Unhappy Marriage
Unhappy Marriage
Author: Anne Wang
The Wedding Night

Silvya dan Jim baru saja memasuki kamar pengantin mereka.

Kamar itu dihiasi dengan dua boneka angsa diatas tempat tidur pengantin dengan taburan kelopak bunga mawar di hampir seluruh permukaan ranjang. Warna lampu kuning yang temaram membuat suasana kamar terkesan romantis untuk melakukan aktifitas di malam pertama.

Dan bagi Silvya, malam ini sangat mendebarkan, terlebih karena Jim bukanlah pria yang ia cintai. Pernikahan ini terpaksa ia jalani karena paksaan dari papanya yang tidak ingin ia terus patah hati karena mengingat Chris.

Janji Chris untuk kembali padanya membuat Silvya berusaha mengulur waktu untuk menikah. Tapi apa mau dikata, suratan takdir berbicara lain. Chris ternyata mencintai istri yang sekarang dinikahinya yaitu Maureen. Seorang gadis kaya yang memiliki aset trilyunan.

Silvya memang kecewa, namun ia bisa menerima kenyataan itu dengan baik. Ia bahkan bisa menjalin hubungan baik dengan istri Chris yaitu Maureen.

"Silvya, aku lihat kamu lelah. Sebaiknya kamu beristirahat. Aku ada janji dengan temanku. Kamu tidak perlu menungguku. Aku akan kembali sebelum kamu bangun esok pagi," kata Jim sambil mengganti jas yang ia gunakan saat pesta pernikahan tadi.

Sylvia menatap Jim dengan tatapan curiga. Malam pertama ini seharusnya Jim menemaninya, walaupun ia tidak mencintai pria ini namun meninggalkan pengantin wanita sendirian di kamar hotel jelas sesuatu yang tidak umum.

"Kamu mau kemana, Jim?" tanya Silvya dengan tatapan curiga.

"Hanya sebentar, menemui seorang teman... " Jawab Jim lalu dengan cepat ia mencium kening Silvya dan berjalan keluar kamar pengantin yang sudah dihias indah itu.

Punggung Jim tenggelam di balik pintu kamar dan Silvya hanya bisa menatapnya dengan penuh tanya. 

Silvya melayangkan tatapannya ke seluruh ruangan kamar yang terlihat mewah ini. Dan disinilah dirinya berada sekarang, sendirian tanpa seorang teman...

Silvya menghembuskan nafas berat, malam ini benar-benar malam pertama yang sangat mengecewakan baginya. Bukan karena ia tidak melakukan aktifitas seperti para pengantin lainnya di malam pertama pernikahan, namun rasa kecewa ini timbul lebih dikarenakan ia ditinggalkan oleh suaminya. Sang pengantin pria terkesan tidak menginginkannya.

Perilaku Jim membuat Silvya diam dengan seribu tanya. namun dalam hati ia mulai merasakan adanya penyesalan. Ia memang tidak berharap ada ritual pengantin dengan Jim. Karena pada dasarnya ia juga tidak siap, namun sendirian di kamar pengantin seperti ini, ia juga merasa sangat aneh.

Apa yang sebenarnya ingin Jim kerjakan di malam pengantin bersama dengan temannya? Tidak bisakah itu dilakukan esok hari? Apakah Jim memiliki kekasih lain diluar sana? Ia masih ingat dengan jelas ketika Chris juga meninggalkan Maureen di malam pengantinnya untuk menemui dirinya. Chris yang saat itu dijodohkan mamanya memilih untuk tidak menyentuh Maureen dan malah meninggalkan wanita itu dengan mantannya. Jadi Maureen menemui Alec sementara Chris menemui dirinya.

Dan mengingat hal itu, Silvya pun jadi merasa cemas. Apakah Jim juga memiliki wanita lain di luar sana? Memang jejak Jim yang terkenal sebagai the player selalu menghantui Silvya. Tapi dari sekian banyak wanita yang selalu mengelilinginya, kenapa Jim malah memutuskan untuk menikah dengannya? Untuk apa?

