Perlahan Mencintaimu
Perlahan Mencintaimu
Author: Wonder Icy
Permulaan

Icha genap berusia dua puluh empat di tahun ini. Di usianya yang masih terbilang muda, dia sudah banyak memiliki pengalaman di berbagai bidang, mulai dari penjualan, hingga politik. Icha pernah bergabung sebagai tim marketing pada sebuah perusahaan besar di kotanya, dia juga pernah bergabung dalam tim pemilihan umum kepala daerah dan menjadi leader untuk kepengurusan pemilu itu di daerahnya.

Ketika masa kuliah, Icha dikenal sebagai mahasiswi yang rajin, cekatan dan sangat cerdas sehingga sangat tidak heran jika dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan bergabung dalam tim baru. Memang gadis berambut pendek nan manis ini memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik dan seringkali menjadi perwakilan perusahaan atau organisasi ketika ada rapat atau kegiatan lainnya. Tetapi kemampuannya yang banyak itu ternyata membuatnya belum juga menemukan tambatan hati.

Sudah lebih dari dua tahun dia menjalani kehidupannya tanpa adanya kekasih. Awalnya Icha tidak terlalu ambil pusing mengenai hal ini, tetapi tuntutan keluarga yang menginginkan adanya seorang ‘menantu’ membuatnya sedikit berfikir. Kedua orang tuanya bahkan sudah memilihkan calon suami untuk dirinya, mereka merasa kalau Icha tidak akan menemukan pasangan yang baik apabila dia hanya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan dia saja, mereka menginginkan seorang pria yang benar-benar baik untuk putri semata wayangnya tersebut.

Icha menolak perjodohan itu, tetapi dia masih belum dapat menemukan sosok pria yang akan dijadikannya pasangan. Dia juga tidak ingin asal memilih pria hanya karena menolak perjodohan, dan akhirnya dia pun pasrah dan menyetujui perjodohan dari kedua orang tuanya.

“Namanya Aldy, dia sarjana Manajemen dari Universiitas Nusa Bangsa. Kalau dari usia selisihnya satu tahun lebih tua kamu, Cha. Tapi dia anaknya dewasa dan pinter banget di bidangnya. Ya … Sebelas diabelas sama kamu, jadi papa sama mama yakin kalau kalian bakal cocok. Kalau untuk hobi, yang kami tahu dia sangat suka otomotif sama kan kaya kamu yang juga suka motoGP. Selain bekerja di perusahaan Telekomunikasi, dia juga sedang merintis usahanya sendiri di bidang kuliner dan butik. Itu usaha yang kamu cita-citakan banget, ‘kan? Kurang cocok apalagi coba, nanti kalau sudah ketemu kamu bisa nilai langsung orangnya gimana-gimananya, Cha.”

Papa sama mama memperlihatkan foto Aldy kepada Icha, dalam foto itu Aldy tampak berperawakan tinggi seperti atlet dengan potongan rambut agak berponi rapi dengan senyum yang terlihat ramah. Satu kata yang dipikirkan Icha saat melihat foto itu, “cakep”. Tapi dia tidak begitu yakin dengan sifat-sifat mereka yang akan cocok. Sebenernya salah satu alasan Icha masih belum menemukan pria, yaitu dia khawatir sifat dia tidak cocok dengan pria itu, karena dia pernah menjalin hubungan lebih dari tiga tahun tetapi sifat mereka masih saja bertentangan dan hubungan mereka berakhir karena memang tidak ada kepastian kemana arah dan tujuan hubungan mereka.

Icha malam itu mengenakan gaun yang sederhana yang tidak begitu formal karena memang dia tidak begitu menyukai pakaian formal. Dia nampak begitu anggun dengan rambut yang dibuatnya ikal bergelombang dan dia juga mengenakan lipstik berwarna merah yang menjadi warna kesukaannya. Icha mengenakan aksesoris anting kecil nan mungil yang menambah tingkat kecantikan dan keanggunannya.

Tidak lama menunggu di restorant, keluarga besar Aldy dating. Malam itu yang datang Om Ramlan, Tante Rianty, dan Feby, adik perempuan Aldy yang masih kelas dua belas SMA. Kesan pertama Icha untuk keluarga Om Ramlan yaitu keluarga yang kompak, karena mereka semua sangat kompak mengenakan pakaian serba biru malam walaupun sudah di klarifikasi kalau warna pakaian mereka itu tidak di sengaja.

