90 Days To Fall In Love
90 Days To Fall In Love
Author: Hi you
1. Sesak Membara.

(Banyak orang yang bertanya padaku. “Apa yang terus membuatku bertahan?”

Dan jawabku masih sama seperti biasanya.“Karena hanya dia yang selalu ada di hatiku”- Laras.)

____________________________________________

Jakarta di pagi hari ... sama seperti biasanya cerah dan ramai. Mungkin sebagian orang beranggapan kalau pagi ini adalah pagi yang indah. Namun tidak untuk wanita sepertiku yang menurutku setiap pagi itu sama saja.

24 tahun sudah aku menjalankan kehidupan yang monoton dan membosankan seperti ini. Bekerja dan bekerja adalah kesibukanku sehari hari, belum lagi kehidupan kantor ku yang sangat membuatku ingin segera resign dari sana, tapi untuk seribu alasan yang aku ucapkan, nyatanya aku tidak akan pernah bisa keluar dari kantorku sebelum semua masalahku ini selesai.

Bukan karena aku adalah anak pemilik dari gedung ternama di Jakarta itu, apalagi pewaris dari keluarga terkaya yang sudah terpandang dimanapun itu.

Tapi, karena sebuah janji yang pernah disepakati dengan seseorang dulu yang membuatku terjebak bersama nya hingga saat ini.  Sebuah janji konyol yang mengharuskan aku menjadi sebuah tameng untuk membuat lelaki tampan nan gagah di depan ku ini jatuh cinta…

Ya... Jatuh cinta... 

Jatuh cinta kepada ku…

Sangat konyol bukan? 

Pasi siapa saja yang mendengar  hal ini akan menganggapku gila, karena bagaimana  bisa, aku seorang pegawai biasa yang tidak menarik, membuat atasanku jatuh cinta kepada ku, terlebih lagi dia adalah lelaki yang terkenal angkuh dan tak berperasaan 

Bahkan sejak pertemuan pertama kali aku denganya. Lelaki itu pun sudah memberikan tatapan kebencian padaku. 

pertanyaan dalam benakku pun selalu muncul.

[Apa bisa aku membuatnya jatuh cinta?]

“Jam 8:30” suara berat itu langsung terucap setelah aku masuk kedalam ruangan ya.  “Dan kamu terlambat lagi?” sambungnya dengan sorot mata yang sudah beralih menatapku begitu tegas. 

Melihat ekspresinya aku langsung tertunduk. Aku tidak tahu mengapa setiap kali dia melihatku rasanya aku menjadi tidak percaya diri. Tatapannya itu selalu membuatku takut…

“M-aaf, Pak, tadi di jalan busnya kejebak ma-c-” 

Brakk!!!

ucapanku seketika terhenti tubuhku tersentak kaget mendengar  suara pukulan meja. Tak lama dia berdecih membuang wajahnya lalu menatapku lagidengan begitu  mengintimidasi. 

“Apa kamu tidak bisa menghitung, sudah berapa kali kamu mengucapkan alasan seperti itu?” tanyanya penuh penekanan. “Jangan buat saya bertambah muak dengan kamu Laras!”

Dan kata itu pun terucap lagi…

Aku hanya bisa terdiam semakin menundukan wajahku sedalam mungkin, dadaku kembali sesak. Rasanya aku ingin menangis.. tapi aku tidak boleh menangis di depannya, dia benci melihat ku menangis, namun kenapa dia selalu saja membuat perasaanku terluka dengan perkataan nya, Semua begitu membingungkan …

“M-aafkan saya Pak, Saya janji tidak akan mengulangi nya lagi” ucap ku sebisa mungkin menahan air mataku agar tidak turun.

“Hari ini... " sahutnya menatapku datar  “Hari ini adalah hari terakhir saya melihat keterlambatan kamu. Saya tidak mau mendengar dan menerima laporan apapun lagi tentang kamu Laras, semua terlalu mengganggu dan merepotkan” katanya seraya keluar dari dalam meja menghampiriku dengan.

“Kamu paham, hmm?” sambungnya menyentuh  daguku dan mengangkatnya. 

 Perlahan aku mengangguk masih tak berani menatap. Tak lama dia berdecih melayangkan tatapan merendahkan melihatku. 

“Sepertinya selain salah menerima kamu, saya juga salah menjadikan kamu sebagai sekretaris saya” Dia memajukan wajahnya semakin mendekat ke depan wajahku. “Apa seperti ini etika seorang sekretaris yang menjawab pertanyaan dari atasannya? tatap saya Laras, jangan buat saya bertindak lebih jauh” bisik nya membuat sekujur tubuhku merinding.

Aku gelagapan, semakin tidak mengerti, kenapa dia selalu saja menyudutkan ku seperti ini. Bukan nya aku tidak punya etika, tapi setiap kali aku harus menatap matanya aku akan langsung terhipnotis oleh ukiran wajah yang begitu sempurna. Apalagi ketika aku melihat bibir tipisnya itu ..

rasanya aku ingin …

ahhh lupakan itu! bukan saatnya aku memikirkan hal liar karenanya lagi. Dengan perlahan aku beranikan diri mengangkat wajahku dan membalas tatapan matanya.

“Maaf Pak, saya janji tidak akan terlambat lagi” ucapku, kali ini dengan nada sedikit berani.

Kulihat dia menatapku dengan begitu teliti,  seakan akan dia sedang melihat kesungguhan dari ucapanku tadi. Baru kali ini dia mau melihatku begitu dekat seperti ini, setelah beberapa bulan bersamanya dia tidak pernah mau berdekatan denganku bahkan menatap lama ke arahku, dan kini melihat dia yang begitu sangat dekat bolehkah aku memeluknya?

“Baik kali ini saya maafkan” ucapnya, mampu membuatku membesarkan mata tak percaya,“Dengan syarat, jika saya masih melihatmu terlambat dan dengar kabar tentang kamu lagi, saya tidak akan segan segan  memberhentikan kamu begitu saja Laras.” sambungnya angkuh dan sudah melepaskan jemarinya dari daguku. “Jangan karena kamu tunangan saya, kamu seenaknya bersikap”

Mendadak aku menurunkan sorot mataku. Entah kenapa mendengar ucapannya tadi hatiku berdenyut sesak. Aku berdecak pelan, menertawakan diriku yang kadang mengharapkan sesuatu dari lelaki itu. Kenapa lelaki itu sangat anti padaku. Tidak bisakah dia melihat sedikit perasaanku ini.

Memang apa yang sedang kuharapkan padanya? tidak seharusnya aku mengharapkan kata-kata manis yang keluar dari mulut lelaki itu. Apalagi kata pembelaan yang sangat begitu mustahil di lontarkan olehnya.

"Baik Pak, " Aku pun mengangguk,menggigit bibir bawahku menahan sesak.

Tanpa mau berlama lama denganya, aku langkahkan kakiku keluar begitu saja tanpa permisi. Dengan semua pertanyaan dalam kepalaku yang kini ikut bersuara.

“Mau sampai kapan kita begini, Max"

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
menarik nih ceritanya.. pengen follow akun sosmed nya tp ga ketemu :( boleh kasih tau gaa?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status