Bekas Istri
Bekas Istri
Author: Rahayu avilia
Bab 1

Aldo Federick Parker begitulah semua orang mengenalnya. Seorang pebisnis muda yang terkenal dengan kepandaiannya dalam hal negosiasi bisnis. Karena hal itulah ia bisa sukses merajai dunia bisnis. Kegigihannya dalam mengurus perusahaan dapat terlihat dari hasil yang telah ia capai saat ini. 

Orangtuanya tinggal di Indonesia. Sebagai orangtua tunggal, Papanya selalu meminta Aldo untuk pulang dengan berbagai alasan, tapi Aldo selalu menolaknya. Di usianya yang kini sudah menginjak di angka 28 tahun, Papanya sangat berharap Aldo segera menikah dan membina rumah tangga. Wajar saja jika orangtuanya mulai khawatir dengan masa depan Aldo, mengingat saat ini usianya sudah tidak muda lagi.

Karena terlalu di manjakan oleh sang Papa, kini Aldo tumbuh menjadi pribadi yang senang dengan kebebasan. Jangankan berpikir untuk menikah, dalam kehidupannya, wanita bagi Aldo seperti layaknya baju yang ia pakai setiap harinya, jika bosan ia akan membuangnya.

Tapi Aldo akan terlihat serius jika itu menyangkut urusan perusahaan atau pekerjaannya. Baginya tidak ada kata bermain dalam dunia bisnis. Semua akan ia tangani dengan seluruh kemampuannya.

"Maaf tuan, ada telepon dari Indonesia," ucap sekretarisnya.

"Ok, kamu sambungkan ke saya." Perintah Aldo. Karena Aldo tahu jika telepon dari Indonesia, pasti ada hubungannya dengan sang papa kesayangan.

"Baik tuan," jawab sekretarisnya, lalu ia menyambungkan telepon itu kepada bosnya.

"Aldo, ada kabar buruk yang menimpa Papa kamu. Sebaiknya kamu segera kembali ke Indonesia, karena papa kamu saat ini sedang di rawat di rumah sakit, beliau terkena serangan jantung." Ucap orang yang di seberang telepon.

"APA!! Ba-baik, baik paman, aku akan segera pulang ke Indonesia." Ucap Aldo panik mendengar kabar tersebut.

Aldo menyuruh Aditya untuk segera datang ke ruangannya. Ia meminta Aditya menggantikannya selama ia kembali ke Indonesia. Dan Aldo juga meminta Aditya menghubungi pihak Bandara untuk melakukan penerbangan dengan pesawat pribadinya. 

Setelah terkonfirmasi, kini Aldo segera menuju bandara. Selama penerbangan menuju ke Indonesia Aldo sangat gelisah dan cemas akan keadaan Papanya. Ia takut terjadi apa-apa dengan satu-satunya orangtuanya yang masih ia miliki hingga saat ini.

"Semoga Papa baik-baik saja." Gumam Aldo dengan raut wajah cemas.

Penerbangan pun mendarat dengan mulus di Jakarta, Aldo yang sudah di jemput oleh sopir Papanya langsung menuju ke rumah sakit. Dengan tergesa-gesa Aldo berjalan ke Ruangan Dokter jantung yang menangani penyakit Papanya.

Setelah mengetahui keadaan papanya, kini Aldo berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan Papanya yang kini ada di ruang VVIP  dengan di temani oleh asisten pribadi Papanya.

"Papa." Ucap Aldo yang langsung menggenggam tangan papanya.

"Al, akhirnya kamu datang juga."  Suara papanya terdengar lemah di telinga Aldo.

"Papa istirahat saja, Al akan menemani Papa di sini." Ucap Aldo.

Lelaki paruh baya yang terbaring lemah di rumah sakit itu, menatap Aldo dengan tatapan penuh kerinduan. "Al, Papa senang akhirnya kamu menemui papa di sini. Sekalian Papa ingin mengatakan permintaan Papa," ucap William Parker.

"Apa Pa? Kalau Al bisa, Al pasti akan penuhi permintaan Papa." Ucap Aldo tanpa keraguan demi kesembuhan papanya.

"Papa ingin kamu segera menikah nak," ucap pak William.

Jantung Aldo seketika berdetak kencang mendengar permintaan Papanya. Karena di benak Aldo tidak ada niatan sedikit pun untuk menikah. Dia hanya butuh bersenang-senang bukan dengan ikatan pernikahan, baginya pernikahan hanyalah bullshit.

"Menikah? Menikah dengan siapa, Pa?" Tanya Aldo kemudian.

"Anak teman papa, namanya Clarissa Yasmin Pratama." Jawab pak William dengan nada lemah.

Aldo menghela nafas beratnya, "Apapun kemauan Papa, asal Papa cepat sembuh akan Al lakukan." Ucap Aldo. 

"Makasih nak, Papa senang mendengarnya." Ucap William terlihat bahagia.

