Share

8

Jun kembali mengendarai mobilnya sambil terus berusaha menghubungi sang klien yang akan ditemui hari ini. Saat membelokkan mobil ke tikungan, dia hampir ditabrak oleh mobil lain yang baru saja keluar dari salah satu gedung perkantoran yang lengang.

Perempuan di dalam mobil itu adalah Kamiya Moriuchi, perempuan keturunan Jepang yang baru saja membuka cabang usahanya di kota S. Dia menawarkan bisnis baru pada perusahaan Baviaan untuk menjadi pemasok kalsium sebagai salah satu bahan baku pembuatan pupuk. Beberapa saat lalu, dia mendapat panggilan telepon yang tidak mungkin untuk diabaikannya.

“Bisnis! Segala yang kau lakukan tak pernah jauh dari itu bukan? Aku mulai yakin kelahiranku juga hanya sekadar aset bisnis bagimu!” hardik Ben dengan kasar.

“Semua yang kulakukan dan kubangun selama ini demi masa depanmu!” Herman mendesis, “Kau yang akan mewarisinya!”

Ben mengabaikan ucapan sang ayah dan beralih pada laptop di meja belajarnya.

Karena merasa diabaikan, Herman berjalan meninggalkan kamar anaknya. “Ingat untuk menggunakan setelanmu malam ini.”

Bennu Moriuchi tak bisa mengelak. Meski dia kabur dari sana, anak buah ayahnya akan dengan mudah menyeretnya kembali saat itu juga. Jika selama ini Ben bisa bebas berkeliaran hidup di jalanan selepas kepergian sang ibu, itu karena kemurahan ayahnya yang sengaja membiarkan anak itu menikmati kebebasannya. Ben terpaksa mengenakan setelan terbaiknya malam itu. Dia melupakan dasi yang terasa mencekik kebebasannya dan malah membuka sejumlah kancing kemeja untuk memamerkan dada bidang di baliknya.

Sebuah limosin memasuki halaman rumah musim panas Herman yang disambut suka cita olehnya sendiri bersama dengan seluruh jajaran staf rumah tangganya. Ben berdiri menyandar di ambang pintu dengan gerakan malas. Dia bahkan tidak merasa perlu menyembunyikan ketidaksukaan pada wajahnya dengan senyum atau sikap palsu apapun.

Sang sopir turun untuk membukakan pintu bagi penumpang VIP yang dibawanya. Pertama-tama muncul seorang perempuan berusia sekitar 50 tahunan yang mengenakan gaun polos sederhana dengan taburan batu swarovski di bagian lingkar lehernya. Disusul kemudian seorang perempuan muda cantik dengan gaun merah yang hampir-hampir tak bisa menutupi apa-apa selain menampakkan kemewahan dan kesombongan.

Saat itu, Ben berdiri tegak di ambang pintu. Matanya tak bisa lepas dari senyum dan tatapan perempuan bergaun merah itu. Saklar memorinya seakan terpicu oleh sesuatu dari kehadiran perempuan itu.

Herman memperkenalkan Ben pada kedua tamunya yang agung. Tatapan pemuda itu bertemu dengan tatapan sang perempuan bergaun merah seakan berkata, aku tahu siapa kau!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status