3. Dosen Bermata Hijau

Mataku terpaku pada sosok pria berbaju serba hitam yang masih saja menatapku dengan bola mata hijaunya. Adegan-adegan dalam mimpiku tiba-tiba membanjiri otak. Saat bibirnya menyentuh bibirku, saat mulutnya mengisap ... Kugelengkan kepala dengan kuat.

Aku bisa bergerak! Kembali kutatap pria itu. Jadi ... dia bukan iblis di dalam mimpiku? Tapi ... kenapa wajah dan sosoknya sangat mirip? Dan cara matanya menatapku...

Pria itu mengulas seringai lebar, membuatnya terlihat semakin tampan sekaligus tampak keji. Jantungku berdegup dengan kencang karena rasa takut. Cepat-cepat kubalikkan tubuh dan berlari pergi meninggalkannya. Aku bersyukur dalam hati karena tubuhku bisa bergerak dan menjauh dari pria bermata hijau itu. 

Aku menyapa teman pertamaku, Lidya, gadis yang sangat cantik, berkulit cokelat keemasan, dan bertubuh seksi dengan sweater warna peach lengan pendek yang dipadu rok senada di atas lutut, menyuguhkan paha mulusnya. Rambutnya ikal sebahu membingkai wajahnya yang eksotis. Kami mulai akrab saat OSPEK, dan kini berteman. Hobi kami sama, membaca novel, dan kami sama-sama penggemar novel Harry Potter. Oke, itu saja sudah cukup untuk membuat kami menjadi dekat, meskipun penampilan kami seperti bumi dan langit. 

“Rambutmu berantakan." Lidya terkekeh sambil mengeluarkan sisir dan cermin dari tasnya lalu memberikannya padaku. “Tapi, aku heran, kau tetap cantik meski rambut lurus sepinggangmu kusut, dan tanpa make up di wajahmu,” ujar Lidya dengan nada iri. 

Aku tertawa dan menolak sisir serta cerminnya. “Jangan mengejekku, aku tidak cantik. Well, aku lebih suka seperti ini.”

“Aku tidak mengejek,” ujar Lidya tulus. “Kenapa kau berpenampilan urakan? Maksudku, rambut berantakan, T-shirt longgar dan jeans lusuh, tanpa make up. Padahal kau bisa tampil cantik dengan blouse atau rok—”

“Aku malas, dan kurang nyaman,” jawabku jujur sambil nyengir. Itu memang benar. Aku malas menata rambut panjangku dan berdandan. Entah kenapa aku tidak nyaman mengenakan rok, aku lebih leluasa dengan T-shirt dan jeans. Biar saja seperti ini, toh aku ke kampus bukan untuk mencari pacar atau semacamnya. Aku harus fokus pada kuliah, ditambah harus bekerja nanti.

Lidya mengangguk paham lalu memasukkan kembali peralatannya ke dalam tas. Kemudian kami duduk di bangku dan mulai membicarakan tentang tokoh-tokoh dalam novel Harry Potter sebelum dosen pertama masuk kelas.

Sejak mengenal Lidya saat OSPEK, aku tahu banyak pria mendekati Lidya, tapi gadis ini malah tidak mengacuhkan mereka. Ia lebih tertarik untuk membaca novel atau buku kuliahnya. Aku heran dengan sikap Lidya, padahal para pria yang mendekatinya lumayan tampan.

Saat dosen kedua masuk ke dalam kelasdia adalah dosen pengganti sementara dosen yang bersangkutan sedang kuliah S3 di luar negeriaku terperangah melihat pria bermata hijau itu!

Aku panik dan takut. Jantungku berdebar-debar tidak karuan. Pria ini ... dosen pengganti?

Aku tidak mendengar sorak kagum para mahasiswi yang terpesona oleh pria bermata hijau itu sampai Lidya mengguncangkan bahuku sambil berseru,

“Ya ampun, ya ampun, dia tampan sekaliii! Aku ingin sekali menjadi pacar Mr. Xander A. De Ville!”

Xander? Xander? Mataku membelalak saat mengingat nama itu. Iblis bermata hijau dalam mimpiku menyebutkan namanya ... Xander. Benarkah?

