5. Kecemburuan Elena

Walaupun tahu jika saat ini dirinya harus segera mandi dan bersiap untuk pergi kuliah, mengingat jika dirinya memiliki kelas di pagi harim Tessa benar-benar terlihat enggan untuk beranjak dari ranjangnya yang nyaman. Rasanya, Tessa ingin tetap di sana seharian. Selain karena merasa lelah karena ia bekerja hingga cukup malam, alasan lainnya adalah dirinya sudah mendapatkan pesan beruntun dari seseorang yang sangat tidak ingin Tessa temui dalam waktu dekat, atau lebih tepatnya tidak ingin Tessa temui selamanya. Siapa lagi jika bukan Aio. Rasanya Tessa benar-benar ingin memukul wajah tampan yang selalu berekspresi menyebalkan itu.

Meskipun masih merasa enggan, pada akhirnya Tessa beranjak untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kuliah. Karena Tessa tidak berias seperti gadis yang lainnya, Tessa tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk bersiap. Ia hanya memerlukan pelembab bibir, dan bedak tabur untuk merias wajahnya dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan rapi. Setelah itu, Tessa pun segera turun dari kamarnya dan berpamitan untuk pergi kuliah. Tentu saja, Galih meminta Tessa untuk sarapan terlebih dahulu, tetapi Tessa menolak dengan alasan jika dirinya akan terlambat. Mendengar hal itu, Galih pun berniat untuk meninggalkan sarapannya dan mengantarkan putrinya itu kuliah.

Namun Tessa menggeleng sembari melirik pada ibu dan kakak tirinya yang juga tengah menikmati sarapan. “Tidak perlu, Ayah. Tessa akan pergi bersama dengan Haikal,” ucap Tessa membuat Galih kembali duduk di tempatnya.

Galih mengenal Haikal, dan rasanya tidak perlu cemas jika Tessa pergi bersama dengannya. Haikal berasal dari keluarga baik-baik, dan Galih juga cukup mengenal kedua orang tuanya karena sejak kecil Tessa dan Haikal berada di sekolah yang sama dan memiliki lingkar pertemanan yang sama. Galih pun mengangguk. “Pergilah, hati-hati di jalan,” ucap Galik membuat Tessa tersenyum manis.

“Iya, Ayah. Tessa pergi dulu,” ucap Tessa pergi setelah mencium tangan kedua orang tuanya dan sang kakak yang tampak enggan bersentuhan dengan Tessa. Elena memang tidak pernah mau bersentuhan dengan Tessa, karena ia menganggap Tessa sangat jelek. Namun karena ada Galih, Elena harus sebisa mungkin berperan sebagai saudari yang baik. Untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, Elena memang sudah terbiasa bersandiwara dan melakukan berbagai hal licik lainnya.

Sementara itu, Tessa sudah berada di depan gerbang kediaman mewahnya dan tak lama sebuah mobil mewah tiba di hadapan Tessa. Tanpa membuang waktu, Tessa pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di samping pria tampan yang tersenyum manis melihat kedatangan Tessa. Hal itu membuat Tessa mengernyit dan berkata, “Jangan tersenyum seperti itu, Om seperti orang mesum.”

Benar, pria yang berada di hadapan Tessa tak lain adalah Aio. Mendengar apa yang dikatakan oleh Tessa, Aio tersentak. Sementara Aldi yang tengah mengemudikan mobil menahan diri untuk tidak tertawa. Sepertinya, Tessa adalah perempuan pertama yang mengatakan hal itu pada Aio. Tentu saja itu terasa menarik bagi Aldi, mengingat ia sudah menyaksikan ratusan wanita yang silih berganti datang untuk menggoda Aio, tetapi belum pernah sekali pun dirinya melihat yang berani mencela Aio seperti ini.

Meskipun dicela seperti itu, Aio sama sekali tidak marah. Ia malah tersenyum dan berkata, “Aku tidak mesum. Aku hanya merasa senang karena pada akhirnya aku bisa mengantarkanmu pergi ke kampus.”

Setelah rahasia Tessa ketahuan oleh Aio, pada akhirnya Tessa tidak bisa menghindar untuk membuat kesepakatan dengan Aio. Tessa akan menuruti keinginan Aio selama itu masih dalam batas wajar, dan Aio tidak boleh mengatakan apa pun perihal Tessa yang ternyata bekerna di klinik hewan pada Galih. Tessa memang bekerja di klinik tersebut untuk mendapatkan uang lebih. Karena ternyata selama ini, ibu tirinya tidak memberikan semua uang bulanan yang diberikan oleh Galih untuknya. Tessa yang kekurangan uang pada akhirnya terpaksa bekerja di sela-sela kesibukan kuliahnya.

Meskipun Tessa tidak mengatakannya, tetapi Aio bisa mengetahui hal tersebut dengan detail. Tentu saja, karena Aio adalah seseorang yang memiliki kekuasaan dan uang. Selain itu, Aio memiliki otak cerdas, ia juga memiliki dua adik yang sama cerdasnya. Membaca aliran keuangan keluarga Heidi adalah hal yang sangat mudah bagi Aio. Karena itulah, Aio sadar jika Tessa benar-benar hidup dalam kesulitan, walaupun dirinya tinggal di tengah-tengah kemewahan serta berada di bawah perlindungan ayah kandungnya. Sebab ini pula, Aio bisa menilai jika perkataan Galih yang menyebut dirinya sangat menyayangi Tessa, hanyalah omong kosong. Jika benar Galih menyayangi Tessa, ia pasti sudah menyadari keganjilan ini. Pada dasarnya, Galih memang sudah tidak memperhatikan Tessa.

