Merajut Asa
Merajut Asa
Author: Kaia Karnika
1. Kesempurnaan

Tepuk tangan meriah menggema di ballroom hotel The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, bersamaan dengan tampilnya seorang wanita muda bertubuh semampai, berkulit kuning langsat, dan berwajah menawan di podium. Setelah moderator acara mempersilakannya, perempuan itu mulai membawakan materi bertajuk "Effective Communication in Digital Era" bagi jajaran pimpinan puncak dari berbagai perusahaan di Indonesia.

Tutur kata sistematis, materi bernas¹, bahasa tubuh penuh keyakinan, sisipan humor cerdas, serta penampilan memesona dari perempuan itu menjadi sebuah harmoni yang berhasil menghipnotis para hadirin. Jovita Hengkara, adalah sosok pembicara publik yang selalu tampil tanpa cela di usianya yang masih muda.

Dua orang panitia penyelenggara yang duduk di dekat pintu masuk ballrom berbisik pada Hilda dan Maya, yunior Jovita yang selalu mengikuti tiap kali perempuan itu tampil guna menyerap semua pembelajaran.

"Melihat Bu Jovita itu antara kagum dan iri, ya," bisik Wati, salah satu panitia bertumbuh gempal.

"Iya, pintar, cantik, ramah, dan jago banget bicara di depan orang banyak," imbuh Sri, panitia lain yang berkulit sawo matang.

"Bu Jovita memang luar biasa, Bu. Salah satu aset perusahaan yang paling berharga," jawab Hilda. Ia sudah berulang kali mendengar pujian semacam itu dari mulut orang-orang yang terpukau dengan penampilan Jovita. Sanjungan yang semakin membuat nyali Hilda dan Maya ciut untuk dapat mengikuti sepak terjang Jovita.

"Dia sudah menikah?" tanya Wati penasaran.

"Sudah, Bu. Sudah punya satu putri umurnya sekitar 4 tahun," sahut Maya.

"Berapa umurnya Bu Jovita?" Wati kian dilanda rasa ingin tahu.

"Kalau tidak salah tahun ini 33 tahun." Maya berusaha mengingat tahun kelahiran seniornya itu.

"Ya ampun, kok tidak kelihatan, masih seperti kepala 2." Wati semakin iri.

"Suaminya pasti ganteng banget," terka Sri. "Bu Jovita cakep begitu, pasti dapatnya juga pria tampan."

"Cakep banget, Bu. Anak pejabat terkenal, Satria Dharmawan," sahut Hilda menyebut nama salah satu pejabat penting di negara ini yang cukup terkenal karena menduduki jabatan strategis di pemerintahan.

"Wah ... ya pasti ganteng. Pak Satria sudah tua saja masih terlihat tampan, istrinya juga cantik banget kan, ya?" timpal Sri.

Hilda dan Maya mengangguk bersamaan.

"Bu Jovita juga dari keluarga berada seperti suaminya?" Wati kembali menggali kehidupan perempuan yang sedang beraksi di panggung.

Maya mengangguk, lalu menjelaskan, "Bapaknya Bu Jovita juga pengusaha. Irwan Hengkara, salah satu pengusaha pribumi yang sukses."

"Kadang kalau lihat orang macam Bu Jovita, jadi merasa Tuhan tidak adil. Semua dikasih ke dia, aku cuma disisain sedikit," keluh Wati bergurau yang disambut tawa kecil dari tiga orang lainnya.

Setelah satu jam memaparkan materi dan dilanjutkan dengan satu jam tanya jawab yang penuh dengan antusiasme dari hadirin, akhirnya sesi Jovita berakhir. Tepuk tangan meriah kembali menggema memenuhi penjuru ballroom berbarengan dengan turunnya Jovita dari panggung. Beberapa peserta seminar menghampiri, sekadar bertukar kartu nama atau meminta foto bersama.

Hilda dan Maya sudah sangat terbiasa melihat pemandangan itu. Dibanding pembicara lain dari Stariffic Public Speaking School - lembaga pelatihan di bidang komunikasi yang didirikan oleh Jovita dan teman-temannya - perempuan itu adalah bintang yang paling bersinar. Bukan hanya karena kemampuan public speaking-nya yang mumpuni, tetapi juga penampilannya yang menawan dan sikapnya yang santun. Permintaan terhadap dirinya untuk menjadi pembicara selalu melampaui rekan-rekannya yang notabene adalah mantan penyiar, presenter, dan public figure terkenal.

Seorang pria berusia kepala empat mendekati Jovita yang masih dikelilingi banyak orang. Ia memperkenalkan diri seraya menyodorkan kartu namanya. "Donny Sadana," ucapnya dengan senyum yang menawan.

Jovita selintas melirik jabatan Donny di kartu nama, Direktur Pengembangan Bisnis salah satu perusahaan multinasional.

"Saya juga dulu nongkrongnya di Balsem, loh," ujar Donny. Balsem adalah singkatan dari Balik Semak, sebuah kantin yang terletak dekat Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Indonesia, kampus di mana Jovita meraih gelar Sarjana Komunikasi-nya. Latar belakang pendidikan Jovita yang sempat dibacakan oleh moderator diingat betul oleh Donny karena dijadikan amunisi untuk berbasa-basi.

