Share

14

Aristela POV

Selesai membantu Pak Raden ada kepuasan tersendiri dalam diriku, apalagi melihat bapak tersebut semakin mudah pekerjaannya, apalagi beliau pun sudah agak tua, jadi staminanya sedikit berkurang di banding dia waktu muda.

Pak Raden begitu senang menyampaikan rasa terima kasihnya dan aku membalasnya dengan senang pula bahwa aku pun menikmati kerja-kerja tadi, yang entah kenapa sikap Pak Raden tiba-tiba berubah di mana dirinya menunduk sembari tersenyum lalu pergi begitu saja, kemungkinan bapak lagi ada urusan lain jadi agak terburu-buru dilihatnya.

Aku mencari keberadaan Aderald karena aku mengingat perkataan pria itu yang terlihat mulai membuka diri dan ini adalah kesempatan bagus untuk memanfaatkan agar aku dapat akrab dengannya.

"Aderald ke mana, yah? Enggak ketemu-ketemu orangnya, kemungkinan ada di ko-"

"Kenapa?"

Aku terkejut, Aderald menepuk pundakku tiba-tiba dan menanyakan dengan kata 'kenapa'.

"Aduh kaget aku, dicari ke mana-mana enggak ketemu, kamu dari mana?"

"Dari kamar bentar, soalnya lo lama banget," jawab Aderald dan kelihatannya dia kembali dalam mode cuek, padahal waktu di dapur tadi, jelas dia menggunakan aku-kamu, bukan lo-gue yang seperti sekarang.

"Maaf, lagi banyak kerjaan tadi, btw sekarang jam berapa?"

"Setengah satu," jawabnya dan aku bernapas lega karena masih ada banyak waktu untuk pergi menjemput Adnan.

Kami memutuskan berbincang di ruang keluarga dan aku mengikuti Aderald yang sedang duduk sekarang, sementara aku duduk di hadapannya.

"Lo mau nanya apa seputar kuliah?"

Ternyata langsung pada intinya yah, bagus sekali.

"Gimana rasanya kuliah?"

"Membosankan, yang bagus itu cuman karena ada temen doang," jawabnya dan aku mengangguk-angguk.

"Selain itu?"

"Menjengkelkan dengan sks yang banyak serta beberapa dosen yang cuek pada mahasiswa, itu ngebuat gue juga sebel," jawabnya dan aku menyimpulkan bahwa segala tentang kuliah menurut dia itu adalah hal yang membosankan dan menjengkelkan, seolah nilai positifnya saja cuman karena ada teman yang bisa dia ajak ngobrol atau nongkrong gitu.

"Terus, alasan lo nanya seputar kuliah itu, apa?" tanyanya balik dan aku tersenyum dan mulai menjawabnya agak panjang.

"Gimana yah ... aku penasaran dengan dunia kuliah karena aku belum merasakannya, ingin mencoba tetapi aku sudah lelah dengan yang namanya teori, karena aku suka yang langsung praktik. Pas kamu jawab tentang kuliah menurut kamu, ngebuat aku tuh semakin malas juga, jadi ... aku bingung sekarang," ujarku sambil mengembuskan napas, tak sampai di situ, aku menyela keinginan Aderald untuk menyahut dengan tambahan kalimatku, "Aku bingung karena aku berhenti bekerja tadi pagi karena diriku sudah lelah selalu diintimidasi sama bosku, jadi resign adalah pilihan yang tepat dan dua orang sebagai racun di sana juga sudah berhenti karena dipecat, dan penyebab mereka dipecat adalah aku yang melapor karena sudah tidak nyaman bekerja di sana dengan alasan: aku lelah karena dua orang karyawan yang sangat caper, terus saja menghakimiku."

"Curhat lo panjang bener, tak sepanjang punya gue, terus ... lo bertahan di sana berapa lama emangnya?"

"Agak lama, tahunan lah," balasku dan tidak menanggapi kalimat ambigunya yang bernada mesum itu dan di sinilah aku merasa bahwa Aderald mulai terbuka dan aku akan semakin memanfaatkan moment ini.

"Aderald, kamu tau lowongan enggak di kota ini? Aku pengen kerja gitu, bosen kalau di rumah, dan nanti aku harus siapin jawaban juga buat ayah karena sudah berhenti bekerja di toko roti," lanjutku lagi dan Aderald tampaknya menjadi malas denganku.

