08 - Ini Mimpi kan?

Jangan lupa komentar dan juga kasih review bintang lima yah, Gengsssss!!!

*****

Zeline fokus pada acara makan malam serta persiapan pernikahan dadakan Mesya dan tunangannya. Malam ini di rumah Mesya diadakan makan malam sebelum esok harinya pemberkatan pernikahan dilaksanakan.

Mesya yang akan menikah, tapi Zeline yang merasakan gundah gulana. Ibu Mesya berdiri di samping Zeline mengamati setiap pergerakan pekerja yang sedang mondar mandir menata kebun belakang rumah Mesya untuk dijadikan tempat makan.

"Zel, kau tidak bekerja?" tanya Rani, ibu Mesya.

Zeline menoleh, menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan fashionable di sebelahnya.

"Aku bukan pekerja kantoran, Tante. Jadi, kapan pun aku mau libur, aku bisa. Lagi pula aku tidak tega melihat tante sibuk sendirian mengurus hal ini," jawab Zeline tulus.

"Kau memang yang terbaik, Zel. Terima kasih ya. Oh ya, di mana Fini dan Vera?"

"Fini sedang bertemu kliennya. Vera juga sudah punya jadwal yang tidak bisa dibatalkan. Akan tetapi, nanti malam mereka akan datang kemari,"

"Lebih baik tante masuk, beristirahat. Tante butuh tenaga ekstra untuk nanti malam. Urusan dekorasi ini, biar Zeline yang urus," kata Zeline sembari mendorong pundak Rani untuk masuk ke dalam rumah.

Rani berbalik, kedua telapak tangannya mencubit gemas pipi Zeline.

"Nanti malam, suruh kekasihmu datang kemari," kata Rani dan Zeline mencebikkan bibirnya.

"Zeline single, Tante. Kekasih siapa yang harus Zeline bawa nanti malam. Sudah tidak ada waktu untuk menyewa kekasih bayaran. Zeline sedang sibuk mengurusi dekorasi kebun," canda Zeline.

"Selalu saja merendah! Sudah, tante mau ke dalam dulu ya. Kau jangan lupa makan siang," Zeline mengancungkan jempolnya.

Mesya dan Pradipta sedang sibuk mengurusi dekorasi resepsi pernikahan di hotel. Untuk kalangan atas, menikah dengan waktu yang singkat bukanlah hal yang sulit. Uang mampu mengendalikan semuanya. Seperti halnya pernikahan Mesya dan Pradipta, hanya butuh waktu satu minggu dan semua urusan selesai.

Zeline mengamati ponselnya, sudah dua hari terakhir, Fello tidak memberikan kabar apapun. Pria itu menghilang seperti ditelan bumi. Biasanya, pria itu dengan iseng akan mengirimkan chat singkat yang mampu membuat Zeline tersenyum. Entahlah, Zeline sudah terbiasa akan kehadiran notifikasi darinya beberapa minggu terakhir ini.

Mungkinkah Fello tersinggung dengan lontaran kalimat vulgar yang dilayangkan Mesya, Fini dan Vera beberapa hari yang lalu. Memang semenjak itu, Zeline malu untuk sekedar memberi kabar terlebih dahulu. Terakhir kali, hanya undangan milik Mesya dan Pradipta yang dikirimkan oleh Zeline. Dan chat itu hanya dibaca. Menyebalkan!

"Kau ini, belum pernah mati, tapi kenapa gentayangan terus dipikiranku?" gumam Zeline sambil menatap foto profil WhatsApp Fello.

✈✈✈✈✈

Perjalanan panjang yang memakan waktu kurang lebih dua puluh jam non-stop, New York - Jakarta, Indonesia. Ricard memilih untuk menaiki jet pribadinya, ia tidak sanggup berlama-lama di pesawat komersil.

Setelah membereskan segala pekerjaan yang telah menjadi deadline dan mengatur ulang jadwal temu dengan klien atau jadwal rapat, Ricard memilih untuk segera terbang ke Jakarta. Tempat di mana wanita yang memenuhi isi kepala Ricard menetap.

Ricard akhirnya memilih untuk memakai jasa detektif untuk melacak keberadaan Zeline. Itu semua ia lakukan karena ia akan memberikan kejutan untuk wanita itu. Selama hampir dua hari, Ricard sama sekali tidak menghubungi Zeline. Di samping ingin memberikan kejutan, alasan lainnya yaitu padatnya pekerjaan Ricard yang menyebabkan pria itu lembur, tidak memiliki waktu untuk mengotak atik ponselnya.