Jovita tersenyum. Ia sudah sangat mengenal langkah para pria seperti Donny yang memanfaatkan tahta untuk memikat wanita. Namun, sebagai representasi lembaga dan demi menjaga reputasinya, ia tetap berusaha menyikapi dengan santun. "Oh ... Bapak dari FISIP juga?" tanyanya.

Donny sumringah, merasa strateginya mengakrabkan diri berhasil. "Bukan, hanya sering main ke situ saja."

"Kalau zaman saya namanya berubah jadi Takor, Pak. Taman Korea, kemudian sekarang berubah lagi jadi Next Level of Balsem," sahut Jovita berusaha bersikap ramah.

"Wah ... sudah berubah banyak ya. Jadi berasa tua deh saya," ucap Donny.

Jovita hafal betul makna kalimat terakhir itu. "Tidak kelihatan tua, kok, Pak," ujarnya sengaja memakan umpan Donny.

"Ah ... bisa saja, Bu Jovita. Boleh saya minta kartu nama?"

"Tentu, Pak." Jovita menyodorkan kartu namanya.

"Master-nya ambil di mana?" tanya Donny sambil mengamati apakah ada nomor ponsel Jovita tertera di kartu nama tersebut. Senyum terkembang saat menemukan informasi yang diinginkannya. "Tadi saya tidak menyimak karena sambil mengurusi kerjaan via ponsel." Penjelasan tambahan yang merupakan kebohongan karena sebenarnya Donny ingat betul informasi tentang kampus di mana Jovita menempuh pendidikan paska sarjananya.

"UniMelb, University of Melbourne, Pak. Saya ambil Global Media Communication," jawab Jovita lengkap.

"Di Parkville, ya? Saya dulu ambil master-nya di Monash University, kampus Caulfield." Donny kembali mengedepankan kesamaan mereka. "Kalau Monash yang di Parkville untuk jurusan farmasi kalau tidak salah."

"Ya ampun, dunia sempit ya, Pak." Jovita tertawa dalam hati. Pria hidung belang macam ini sangat senang jika dianggap memiliki banyak kesamaan.

"Penampilan Anda tadi sangat luar biasa," sanjung Donny, pandangannya tidak lepas menatap wajah oval dan sepasang mata almond Jovita. "Suatu saat bersedia mengisi di kantor saya, ya."

"Dengan senang hati, Pak Donny." Jovita mengulas senyum di heart-shaped lips-nya, bibir dengan lekuk yang sempurna. Senyum yang membuat dada Donny dipenuhi desiran.

"Boleh kita foto bersama?" Donny menyerahkan ponselnya kepada panitia yang sejak tadi membantu mengambil foto para peserta dan Jovita.

Jovita mengangguk, memenuhi keinginan Donny.

"Terima kasih banyak, Bu Jovita," ucap Donny sambil menyodorkan tangannya hendak menyalami Jovita.

Jovita menyambut uluran tangan itu. Saat berjabat tangan, ia merasakan ujung jari Donny menggelitik telapak tangannya, memberikan sebuah isyarat. Isyarat yang sering sekali didapatnya saat pria menunjukkan ketertarikan dan memiliki niat khusus padanya.

"Sama-sama. Terima kasih juga, Pak Donny. Sukses selalu," sahut Jovita tenang. Ia tidak membalas kegenitan Donny, tapi juga tidak bersikap antipati.

Usai Donny berlalu, beberapa pria berniat serupa pun bergantian memperkenalkan diri. Kerumunan itu baru bubar setelah moderator memperkenalkan pemateri sesi selanjutnya.

"Silakan istirahat dulu sambil menikmati kudapan, Bu Jovita," ajak Wati sembari tangannya mempersilakan perempuan itu berjalan ke luar ballroom.

"Terima kasih banyak, Bu Wati," sahut Jovita dengan senyum yang tetap mengembang. Bibirnya seperti tidak pernah berhenti membentuk lengkungan.

Di dekat pintu, Hilda dan Maya telah berdiri menanti.

"Penampilan keren as always, Bu," sanjung Hilda begitu Jovita melintas di dekatnya.

"Terima kasih, Hilda," jawab Jovita. "Suatu saat pun kamu bisa menaklukan panggung." Ia memotivasi yuniornya sembari berjalan bersama ke luar ruangan.

Di luar ballroom, Jovita, kedua yuniornya, dan dua panitia perempuan tadi menikmati kudapan dan teh hangat sambil berbincang-bincang. Wati dan Sri secara terbuka mengungkapkan kekagumannya terhadap penampilan Jovita di atas panggung.

"Halo, semua," sapa seorang dari belakang Jovita. Seorang pria berkulit cokelat, bertubuh tinggi atletis, dengan penampilan yang maskulin dan wajah rupawan.

Jovita menoleh ke sumber suara dengan wajah terkejut, tidak menduga kehadiran lelaki itu di sini.

