu kerasnya berpikir, sampai lamunannya hilang karena ada yang mendekapnya dari belakang. Marcus pelakunya.

“Kenapa melamun sayang?”

“Ah.. gapapa kok. Aku cuman bingung mau beli yang mana, semuanya menarik.”

“Ambil aja semuanya kenapa harus bingung.”

“Aku takut nanti keteteran sama kuliah kalo beli banyak novel.” Tanpa menggubris ucapan Lexa, Marcus langsung mengambil semua novel yang ada di tangan Lexa dan masuk ke keranjang langsung menggiring mereka menuju kasir untuk bayar.

“Bahan-bahannya sudah lengkap semua kan?”

“Sudah.” Lexa tidak habis pikir, kenapa Marcus mau membelikan semua novel yang dia ingin beli, padahal Lexa sendiri sudah bertekad kalo dia akan giat belajar selama kuliah supaya cepat lulus sarjana. Tapi baru saja tekad itu dibangun, sudah ada godaan lagi yang muncul.

“Ada lagi yang mau di datangi gak?” tanya Marcus setelah mereka keluar dari toko buku. Lexa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu, mereka memutuskan untuk Kembali ke dalam mobil.

Saat masuk ke dalam mobil, Marcus langsung menarik Lexa ke dalam pangkuannya dan menyerang Lexa yang menggebu sekaligus bergairah. Saling mencecap bibir, dan bertukar saliva. Tangan Marcus tidak tinggal diam, tangan kiri meremas pelan bokong sintal Lexa sedangkan tangan kanannya meremas salah satu gundukan kenyal Lexa yang dibarengi dengan lenguhan dan desahan yang lolos dari mulut Lexa. Keduanya terhanyut dalam cumbuan yang begitu menggairahkan, sampai tangan Marcus melesak membuka kemeja Lexa dengan tergesa-gesa, mengangkat bra hitam Lexa sampai menunjukkan gundukan kembar yang montok pas ditangan lebar Marcus.

Marcus meneguk kasar ludahnya Ketika melihat gundukan milik Lexa, juniornya langsung terbangun dan menatap intens ke manik mata Lexa. “May i?”

Lexa hanya mengangguk pasrah. Marcus langsung meraup putting yang sudah tegang minta dikulum. Untungnya tempat parkir yang mobil mereka tempati sepi, dan kaca film yang gelap sehingga bisa leluasa untuk bercumbu.

Lexa yang berada di pangkuan Marcus hanya mengeluarkan desahan erotis, kepalanya semakin pening akibat perlakuan Marcus. Marcus menghentikan cumbuan di gundukan Lexa, beralih ke leher jenjang Lexa menjilat, mencium, dan menghisap. Ketika Marcus mulai menghisap leher putih Lexa, Lexa langsung mendorong Marcus. “Jangan disini, nanti keliatan.”

Marcus mengangguk dan beralih ke belahan payudara Lexa untuk menghisap sampai menimbulkan ruam kemerahan hingga ungu di belahan payudara Lexa, yang hanya bisa melenguh.

Sebelum melanjutkan cumbuannya, terdengar bunyi yang tidak enak diantara tubuh mereka. Lexa hanya menunduk malu. “Maaf .. aku lapar…”

Marcus terkekeh pelan gemas dengan tingkah malu-malu Lexa. Ingin sekali Marcus mencubit pipi Lexa tapi takut dapat bogeman dari Lexa yang oerlu diingat kalau Lexa sempat belajar bela diri. Bayangin saja sudah bikin kulitnya merinding.

Mobil mereka sudah sampai di tempat restoran ramen yang berada di Kawasan Gading Serpong. Restoran nya cukup apik dan terdapat bar juga dikarenakan restoran ini juga menjual minuman alcohol seperti sake.

“Kamu ingin makan apa?” Marcus mulai percakapan setelah seorang pelayan memberikan buku menu kepada mereka berdua.

“Aku ingin ramen BBQ Pork, minyaknya sedikit lebih banyak, dan aku minta beef yakiniku.” Pelayan mulai menulis pesanan yang dibacakan Lexa.

“Saya samakan dengan dia ramennya.”

“Aku ingin pesan sake.” Marcus langsung melotot apa yang diinginkan Lexa.

