Dendam Cinta Zasqia
Dendam Cinta Zasqia
Author: Sm. Soediro
1.Tak Percaya

"[Kamu jahat yang!! ]" ku baca pesan singkat di aplikasi hijau, pesan dari kekasihku yang selalu aku tunggu. 

"[Ada apa sih yang, datang-datang kok langsung ngamuk]" balasku dengan memberi emot cinta. 

"[Aku benci kamu yang! kamu tega lakuin ini!]" dengan emot menangis. 

"[Maksudnya yang?] keringat dingin tiba-tiba membanjiri keningku, aku takut gadisku tahu apa yang sudah aku lakukan di belakangnya. 

" Bip  ... Bip, bip, bip"

Suara pesan beruntun masuk kedalam wa, tangan ini bergetar bukan hanya tangan, tubuhku juga tiba-tiba terasa limbung, aku sangat takut gadisku benar-benar tahu apa yang aku lakukan seminggu yang lalu dengan Lisa tunangan ku. 

Satu persatu aku buka gambar yang dia kirim dan ku baca pesannya.

"[Kamu tega! aku inget di tanggal ini pagi sampai siang kamu nelpon aku, katanya malam itu kamu sibuk karena persiapan untuk urusan kerja di luar kota, tapi ternyata ...!! di hari itu kamu bersama perempuan di foto ini, aku nggak percaya tapi sepertinya ini nyata, kamu tega sama aku yang, kamu hancurkan semua mimpiku, aku benci kamu yang benci]"

Setelah itu semua nomerku dia blokir, ya aku sadar apa salahku kepada zasqia kekasihku yang telah menemaniku selama 7 tahun ini, kami pacaran jarak jauh, sebab dia 3 tahun terakhir ini pindah tugas ke kota Bandung, sedang aku masih di kotaku sebagai PNS di sebuah kantor kecamatan, sedang zasqia adalah seorang Bidan yang dengan ikhlas mengabdi di sebuah klinik bersalin perkampungan terpencil di salah satu desa kecamatan Cililin Bandung Barat, Jawa Barat. 

Satu minggu berlalu dari kejadian itu, siang malam aku menunggu kabar darinya, jujur aku tak pernah enak makan, tak lelap tidur, semua urusan pekerjaan juga kacau, aku putus asa, hingga di pagi itu ponselku berbunyi dari nomer yang nggak aku kenal. 

"[Jemput aku di stasiun Kertosono jam 3 sore ini! dariku Zasqia]"

Aku sangat bahagia membaca pesan di aplikasi hijau dari Zasqia, namun juga benar-benar kalang kabut, sebab pertemuan kali ini bukanlah pertemuan bahagia, tiba-tiba badan lemas bentar-bentar pingin b**l tapi tak bisa, terpaksa aku ambil cuti kerja sebab badan langsung terasa demam perut mual juga pusing, tepat jam 2 siang aku bersiap untuk menjemput Zasqia, ya dia Zasqia Nurul Aini gadis yatim piatu yang aku pacari sejak kami sama-sama duduk di bangku kuliah, dia adalah adik 2 tingkat di bawah ku, aku mengenalnya saat aku menjadi ketua Ospek, dia gadis yang imut pendiam juga lugu dari pertama melihat aku langsung jatuh cinta, wajahnya anggun, aku suka dengan penampilan sederhananya, selalu memakai gamis dan khimar sederhana, meski kesannya culun sebenarnya dia itu gadis cerdas dan cantik, kulitnya kuning langsat matanya sendu tutur katanya juga santun. 

"Kamu mau kemana Ya?" Suara ibu membuyarkan lamunanku. 

"Emmm  ... Surya mau ke stasiun  sebentar bu!"

"Ngapain?" jawab ibu dengan tatap mata menyelidik. 

"Ada janji sedikit dengan teman bu!"

"Katanya kamu lagi nggak enak badan, memang sudah sembuh? "

"Alhamdulillah sudah bu!"

"Ya sudah hati-hati dijalan, ingat pulangnya jangan kemalaman!"

"Baik Bu"

Setelah mencium punggung tangan ibu dengan takzim aku langsung tancap gas untuk segera menemui wanita yang sesungguhnya masih bertahta di hatiku, aku mencintainya tulus, aku menyayanginya seperti aku menyayangi diriku sendiri, maafkan aku sayang sebab telah khianati cinta kita, aku salah aku sudah hianatimu. 