Dia toh juga bukan termasuk wanita yang cantik seperti para wanita yang selama ini selalu mengelilingi Jim. Namun seperti yoyo, Jim selalu kembali padanya dan memohon maaf. Bahkan ia selalu datang dengan wajah penuh penyesalan dan sejuta janji manis agar Silvya kembali mau menerimanya. Dan sekarang setelah ia menerima lamaran Jim, ia kembali ditinggal sendirian! Silvya menyesali kebodohannya untuk yang pertama kalinya! Seharusnya ia tau bahwa seorang the player tidak akan bertobat dengan mudah.

Silvya menatap ke arah cermin. Ia tampak sangat cantik dengan gaun pengantin model sabrina berwarna putih tulang yang menutupi sebagian lengan dan dadanya. Seandainya saja yang menjadi suaminya saat ini adalah Chris, ia pasti akan sangat berbahagia sekali.

Tapi ... Ah! Silvya menepis bayangan itu. Chris sudah menjadi milik orang lain dan tidak akan pernah menjadi miliknya untuk selamanya. Bahkan ia juga tau bahwa hati Chris sekarang sudah jadi milik Maureen selamanya.

Silvya tersenyum menatap bayangannya sendiri yang ada di depan cermin dan dengan perlahan ia membuka restleting gaun itu. Melepasnya dan memperhatikan sendiri bentuk tubuhnya. Belum ada satu pria pun yang pernah menyentuhnya, bahkan di malam pengantin seperti ini. Pria yang seharusnya menyentuh dirinya malah pergi entah kemana.

Silvya menggantung gaun pengantin itu di lemari yang di sediakan lalu ia pun memakai pakaiannya sendiri. Pakaian tidur berbahan sutra dengan tali spaghetti dan juga kimono yang membalut gaun tidur itu. Silvya lalu membersihkan wajahnya yang full make up dan setelahnya ia berusaha untuk membaringkan diri dan tidur.

Namun beberapa kali ia berusaha memejamkan matanya, Silvya tidak mampu masuk ke alam mimpi. Perasaan gelisah terus menyiksanya. Dan ia pun memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar.

Silvya berjalan di taman di depan kamarnya. Hotel tempat mereka menginap adalah hotel berbintang lima. Dan Jim sengaja menyewa cottage yang berada di tengah taman. Pemandangan di sekeliling kamar itu adalah taman dan kolam renang. Dari jendela kamar di area belakang cottage itu, bisa terlihat taman pribadi yang indah beserta gasebonya. Disana juga terdapat tempat untuk melakukan Jacuzzi sementara di depan kamar mereka ada teras dan juga balkon dengan dua kursi.

Pemandangan di depan balkon itu adalah kolam renang mini untuk anak-anak dan juga di sebelahnya kolam renang untuk orang dewasa.

Lampu sorot taman berwarna kuning menghiasi seluruh taman sementara di dalam kolam renang menyala lampu putih berwarna terang.

Silvya berjalan mengitari taman menuju kolam renang itu. Ia menceburkan kakinya ke dalam kolam yang berair dingin. Sensasi sejuk ia rasakan menjalar dari kakinya, suasana hatinya seketika berubah menjadi baik.

"Kamu, kenapa tidak masuk ke kamar?" Ia mendengar suara pria yang sangat dikenalnya.

"Chris? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Silvya dengan nada kaget.

"Maaf aku datang terlambat, ada hal yang harus aku selesaikan tadi. Sebenarnya aku sudah akan datang besok tapi aku pikir aku akan menyempatkan malam ini saja jika memang kita masih bisa bertemu." Chris berjongkok di sisi Silvya. Ia masih mengenakan jas kerjanya, keliatannya ia baru saja mendatangi sebuah acara penting.

Silvya hanya tersenyum mendengar penjelasan Chris yang lumayan panjang.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Chris sambil menatap ke kanan dan ke kiri seolah mencari seseorang.

"Ehm, tidak ada. Aku hanya mencari udara segar saja," jawab Silvya sambil tersenyum.

"Suamimu?" Chris mulai mengerutkan alisnya.