Feby mengikat tinggi rambut panjangnya yang berponi cantik sekali, sangat menampakkan kalau dirinya masih sangat remaja. Sementara Aldy, wajah dan penampilannya sangat sama dengan yang di foto. Sikap Aldy sangat terbuka dan ramah, tapi Icha masih belum menemukan kesamaan frekuensi antara mereka berdua, bahkan selama mengobrol mereka masih mikir untuk hal apa yang harus di obrolkan. Icha hanya tidak habis pikir kenapa pria seperti Aldy mau untuk dijodohkan, padahal seharusnya akan banyak gadis yang mengantri untuk mendapatkannya.

Icha bahkan sempat berfikiran negatif tentang Aldy, apakah dia gay? Apakah dia tidak menyukai perempuan? Apakah dia psikopat??? Beberapa pertanyaan aneh melintasi pikiran Icha.

Setelah pertemuan keluarga di malam itu, Icha dan Aldy kembali bertemu ketika akan mengurus acara pernikahan mereka yang telah diatur tanggalnya yaitu empat belas hari lagi, yang berarti mereka harus bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan cepat dan tepat. Mengenai gaun pengantin, mereka telah memutuskan untuk sewa saja supaya lebih cepat penyiapannya dan lebih murah sehingga dana nya dapat dimaksimalkan ke gedung dan ketring. Mereka memilih jenis gaun, dekorasi, dan make up yang sesuai dengan konsep pernikahan mereka yang elegan tapi tetap mewah.

Mereka sudah mendapatkan gedung yang kosong pada tanggal pernikahan mereka dengan bantuan dari beberapa rekan karena agak susah untuk booking gedung dalam waktu yang hanya empat belas hari. Selanjutnya mereka harus mencari ketring yang cocok, Aldy dan Icha sepakat untuk memberikan sajian yang tidak begitu berfarian tetapi dalam jumlah yang banyak supaya semua tamu undangan mendapatkan porsi yang pas.

Setelah melewati persiapan yang begitu melelahkan karena memang waktunya begitu dekat, Aldy dan Icha dapat sedikit beristirahat dengaan pergi jalan sekaligus membagi undangan, untuk hal yang lainnya mereka serahkan ke Wedding Organizer dan beberapa rekan.

Disepanjang jalan Icha dan Aldy tidak banyak mengobrol, mereka masih canggung satu sama lain, hanya sesekali mereka saling menceritakan pekerjaan mereka masing-masing.

“Kamu kenapa mau dijodohkan?” Pertanyaan dari keduanya yang sama-sama penasaran dengan alasan satu sama lain.

“Karena aku enggak bisa cari cowok,” jawab Icha sambil sedikit tertawa, “Kalau kamu?”.

“Sama,” sahut Aldy sambil tersenyum. Kali ini wajah Aldy terlihat jelas oleh Icha karena mereka duduk bersebelahan dalam mobil dan dalam suasana yang sedikit santai. Aldy pria yang sopan.

“Kurasa bukan kamu yang enggak bias cari cewe, tapi memang kamunya yang pemilih, ‘kan?” kata Icha lagi.

“Haha bukan begitu. Aku memang tidak bisa.”

“Tidak ada yang mau?”

Aldy menoleh sedikit dan kembali tersenyum lalu focus menyetir, “Tidak ada yang mau dengan pria sepertiku. Aku terlalu acuh, begitu kata kebanyakan dari mereka.”

Icha mengangguk pelan, “Hemm mungkin mereka tidak sepenuhnya salah, ‘kan?”

“Hemm, aku hanya belum ingin saja. Tapi sekarang, aku akan mencobanya.”

“Mencobanya? Dengan pernikahan ini?” Icha benar-benar terkejut.

“Kenapa? Bukannya kamu juga begitu?”

“Ah aku tidak sedang mencoba. Hanya saja ….”

“Hanya saja kamu sedang bersikap patuh dengan orang tua?” tanya Aldy memutus kalimat Icha.

Perempuan berambut pendek itu terdiam sejenak, dia hanya memandangi pria berponi yang duduk di sampingnya itu.

“Tidak usah begitu serius. Kita sedang di posisi yang sama sekarang. Aku sedikit mengertimu,” sambung Aldy lagi dengan senyum kecilnya.

“Benar,” sahut Icha lirih. Dia pun sebenarnya tidak mengerti dengan dirinya mengapa dia bersedia untuk dijodohkan. Bathinnya masih sangat menolak hal yang bernama ‘cinta’, tapi sisi dalam dirinya yang lain menyuruhnya untuk bersedia sebagai bentuk baktinya kepada mama dan papa.

Keduanya kembali saling diam, hanya sesekali berbincang mengenai undangan yang akan mereka bagikan ke beberapa rekan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status