"Cari aja sendiri, gue males keluar hari ini, lagi enggak mood."

"Ish, kok bisa sih mood kamu enggak bagus?"

"Karena ada lo di sini," jawabnya dan aku terkejut seketika, apakah ini pertanda jika kehadiranku tidak bagus dalam keluarga Adibrata? Rasanya sedikit sakit mendengar kefrontalan dari Aderald.

"Ma-maaf, kalau gitu gue pulang aja karena ngebuat mood lo jadi jelek," balasku dengan nada yang pelan, aku sendiri enggak sadar kalau kata aku-kamu berubah menjadi lo-gue, dan itu murni benar-benar diluar kesadaranku karena saking menusuknya ucapan Aderald itu.

"Lo mau pergi gitu aja? Enggak izin lagi sama gue!" ketusnya dan aku tersenyum dan meminta maaf.

"Siapa yang suruh lo pulang? Sini temenin gue, gue bosen kalau enggak ada yang ngajak bicara," ucapnya dan aku pun bertanya karena sedikit sebal dengannya.

"Mending aku pulang aja, deh, Rald. Soalnya mood kamu enggak bagus gara-gara aku, kemungkinan keempat saudaramu juga bakalan gitu sih dengan kehadiranku, kalau Adnan aku udah tau kalau dia nerima aku, tapi entahlah kalau kalian udah saling berdiskusi mengenai sifatku ini, terima kasih, aku mau pulang aja," balasku dan meninggalkannya dengan cepat, jujur hatiku sedikit sakit dan aku tidak peduli dengan Aderald yang sampai membilangiku cewek baper, karena perasaan orang-orang tidak bisa disamaratakan dan dianggap remeh, semuanya ada batasan untuk bisa saling menghargai.

Langkahku semakin jauh semakin cepat, tapi harus berhenti ketika sebuah tangan meraih tanganku dan aku sedikit mendengar gumaman dari seorang Aderald, "Jangan pergi, gue cuman bercanda tadi dan gue enggak semenyangka ini kalau lo nganggapnya serius ternyata."

Tanganku sedikit terasa hangat dalam genggamannya tapi tidak terlalu lama karena aku melepaskan pegangan Aderald, diriku pun menatapnya penuh kelekatan.

"Kamu jangan asal bercanda, aku ini emang baperan dan enggak peduli kalau kamu mau ngejek aku karena sifatku yang satu ini, intinya aku mudah tersinggung gitu, walau aku juga cukup kesel sama diriku yang punya sifat itu," balasku dengan nada yang serius dan Aderald malah tertawa, dari bahasa mimik wajahnya, dia nampak puas sekali dan aku enggak suka itu.

"Apanya yang lucu sih? Dasar aneh! Udah enggak usah ngehalangin aku, aku mau pulang!" kesalku dan meninggalkannya, tetapi lagi-lagi si Aderald ini menahanku dan membuatku semakin jengkel hingga tak sadar menepis tangannya yang telah berhasil kulepas tapi dia ingin meraih tanganku kembali.

"Gue cuman bercanda, Aristela, lo harus tau kalau gue udah nerima lo di keluarga gue, paham?!" bentaknya dan aku terkesiap. Entah kenapa bentakan itu terasa luar biasa dengan tatapannya yang tajam dan pipiku tiba-tiba memerah dan menghangat.

"Malah nunduk, emangnya di sini mengheningkan cipta?"

"Aku nunduk karena ....,"

"Karena?" Aderald semakin mendekat karena penasaran, dan aku menatap matanya yang juga lekat menatapku.

"Aku malu, tolong jangan deket-deket, tadi bentakan kamu seperti pacar yang ngelarang ceweknya deket-deket sama cowok lain," jawabku dan aku merasa diriku aneh dan gila, apa hubungannya dengan hal itu? Aku lagi-lagi menundukkan pandangan, bahkan menutup mataku karena takut serta malu di hadapan Aderald ini.

"Bagus, merem aja terus sampai lo enggak sadar kalau udah tidur," balasnya dan aku segera membuka pandanganku dan melihat Aderald yang sudah menjauh.


Plak! Aku menjitak dahiku. "Dasar Arsitela bodoh, bodoh banget!" jeritku dalam gumaman yang tertahan karena merasa malu sekali. Tak hanya itu, aku tertawa-tawa sendiri karena mengingat moment tadi dan fix, aku gila dibuatnya!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status