"Dia pergi. Ada urusan sebentar katanya." Silvya mulai bangkit berdiri dan hendak berlalu. Ia mulai takut Chris akan menanyakan banyak hal tentang perilaku Jim di malam pertama dan menilainya secara sembrono.

"Tunggu!" Chris mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan menyerahkannya ke Silvya.

"Apa ini?" tanya Silvya sambil menatap kotak kecil itu.

"Ini hadiah pernikahan untukmu dari aku dan Maureen," kata Chris sambil sekali lagi menyodorkan kotak itu.

Silvya menerimanya dengan ragu.

"Bukalah, itu milikmu, Silvya," kata Chris meyakinkan.

Silvya membuka kotak itu dengan hati-hati. Dan muncul kilau cemerlang dari dalam sana ketika benda itu tertimpa sinar lampu.

Sebuah kalung dengan liontin mungil berbentuk hati dengan berlian kecil di tengahnya tergeletak dengan cantik disana. Silvya menggigit bibir melihat Chris memberikan benda mahal ini untuknya.

"Kamu membelikanku kalung berlian?" Silvya seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja diterimanya. 

Kehidupan pacaran antara Chris dengannya dulu sangatlah sederhana dan sekarang Chris ternyata sudah sanggup membelikannya sebuah kalung berlian yang mahal. 

"Aku dan Maureen yang membelikannya untukmu, Silvya," ralat Chris.

Ia tidak ingin mengakui bahwa itu adalah pemberiannya. Ia harus membawa nama Maureen sebagai orang yang juga ikut terlibat dalam pemilihan model. Karena memang selama ini terbukti bahwa selera Maureen sangat bagus.

"Tapi untuk apa?" Silvya terlihat sedikit tidak nyaman dengan hadiah yang baru saja diterimanya.

"Pakai saja!" Chris membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.

Ia lalu memutar tubuh Silvya sehingga membelakanginya dan memakaikan kalung itu ke leher Silvya. Silvya tidak punya pilihan selain menuruti kehendak mantan yang masih sangat dicintanya itu.

"Kamu terlihat sangat cantik," puji Chris ketika ia membalikkan tubuh Silvya menghadapnya.

Silvya hanya tersenyum singkat. Pujian Chris terdengar tulus.

"Oh ya, mana Maureen?" tanya Silvya tiba-tiba karena ia ingin berterimakasih dengan Maureen juga.

"Dia kelelahan, jadi dia mengijinkan aku untuk pergi menghadiri acara pernikahanmu sendirian," jawab Chris.

"Ohh ... ini sudah malam, Chris. Sebaiknya aku masuk." Silvya seperti menyadari sesuatu. Berduaan dengan Chris di malam pengantin seperti ini keliatannya kurang pantas walaupun ia tidak sedang melakukan apapun.

"Oh, iya. Kamu benar. Sebaiknya aku juga pulang," sahut Chris.

Silvya masuk ke kamar, sementara Chris kembali pulang. Di dalam kamar, Silvya kembali menatap dirinya. Kalung yang melingkar indah di lehernya membuat ia merasa dekat dengan Chris. Walaupun Chris mengatasnamakan Maureen tapi bagi Silvya, kalung itu adalah pemberian Chris.

Perasaannya memang masih sangat kuat dengan pria yang pernah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun itu. Meskipun ia juga sadar bahwa hati Chris sudah bukan untuknya lagi. Silvya membaringkan diri di ranjangnya. Dengan memegang kalung di lehernya, ia merasa hatinya sangat tenang dan sebentar kemudian ia mulai terlelap.

....

"Mmph ... mmpghh!" Silvya membuka mata dan ternyata ruangan kamarnya sudah menjadi gelap. Sebuah bayangan hitam menindihnya serta tangan seorang pria membekap mulutnya sehingga ia tidak bisa berteriak. Silvya berusaha kuat untuk melepaskan diri.

Melihat Silvya terus saja berontak, pria itu pun dengan kuat memeluk tubuh Silvya lalu dengan satu tangan memberangus wajah Silvya dengan sebuah kain sampai Silvya mulai lemas dan ia tidak bergerak lagi ...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status