“Sekali saja ya? Please…” Lexa memohon dan jangan lupa dengan puppy eyes nya. Yang Marcus bisa lakukan hanya dengan helaan nafas dan mengangguk lemah. Kalo gak diturutin bisa gawat. Batin Marcus.

Akhirnya Lexa pesan minuman sake dengan syarat hanya satu kaleng saja tidak boleh lebih. Karena waktu masih sore hari untuk minum alcohol. Begitu pula dengan Marcus yang hanya pesan satu beer kaleng dengan kadar alcohol yang kecil. Perlu diingat Marcus salah satu orang yang termasuk kuat minum, perlu 4 botol wine untuk membuat kepala Marcus yang mulai pusing.

Setelah menikmati makan sore, mereka tiba di pekarangan rumah Marcus yang sudah ditunggu Fanny-ibu Marcus di teras rumah.

“Malam tante.”

“Malam sayang, yuk taro barangnya di ruang TV dulu kita langsung makan aja, abis itu baru mandi okay?”

“Iya tante.”

“Sayang tadi kan kita baru aja makan. Kamu udah lapar lagi emangnya?” Marcus tentu saja bingung belum ada satu jam mereka makan Lexa sudah mau makan lagi. Astaga itu perut mengalahkan porsi kuli sepertinya. Batin Marcus.

Lexa hanya nyengir dengan tangan bentuk V, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Marcus. “Loh kalian sebelumnya udah makan.”

“Sudah ma, waktu keluar dari toko buku perut lexa bunyi kenceng banget jadi kita mampir makan dulu.” Marcus menjawab sambil terkikik dan dibalas delikan tajam oleh Lexa. Dasar ember. Batin Lexa.

Pagi Kembali menjelang, Lexa tengah bersiap-siap untuk hari pertama perkenalan kampus. Saat dirinya sudah rapi dengan handbag yang dibawa di tangan kanannya, Lexa menekan tuas pintu kamarnya dan bersamaan dengan Marcus yang baru saja keluar dari kamarnya dengan jas almamater, Lexa begitu terpesona dengan Marcus yang kelihatan jauh lebih tampan dengan nametag panitia pekenalan kampus yang mengalungi lehernya.

Marcus yang merasa diperhatikan, menghampiri Lexa mencuri satu kecupan. “Morning sayang.” Sapa Marcus.

Semburat merah muncul di pipi Lexa dan malu. “Morning too.”

Lexa dan Marcus jalan bergandeng tangan menuju lantai dasar untuk sarapan bersama. Setibanya di ruang makan, Fanny dan Dirk sudah berkumpul lebih dulu di meja makan. “Morning dad, morning mom.” Sapa Marcus sambil mencium pipi kedua orang tuanya.

“Morning Marc.” Sapa Fanny dan Dirk bersamaan.

“Pagi tante, pagi om.”

“Morning honey.” Sapa Fanny dan Dirk bersamaan pula.

“Mulai sekarang, Lexa cukup manggil dad sama mom juga ya. Mommy sudah anggap Lexa anak mommy juga.” Jawab Fanny dengan senyuman hangat.

“I-iya m-mom.” Jawab Lexa malu.

“Jangan sungkan sama kita Lexa, daddy juga senang kalau Lexa sering menginap disini. Sering-seringlah main ke rumah.” Dirk tahu jika Lexa belum terbiasa manggil mereka dengan sebutan yang sama seperti orang tua Lexa sendiri. Tapi Dirk juga tidak keberatan jika menganggap Lexa sebagai putri mereka juga. Mengingat kedua orang tua Lexa dan Marcus juga berhubungan dekat layaknya saudara. Mereka mulai acara sarapan yang dengan suasana hening.

Satu jam berlalu, Lexa dan Marcus sudah tiba di kampus dan mulai kegiatan perkenalan kampus. Marcus yang berkumpul dengan panitia lain, sedangkan Lexa masuk ke dalam kelas. Mengingat Lexa juga belum sempat berkenalan dengan teman-teman sekelas yang lain, maka Lexa mulai memberanikan diri untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.

“Ha-hai… bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanya Lexa gugup Ketika ia mencoba dekat dengan beberapa gerombolan orang yang ada di dekatnya.

“Hai! Gabunglah dengan kami! Gua Selin. Semoga kita cepat akrab.”

“Halo Selin..Gua Lexa, salam kenal juga.”