Ia lebih memilih tidur selama perjalanan panjangnya. Ricard hanya pergi sendirian, sedangkan perusahaannya ia titipkan sementara pada Steven. Namun, tetap Ricard akan mengontrol dari kejauhan.

"I'm so tired!"

Ricard tidak tahan untuk tidak memberikan kabar apa pun pada Zeline. Ia mengirimkan foto bangun tidurnya, yang ia yakini Zeline tidak akan tahu jika ia tertidur di dalam jet pribadinya.

Dengan kenekatan serta modal kepercayadirian yang tinggi, Ricard memberanikan diri untuk datang menemui Zeline. Wanita yang baru beberapa minggu terakhir dekat dengannya. Diantara banyaknya wanita yang ia kenal dari aplikasi kencan itu, hanya Zeline yang tidak pernah memintanya secara langsung untuk datang menemuinya. Hanya teman-temannya yang beberapa kali, menggoda Ricard untuk segera datang menemui Zeline.

Zeline selalu berpikir jika tiket pesawat New York - Jakarta bukanlah sesuatu yang murah. Ia wanita yang cukup pengertian, tidak banyak menuntut. Apalagi yang Zeline tahu, Ricard hanyalah seorang karyawan di suatu perusahaan otomotif.

✈✈✈✈✈

"Bagaimana? Tante suka? Kau suka, Mes?" tanya Zeline saat memperlihatkan hasil dekorasi arahannya di halaman belakang rumah Mesya.

"Ini lebih dari yang aku suka, Zel!" pekik Mesya berlari ke bawah tenda hias dan mencoba duduk di salah satu kursi dengan wajah berseri-seri.

"Suasana santai dan intim. Tante suka sekali. Terima kasih, Zeline," ucap Tante Rani.

Zeline hanya tersenyum lebar melihat respon baik atas kerjanya setengah hari penuh tadi. Lelah namun, ia bahagia. Di tambah pria yang sedari kemarin menghantui pikirannya mengirimkan sebuah pesan dan juga foto.

Pria itu tidak pernah terlihat tidak tampan. Meskipun baru bangun tidur, wajah Fello selalu terlihat menawan. Jangan salahkan Zeline, jika ia memang begitu memuja pria berwajah tampan.

"Mes, ayo bersiap-siap!" Zeline mengajak Mesya untuk mempersiapkan diri.

Mesya harus bersyukur memiliki sahabat yang bisa banyak membantunya. Untuk urusan make up dan dekorasi, tentu saja ia memiliki Zeline sebagai pakarnya. Sedangkan untuk urusan foto, ia memiliki Vera sebagai fotografer pribadinya. Dan untuk urusan makanan serta minuman serahkan pada Fini.

Gaun merah terang dipilih Mesya untuk acara makan malam nanti. Gaun yang memperlihatkan lekuk tubuh Mesya sehingga terlihat begitu seksi dan elegan.

Fini datang dengan memakai dress putih simpleberukuran pendek diatas lutut yang begitu pas ditubuhnya.

Berbeda lagi dengan Vera, wanita itu memilih memakai gaun abu blink yang cukup seksi karena menampilkan separuh pahanya.

Meskipun ketiga sahabat Zeline sudah memprotes habis-habisan mengenai gaun yang dipakai Zeline tapi wanita itu tetap pada pendiriannya. Zeline memilih untuk memakai Black dress lengan panjang yang slim fit. Dress itu begitu sederhana karena tidak ada ornamen apapun. Meskipun sangat sederhana, Zeline tetap terlihat seksi karena memang tubuhnya yang begitu proposional.

"Jangan protes lagi! Aku nyaman memakai gaun ini!" ucap Zeline pada ketiga sahabatnya.

Acara makan malam dan doa bersama akan dilangsungkan 30 menit lagi. Mesya sama sekali tidak menampakkan raut wajah gugup ataupun cemas, yang ada wanita itu selalu menebar senyum. Apakah orang yang akan menikah selalu begitu? Atau hanya Mesya yang berlaku seperti itu? Entahlah.

