Bab 11

"Tia, itu adik mu kan?" tanya Mas Rio menoleh pada Bimo yang duduk menekuk lutut di bawah tiang listrik.

"He'em," jawab ku setelah turun dari sepeda motor Mas Rio.

"Dia lagi ngapain, di situ?" tanyanya lagi setengah berbisik, seraya mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Gak tau, mungkin dia lagi nunggu tukang Bakso!" jawabku sekenanya, lalu merapikan rambut ku yang acak-acakan karena terkena angin saat di perjalanan pulang.

"Ouwh," balas Mas Rio turun dari sepeda motornya, sembari melepas jaket jeans dan menyampirkan di lengan kirinya.

 Aku menoleh pada Bimo yang acuh tak acuh dengan kedatangan ku, tumben dia cuek melihat aku pulang bareng Mas Rio tak seperti biasanya.

Dia gak ngeliat aku, apa pura-pura gak lihat, tapi, ah masa segede gini gak kelihatan, tatapannya mengedar ke kanan dan kiri, sambil manggut-manggut, entah apa yang dia lihat, gayanya sok cool lagi, membuat aku geleng-geleng.

"Bimo," panggilku sambil mendekat ke arahnya. Dia hanya menoleh dan begitu tenang seperti air di kolam.

"Eh Mbak Tia, baru pulang ya?" tanya Bimo dengan santainya, senyumnya begitu lebar seperti balita baru bangun tidur.

"Bim, lagi ngapain di sini?" tanya ku mendeku di sampingnya.

"Nunggu yang lewat?" jawabnya singkat.

Aku mengernyit heran, dia mengatakan nunggu yang lewat, Sebenarnya dia menunggu siapa? hm, aku menarik nafas pelan, 'anak ini kadang susah di tebak' batinku.

"Kamu, nunggu siapa sih?"

"Tuh." Bimo menoleh seraya menggerakan kepalanya ke arah Mas Rio, yang berdiri dekat sepeda motor, sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana.

"Tumben nunggu Mas Rio, emang kamu sudah janjian, sampe kamu tau, mas Rio mau nganterin Mbak?" telisik ku, aku merasa ada yang janggal dengan sikapnya yang aneh.

"Insting Mbak, sebagai calon adik ipar yang baik, pasti tau lah, kalau Mas Rio mau kesini anterin Mbak pulang!"

"Hm, emang, mau ngapain nunggu Mas Rio?" tanya ku lagi.

"Mau ngajak ngopi, Sama calon Kakak ipar!" ujar Bimo, bangkit lalu menepuk-nepuk bokongnya yang sedikit kotor bekas dia duduk di aspal.

Sejak kapan Bimo doyan kopi, perasaan dia gak pernah meminum cairan tersebut, meskipun kopi latte, ataupun kopi yang manis sekali pun, aku patut curiga nih.

"Bim, rupanya kamu sudah merestui hubungan Mas, sama Mbak mu!" timpal Mas Rio, mendekat ke arah kami. 

"Iya lah, demi kebahagiaan Kakak semata wayang ku, aku akan merestui hubungan kalian!" ujar Bimo.

Aku menatap mata Mas Rio yang berbinar, menyiratkan bahwa dia begitu gembira mendengar penuturan Bimo.

Tapi aku merasa ada yang aneh dengan tingkahnya, lah aku tak boleh berprasangka buruk dulu, Bimo anak yang baik, dan gak pernah neko-neko, hilangkan ke curiga'an mu Tia! Ku tepis fikiran yang tak jelas ini.

"Ya udah kalau gitu, kita masuk yuk?" ajak Bimo menepuk bahu Mas Rio.

"Ayok Mas! Mumpung adikku belum angot." Aku menimpali ajakan Bimo.

"Iya," jawab Mas Rio, kami bertiga masuk ke dalam gerbang, sampai di ruang tengah Bimo mempersilahkan Mas Rio duduk.

"Mbak, sana ganti baju dulu, biar cantik! Mas Rio duduk dulu aja ya! aku mau bikinin kopi, doyan kopi kan Mas?" ucap Bimo, begitu ramah, entah kesambet atau kenapa? Kepala ku mulai banyak tanda tanya.

"Mas, aku mau ganti baju dulu!" ucapku. Lalu sku bangkit dan meninggalkan Mas Rio di ruang tengah sendirian. 

Ku kenakan baju santai, celana jeans se-dengkul dan kaos t-shirt warna merah muda, rambut ku ikat kuncir kuda, aku kembali menemui Mas Rio, kami duduk berdua di ruang tengah berseberangan di sofa warna putih.

 Rasanya begitu canggung, baru kali ini dia di perbolehkan masuk ke rumah ini sana Bimo, setelah dua bulan aku berkenalan dengannya.

Biasanya dia hanya mengantarku sampai gerbang saja, kali ini ada yang beda dengan Bimo, dia malah mengajak Mas Rio untuk ngopi bareng.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status