“Hola, gua Cally. Semoga cepat akrab ya.” Well, Lexa lega karena ia bisa bergaul dengan teman-teman baru yang bisa langsung lihat first impression Lexa teman barunya. Selain Selin dengan tingkah lumayan heboh dan Cally yang terbuka dengan teman baru, ada juga beberapa orang lain yang berkenalan dengannya. Anna, dengan sikap yang lumayan pendiam tapi bersikap manly (seperti cowok) dengan rambut pendek seleher. Letty, yang suka bergosip dengan Selin. Robin, miskin ekspresi bisa dibilang wajah datar dan paling pendiam dari semuanya. Dan terakhir Albert, terlihat yang paling jahil dari semuanya. Dan yang terakhir Lauren, yang paling manis menurut Lexa dari semuanya dengan mulut pedas.

Selagi berbincang dan mendengar humor yang dilontarkan oleh Albert dan Letty, dosen pendamping datang ke kelas mereka yang menandakan haru perkenalan kampus akan dimulai.

Lexa hanya menatap bosan dengan apa yang disampaikan oleh dosen pendamping, lamunannya teralihkan dengan ponselnya yang bergetar singkat menandakan ada pesan yang masuk. Lexa buka ponselnya secara diam-diam. Membaca pesan singkat dari Marcus.

Keluarlah sebentar. Aku menunggumu.

-Marcus-

Lexa meminta ijin pada dosen pendamping untuk ke toilet sebentar. Setelah mendapatkan ijin, Lexa langsung jalan keluar dan mencari dimana keberadaan Marcus. Sampai di Lorong, Lexa melihat Marcus duduk santai di kursi panjang sambil membawa dua botol air mineral.

“Ada apa?” tanya Lexa setelah ia mengambil tempat duduk di sebelah Marcus.

Marcus menoleh ke arah Lexa yang baru saja menjatuhkan pantatnya di kursi langsung menarik tengkuk Lexa untuk mencium bibir ranum yang sudah menjadi candu nya beberapa bulan ini. “Nothing.. I miss you bunny.” Kata Marcus sambil menyerukan wajahnya di ceruk leher Lexa seketika bulu kuduk Lexa meremang karena terpaan nafas hangat Marcus.

“Astaga Marcus, jam makan siang nanti kita juga akan ketemu.” Lexa mendengus kesal. Kenapa Marcus jadi manja seperti ini sih. Batin Lexa.

Sudah sepuluh menit mereka berpelukan seperti hari terakhir mereka bertemu. Dan Lexa mulai buka pembicaraan lagi. “Aku harus Kembali ke kelas, bisa kena hukuman kalau aku kabur.”

Dengan tidak rela, Marcus mengurai pelukannya dan memberi kecupan di bibir Lexa. “Baiklah, sampai ketemu siang nanti. Jangan melamun di kelas, daritadi aku perhatiin kamu loh ya.” Kata Marcus sambil memberikan air mineral yang baru saja ia beli di kantin. “Bawalah, biar gak melamun lagi di kelas.”

“Hehehe. Tidak lagi bawel.” Lexa memutuskan untuk Kembali ke kelas, namun sebelum sampai di pintu kelas, Lexa dihalangi oleh beberapa senior yang menatapnya jengkel.

“Mau apa kalian?” tanya Lexa datar karena ia sendiri tidak takut dengan kelakuan senior yang ada di depannya, perlu diingat Lexa sempat belajar bela diri saat masih sekolah menengah.

“Seharusnya gua yang tanya sama lo, lo mau apa dekat-dekat sama Marcus, hah!?” Tanya senior dengan nama Nesa di name tag panitia. Lexa akan mengingat nama itu. Oh ternyata mereka fans fanatic Marcus. Jawab Lexa dalam hati.

“Maksud lo apa ya? Gua gak paham?” tanya Lexa berani, untuk apa dia takut dengan geng cewek yang ada di depannya.

“Heh, anak kecil. Lo gak ada sopan santunnya ya sama kakak tingkat, gua ini senior lo!” Jawab senior yang lain dengan nama Amanda, sambil mendorong bahu Lexa yang tetap bergeming di tempat. Namun Lexa tetap tidak takut dengan ancaman mereka, dengan wajah datar dengan tatapan yang semakin tajam.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status