Flashback-on

Setelah sampai di rumah sakit, Aldo langsung menuju ke ruangan dokter jantung yang bernama dokter Maya (dokter pribadi keluarga Parker). Aldo pun mendengarkan dengan seksama penjelasan tentang penyakit yang di derita Papanya.

"Al, kondisi Papamu sekarang akan sangat fatal kalau dia tidak siap mendengar hal-hal yang mengejutkannya. Karena kalau sampai terkena serangan jantung untuk kedua kalinya, nyawa papa kamu akan terancam." Jelas Dokter Maya memberitahukan bagaimana kondisi terbaru Papa Aldo.

Wajah Aldo terlihat murung saat mendengar penjelasan dokter Maya. "Baik Dok, saya mengerti." Jawab Aldo.

Setelah mendengar penjelasan tentang kondisi Papanya, Aldo pun pergi ke ruangan dimana Papanya di rawat saat ini. Dengan di temani asisten pribadi William sebagai penunjuk jalan. 

Flashback-off

Walaupun Aldo keberatan untuk menikahi wanita pilihan Papanya, tapi demi kesembuhan Papanya, Aldo rela melakukannya. Aldo takut jika terjadi hal yang tak di inginkan jika ia menolak kemauan Papanya saat ini.

Setelah mendapat nomor HP wanita yang akan di jodohkan dengannya, Aldo langsung menghubungi dan membuat janji temu dengan wanita itu di sebuah cafe.

"Kenalkan nama saya Aldo Federick Parker, panggil saja Al." Ucap Aldo sambil mengulurkan tangannya.

"Clarissa Yasmin Pratama, Panggil saja Icha." Ucap Clarissa menyambut uluran tangan Aldo.

"Langsung saja, kamu pasti sudah tahu kenapa aku menghubungimu?" Ucap Aldo tanpa basa-basi terlebih dahulu.

"Iya aku sedikit memahami situasinya, kalau memang kamu keberatan untuk ..." ucap Icha.

"Aku akan menikahimu." Ucap Aldo memotong perkataan Icha.

"Hah!! Bu-bukankah kamu akan menolak perjodohan ini?" Tanya Icha yang terkejut mendengar perkataan Aldo.

"Demi Papaku, aku akan menikahimu, tapi ingat setelah tiga bulan pernikahan kita harus cerai secara diam-diam, jangan sampai orangtua kita mengetahuinya." Ucap Aldo.

"APA!!" Ucap Icha terkejut bukan main.

"Aku tahu kamu melakukan pernikahan ini demi bisnis keluargamu, jadi jangan berharap lebih padaku. Aku akan tetap menjadi investor utama di perusahaan keluargamu, dan tugas kamu hanya membantuku demi kesembuhan Papaku, jadi tidak ada yang di rugikan dalam hal ini." Ucap Aldo.

Icha tidak percaya mendengar perkataan Aldo yang kini duduk di depannya. Tapi dia tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui ucapan Aldo, karena apa yang di ucapkan oleh Aldo benar adanya. Bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah negosiasi, tidak adanya cinta di dalamnya. Demi bisnis keluarganya Icha harus menerima perjodohan ini.

Icha sejenak berpikir apakah ia akan menerima kesepakatan ini atau tidak. "Baiklah, tapi aku ada dua syarat sebelum kita menikah," Ucap Icha.

"Apa? Katakan?" Ucap Aldo datar.

"Pertama, setelah menikah aku minta kamarku sendiri. Kita harus saling menghormati masalah pribadi masing-masing dan tidak ikut campur. Kedua, tidak adanya sentuhan fisik dalam hal apapun selama kita menikah." Tegas Icha

"Soal sentuhan fisik ada pengecualian, pegangan tangan atau ciuman di depan keluarga itu di butuhkan. Kalau tidak, mereka semua akan curiga dengan hubungan pernikahan kita." Ucap Aldo.

Icha menghela nafasnya, "Ok, hanya sebatas cium pipi dan pegang tangan." Ucap Icha.

"Aku setuju karena tidak mungkin juga wanita sepertimu bisa membangkitkan gairahku." Ucap Aldo dengan senyum meremehkan.

"Kamu!!" Icha menggeram kesal melihat sikap arogan Aldo yang seperti sedang meremehkannya.

"Sudahlah, tidak perlu merasa tersinggung. Kita saling membutuhkan. Kamu butuh uangku, dan aku butuh bantuan kamu untuk kesembuhan papaku. ini impas kan?" ucap Aldo.

Kalau bukan karena dirinya mendapatkan posisi yang tidak menguntungkan seperti ini, Clarisa tidak akan mau menerima perjodohan ini.

"Baiklah, Tuan Parker, ter-se-rah bagaimana anda menilai saya. Karena penilaian anda tidak penting bagi saya." Ucap Clarisa.

Bersambung ...

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nawer Kelana
jos gandos bosku
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status