Tiga puluh menit berlalu, kini aku sudah berada di parkiran Stasiun Kertosono Jawa Timur, aku menunggu gadisku bagai menunggu seorang hakim yang siap menjatuhkan hukuman, entah hukuman apa yang akan aku terima, bila hukuman mati yang akan dia berikan aku siap menerimanya, sebab aku memang salah. 

"[Kamu dimana?]" ada pesan masuk di aplikasi hijau, dan kau tahu itu nomer zasqia, dia sudah nggak mau lagi memanggilku sayang, tapi tak apalah. 

"[Aku masih di parkiran]"

"[Tunggu disana, bentar lagi kereta yang aku tumpangi sampai]"

"[Baik]" 

Entah  ... Kenapa aku juga nggak bisa lagi kirim kata-kata mesra terhadap wanita yang aku cintai itu, mungkinkah aku sudah tidak mencintainya lagi? Ah aku benar-benar nggak tahu dengan perasaanku. 

"Kriiing  ... Kriiiing" suara VC berbunyi, kutatap layar hp dan membuka obrolan VC dari Lisa gadis yang baru menjadi tunanganku 2 minggu yang lalu. 

"[Beebz kamu dimana sih? kok nomer susah banget dihubungi?]" wajah Lisa memenuhi layar hp, aku akui dia memang cantik rambut lurus karena sentuhan salon sepanjang bahu, muka bulat oval, hidung pesek dan bibir penuh berbentuk. 

"[Maaf beebz aku lagi ada meeting]" Jawabku berbohong. 

"[Kok tadi mama bilang kamu di Stasiun? maaf beebz karena nomer kamu nggak bisa di hubungi jadi aku telpon mama]" Cicitnya dengan muka di buat se imut mungkin. 

"[Iya beebz aku lagi jemput teman yang mau ikut meeting juga, dah dulu ya? nanti aku hubungi lagi!]"

"[Daaah beebz, I love you ati ati ya? Eeemmmuach]"

"[Eeemmmuach"] aku membalas sambil mencium layar hpku. 

" Bip ... Bip" Kembali hp berbunyi. 

"[Aku sudah di depan pintu keluar stasiun kamu dimana?]" pesan dari Zasqia masuk. 

"[Tunggu saja disitu, aku segera datang]"

Ku matikan layar hp lalu memasukkannya ke kantong celana, lalu berjalan menuju pintu keluar penumpang kereta api, hatiku perih oleh rasa rindu dan bersalah, aku rindu sebab sudah 3 tahun ini aku nggak bertemu, aku bersalah sebab diam-diam aku bertunangan dengan Lisa. 

Dari jauh netraku menangkap satu sosok yang selama 7 tahun ini selalu bersama menemani hari-hariku, wajahnya nampak kusam dan pucat, nampak sekali beban dan kesedihan disana. 

Tiba-tiba aku merasa kakiku tak bisa di gerakan, aku hanya bisa berdiri mematung sambil terus menatap wajahnya yang kian dekat. 

"Plak  ... Ini untuk kesetiaanku" Satu tamparan mendarat di pipi kananku. 

"Plak  ... Dan ini untuk penghianatanmu!" pipi kiriku tidak luput dari tamparan Zasqia. 

Semua mata tertuju ke arah kami, dan aku hanya bisa meraih tangan Zasqia lalu mencoba merengkuh tubuhnya. 

"Lepaskan aku! aku datang kesini hanya butuh penjelasan bukan pelukan!" tatapannya tajam menusuk mataku, aku hanya bisa bergeming tak bisa berbuat apa-apa, sungguh aku tak menyangka, gadisku yang sangat lembut dan santun bisa berubah se kasar ini. 

"Sebaiknya kita cari tempat ngobrol, nggak enak dilihat banyak orang" aku memberi sebuah penawaran, Zasqia menoleh ke kiri dan kanan memang benar sekarang seluruh mata sedang tertuju ke arah kami. 

Ku raih jemari Zasqia mengajak dia ke parkiran untuk mengambil motorku, tapi tangan ini ditepis nya, akhirnya aku berjalan sendiri dan dia mengikutiku dari belakang. 

Harusnya pertemuan ini bukan seperti ini keadaannya, harusnya aku dan dia bahagia sebab kami sudah punya kesepakatan di bulan Desember nanti Zasqia akan pulang ke kota ini, dan aku berjanji akan mengenalkan dia ke kedua orang tuaku, tapi hari ini tanggal 16 November dia pulang dengan membawa luka juga kecewa dan akulah yang menciptakan nya. 