“Dasar aneh,” gumam Tessa. Ia memang menganggap Aio sebagai orang aneh. Karena ternyata setelah membuat kesepakatan, Aio hanya ingin mengantar jemput Tessa kuliah dan setelah bekerja. Selain itu sesekali makan bersama. Tessa kira Aio pada awalnya akan membuatnya kesulitan. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Aio ini menguntungkan bagi Tessa karena dirinya bisa menghemat  ongkos. Namun, hal ini akan berbahaya jika diketahui oleh Elena yang jelas-jelas menyukai Aio.

“Aldi, kita ke restoran yang biasanya dulu,” ucap Aio membuat Tessa tersadar.

Tessa pun berkata, “Om, kalau mampir ke resto dulu, Tessa bakal terlambat.”

Aio menoleh dengan kening mengernyit, sebelum tersenyum tipis. “Berbohong adalah kebiasaan buruk, Tessa. Kebohongan yang satu, akan mengundang kebohongan yang lainnya. Jangan biasakan untuk berbohong, apalagi kepadaku. Kau masih memiliki waktu satu jam untuk kelas pertamamu, kita masih memiliki waktu luang untuk sarapan terlebih dahulu,” ucap Aio membuat Tessa terkejut.

“Kenapa Om bisa tau jadwal kuliahku?” tanya Tessa kesal.

“Tentu saja aku harus tau, agar aku bisa menjemputmu tepat waktu. Aku tidak akan melakukannya setenga-setengah, Tessa,” ucap Aio membuat Tessa menahan diri untuk menghela napas. Tessa benar-benar tidak mengerti mengapa Aio melakukan semua ini.

***

“Kita makan mie ayam di dekat kampus dulu?” tanya Haikal pada Tessa yang tengah membereskan bukunya.

Tessa yang mendapatkan pertanyaan itu pun menggeleng. “Tidak bisa, aku harus segera pulang,” ucap Tessa membuat Haikal mengernyitkan keningnya.

“Apa ada masalah?” tanya Haikal.

Karena sudah berteman sejak kecil, Haikal sebenarnya sudah mengenal Tessa dengan baik. Keduanya bahkan berbagi rahasia, dan menceritakan hal yang membuat mereka terganggu. Meskipun Tessa tidak pernah menceritakannya secara detail, tetapi Haikal tahu jika Tessa tidak memiliki hubungan baik dengan ibu dan kakak tirinya. Selain Tessa merasa jika Vania telah merebut posisi ibunya, Tessa juga tidak bisa merasa nyaman pada perempuan itu. Haikal sendiri tidak menyukai Vania dan Elena karena berbagai alasan. Salah satunya karena kedua wanita itu penuh kepalsuan. Meskipun, Haikal tidak mengetahui perlakuan buruk keduanya yang sebagian besar memang Tessa sembunyikan dari Haikal.

“Tidak ada, semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin pulang dan istirahat lebih cepat. Aku terlalu lelah karena beberapa hari ini harus begadang untuk menyelesaikan tugasku,” ucap Tessa sembari melangkah meninggalkan ruangan kelas bersama Haikal.

“Baiklah, kalau begitu mau kuantar pulang? Tapi sepertinya kita harus menggunakan jalan memutar karena tadi pagi saja aku tidak bisa melewati jalan biasanya, sepertinya ada perbaikan jalan,” tanya Haikal.

Namun Tessa kembali menolak. “Tidak perlu. Itu akan terlalu melelahkan untukmu karena harus berputar-putar. Sampai jumpa besok, dah!” seru Tessa lalu melenggang meninggalkan area kampusnya.

Ternyata mobil Aio sudah menunggu Tessa, tetapi agak jauh dari gerbang masuk sesuai dengan yang diminta oleh Tessa. Aio kembali menyambut Tessa dengan sebuah senyuman yang membuat hati Tessa merasa tidak nyaman. Jantung Tessa selalu bekerja ekstra saat dirinya melihat senyuman Aio yang terlihat begitu lembut dan penuh ketulusan itu. “Hari ini tidak bekerja di klinik bukan?” tanya Aio.

“Tidak, Om. Tessa langsung pulang,” jawab Tessa membuat Aldi mengemudikan mobilnya ke arah kediaman Heidi.

“Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?” tanya Aio membuat Tessa terdiam. Entah sudah berapa lama Tessa tidak pernah mendengar pertanyaan seperti itu lagi. Setelah ibunya meninggal, rasanya sudah tidak ada orang yang menanyakan hal itu padanya.

Tessa pun memaksakan senyumannya. Ia menjawab, “Cukup melelahkan, karena itulah Tessa ingin segera pulang dan beristirahat.”

Merasakan suasana hati Tessa yang memburuk, Aio pun tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi. Hingga tiba di depan kediaman Heidi, Aio tidak menanyakan apa pun lagi. Tessa juga tidak mengatakan apa pun, ia baru berkata saat dirinya mengucapkan terima kasih pada Aio yang sudah mengantarkannya. Setelah Tessa turun, Aio pun berkata, “Cari informasi detail mengenai istri dan putri tiri dari Galih.”

Aldi yang mendengarnya menjawab, “Baik, Tuan.”

Mobil itu pun melaju pergi, dan Tessa memasuki area rumahnya dengan lelah. Tessa tidak menyadari jika kepulangannya yang diantar oleh Aior ternyata tertangkap basah oleh Elena yang berada di balkon kamarnya. Model cantik itu mengepalkan kedua tangannya dan berkata, “Kau berani mendekati pria yang kusukai? Maka bersiaplah, akan kuberi kau pelajaran, Tessa.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status