Ponsel Zeline berdering. Tidak biasanya Fello meneleponnya, biasanya pria itu lebih memilih melakukan video call dibanding menelpon. Ia menelepon pun kali ini dengan nomor ponsel pribadinya. Sungguh, Zeline tidak tahu berapa banyak pulsa yang akan keluar dari ponselnya ketika melakukan sambungan internasional seperti ini.

"Kau di mana?"

Zeline menyatukan kedua alisnya saat mendengar pertanyaan Fello untuknya.

"Aku?"

"Ya, kau di mana sekarang? Di rumah Mesyakah?"

Zeline mengangguk tanpa sadar.

"Zeline, kau masih di sana?"

Zeline tersadar, bagaimana mungkin pria itu tahu kalau dia mengangguk menjawab tadi.

"Iya. Aku di rumah Mesya. Bagaimana kau tahu keberadaanku?"

Ricard tertawa di seberang sambungan telepon mereka

.

"Kemarilah. Aku di depan. Aku tidak mengenal siapa pun di sini. Ramai sekali. Aku menanyaimu, tapi tidak satu pun yang tahu, mereka malah mengajakku berfoto. I'm not celebrity!"

Zeline melotot terkejut. Otaknya masih berusaha mencerna ucapan Fello barusan.

"WHAAAT!" teriakan Zeline membuat sekelilingnya menatap Zeline penasaran.

Vera dan Fini yang berada tak jauh dari tempat Zeline berdiri pun, bergegas menghampiri Zeline.

"Ada apa, Zel?" tanya Vera khawatir melihat wajah Zeline yang terlihat pucat pasi.

"Kau apa? Bisa kau ulangi ucapanmu?" Zeline mengabaikan pertanyaan Vera melainkan ia kembali berbicara pada Fello lewat ponselnya.

"Aku di depan rumah Mesya. Aku tidak tahu harus ke mana. Di sini begitu ramai. Bisa kau menjemputku ke mari?"

Sontak saja Zeline menjatuhkan ponselnya. Tubuhnya mendadak lemas dan ia berusaha mengatur detak jantungnya yang bergemuruh riuh bertalu-talu. Mungkin ia sedang berhalusinasi. Mana mungkin Fello yang tinggal di New York bisa berada di depan rumah Mesya sekarang. Impossible!

Fini segera mengambil ponsel Zeline yang terjatuh. Sedangkan Vera memegangi lengan Zeline.

“Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi, Zel?” tanya Fini penasaran. Zeline hanya menggeleng dan memilih bungkam, ia melepaskan pegangan Vera dan mengambil ponselnya dari Fini.

"Aku pergi ke depan sebentar," ucap Zeline gugup.

Zeline berjalan perlahan dengan detak jantung yang tak karuan, pikirannya sudah porak poranda. Ia yakin, Fello pasti sedang mengerjainya. Di halaman depan berjejer mobil-mobil mewah yang dibawa oleh tamu undangan Mesya dan Pradipta. Terlihat ada segerombolan wanita yang tengah memakai gaun malam berdiri begitu berisik di depan salah satu mobil di dekat pagar rumah Mesya.

Zeline mendekati kerumulan wanita tersebut. Ia meminta diberi jalan agar bisa melihat apa yang tengah diperhatikan, ah~ bukan, direbutkan para wanita itu. Jika ini adalah tokoh kartun, kedua mata Zeline sudah melompat keluar melihat sosok pria yang tengah tersenyum di hadapannya.

Seorang pria tampan memakai blazer hitam serta dalaman kemeja putih tengah menatap lurus kearah Zeline. Pria bermata abu-abu jernih itu melempar senyuman manis. Zeline seakan kekurangan oksigen, kakinya lemas, kepalanya pening. Ia menepuk pipinya berulang kali memastikan ia sedang bermimpi atau tidak.

Pria itu melangkah mendekat, berdiri di depan Zeline dan mengulurkan telapak tangannya. Zeline hanya diam terpaku memandang telapak tangan tersebut.

"I'm Fello. Hello, Zeline. Akhirnya kita bisa bertemu," Fello meraih telapak tangan Zeline, mencium punggung tangannya dan menyodorkan sebuket mawar merah.

Sontak, Zeline kembali terkejut dan ingin pingsan saat itu juga.

'Tidak mungkin! Ini pasti mimpi,' batin Zeline
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ayumi afifah
deg degan akuuu
goodnovel comment avatar
Willny
omg, surprise darimu itu fello.... ga bs berkata-kata deh
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status