“Nadja, kau dengar tidak? Lihat bentuk tubuhnya? Sempurna!” Lidya masih saja mengguncangkan bahuku. Aku tidak sadar bahwa kini temanku yang cantik, seksi, dan menjadi idola kaum adam di kampus ini sedang memberitahukan tipe pria yang diinginkannya. 

Aku terlalu takut untuk berpikir, sementara mata hijau Mr. De Ville tertuju ke arah kami. Kuharap aku hanya salah sangka. Kuharap yang dilihat Mr. De Ville bukan aku, melainkan Lidya. 

“Dia melihat ke sini, Nadja! Dia melihatku! Ya Tuhan, dia itu seperti dewa!” bisik Lidya, suaranya terdengar bergetar.

Tatapanku tertuju pada mulut pria itu yang membuka dan menyebutkan satu kata tanpa suara, Nadja.

Tiba-tiba rasa mual naik ke kerongkongan, dan tanpa izin pada sang dosen penggantialias Mr. De Ville, buru-buru aku pergi ke luar kelas lalu berlari menyusuri lorong menuju toilet di ujung gedung. Aku memuntahkan sarapanku. Air mata membanjiri wajahku. 

Ini ... hanya mimpi, kan? Sebenarnya... siapa Mr. De Ville itu? Manusia ... atau iblis? Apa yang diinginkannya dariku?

***

Aku memilih untuk bolos dari mata kuliah Mr. De Ville karena tidak mau berada dalam satu ruangan dengannya. Aku takut. Jadi, kuputuskan untuk ke perpustakaan kampus. Setelah mengambil novel berbahasa Jerman dari salah satu rak buku yang terbuat dari kayu jati, aku duduk di birai jendela besar yang mengarah ke taman kampus, lalu mulai membaca novel ini. Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi, beberapa kali pun mencoba. Pikiranku tetap tertuju pada Mr. De Ville, atau Xander. Siapa sebenarnya pria itu?

“Kenapa kau pergi begitu saja dari kelasku?”

Dengan gerakan cepat aku mendongak dari novel di tangan. Tubuhnya yang begitu tinggi membuat leherku sampai sakit karena harus menengadah menatap wajahnya. Aku menelan ludah, merasa panik dan takut, sementara jantungku memompa sangat cepat.

Dug dug dug dug dug. 

Bagaimana bisa pria ini ada di perpustakaan dan menemukanku? Apa dia hanya mengabsen siswa tanpa memberikan kuliah? 

“Kenapa kau pergi begitu saja dari kelasku?” ulangnya, menuntut jawaban.

Aku tidak mau menjawab pertanyaannya.

Xander menghela napas pelan.

“Nadja, aku senang kita bertemu lagi,” ujarnya dengan suara seraknya. Mata hijaunya tampak berlumur nafsu. Lalu dengan cepat ia mendekat dan mengurungku ke jendela besar di belakangku yang tertutup. Napasnya beraroma mawar segar, harum. “Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini ....”

Lagi-lagi, aku tidak bisa bergerak. Mataku tak bisa lepas dari Xander. “Pergilah, kumohon.” Aku bisa berkata-kata, tapi tubuhku seperti dipaku di tempat.

“Jangan bersikap tidak sopan pada dosenmu.

“S-siapa kau sebenarnya?"

“Kau tidak perlu tahu,” ucapnya tegas sebelum bibirnya melumat bibirku.

Kumohon, bergeraklah, bergeraklah, tubuhku, ayolah!

Tolong! Siapa saja, tolong aku!

“Nadja, Nadja!”

Aku membuka mata.

“Kucari kau ke mana-mana, ternyata tertidur di sini. Ayo pergi makan siang, nanti jam istirahat keburu selesai, aku lapar nih.”

Aku bangkit duduk tegak dan mendapati Lidya tersenyum hangat padaku. Kuedarkan pandangan; aku ada di perpustakaan, duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja panjang dan lebar di tengah ruang perpustakaan. Bagaimana bisa aku duduk di sini? Seingatku, tadi aku duduk di tepi jendela...

Aku belum bisa berpikir jernih, namun aku sangat lega karena Lidya membangunkanku dari mimpi buruk dengan Xander. 

Ya Tuhan, kenapa aku selalu memimpikan pria bermata hijau itu? Dan kenapa rasanya sangat nyata!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status