"Sore, Pak Ezra," sahut Hilda dan Maya berbarengan membalas sapaan Ezra, suami Jovita.

Ezra menyodorkan drink tray² yang berisi empat buah gelas berukuran grande³, berlogo Starbucks kepada Hilda. Perempuan itu langsung menerima pemberian Ezra dengan sumringah dan membaginya kepada Maya, Wati, dan Sri.

Ezra kemudian melingkarkan tangan di pinggang Jovita. "Semua berjalan lancar, Honey?" tanyanya sembari mengecup kepala istrinya.

"Hai, Bear," sahut Jovita seraya memeluk pinggang Ezra. Ia terbiasa memanggil suaminya dengan sebutan "Bear" menggambarkan sosok yang nyaman untuk dipeluk dan menggemaskan. "Lancar, dong. Berkat doamu tadi pagi."

Wati dan Sri yang masih mengagumi ketampanan dan kebaikan Ezra membawakan kopi untuk mereka, semakin iri dengan kemesraan pasangan di hadapannya itu.

"Kami duluan, Bu," pamit Jovita kepada Wati dan Sri. Ia kemudian berkata pada Hilda dan Maya, "Aku langsung pulang, ya. Tidak kembali ke kantor lagi."

"Baik, Bu," sahut kedua yuniornya berbarengan dengan Wati dan Sri yang turut memberikan izin bagi Jovita untuk meninggalkan tempat.

Kedua pasangan serasi itu pun berlalu. Ezra merangkul pundak Jovita yang kemudian menyandarkan kepala di pundaknya.

"Ya ampun, mesra banget, sih," ucap Wati pelan. Matanya masih memandang pasangan yang berjalan menjauh itu.

"Pak Ezra ganteng banget, lebih cakep dari bapaknya," ujar Sri. "Kayak bintang film, ya."

"Ganteng, baik, sayang sama istri," timpal Wati dengan rasa iri yang kian membuncah. Ia menoleh pada Maya. "Kerjanya apa si Pak Ezra itu?"

"Pengacara, Bu. Cukup terkenal, kok." Maya tersenyum. Hal seputar Jovita dan keluarganya sudah sering ditanyakan oleh para peserta seminar atau pelatihan, bahkan panitia seperti kedua wanita ini. Ia dan Hilda pun sudah menghafal semua tentang kehidupan pribadi Jovita sebagai antisipasi.

"Ganteng, baik, sayang sama istri, anak pejabat, karir sukses, dan kaya. Paket lengkap, Wat," ujar Sri. "Aku yang tidak suka kopi saja sampai minum pemberiannya, tersihir sama Pak Ezra."

Ketiga orang lain terbahak mendengar ucapan Sri. Semua sepakat, baik Jovita maupun Ezra sama-sama dapat membuat orang lain tersihir.

***

"Ada kegiatan di seputar Mega Kuningan? Kok bisa jemput aku?" tanya Jovita sembari meneguk Caramel Macchiato - minuman favoritnya - yang dibelikan Ezra.

"Kenapa? Keberatan kujemput? Ada acara yang terganggu?" Ezra berbalik bertanya sambil menjalankan Lexus ES 250 silver miliknya. Ada nada kesal di suaranya.

Jovita menggeleng. "Sama sekali tidak keberatan, dong. Justru senang dijemput suami tersayang." Ia berusaha tidak tersinggung dengan pertanyaan Ezra, menduga suaminya sedang dalam mood buruk karena urusan pekerjaan.

Ezra tidak berkomentar, terlihat fokus dengan jalanan di hadapannya.

"Nanti malam kita jadi ke rumah Mama, kan," ujar Jovita mengingatkan rencana makan malam memperingati ulang tahun perkawinan kedua orang tuanya.

"Aku ada undangan makan malam dengan klien besar. Jadi, kita ke rumah orang tuamu sekarang saja. Aku sudah belikan cheese cake kesukaan Papa dan buket mawar merah favorit Mama," sahut Ezra.

"Kalau begitu, boleh aku tetap makan malam di rumah Mama? Kamu kan ada acara makan malam dengan klien," pinta Jovita. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah jauh-jauh hari merencanakan makan malam bersama.

"Kamu ikut denganku makan malam!" tegas Ezra. Nada suaranya mencerminkan bahwa ia tidak mau bernegosiasi.

"But, Bear ...," rajuk Jovita. "Aku bahkan tidak kenal siapa klienmu, aku tidak akan bisa mengikuti pembicaraan kalian."

"Tidak ada tapi-tapian!" Nada suara Ezra meninggi.

Jovita diam. Tidak ada gunanya membujuk Ezra jika ia sudah bertitah seperti itu. Namun, bukan Jovita jika menyerah begitu saja. Ia memutar otak, mencari rencana lain agar bisa tetap menghadiri acara ulang tahun pernikahan orang tuanya dan menghindari jamuan makan klien Ezra.

***

-----

¹. Bernas : berisi, banyak isinya

². Drink tray : tatakan gelas untuk membawa beberapa gelas sekaligus, biasanya terbuat dari bahan kertas daur ulang.

³. Grande : ukuran sedang di kedai kopi Starbucks.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status