Di parkiran aku menyerahkan helem untuk Zasqia, dia menerima dan menolak saat aku ingin membantu memasang helem itu di kepalanya, padahal dulu Zasqia selalu minta di pasangkan helem dengan alasan dia nggak pandai memakai helem sendiri, aku tersenyum getir saat mengenang kenangan itu. 

"Ayo naik!" 

Tanpa menjawab ucapanku Zasqia langsung naik di motor dan dia sengaja memberi jarak dengan menaruh tas ransel di tengah sebagai penyekat kami. 

Aku sengaja memundurkan bokongku memberi kode agar Zasqia mengangkat tas dan memakainya di punggung. 

Zasqia diam tak bergeming, ku ambil tas Zasqia dan menaruh tas itu di depan, Zasqia masih tetap diam bahkan dia semakin memundurkan duduknya ke belakang. 

Aku paham apa maksudnya, kutarik lagi bokongku ke depan mengambil posisi normal lalu mensetater motor. 

Sepanjang jalan kami diam tanpa kata, sungguh kami bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal, mending aku jadi supir GO-JEK kalau menerima penumpang seperti ini hatiku nggak akan kecewa, sebab dia hanya penumpang lah ini kami dulu adalah teman yang sangat dekat bahkan selama 3 tahun terakhir ini hampir tiap ada waktu kami selalu Vidio Call, setiap malam sebelum tidur kita saling ngobrol sampai salah satu di antara kami tertidur. 

Meskipun kami LDR hubungan kami sangat harmonis, dari bangun tidur sampai tidur lagi kita saling sapa, tentang waktu makan dan shalat kita juga saling mengingatkan, justru aku yang sangat protektif dengan Zasqia, sebab aku memang sangat mencintainya lebih dari apapun. 

Aku dan Zasqia hanya berkeliling kota Kertosono, kami diam asik dengan pikiran masing-masing. 

"Yang  ... Kita mampir makan di sana dulu ya, atau kita cari masjid dulu kebetulan aku belum shalat Ashar."

"Shalat dulu" Jawabnya singkat. 

Aku mengikuti perintahnya lalu ku pacu motorku menuju Masjid Baiturrahman, sampai sudah kami di masjid, Zasqia langsung menuju tempat wudhu wanita, sedang aku menuju tempat wudhu laki-laki, kami shalat sendiri-sendiri jujur aja shalatku kali ini sangat berantakan aku benar-benar nggak khusyu, setelah shalat aku menuju parkiran menunggu Zasqia, 20 menit berlalu namun Zasqia belum juga keluar dari tempat shalat, aku sungguh hawatir takut terjadi sesuatu dengannya, akhirnya ku beranikan diri masuk ke ruang shalat wanita, benar saja disana aku melihat Zasqia sedang menangis sesunggukan, bahunya terguncang aku mundur beberapa langkah sebab nggak kuat melihat pemandangan itu, ingin rasanya aku memeluknya dan meminta maaf, tapi itu nggak mungkin aku lakukan sebab aku dan dia bukan mahram, ku putuskan kembali ke motor menunggu Zasqia meluapkan kesedihannya di atas sajadah itu, Zasqia sungguh aku pun sangat terluka dengan semua ini, maafkan aku batinku pilu. 

Setengah jam kemudian aku melihat Zasqia keluar mukanya merah akibat banyak menangis, matanya sembab hidung dan bibir juga merah, aku hanya bisa berani memandang wajahnya tanpa berani berkata apa-apa. 

"Kita mau kemana Yang?" tanyaku setelah Zasqia duduk di atas motor. 

"Aku ingin kita ngobrol, sebab aku cuma mengambil cuti sampai hari senin dan ini hari Sabtu, jadi sebaiknya secepatnya kita selesaikan masalah kita, yang pasti aku hanya butuh penjelasanmu" Jawabnya lirih. 

"Apa kita ngobrol sambil cari makan?"

"Tidak aku nggak lapar!"

"Lalu?" 

"Aku hanya ingin ngobrol, kamu yang asli kota sini jadi mungkin kamu yang lebih tahu dimana tempat yang nyaman buat kita bicara."

Aku memutuskan membawa Zasqia ke Alun-alun, semoga disana nanti angin dia bisa berubah baik, dan aku juga Zasqia bisa bicara dengan relaks, jujur aja keadaan sekarang ini benar-benar membuatku tidak nyaman.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status